
Tak terasa tiga hari berlalu semenjak kepulangan Zahra dan si kembar triple dari rumah sakit, waktu yang di tunggu - tunggu pun tiba, hari ini semua orang tengah sibuk menyiapkan acara akikah dan syukuran untuk si kembar yang akan di laksanakan siang nanti selepas sholat Jum'at, dari pagi semua persiapan sudah mulai di siapkan.
Rumah sudah di hias secantik mungkin oleh tim WO ternama kepercayaan Bu Susan. Tenda juga sudah terpasang dengan kursi yang tersusun rapi di dalam nya untuk menyambut para tamu yang datang.
Bu Susan dan Tante cindi terlihat paling bersemangat dalam mempersiapkan semua ini, Tante cindi sedang memeriksa makanan yang sudah datang,.semua makanan itu mereka pesan dari catering yang juga sudah teruji citra rasa dan kebersihan makanannya.
Berbagai makanan sudah tersedia dan tertata rapi, Bu Susan terlihat sedang mengawasi pekerja dari team WO menyusun segala sesuatunya pada tempat nya, Sementara kaum laki - laki sendang pergi ke masjid untuk melaksanakan sholat Jumat.
Zahra sendang bersiap - siap di bantu oleh MUA atas permintaan Bu Susan. Zahra terlihat sangat cantik dengan busana muslim berwarna putih yang di gunakan nya. Di tambah riasan makeup tipis yang di oleskan oleh MUA di wajahnya menambah aura kecantikan Zahra.
Tidak jauh beda dengan Zahra, si kembar juga sudah di dandani seganteng mungkin sehingga ketiga bayi kembar itu terlihat semakin menggemaskan, di tambah bobot tubuh mereka yang naik cukup pesat sehingga terlihat montok, rasanya ingin mencubitnya karena saking menggemaskannya bagi yang melihat.
" Duuuh cucu nenek ganteng sekali " puji nenek dan Oma pada si kembar, ketiga bayi itu sendang tidur lelap di atas tempat tidur di kamar mereka di temani oleh nenek buyut mereka, siapa lagi kalau bukan Oma minan dan nenek Zahra.
Semua orang melarang Oma dan nenek Zahra untuk berkerja, Karena bingung tidak tahu mau mengerjakan apa, kedua sesepuh itu kompak untuk menemani cicit - cicit mereka saja.
" Semakin ke sini mereka semakin mirip dengan ayah nya ya besan " komentar Oma minan pada nenek Zahra.
" Iya besan, satu lagi saking miripnya mereka bertiga, sampai sekarang saya bingung membedakan mereka besan " jawab nenek yang masih bingung membedakan ketiga si cicit kembarnya.
" Iya besan, saya juga sering susah membedakan mereka " ujar nenek minan membenarkan ucapan nenek zahra.
" Apa Karena faktor umur ya besan ?" tanya Oma minan pada nenek Zahra sambil tertawa kecil dan di jawab oleh nenek Zahra dengan tertawa kecil juga
" Tapi saya bersyukur, akhirnya bisa melihat cicit kita lahir besan, tahu lah tubuh renta ini sudah sering sakit - sakitan, takut tidak bisa melihat mereka tumbuh dan dewasa " ujar Oma minan lagi terdengar sedikit sedih.
Nenek hanya menanggapi dengan diam dan matanya terus menatap pada si kembar yang tidur nyenyak merasa tidak terganggu dengan suara kedua buyut nya.
__ADS_1
" Bagi saya, melihat Zahra hidup bahagia seperti sekarang sudah karunia terindah yang allah berikan pada tubuh renta ini bebas, apa lagi setelah di beri kenikmatan dapat melihat ketiga cicit kita ini, saya sudah sangat bersyukur, setelah ini jika tuhan ingin memanggil saya sudah siap " jawab nenek Zahra menggapai ucapan Oma minan setelah diam beberapa saat.
" Sudah, sudah kita tidak harusnya bersedih begini, ini hari bahagia cucu dan cicit kita, kita harus terlihat bahagia dan semangat " hibur Oma minan ketika suasana menjadi mendung dengan obrolan mereka yang tiba - tiba membahas umur.
" Iya besan, kita harus terlihat bahagia di hari bahagia ini, tidka boleh ada kesedihan " ujar nenek Zahra membenarkan.
Sementara itu, di luar Bu Susan di bantu Tante ayu dan mia sudah mulai menyambut kedatangan tamu undangan yang sudah mulai berdatangan satu persatu, aziz yang baru pulang dari mesjid bersama pak Widodo, sandi, Adam dan prof rayyan langsung menuju kamar nya dan zahra untuk berganti pakaian.
ceklek
Aziz membuka pintu kamar pelan, Aziz menatap lurus ke depan dimana Zahra sedang di rias oleh seorang Mua, dari pantulan kaca meja rias, Aziz dapat melihat jelas wajah Zahra, istrinya itu terlihat sangat cantik dengan balutan pakaian muslim warna putih nya di tambah riasan tipis pada wajahnya yang membuat Zahra terlihat begitu bersinar dan bersahaja bak putri raja, Aziz merasa takjub dengan pemandangan yang ada di depannya.
Ekhemm
Aziz kaget dan tersadar dari lamunannya, ketika mendengar deheman seseorang, ternyata Zahra sudah selesai di rias, MUA yang menyadari ke hadiran Aziz dan sedang terpana menatap ke cantik kan istrinya mendehem cukup keras sambil mengulum senyum merasa lucu melihat Aziz yang salah tingkah.
