CINTA UNTUK ZAHRA

CINTA UNTUK ZAHRA
BAB 29


__ADS_3

Pagi - pagi sekali zahra sudah rapi.pagi ini sesuai rencana zahra kembali ke kota tempat ia mencari nafkah dan menimba ilmu.


" Sarapan dulu Ra" Tante cindi memanggil Zahra untuk sarapan


Zahra mendekati Tante cindi yang sedang sibuk menata makanan di atas meja. di sana sudah ada Om Adam yang sedang membaca koran sedangkan Alif dan Altaf sibuk dengan ponselnya masing - masing sambil menunggu yang lain berkumpul untuk sarapan bersama.


" kakek dan nenek mana Tan ?" tanya Zahra karena tidak melihat kakek dan neneknya di meja makan.


" kakek sama nenek masih di kamar Ra, sebentar lagi juga keluar " jawab Tante cindi sambil terus sibuk menata makanan di meja.


" masih ada yang bisa Zahra bantu Tan?" tanya Zahra lagi.


" Udah kamu duduk aja, ini juga udah mau selesai kok Ra " jawab Tante cindi sambil meletakkan segelas susu hangat ke hadapan Zahra.


" kalian sarapan aja duluan ya, biar Tante panggil kakek sama nenek dulu " kata Tante cindi sambil berlalu memanggil orang tuanya ke kamar karena tidak kunjung datang untuk sarapan.


" biar Zahra aja Tan " ujar Zahra dan bersiap akan berdiri dari duduknya untuk memanggil kakek dan neneknya


" nggak usah, kamu lanjut sarapan aja " tolak tante cindi dan menyuruh Zahra melanjutkan sarapannya.


Zahra kembali duduk di kursi dan melanjutkan sarapannya


sementara itu Tante cindi yang sudah berada di depan kamar orang tuanya mengetuk pintu kamar itu pelan.


" ma, pa cindi boleh masuk ?" tanya cindi pada orang tuanya


" masuk aja cin " terdengar suara nenek memerintahkan masuk dari dalam kamar itu, Tante cindi membuka kamar orang tuanya, cindi menatap papanya yang terbaring lemah di atas tempat tidur dan ditemani istrinya duduk di tepi tempat tidur itu sambil memijit kaki suaminya.


cindi mendekati kedua orang tuanya, " gimana keadaan papa ma? " tanya cindi pada mamanya, cindi saat ini sedang mengkhawatirkan kan kondisi papanya yang kurang baik sejak semalam. cindi sudah menyarankan kepada papanya untuk kerumah sakit berobat , tapi papanya selalu menolak Karena tidak mau melihat Zahra khawatir sementara Zahra harus kembali hari ini ke kota untuk menjalan kan kewajibannya.


Walau berat melepas Zahra pergi, tapi kakek tidak mau melarang Zahra untuk membatalkan keberangkatannya, apa lagi setelah berbicara banyak dengan Zahra semalam, kakek paham apa yang sedang di cari dan di butuhkan oleh cucunya itu saat ini, Zahra pergi dari kota nya sekarang ke kota lain tak lain untuk membuktikan dirinya bisa lebih baik pada ayah dan ibunya .


paling tidak dengan berada jauh dari orang tuanya kakek berharap luka hari Zahra sedikit berkurang .


" gimana kalau sarapan papa dan mama cindi bawa ke kamar aja ?" tanya cindi pada orang tuanya. nenek menatap suaminya minta persetujuan, tapi kakek menggelengkan kepalanya

__ADS_1


" tidak usah nak, biar papa dan mama sarapan di luar aja " tolak kakek dan meminta untuk ikut sarapan bersama di luar bersama anak dan cucunya


" apa papa yakin ?" tanya cindi menatap papa nya khawatir


" papa bisa kok,kamu nggak usah khawatir " jawab kakek sambil tersenyum lalu Dengan pelan turun dari tempat tidur dengan pelan di bantu nenek dan cindi.


" pa ,sarapannya cindi.bawa ke sini aja ya " kata cindi lagi karena tidak yakin melihat kondisi papanya yang kemah dan sedikit pucat .


" Udah papa nggak apa - apa kok cin, pap masih bisa jalan dan sarapan bareng di luar dengan kalian." kata kakek meyakinkan anak bungsunya itu. " lagian kapan lagi papa bisa sarapan bareng dengan kita terutama cucu papa Zahra " kata kakek lagi


" kok papa ngomong gitu sih " kata cindi merajuk dan memajukan bibirnya.


