CINTA UNTUK ZAHRA

CINTA UNTUK ZAHRA
BAB 159


__ADS_3

Anton dan Mirna memutuskan untuk kembali ke hotel di mana mereka menginap beberapa hari ini, rencana awalnya mereka yang mau pulang ke rumah Rio menjadi batal karena, di tengah perjalanan menuju ke rumah Rio, tiba - tiba pihak rumah sakit meminta Rio untuk datang ke rumah sakit untuk membicarakan perkembangan kesehatan putrinya.


Tadi sebelum keluar dari rumah sakit memang Rio, Naira, Anton dan Mirna sudah berencana untuk membesuk putrinya dahulu tapi batal karena adanya insiden penangkapan Naira oleh pihak berwajib.


Anton dan Mirna memilih untuk tidak ikut kembali ke rumah sakit, bukannya tidak ingin mengetahui kondisi cucu mereka , tapi mengingat begitu banyak nya kejadian yang telah terjadi hari ini dan itu membuat mereka merasa sangat lelah, tidak hanya lelah hati tapi juga lelah pikiran dan tubuh mereka, untuk itu Anton mengajak Mirna untuk kembali ke hotel agar bisa istirahat sejenak sebelum memikirkan langkah apa yang harus mereka ambil selanjutnya untuk bisa membebaskan Naira dari hukuman, paling tidak bisa meringankan hukuman Naira.


Naira masuk ke kamar dan langsung merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur kamar hotel tersebut, Anton hanya diam melihat Mirna yang tidur dan memejamkan matanya seperti itu, ia tidak ada niat untuk menegurnya karena Anton sangat yakin, Mirna saat ini dalam keadaan yang tidak baik - baik saja, Ibarat kata pepatah sudah jatuh di timpa tangga.


Anto memilih berjalan ke arah sofa yang ada di kamar itu, ia menatap amplop coklat yang tadi di berikan sandi pada Mirna yang tergelatak begitu saja di atas meja bersamaan dengan tas tangan yang tadi di pakai Mirna saat ke kantor polisi.


Anton meraih amplop coklat itu dan membaca isi amplop itu sejenak, sisi lain hatinya merasa sangat senang, akhirnya Mirna bisa lepas dari sandi, dan itu artinya ia dan Mirna bisa kembali bersama dan menikah serta menyatukan cinta mereka yang sempat terpisahkan oleh keadaan.


Tapi Anton juga tidak bisa memungkiri, sisi lain hatinya juga merasa iba dan kasihan pada Mirna, karena tanpa di duga ternyata sandi yang masih berstatus suaminya beberapa jam yang lalu telah menjatuhkan talak dan tanpa ragu telah menceraikannya tanpa mengingat dan mempertimbangkan keadaan ini yang tidak dalam baik - baik saja dan di saat ia sendang rapuh dan bersedih melihat putri yang di sayang nya masuk jeruji besi, dan Mirna juga tidak menyangka bahwa sandi yang telah tega melaporkan putrinya itu.


Saat ini untuk Masalah perceraian Mirna Anton tidak mau berkata terlalu banyak, menurut Anton mungkin itu adalah keputusan terbaik untuk pernikahan Mirna dan sandi yang telah di landas kan dengan niat yang tidak baik sebelum nya oleh Mirna sendiri


Sekarang fokus Anton hanya pada putrinya Naira, sebagai seorang ayah, Anton juga tidak bisa menerima kenyataan putrinya tidur di lantai yang dingin di dalam penjara.


Anton akan berusaha untuk sekuat tenaga membantu putrinya untuk tidak di hukum terllau berat nantinya.


Anton menyadarkan punggungnya pada sandaran sofa dengan mata terpejam.


".Apa yang akan kita lakukan untuk bisa membebaskan Naira tom "


Anton yang tadinya sedang memejamkan mata bersandar pada sandaran sofa membuka matanya menatap Mirna yang masih berbaring dengan mata terpejam seperti tadi, tidak ada perubahan sama sekali, padahal tadi Anton jelas - jelas mendengar suara Mirna bertenya.pada dirinya

__ADS_1


Karena tak kunjung mendapatkan jawaban dari Anton, Mirna yang tadinya tidak benar - benar tidur membuka matanya menatap pada Anton yang juga sendang menatap dirinya.


" Anton, apa rencana kamu untuk bisa membebaskan naira " tanya Mirna lagi pada Anton


" Aku lagi berpikir mir, nanti aku akan diskusikan dulu dengan pengacara keluarga ku, aku akan meminta pengacara ku untuk dapat menangani kasus yang tengah di alami Naira." jawab Anton lalu berdiri dan mendekati Mirna yang sedang berbaring di atas tempat tidur itu.


