CINTA UNTUK ZAHRA

CINTA UNTUK ZAHRA
BAB 142


__ADS_3

Rio menatap Naira dari balik kaca ICU, keadaan Naira masih sama seperti sebelum ia tinggalkan, tidur diam tanpa suara, hanya bunyi alat - alat medis yang terdengar saling silih berganti.


" Kenapa kamu tega melakukan itu semua nai, untuk apa kamu berbuat seperti itu,apa kamu sadar, akibat perbuatan kamu, kamu telah membahayakan nyawa bayi kita nai dan kamu lihat lah nai, tidak hanya nyawa bayi kita taruhannya, tapi juga nyawa Zahra dan calon bayi nya, aku tidak percaya kamu bisa melakukan ini semua nai, padahal Zahra adalah saudara perempuan mi, apa salah Zahra pada mu nai, hingga kamu tega mencelakakan nya ?? " Rio terus menatap Naira dan berbicara dalam hati mengapa Naira melakukan semua itu.


Rio menghela nafas berat, ia semakin pusing dan tidak mengerti dengan apa yang terjadi hari ini, semua begitu sangat mengejutkan baginya.


Rio merasakan sangat lelah, tidak hanya lelah tubuhnya tapi juga lelah hati dan pikirannya, Rio membalikkan badannya untuk duduk di kursi yang di siapkan di depan ruangan ICU tersebut.


Rio menyandarkan kepalanya dan menutup matanya, untuk sementara waktu ia ingin istirahat sejenak dari rasa lelah yang di rasakannya, lelah pikiran, hati dan terlebih tubuhnya.


Baru saja Rio mulai sedikit tenang, tiba - tiba datang suara seseorang memanggil nama nya cukup keras, Rio kembali membuka matanya dan menatap ke arah suara orang yang telah memanggil nama nya itu,.dari jauh nampak ibu mertuanya yaitu Mirna ibu Naira sedang berjalan tergesa - gesa bahkan terkesan setengah berlari menghampirinya, dan mertuanya tidak sendiri, ada seorang pria yang berpakaian rapi seperti seorang pria kantoran berjalan mendampingi ibu mertuanya itu.


" Rio, bagai mana kondisi Naira dan cucu ku saat ini ?!!" tanya Mirna setelah dekat dengan Rio


Rio meraih tangan mertuanya dam mencium punggung tangan mertuanya hormat, begitu juga dengan pria yang datang bersama ibu mertuanya itu, Rio juga menyalami pria tersebut tanpa ingin bertanya siapa pria itu.


" Mirna dan bayinya masih dalam keadaan kritis Bu, tapi kita tidak bisa masuk sembarangan keruangan bayi Bu, karena ruangannya harus steril. " jawab Rio sendu


" Ya Allah , apa yang sudah terjadi pada Naira Dan cucu ku nak, kenapa nasibnya bisa seperti ini " sahut Mirna menangis meratapi nasib putri dan cucu nya.


" Sabar lah mir, Jagan bersedih seperti ini, sebaiknya kamu doa kan mereka agar baik - baik saja " ujar pria yang ikut bersama Mirna sambil memeluk Mirna dan mengelus bahu Mirna lembut.


" Aku janji, aku akan usahakan perawatan yang terbaik untuk Naira dan bayi nya." ujar pria itu lagi.


Rio jadi salah fokus melihat pria yang ikut bersama ibu mertuanya itu, pria itu terlihat sangat memperlakukan Mirna dengan lembut, dan satu lagi yang jadi perhatian Rio pria itu juga terlihat begitu sangat bersedih walau tidak di penampakkannya.

__ADS_1


Dalam hati Rio bertanya - tanya siapa pria yang bersama ibu mertuanya itu, mengapa pria itu begitu perhatian pada ibu mertua dan istrinya.


" Tapi Naira anton, mengapa putri dan cucu ku bisa bernasib seperti ini, aku takut terjadi apa - apa pada mereka anton, aku tidak bisa bayangkan hidup tanpa putri ku " sahut Mirna terus menangis dalam dekapan pria di depannya itu .


" suuuuttttt, jangan bicara seperti itu, aku yakin anak kita kuat mir, aku yakin ia akan sembuh seperti semula, kamu tenang ya " ujar pria yang Rio tahu bernama Anton dari panggilan mertuanya pada pria itu dan pria bernama Anton itu terus menenangkan ibu mertuanya


' Anak kita ' Rio mengerutkan keningnya ketika mendengar pria itu mengatakan kata - kata anak kita pada ibu mertuanya, anak siapa yang mereka maksudkan, apakah Naira?!!!


Rio terus menatap bingung pada kedua pasangan yang tidak muda itu lagi yang tengah saling berpelukkan dan menguatkan satu sama yang lainnya.


Bertambah satu lagi kenyataan dan berita yang di luar dugaan Rio, jika bisa sat ini , Rio ingin rasanya tidak perduli dengan semua kabar dan kejadian yang terjadi hari ini dalam waktu yang hampir bersamaan, ia tak sanggup lagi menerima kejutan demi kejutan yang menyakitkan yang ia terima, terlalu banyak beban pikirannya saat ini.


