CINTA UNTUK ZAHRA

CINTA UNTUK ZAHRA
BAB 214


__ADS_3

Aziz menatap nanar pada Zahra yang tertidur tenang di atas tempat tidur pasien, wajah nya terlihat pucat dengan mata yang tertutup rapat, dan tidak ada pergerakkan sama sekali dari tubuh wanita cantiknya itu,


Aziz menggenggam erat tangan istrinya itu, air mata nya kembali menetes di kedua pipinya, aziz menyesali dirinya yang telah lalai menjaga Zahra, apa lagi kejadian itu terjadi tepat di depan matanya sendiri, sehingga Zahra kembali merasakan sakitnya terpasang alat - alat medis itu lagi, andai saja Aziz lebih hati - hati lagi, Zahra mungkin tidak akan merasakan tidur di ruangan ini lagi dan merasakan tersiksanya dengan alat - alat yang terpasang di tubuh nya saat ini.


Pak Widodo dan bu Susan masuk ke kamar rawatan Zahra, kamar yang dulu juga pernah di gunakan oleh Zahra saat musibah kecelakaan yang menimpanya beberapa tahun lalu dan kamar yang di huninya sewaktu melahirkan si kembar tiga tahun lalu, dan kini kamar itu kembali di sulap menjadi ruangan ICU dadakan sama hal nya seperti ke jadian beberapa tahun yang lalu. walau pun ICU dadakan, tapi alat alat nya sangat lengkap dan canggih sama dengan ruangan ICU biasanya. pak widodo memerintahkan staf rumah sakit menjadikan kamar itu menjadi kamar rawatan Zahra tetap dengan alasan yang sama, agar Aziz yang tidak bisa jauh dari Zahra bisa leluasa merawat Zahra.


Pak Widodo dan bu Susan yang baru saja masuk ke kamar itu langsung di hadapan dengan pandangan yang menyesakkan dada mereka, di depan sana di dekat tempat tidur pasien nampak terlihat anak menantu yang mereka sayangi tengah tertidur dengan segenap alat - alat medis yang terpasang di tubuhnya, sementara tak jauh dari Zahra tepatnya di samping tempat tidur Zahra nampak Aziz menangis sambil terus menggenggam tangan Zahra dan mencium tangan itu berkali - kali, Bu Susan dan pak widodo tidak tega melihat anak laki - laki mereka terpuruk untuk yang ke dua kali ini dan dengan kasus yang sama, yaitu kecelakaan yang hampir saja merenggut nyawa istrinya. Pak Widodo dan bu Susan mendekati Aziz yang masih terus menangis sambil menggenggam tangan Zahra, kedua nya merasa sedih dan terluka melihat nasib anak dan menantunya. Apa lagi melihat kondisi Zahra saat ini, dalam hati pak Widodo dan bu Susan tidak menyangka Zahra menantu yang mereka sayangi kembali merasakan penderitaan beberapa tahun lalu dengan kasus yang sama yaitu kecelakaan, bedanya jika dulu orang yang menabraknya kabur, kali ini orang yang menabraknya bisa di tangkap dan sedang di amankan oleh pihak berwajib di kantor polisi.


Pak Widodo tidak menyangka nyawa menantunya kembali terancam oleh orang - orang terdekat menantunya di masa lalu, walau dengan orang yang berbeda. sebenarnya pak Widodo sedikit banyak nya sudah mengetahui penyebab Zahra kecelakaan, karena begitu ia mendapat kabar zahra kecelakaan dari baby sitter ke tiga cucu nya, pak Widodo langsung memerintahkan pada bawahannya untuk mencari tahu penyebab Zahra kecelakaan, pak Widodo yakin aziz tidak akan ke pikiran untuk mencari tahu karena ia terlalu fokus dengan keadaan Zahra dan putranya.


Dan apa yang di kabarkan oleh orang suruhannya membuat pak Widodo geram dan marah, tanpa memberi tahu aziz terlebih dahulu, pak Widodo langsung menghubungi sandi dan Adam dan memberitahukan tentang musibah yang menimpa Zahra dan tidak lupa pak widodo juga menceritakan penyebab Zahra ke kecelakaan dan siapa pelakunya di balik kecelakaan yang menimpa menantunya itu.


Sandi dan Adam yang kaget sekaligus geram mendengar cerita pak widodo langsung memutuskan untuk datang, selain untuk menjenguk putrinya sandi dan Adam juga berniat akan membuat perhitungan dengan Mirna mantan istrinya itu.

__ADS_1


Pak Widodo menatap nanar tubuh Zahra yang terbaring lemah di atas tempat tidur pasien, Ia tak menyangka, baru beberapa tahun menantunya itu merasakan hidup tenang tanpa ada gangguan dari mantan ibu tirinya itu, dan bahkan pak Widodo sempat mengucapkan terima kasih pada Anton yang sudah menepati janjinya untuk menjauhkan mirna dari kehidupan menantunya itu, tapi entah apa penyebabnya kali ini Anton bisa lengah dan membiarkan Mirna mendekati Zahra dan cucunya sehingga mengancam nyawa menantu ke sayangannya itu.