Zahra menatap Aziz dari pantulan kaca meja rias mengulum senyum malu - malu, sementara Aziz yang merasa di sindir menggaruk tengkuknya yang tidak gatal salah tingkah.
" Ah kakak ini bisa saja, ini semua juga berkat tangan terlatih kakak juga kok " jawab Zahra merendahkan hati.
" Saya hanya memoles sedikit kok kak, memang wajah Kakak aslinya cantik, pantes aja kak suami tidka berkedip menatap kakak " ujar MUA itu lagi.
" Semua sudah selesai, saya tinggal dulu ya kak" MUA pun pamit meninggalkan Zahra dan aziz di dalam kamar tersebut .
" Sayang " Aziz memeluk Zahra dari belakang dan meletakkan dagu nya bertumpu pada bahu sang istri.
Zahra tersenyum mengelus lengan Aziz yang melingkar di pinggangnya. " Abang ganti baju dulu, itu baju nya sudah Zahra siapkan di atas kasur "
__ADS_1
" Boleh gak kita di sini saja sayang "
Zahra mengerutkan keningnya bingung dengan permintaan aziz " Maksud Abang gimana ?" tanya Zahra membalikkan tubuhnya sehingga menghadap kearah suaminya.
" Kamu cantik banget sayang, abang gak rela nanti banyak mata yang mengagumi kamu " jawab Aziz memanyunkan bibirnya.
Zahra mencoba menahan senyum nya, ia merasa lucu melihat tingkah Aziz yang menggemaskan seperti ini, tingkah Aziz seperti ini mengingatkan Zahra akan sikap Aziz sewaktu mereka mengadakan acara resepsi pernikahan beberapa bulan yang lalu, di mana Aziz meminta nya untuk tetap di kamar saja dengan alasan yang sama seperti hal nya saat ini.
" Gak bisa gitu dong bang, ini acara kikahan si kembar, masa kita orang tuanya gak ada di sana," Zahra meraih ke dua pipi Aziz dan menarik wajah suaminya untuk menatap ke arah nya, mereka saling bertatapan, Zahra mempersembahkan senyum manisnya pada sang suami yang saat ini dalam mood tidak baik - baik saja, " Abang, Zahra gak bisa melarang orang untuk memandang Zahra, Zahra gak bisa melarang orang menganggumi dan menilai Zahra, Zahra juga tidak bisa melarang orang untuk membenci atau pun menyukai Zahra, yang perlu abang tahu, apa pun pandangan, penikaian dan perasaan orang pada Zahra, di hati Zahra hanya ada nama Abang seorang, sampai kapan pun, hanya abang laki - laki yang Zahra cintai, suami Zahra satu - satunya hanya Abang sampai maut memisah kan kita , Zahra cinta dan sayang Abang sekarang, esok, lusa dan selamanya " Zahra mengecup bibir Aziz singkat menyalurkan rasa cinta yang dimilikinya.
" Kamu terlalu cantik sayang, Abang cemburu kalau ada yang menatap kamu dengan tatapan yang tidak dapat Abang bayangkan " keluh Aziz menyampaikan kegelisahan hati nya.
Zahra tersenyum lembut pada suaminya itu " Abang, Zahra akan selalu milik Abang, Zahra tidka peduli dengan yang lain, di hati Zahra hanya ada nama abang" ujar Zahra menenangkan Aziz.
Aziz tersenyum bahagia mendengar ungkapan hati istrinya " Abang juga cinta kamu sayang, hanya kamu sekarang, esok dan selamanya." ujar Aziz tersenyum
" Ayo Abang siap -siap, sebenatar lagi acara nya di mulai, nanti keburu mami dan Tante cindi memanggil kita " ujar Zahra mendorong tubuh Aziz pelan agar mengganti pakaian nya dengan baju yang telah di siapkan Zahra untuk nya, baju yang senada dengan Zahra dan si kembar pakai.
Zahra membantu aziz Menganti pakaian nya, agar lebih cepat, karena sesuai yang dikatakan Zahra, mami dan Tante cindi sudah memanggil mereka untuk segera turun.
Setelah merasa rapi, Aziz dan Zahra pun turun ke bawah di mana acara berlangsung, si kembar ternyata sudah duluan di bawa bu Susan dan Tante cindi kebawah dan di tidurkan di atas bok bayinya yang sudah di hias secantik mungkin.
Aziz dan Zahra duduk berdampingan, karena ustadz sudah datang, tanpa menunda waktu lagi, acara pun di mulai dengan penuh hikmat,
serangkaian acara berlangsung dengan baik dan lancar, sampai menjelang sore, acara pun berakhir, satu persatu tamu undangan meninggalkan acara, termasuk rombongan anak yatim piatu yang mereka undang, setelah memberikan santunan, rombongan anak panti pun pulang meninggalkan kediaman pak Widodo.
Aziz, Zahra dan keluarga besarnya merasa lega, acara akikah si kembar berjalan lancar sesuai rencana.
__ADS_1
banyak tamu undangan yang berdecak kagum melihat ke tampanan ketiga bayi kembar itu, pujian dan doa datang silih berganti dari para Tamu undangan yang di amin kan oleh Zahra dan Aziz.