
Zahra merasakan sakit yang sangat kuat dan tidak bisa di tertahan kan lagi, semua tulang tulangnya terasa mau rontok, dengan sekuat tenaga zahra berusaha mendorong bayinya untuk keluar, Zahra mencengkram tangan Aziz dengan sangat kuat, bahkan menggigitnya sesekali, Aziz hanya pasrah, ketika zahra mencengkram tangan dan bahkan menggigitnya dengan kuat.
Aziz terus mendampingi Zahra dan tidak mau jauh dari istrinya walau pun hanya semenit, aziz selalu membisikkan kata - kata semangat dan Dzikri di kuping Zahra, sesekali Aziz mengelap keringat yang membasahi wajah istrinya itu.
" Ayo sayang, kamu pasti bisa dan kuat, demi. Anak kita berjuanglah sayang "
Zahra hanya bisa mendengar ucapan Aziz tanpa bisa membalasnya, rasa sakit yang di rasakannya membuat Zahra tidak sanggup untuk berkata - kata, tapi Zahra masih bisa mendengar kata - kata semangat yang di ucapkan oleh suaminya itu.
Sakit kontraksi nya hilang sesaat, Aziz tidak melewatkan kesempatan itu untuk menawari Zahra minum , Aziz langsung menawari minum pada Zahra, bagai mana pun Aziz tahu, Zahra pasti membutuh kan air minum setelah berjuang beberapa saat.
" Mau minum sayang ?" Zahra yang di tawari minum oleh Aziz menganggukkan kepalanya menandakan ia memang membutuhkan minum saat ini.
Aziz dengan sigap mengambil air minum yang di berikan perawatan ke padanya dan memberikan nya pada Zahra, Aziz membantu Zahra minum, dan Zahra pun meminum air tersebut hingga habis.
" capek ? " tanya Aziz lagi sambil merapikan hijab zahra yang berantakan dan mengelap keringat Zahra yang bercucuran membasahi wajah nya.
Zahra lagi - lagi menganggukkan kepalanya, nafasnya ngos ngosan seperti orang habis lari, Zahra memang merasakan sangat capek, tapi ia tetap semangat ingin melahirkan bayi - bayinya dengan cara persalinan normal.
" Masih kuat sayang ? " tanya Aziz khawatir ,
" masih bang " jawab Zahra yakin walau dengan suara lemah.
Dokter ayu meraba perut Zahra yang kembali mulai mengeras dan mulai memberikan rangsangan di atas perut Zahra.
Zahra yang mendapatkan rangsangan yang di berikan dokter ayu pada bagian perutnya kembali merasakan sakit yang semakin lama semakin sakit dan kuat di rasakannya. perutnya yang tidak biasa saja, kembali mengeras dan tegang. setiap kali rasa sakit itu datang, Zahra serasa mau mengedan.
Zahra kembali memperbaiki posisi tubuh nya dan mulai menarik nafas dalam kemudian mengedan sekuat yang ia bisa.
" Ayo sayang, semangat ya, semoga prosesnya tidak terlalu lama ya sayang, kamu pasti kuat " dokter ayu kembali menginstruksikan Zahra untuk mengejan agar bayinya dapat terdorong keluar dan di lahiran, tidak hanya itu dokter ayu juga memberikan semangat pada zahra agar Zahra semangat dan kuat selama melahirkan bayinya.
" Ayo, dorong yang kuat sayang, sedikit lagi sayang, iya pintar, ayo Zahra kepala si dedek nya udah mulai kelihatan sayang, ayo yang kuat ya ..." dokter ayu terus menginstruksikan dan menyemangati Zahra untuk dapat mendorong bayinya lebih kuat dan bersemangat lagi.
Aziz meringis ngeri saat dokter ayu melakukan tindakan episiotomy pada perinium untuk melebarkan jalan lahir dan untuk mempermudah proses kelahiran.
Walupun ia seorang dokter, tapi aziz tetap tidak tega dan merasa ngeri bila melihat tindakan episiotomy tersebut, apa lagi tindakan itu di lakukan pada istrinya Aziz jadi tidak tega lebih tepatnya tidak rela , padahal Aziz selama ini kesehariannya juga bermain dengan pisau dan gunting medis sama seperti hal nya dokter ayu
Dokter ayu yang tidak sengaja melihat Aziz meringis saat ia melakukan tindakan episiotomy pada perinium Zahra tersenyum dan menggeleng - gelengkan kepalanya,
__ADS_1
" Tenang, nanti akan Tante bikin cantik dan sempit lagi kok " bisik dokter ayu sambil menggoda aziz yang kebetulan berdiri tidak jauh darinya.
Aziz yang di goda oleh dokter ayu seketika mukanya memerah dan malu, Aziz hanya tersenyum simpul sambil mengelus tengkuknya salah tingkah.
Dokter ayu tersenyum dan geleng - geleng kepala melihat Aziz yang tengah malu - malu dan salah tingkah. Jika bukan sedang membantu Zahra lahiran mungkin dokter ayu makin gencar menggoda keponakannya itu.
Zahra mengambil nafas dalam dan kembali mengejan mendorong bayi nya keluar, tidak butuh waktu lama dan dengan dua kali berusaha akhirnya...
Oooeeeekkkk.....ooooeeeekkkkkk......oooeeekkkk....
Tangisan yang mereka tunggu - tunggu dari tadi terdengar juga memenuhi ruangan bersalin dimana Zahra berada.
" Alhamdulillah, bayi pertama sudah lahir ya jam 22.35 wib , jenis kelamin laki - laki ya sayang dan sangat tampan seperti ayahnya. " dokter ayu mengangkat bayi pertama Zahra dan aziz yang berjenis kelamin laki - laki tersebut, menghadap ke arah Zahra.
