
Mirna sedang membantu Naira merapikan barang - barang Naira selama mendapatkan perawatan di rumah sakit, karena kondisi Naira sudah membaik, dokter pun telah mengizinkan naira untuk pulang ke rumah hari ini, dan rencananya setelah selesai administrasi Naira dan yang lain pun akan langsung pulang ke rumah Naira dan Rio.
Naira sudah tidak sabar untuk sampai di rumah nya, ia sudah merindukan rumahnya karena sudah di tinggalkan nya satu Minggu lebih.
Sebelum pulang kerumah, mereka berencana akan mampir keruangan Nicu terlebih dahulu demi melihat buah hatinya yang masih di rawat di ruangan itu, sebenarnya di balik rasa senangnya sudah bisa pulang kerumah, Naira juga merasa sedih karena tidak bisa membawa pulang putrinya sekalian.
Karena kondisi putrinya yang masih lemah.sehingga bayi Naira belum bisa di bawa pulang kerumah, jadi bayi kecil itu terpaksa di tinggalkan dulu di rumah sakit untuk perawatan lebih lanjut.
Naira sudah pamping asi untuk putrinya dari beberapa hari yang lalu, untuk stok asi bayinya selama perawatan di rumah sakit, agar bayinya tetap mendapatkan asi dari dirinya walau pun ia tidak bisa memberi asi langsung ke putrinya itu.
Sementara itu Rio dan sandi tengah keluar membeli sarapan untuk mereka sekalian menyelesaikan administrasi perawatan Mirna.
tok ... Tok....tok...
pintu kamar rawatan Mirna di ketuk dari luar, Mirna yang sedang memberesi barang - barang bawaan mereka yang akan di bawa pulang mengehentikan pekerjaaan nya, Mirna dan Naira saling tatap, mereka sama - sama merasa heran siapa yang sudah datang bertamu di pagi hari begini.
Jika itu Anton dan Rio mengapa mereka pakai ketuk pintu dahulu, biasanya mereka akan langsung masuk saja tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
tok..tok...tok...
Lagi - lagi terdengar suara ketukan pintu dari luar, Mirna berjalan ke arah pintu dan membukakan pintu kamar tersebut melihat siapa yang sudah datang bertamu pagi - pagi begini.
Dua orang pria bertubuh kekar dan tinggi dengan berpakaian preman ber diri di hadapan Mirna, Mirna mengerutkan keningnya bingung, karena merasa tidak mengenal kedua pria di hadapannya.
" Siang Bu, kamu petugas kepolisian ingin bertemu dengan Bu naira, kami mendapat info, bahwa Bu Naira sudah sembuh dari sakit dan kamu ingin memastikan hal itu, apa kah betul ini kamar rawatan Bu Naira buk? " tanya salah satu pria tersebut yang mengaku dari pihak kepolisian itu
" Iya betul, ini kamar rawatan Naira putri saya, ada keperluan apa bapak - bapak dengan putri saya ?!" tanya Mirna mengerutkan keningnya bingung.
__ADS_1
" Maaf Bu, kami dapat perintah untuk membawa Bu Naira ke kantor polisi untuk penyelidikan kasus yang sudah di laporkan oleh pak aziz beberapa hari yang lalu, dan berhubung Bu Naira sudah sembuh dari sakit dan koma nya, jadi kami perlu membawa Bu Naira sekarang juga untuk proses lebih lanjut , kamu harap ibu tidak mempersulit pekerjaan kami " ujar polisi itu lagi.
" Tidak, kalian tidak berhak membawa anak saya, anak saya tidak bersalah " tolak Mirna sambil menghalangi pintu agar kedua pria itu tidak masuk ke ruangan tersebut.
" Maaf Bu, jika ibu seperti ini, kami tidak bisa menjamin akan membawa paksa Bu Naira nantinya, seperti yang saya katakan tadi, lebih baik ibu bisa bekerja sama dengan kami, sehingga kami bisa menyelesaikan pekerjaan kami dengan cepat."
" Tidak bisa, kalian silahkan pergi dari sini, anak saya tidak bersalah dan kalian tidak berhak membawa anak saya " Mirna tetap bersikeras Naira di bawa oleh kedua pria yang mengaku dari ke polisian tersebut.
Di tengah - tengah keributan itu, tiba - tiba terdengar suara bariton dari seseorang yang sangat di kenal oleh Mirna.