Bu Susan memeluk tubuh Aziz erat, jiwa keibuannya merasa sakit melihat putranya kembali terpuruk dan rapuh seperti ini, ia juga tidak sampai hati dan tega menyaksikan penderitaan anak dan menantunya itu, untuk yang kedua kalinya ia menyaksikan kerapuhan putra nya itu, dan itu tetap dengan orang yang sama, yaitu zahra, Aziz sangat mencintai Zahra sehingga aziz tidak bisa melihat Zahra terluka sedikit pun, selama ini Aziz begitu sangat menjaga Zahra.


" Mi....." Aziz menumpahkan tangisnya di pelukkan sang ibu, seolah - olah ingin menumpahkan semua kesedihan dan beban berat yang ia rasakan saat ini pada sang mami.


Bu Susan mengelus pundak putranya penuh sayang, mendengar tangisan putra nya yang begitu menyayat hati Bu Susan ikut menangis merasakan duka putranya itu.


" Sabar sayang, kamu harus kuat, jangan lemah seperti ini, ingat ketiga putra kalian masih sangat membutuh perhatian kamu nak " hibur Bu Susan dan sekaligus mengingatkan aziz akan ketiga cucu nya yang membutuhkan perhatian dari putranya itu.


" Sssstttt..... tidak boleh bicara seperti itu nak, doa kan Zahra bisa melewati masa kritisnya, Jagan kamu pesimis begitu, Zahra wanita kuat, dia tidak akan meninggalkan kamu, tidak hanya kamu, kami juga mencintai dan menyayangi Zahra, mami juga tidak mau zahra kenapa - napa sayang " sahut Bu Susan yang tidak mau mendengar Aziz pesimis dan menyalahkan dirinya sendiri atas musibah yang menimpa Zahra.


" Benar apa yang di katakan oleh mami mu ziz, jangan meratapi kondisi Zahra, mari kita doakan Zahra bisa melewati masa kritisnya, lagi pula ini bukan kesalahan mu, tapi perempuan ular itu lah yang harus bertanggung jawab atas semua yang menimpa Zahra saat ini " kata pak widodo geram pada Aziz namun tatapannya tidak lepas dari tubuh Zahra yang tertidur lemah di atas tempat tidur pasiennya.

__ADS_1


" Maksud papi ....?" tanya aziz tidak mengerti dan bingung menatap pak Widodo sambil mengurai pelukkan nya pada tubuh Bu susan.sama hal nya dengan Aziz, Bu Susan juga menatap suaminya bingung minta penjelasan.


" Mirna, perempuan ular itu telah sengaja mencelakakan Zahra, memang awal targetnya bukan Zahra tapi Fauzan yang sedang jauh dari pantauan kalian, tapi Zahra yang merasa kan nyawa Fauzan terancam lari membantu menyelamatkan Fauzan dan dan mengorbankan dirinya sehingga mengakibatkan dirinya lah yang di tabrak akhirnya, tapi jujur papi tidak bisa bayangkan bagai mana kondisi Fauzan jika saja Zahra tidak cepat menyelamatkan nya." kata pak widodo mengalihkan tatapannya menatap Aziz, " Zahra perempuan yang kuat dan hebat nak, papi yakin Zahra pasti bisa melewati ini semua." kata pak Widodo lagi dengan mata yang berkaca - kaca menatap aziz.


" Jadi pelaku yang menabrak Zahra , Mirna mantan ibu tirinya itu Pi ?" tanya Bu Susan kaget yang di jawab anggukkan kepala oleh pak Widodo.


Aziz diam dan terpaku di tempatnya berdiri, Aziz tidak percaya dengan apa yang sudah di katakan papinya, bagai mana nenek sihir itu bisa melakukan ini semua, padahal Anton suaminya sudah berjanji akan menjauhkan mirna dari kehidupan Zahra dan anak - anak mereka. Dan Anton sudah membuktikan itu selama tiga tahun ini.


" Sekarang di mana dia Pi ?!" tanya Aziz dingin.


" Dia sudah di amankan oleh pihak berwajib, kamu tidak usah pikirkan itu dulu, sekarang fokuslah pada istri dan anak mu " ujar pak Widodo sambil menepuk pundak aziz pelan, " Pengacara dan Orang - orang suruhan papi sudah mengurus semua itu " kata pak Widodo lagi.


" Aziz tidak bisa tinggal diam Pi, Anton dan Mirna harus bertanggung jawab atas semua ini " Ujar Aziz geram

__ADS_1


" Papi setuju dengan kamu, tapi sekarang biarlah pengacara dan orang suruhan papi yang mengurus semua dulu, kita cukup fokus pada kesembuhan Zahra dulu nak " ujar pak Widodo menatap Zahra iba.


Aziz juga menatap Zahra yang masih tertidur lemah di depannya, aziz berpikir apa yang dikatakan oleh papinya benar, yang penting saat ini adalah keselamatan Zahra,.mungkin Aziz harus sedikit bersabar untuk sementara waktu sampai kondisi Zahra membaik. lagi pula pengacara dan orang - orang suruhan papinya sudah bergerak, Aziz percaya dan yakin dengan kinerja orang - orang suruhan papinya yang tidak pernah mengecewakan.


__ADS_2