Senyum bahagia dan kekaguman luar biasa terlihat jelas di wajah aziz dan Zahra, pasangan suami istri itu saling berpandangan dan saling melempar senyum satu sama lain, Aziz mengecup kening Zahra lama dan berkali - kali sambil mengucapkan terima kasih.
" Teriak kasih sayang , kamu sudah menambahkan gelar baru untuk Abang " sahut Aziz yang tidak bosan - bosannya mencium puncak kepala Zahra.
Zahra hanya bisa tersenyum membalas ucapan terima kasih dari suaminya itu dan menganggukkan kepalanya.
Dokter ayu lalu menaruh bayi laki - laki di atas perut Zahra, seorang perawat datang mengeringkan tubuh sang bayi, sementara dokter ayu langsung mengambil klem dan gunting untuk memotong tali pusat bayi. Semua tindakan itu, tidak luput dari perhatian Aziz.
Namun Aziz langsung mencegahnya, dan meminta perawat untuk memberikan bayi tersebut kepadanya
" Bentar suster, tolong Jagan di bawa dulu, saya mau menggendongnya sebentar " panggil Aziz pada perawat tersebut. sang perawat bingung dan menatap dokter Susan minta persetujuan., dokter Susan yang paham dengan maksud tatapan perawat tersebut menganggukkan kepalanya.
Lalu dengan ragu - ragu perawat itu pun memberikan bayi tersebut kepada aziz. Walau sedikit canggung dan kaku, Aziz menerima. bayinya , aziz menatap wajah bayi itu dengan seksama, senyum bahagia terpancar jelas dari raut wajahnya.
Lalu Aziz mendekatkan mulutnya ke kuping kanan bayi tersebut dan mengazankannya.
Zahra merasa takjub ketika melihat Aziz mengazan kan bayi mereka dengan merdu dan khusuk. Tak terasa air matanya menetes membasahi pipinya karena terharu.
Selesai mengazan kan bayinya, Aziz Mandang sejenak bayi nya dan mendekatkan Bayu tersebut ke zahra agar zahra dapat melihat dan mencium bayi tersebut.
Setelah Zahra memberikan ciuman nya pada bayi laki - laki nan tampan itu, aziz pun langsung memberikan bayi tersebut kepada perawat untuk di bersihkan.
Sementara itu di luar kamar bersalin mendengar suara Bayu dari dalam ruangan bersalin, pak widodo dan Bu Susan serta chelsea yang berada di luar tersenyum senang dan saling berpelukkan, mereka yakin suara bayi tadi adalah anak zahra dan aziz. mereka yakin karena di ruangan itu hanya ada Zahra yang sedang melahirkan, selain Zahra tidak ada pasien lainnya lagi, Karena kamar bersalin itu memang di buat aziz khusus untuk istrinya Zahra.
__ADS_1
" Pi, cucu kita sudah lahir Pi " ujar Bu Susan dengan mata berlinang menatap suaminya.
" Iya mi, cucu kita sudah lahir, berkat Zahra papi punya panggilan baru mi, apa ya papi sudah menjadi opa untuk cucu - cucu kita mi "
" iya pi dan mami Oma Pi " ujar Bu Susan terharu.
" Kalau gitu aku Tante dong mi, Pi " sahut chelsea tidak mau kalah , mereka bertiga pun tertawa bahagia karena merasa lucu.
Di saat Bu.susan,.pak Widodo dan chelsea tengah berbahagia membahas panggilan putra Aziz dan.zahra pada mereka.
Sementara zahra yang berada di dalam ruangan bersalin kembali merasakan kontraksi yang cukup kuat dan sakit pada perutnya.
Dokter ayu dan Aziz kembali menyemangati Zahra untuk bisa melahirkan bayi mereka yang kedua.
Oooeeekkk.....oooeeeekkk......ooooeeeekkkkk.
Tidak lama kemudian suara tangisan bayi kembali terdengar kencang dan kuat.
" Alhamdulillah bayi kedua lahir jam 22.45 wib dan berjenis kelamin laki - laki " sahut dokter ayu lagi pada zahra dan aziz.
Sepeti hal nya dengan putra pertama tadi, Aziz kembali mengazan kan putra kedua nya sebelum bayi itu dibawa perawat untuk di bersihkan
Di luar ruangan bersalin, kembali terjadi ke hebohkan, ketika mereka mendengar suara tangisan bayi zahra dan Aziz yang kedua yang cukup keras dan nyaring mengalahkan tangisan bayi pertama tadi.
" Pi itu suara cucu kita lagi Pi "
" iya mi, Alhamdulillah yang kedua juga sudah lahir mi " jawab pak Widodo bahagia, yang di jawab anggukkan kepala oleh Bu Susan..
Tak lama kelahiran putra keduanya, Zahra yang sudah lemas dan tak berdaya itu, Kembali merasakan kontraksi untuk yang ke tiga kalinya.
Sama hal nya dengan kelahiran ke dua putranya sebelumnya, Zahra kembali mengedan walau pun tubuhnya lemas dan lelah,Zahra sudah bertekad ia akan melahirkan ketiga putranya dengan cara normal, untuk itu sekuat tenaga yang tersisa Zahra kembali mengedan agar bayinya keluar, dan....
Ooooeeeekkkk......ooooeeekkkk.....ooeeeekkkk
Tangisan bayi kembali menggema untuk yang ketiga kalinya diruangan itu.
" Alhamdulillah , bayi ketiga sudah lahir jam 23.00 wib dan berjenis kelamin laki - laki lagi." sahut dokter ayu bahagia.
__ADS_1
" Loh Tan, bukan nya USG nya dua cowok satu cewek ya Tan??"...