" ya kira kan nggak tahu apa yang bakal terjadi kedepannya kan nak " ucap kakek tertawa kecil.


" cindi nggak suka papa bicara seperti itu " Rajuk cindi lagi dan langsung memeluk papanya yang terlihat lemah dan pucat itu


" jadi jangan bicara seperti itu lagi pa " kata cindi lagi.


Cindi sangat tahun dengan kondisi papanya yang tidak baik - baik saja, sebenarnya sudah lama papanya itu menderita suatu penyakit yang berat sehingga mengharuskan papanya menjalani cuci darah rutin yang sudah terjadwal tiap bulannya.


kakek yang meminta pada cindi dan Adam untuk tidak memberitahukan penyakitnya pada yang lain terutama Zahra cucu yang sangat di sayangnya dan telah di rapatnya semenjak bayi itu.


" Zahra jadi berangkat hari ini nak ?" tanya kakek pada Zahra yang sedang sarapan di meja makan, kakek duduk di kursi yang biasa di duduki nya di bantu cindi dan nenek


sudah yakin papanya duduk baik cindi lalu mengambilkan sarapan untuk kedua tuanya,setelah itu baru duduk di kursi samping suaminya dan ikut sarapan.


" jadi kek " jawab Zahra setelah menelan makanan dalam mulut nya.


" berangkat nya jadi berenang Alif ? " tanya kakek lagi sambil menatap Alif


" iya kak " kali ini Alif yang menjawab, " kebetulan Alif ada acara seminar di sana selama tiga hari " jawab Alif Menjelaskan.


" kalian hari - hati di jalan ya, dan kamu Alif bawa mobilnya jangan kencang - kencang ,pelan - pelan aja " kata kakek mengingat kan Alif


" kalau pelan kan sampai nya kek " kata Alif acuh

__ADS_1


" ya maksud kakek Jangan terlalu kencang lah Alif." kata kakek kesal mendengar jawaban Alif." lagian kalau kamu kebut - kebutan jika terjadi apa - apa gimana ,kamu kan belum nikah lif ,apa nggak rugi " kata kakek lag menggoda cucunya itu.


"issss.... kek, kalau doa itu yang baik - baik kenapa " jawab Alif sewot pada kakeknya.


Semua orang yang ada di ruangan itu tertawa lihat kakek dan Alif saling menggoda .


cindi menatap ayahnya pilu, dalam rasa sakit yang rasakannya ,kakek berusaha tetap kuat dihadapan orang - orang yang di sayangnya.


****


selesai sarapan Alif dan Zahra pamit pada kakek, nenek cindi dan Adam tak tertinggal si usil Altaf


Suasana haru seketika menyelimutinya pagi yang cerah itu.


Zahra pamit pada kakek, nenek ,Adam dan cindi dan memeluk mereka bergantian.


Entah mengapa saat berpelukkan dengan kakeknya Zahra merasa berat untuk berpisah dengan sang kakek.


Zahra memeluk kakeknya kuat seakan enggan untuk melepaskannya. Tiba - tiba rasa tidak enak dan tidak ingin meninggalkan kakeknya itu menerpa dirinya saat ini, rasa apakah ini, Zahra bingung dengan hatinya yang tiba - tiba mellow pagi ini.


" Hari - hati di sana ya nak, tetaplah amanah dalam bekerja.dan.belajar lah dengan rajin semoga kelak kamu bisa berpijak di kaki mu sendiri." kakek mengelus kepala Zahra lembut,


entah mengapa Zahra merasa setiap kata yang terucap dari bibir kakek seolah - olah sebuah pesan yang sangat tersirat untuk dirinya.


" kakek baik - baik aja kan?" tanya Zahra pelan sbil.menatap sang kakek,


degg


jantung kakek terasa berhenti berdetak , kakek takut Zahra mengetahui kondisinya saat ini.


Kakek sadar dan dengan cepat mengubah ekspresi wajah nya dengan cepat dan menyunggingkan senyum manis untuk cucunya tersebut


" berangkat lah sekarang nanti keburu siang dan kalian akan kemalaman nantinya di jalan. "


ujar kakek sambil merenggangkan pelukannya Zahra dari tubuhnya.

__ADS_1


" baik lah kek, Zahra jalan dulu ya kek, kalau ada apa -apa nanti tolong kabari Zahra segera ya kek ." ujar Zahra sambil memeluk kakaknya lagi.


__ADS_2