" Ada apa lagi ini Mirna ?!!" Mirna menoleh ke arah asal suara itu datang, tak jauh dari mereka berdiri saat ini terlihat Aziz, sandi, pak Widodo dan dua orang pria asing yang tidak di kenalnya tengah menatap ke arahnya dengan tatapan dingin dan tajam.
" Saya harap kamu tidak akan mempersulit semua ini, bukan kah kita udah menyepakati semua nya, kasus ini akan di proses ketika Naira sudah di katakan sembuh, lalu mengapa kamu mempersulit semua ini ?!!" ujar sandi lagi
" Anak Ku tidak bersalah bang , kenapa kamu tega melakukan ini semua bang, Naira tidak bersalah, ia tidak sengaja melakukan itu semua " ujar Mirna yang tetap bersikeras menolak Naira di bawa oleh mereka.
" Dia juga putri mu bang, tega kamu sama putri kamu sendiri !! " ujar Mirna lagi tak kalah sengitnya.
" Dia bukan putri ku, dan kamu tahu itu !!" jawab sandi dingin.
Miran terdiam menatap sandi tidak percaya dengan apa yang sudah di katakan oleh pria itu , air matanya jatuh membasahi pipinya, Mirna tidak menyangka semudah itu sandi melupakan kasih sayangnya pada putri yang sangat di manjanya dahulu.
mendengar suara ribut - ribut dari luar kamarnya, karena merasa penasaran Naira keluar melihat apa yang telah terjadi di luar kamar rawatan nya, Naira melihat di sana sangat ramai, Naira dengan bingung menatap orang - orang tersebut dengan kening yang berkerut.
" Ada apa ini Bu ??" Tanaya Naira pada ibunya, Naira yang tidak tahu apa - apa kebingungan tidak mengerti.
" Tidak ada apa - apa sayang, kamu masuk aja ke dalam ya, kamu masih lemah dan masih butuh istirahat " ujar Mirna meminta naira untuk tetap berada di dalam kamar
__ADS_1
" Tapi ibu mengapa teriak dan marah - marah ??" tanya Naira lagi menatap Mirna
" Ibu bilang tidak ada apa - apa, kamu masuk sekarang ya " ujar Mirna tegas.
Naira Kembali menatap ke sekelilingnya , ia melihat sandi pria yang selama ini yang ia ketahui ayahnya juga berada di sana.
" Ayah ?!" sapa Naira pada sandi, sandi yang di sapa oleh Naira hanya diam menatap Naira dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.
" Ayah juga ada di sini?, sejak kapan ayah datang ?? " tanya Naira lagi pada sandi
" Ya nai, ayah di sini, ayah di sini semenjak Zahra dinyatakan koma akibat kecelakaan tabrak lari yang di alaminya " jawab sandi dingin
Deg
Naira merasa tercekat, dengan pelan Naira menelan salivanya kasar, jantungnya berdegup kencang saat sandi mengatakan Naira koma akibat tabrak lari yang di alaminya , wajah Naira seketika pucat, namun Naira kembali berusaha mengendalikan suasana hatinya ketika tersadar dari lamunan nya tentang kejadian siang itu.
Respon Naira tadi tidak luput dari perhatian orang yang berada di sana kecuali Mirna, sandi, Aziz dan dua orang petugas polisi serta pengacara Aziz dan sandi tersenyum puas, ternyata jebakan yang berasal dari ucapan sandi mampu membuktikan Naira bersalah.
" Naira masuk lah kedalam, jangan membantah lagi " perintah Mirna pada Naira ketika dengan tidka sengaja Mirna melihat rekasi orang - orang yang ada di sana ketika Naira tiba - tiba gugup dan pucat ketika sandi mengatakan musibah yang menimpa Zahra.
" Saya rasa semuanya sudah jelas, jadi kami mengharapkan kerjasama Bu " sahut polisi itu pada Mirna yang masih betah berdiri di pintu masuk ruangan itu.
" Tidak, sayang bilang tidak ya tetap tidak " sahut Mirna tetap bersikeras.
" Biarkan mereka melakukan pekerjaannya mir " Tiba - tiba Rio dan Anton datang dalam waktu yang tepat, Anton mendekati minta dan meminta Mirna untuk tidak mempersulit kerja kedua polisi tersebut.
Akhirnya, atas bujukan dari Anton, akhirnya Mirna memberi jalan pada semua orang yang ada di sana untuk masuk ke dalam ruangan tersebut.
__ADS_1