" Apa yang terjadi sebenarnya pada Naira nak, bagai mana bisa Naira tidak sadarkan diri seperti ini dan kenapa cucu ku bisa lahir sebelum waktunya " setelah sedikit tenang , Mirna kembali mencerca Rio dengan berbagai pertanyaan - pertanyaan yang Rio sendiri begitu sulit menjelaskan dari mana awalnya ia harus menjelaskan.


" Rio, jawab nak, kenapa kamu diam saja ?!!" tanya Mirna lagi sambil menggoyangkan tangan Rio


Mirna mengalihkan tatapannya pada asal suara itu, tak jauh dari mereka berdiri, nampak sandi dan Adam ada di sana berdiri menatap tajam kearah mereka.


" Bang sandi ..!! " Mirna kaget melihat sandi sudah ada di sana bersama Adam, Mirna yang dengan posisi masih berada dalam dekapan Anton, perlahan - lahan melepaskan tubuhnya dari dekapan pria di sampingnya itu, ada raut ketakutan di wajah dan mata Mirna, ketika ia menatap sandi yang juga sedang menatapnya tajam dan penuh kebencian.


Sementara itu Anton yang berada di samping Mirna bersikap biasa - biasa saja, ia tidak berusaha untuk memperbaiki keadaan, Anton sebenarnya sedang menunggu momen seperti ini, dimana sandi memergokinya lagi bersama Mirna, Anton tidak akan mengelak lagi seperti pertama kali tertangkap basah oleh sandi sedang berselingkuh dengan Miran, karena waktu itu ia belum siap untuk menghadapi sandi, tapi saat ini ia sudah merasa siap menghadapi sandi dan meminta sandi melepaskan Mirna jika sandi memang tidak menginginkan Mirna lagi, walau pun waktunya tidak tepat .


" A- apa ma- maksud Abang semua ini salah Na - naira, dan apa maksud Abang Zahra juga kritis saat ini ?!?" tanya Mirna terbata - bata


" Atas izin siapa kamu kesini " bukannya menjawab pertanyaan Mirna sandi malah bertanya balik pada Mirna , tatapannya tajam menatap Mirna dan Anton, sementara itu Rio yang ada di antara mereka hanya diam menatap apa yang tengah terjadi di depannya, tanpa ia mengerti apa yang sedang terjadi saat ini diantar mertuanya dan pria bersama ibu mertuanya itu.

__ADS_1


" Maaf, aku sudah menghubungi Abang berkali - kali, tapi ponsel Abang tidak bisa di hubungi , dan..."


" Dan kamu pergi dengan selingkuhan mu kesini, begitu " sahut sandi memotong ucapan Mirna yang belum selesai di ucapkannya.


Rio kembali kaget kita mengetahui ternyata pria yang bernama Anton yang bernama ibu mertuanya itu ternyata selingkuhan ibu mertuanya.


" Itu bukan salah Mirna, aku yang mengajaknya kesini untuk melihat kondisi Naira dan bayinya, serta ingin memastikan apa kah mereka baik - baik saja " ujar Anton tenang, bagai mana pun Anton tidak rela bila sandi membentak wanita yang di cintainya itu


" saya tidak bertanya pada anda." sahut sandi tanpa memalingkan tatapannya yang tajam pada Mirna.


" Saya berhak untuk tahu keadaan Naira, Karana Naira Putri ku, anda jangan lupa kan itu " ujar Anton tidak kalah dinginnya dari sandi.


" Oo ya, akhirnya anda mengakui juga Naira Putri anda, kemana saja anda selama ini HAH " ujar sandi dengan senyum mengejek ke arah anton.


Anton mengepalkan jari - jari tangan membentuk kepalan tinju, ia mencoba menahan untuk tidak memukul sandi saat ini karena ia sadar bahwa saat ini mereka sedang berada di lingkungan rumah sakit.


Sementara itu Rio kembali di kagetkan oleh kenyataan, ternyata Naira istrinya bukanlah anak kandung sandi ayah mertuanya, tapi anak dari pria yang telah menjadi selingkuhan ibu mertuanya itu.


" Ya tuhan, berapa kejutan lagi yang akan aku terima hari ini tuhan, dengan wanita seperti apakah aku menikah saat ini tuhan ' rintih Rio dalam hati. sungguh kedatangan mertuanya bukannya meringankan beban nya, tapi malah menambah beban pikirannya, ' apa kah Naira sudah tahu tentang semua ini, tentang siapa ayah kandungnya, pantas saja tadi ayah mertuanya itu tidak ada bertanya tentang kondisi Naira dan cucu nya sama sekali, apa kah ini penyebabnya ," gumam Rio lagi dalam hati.


" Anton sudah lah " Mirna mencoba meminta Anton untuk bersabar dan tidak terpancing oleh amarah sandi


" Bang, bisa Abang jelaskan, apa maksud ucapan Abang tadi, kenapa Zahra dan Naira bisa sama - sama kritis, dan Abang bilang semua ini karena ulah Naira ?" tanya Mirna Minta sandi mejelaskan maksud ucapan sandi tadi.


" Kamu akan tahu sebentar lagi " jawab sandi singkat dan dingin, tak lama setalah sandi berkata seperti itu tiba - tiba ...

__ADS_1


" Selamat sore "


__ADS_2