Anton duduk di pinggiran tempat tidur dan membelai kepala Mirna lembut


" Istirahat sejenak, kamu membutuhkan itu mir " sahut Anton lembut.


Mirna yang memang merasa lelah, hanya menurut dan menganggukkan kepalanya.


Si saat kondisi Mirna yang sedang hancur, lain hal nya dengan sandi, Aziz dan keluarganya.


Sedangkan sandi dan pak Widodo memutuskan untuk langsung ke kamar Zahra dan membersihkan tubuhnya di kamar untuk keluarga yang ada di dalam kamar itu.


Sementara kedua pengacara yang bersama mereka tadi lebih memilih untuk kembali ke hotel untuk istirahat.


Aziz yang baru saja sampai di kamar istrinya merasa heran dan penasaran saat melihat rombongan dokter dan perawat keluar dari kamar istrinya itu padahal ini bukan lah jam visite Zahra lagi, karena tadi sebelum Aziz, sandi dan pak Widodo pergi mengurus laporannya, Zahra sudah di visite oleh team dokter yang merawatnya, Aziz membuka pintu kamar rawat Zahra pelan seperti biasanya karena aziz takut mengganggu istirahat istrinya itu, namun ketika masuk ke dalam kamar itu Aziz tertegun dan bingung, kamar istrinya begitu sangat ramai oleh keluarga besarnya, di sana terlihat tidak hanya Ke dua orang tua dan adiknya serta mertuanya saja yang ada di sana tapi juga ada profesor rayyan beserta istrinya dokter ayu dan tidak ketinggalan putri tunggalnya Mia, dan lebih tidak disangka - sangka kehadirannya adalah keberadaan nenek Minang di sana, ini pertama kalinya nenek minan datang ke rumah sakit selama zahra di sakit, selama ini papi dan mami ya selalu merang nenek minan datang dengan alasan Zahra belum bisa di besok ramai - ramai,


Di Sofa ruang tamu terlihat para laki - laki sedang duduk berbincang sambil tertawa bahagia di sana , dari wajah mereka tidak ada terlihat kesedihan seperti biasanya setiap kali mereka masuk membesuk istrinya, saking asik bercerita mereka tidak ada yang menyadari keberadaan Aziz di sana, Aziz lalu menatap ke arah bed pasien di mana sang istri di rawat Selama kurang lebih hampir dua Minggu ini nampak ramai di kelilingi oleh para kaum hawa, mereka asik saling bercanda dan menggoda satu sama lainnya,


Karena bingung dan merasa tidak ada yang menyadari keberadaan nya, Aziz yang tadi nya tidak membaca salam ketika masuk, mengucapkan salam untuk menyapa semua orang yang ada di ruangan itu


" Assalammualaikum"

__ADS_1


" Waalaikumsalam " jawab semua orang dan dengan kompak Semua mata menatap Aziz yang tadi mengucapkan salam .


" Eh ziz, kamu sejak kapan berada di sana ?!" tanya pak Widodo kaget melihat keberadaan Aziz yang tidak disadarinya dari tadi.


" Sudah dari tadi Pi, ini ada apa pi ramai - ramai disini ?!" tanya Aziz bingung menatap papinya.


" Sewaktu Aziz sampai tadi, Aziz melihat team dokter dan perawat baru saja keluar dari sini, apa yang terjadi dengan Naira Pi ??" tanya aziz celana


" Tenang ziz, Jagan cemas seperti itu " pak Widodo mendekati putra nya dan menepuk pundak Aziz lembut memberikan kenyamanan untuk putra nya itu.


" Tidak ada yang serius terjadi pada Naira " ujar pak Widodo lagi.


" Lalu mengapa semuanya pada kumpul di sini Pi " tanya Aziz bingung.


Tanpa mengatakan apa - apa pak Widodo membawa Aziz mendekat ke arah bed pasien.


kamera semua kaum wanita sudah mengelilingi bed pasien tersebut, sehingga Aziz sangat sulit menatap istrinya karena tertutup oleh tubuh mereka.


Ayu dan mia bergeser ke pinggir memberi jalan pada aziz dan pak Widodo.


Deg..


Aziz kaget menatap kearah bed pasien, jantungnya berdegup kencang, Aziz tidka percaya dengan apa yang sudah di lihatnya


" S...s..sa..sayang "

__ADS_1


__ADS_2