CINTA UNTUK ZAHRA

CINTA UNTUK ZAHRA
BAB 98


__ADS_3

Zahra membantu Aziz peking pakaian yang akan di bawa Aziz ke negara Y, Zahra menyusun baju - baju Aziz kedalam koper yang akan di bawa Aziz, sementara itu,.Aziz yang sedang duduk di sofa kamar itu terlihat sibuk dengan laptop di hadapannya.


Aziz sedang memeriksa file - file yang di kirimkan Aldo ke email nya,


Aziz ingin cepat menyelesaikan permasalahan yang terjadi di perusahaannya di negara Y , untuk itu Aziz mulai mempelajari permasalahanya dari sekarang, jadi sesampainya di negara Y, Aziz tinggal bergerak saja lagi tanpa mempelajari lagi kasusnya.


Zahra sudah mengunci koper Aziz setelah Zahra merasa semuanya sudah lengkap.


Zahra mendekati Aziz yang masih sibuk dengan pekerjaannya, Zahra duduk di samping Aziz dan menatap apa yang di kerjakan oleh dokter tampan sekaligus CEO itu.


Zahra mengerutkan keningnya tidak mengerti dengan susunan angka - angka yang ada di laptop tesebut. Zahra menarik nafas dalam dan membuangnya kasar.


Zahra tidak habis pikir, bagai mana bisa suaminya itu melakukan pekerjaan yang menurut Zahra sangat berat dalam waktu bersamaan.


Zahra tidak bisa membayangkan seberat apa beban pikiran yang di tanggung suaminya itu selama ini.


" Kenapa hmm" aziz yang merasakan kehadiran Zahra di samping nya, dan tahu bahwa istrinya itu tengah memperhatikan pekerjaannya bertanya, karena Aziz bisa mendengar suara tarikan nafas dalam istrinya itu.


* Abang apa gak capek, ngurus pekerjaaan sekaligus seperti ini ?" tanya Zahra


" kapan Abang mengerjakan tugas Abang di perusahaan sementara pekerjaan Abang di rumah sakit aja sudah sangat berat " sahut Zahra lagi.


Aziz tersenyum mendengar pertanyaan istrinya. " di perusahaan kan ada Aldo yang mengurus Sayang, jadi Abang bisa fokus sama pasien - pasien Abang di rumah sakit, kalau ke perusahaan, Abang serahkan ke Aldo dan Abang akan datang sekali - kali aja, atau jika ada pekerjaan yang tidak bisa di wakilkan seperti sekarang ini," jawab Aziz menjelaskan.

__ADS_1


Aziz menutup laptopnya nya karena pekerjaannya sudah selesai.,Aziz menatap jam di pergelangan tangannya, waktu sudah menunjukkan pukul tiga sore, Aziz Harus berangkat sekarang, karena pesawatnya akan take off jam lima sore..Aziz sengaja mengambil perjalanan sore karena ia harus menyelesaikan operasinya yang sudah terjadwal tadi hari ini terlebih dahulu , Aziz sebenarnya bisa saja mengalihkan perawatan pasien pada dokter lain , tapi Aziz tidak mau melakukan itu, karena Aziz menganggap itu tanggung jawabnya dan ia harus menyelesaikannya, setelah tindakan operasi selesai di lakukan ,untuk perawatan post op nya Aziz baru meminta dokter lain untuk menggantikannya selama ia pergi.


" Abang sudah harus berangkat sekarang sayang, selama Abang pergi, kamu mau tetap tinggal di apartemen sendirian atau tinggal sementara di rumah papi dan mami?" tanya Aziz pada Zahra, bagai mana pun Aziz merasa cemas meninggalkan Zahra sendiri di apartemen selama ia pergi, tapi Aziz tetap tidak mau memaksa di mana istrinya tinggal Selma ia pergi, bagi aziz kenyamanan Zahra adalah yang utama.


" Zahra di apartemen aja ya bang, Zahra merasa tidak enak kalau di rumah mami dan papi , lagian kampus dan rumah sakit juga lebih dekat dari apartemen kita bang " tolak Zahra halus .


Zahra bukannya tidak mau tinggal sementara di rumah pak Widodo dan bu Susan selama Aziz pergi, tapi Zahra masih belum terbiasa berada di rumah itu tanpa ada Aziz menemaninya , apa lagi saat ini Zahra sangat di sibukkan dengan tugas akhir kuliah nya, jadi Zahra akan merasa tenang jika tinggal sendiri di apartemen, karena ia bisa lebih fokus dalam menyelesaikan tugas kuliahnya.


Aziz Menganggukkan kepalnya setuju " baik lah, di mana kamu nyaman aja sayang " sahut Aziz membelai kepala Zahra yang tertutup hijab.


" kamu hati - hati di rumah sendiri ya, ingat selama Abang pergi jangan nakal, jaga mata dan hatinya ya sayang " sahut Aziz lagi sambil membelai pipi Zahra lembut


Zahra meraih tangan Aziz di pipinya dan menggenggam tangan itu dengan erat, bagai mana pun Zahra merasa berat jika berjauhan dengan suaminya itu, tapi Zahra tidak mau menampakkan kesedihannya di depan Aziz, sebagai istri Zahra sadar tentang kewajibannya , Zahra sadar suaminya bukan lah orang biasa, tapi ia bersyukur di tengah kesibukannya Aziz tetap mengutamakan dirinya dalam segala hal.


Dan sekarang adalah tugas Zahra untuk memberi dukungan pada suaminya itu, jadi Zahra tidak boleh lemah dan sedih di hadapan suaminya itu.


Suara bel terdengar di luar, Zahra berdiri untuk membukakan pintu apartemen itu,


" Itu pasti Aldo sayang, bilang pada Aldo tunggu sebentar, Abang mau ber beres dulu sebentar " sahut Aziz memberi tahu Zahra siapa yang datang, Zahra menganggukkan kepalanya mengerti .


Zahra Membukakan pintu apartemen nya ,ternyata dugaan Aziz benar, yang datang adalah Aldo.


" Pak Aldo silahkan masuk pak, Abang lagi bersiap - siap dulu pak, jadi harap tunggu sebentar " ujar Zahra dan mempersilahkan Aldo masuk.

__ADS_1


" Baik Bu " jawab Aldo sopan dan duduk di sofa ruang tamu apartemen itu menunggu Aziz.


Aldo mengeluarkan ponselnya dan mencek pekerjaannya lewat ponsel yang ada di tangannya sambil menunggu Aziz bersiap - siap.


Zahra kembali menemui Aziz di kamar mereka, Zahra mendekati Aziz yang sedang memakai jas kerjanya , Zahra membantu Aziz memasangkan jas tesebut di tubuhnya.


Aziz menatap Zahra yang sedang merapikan pakaiannya, hatinya begitu berat meninggalkan Zahra sendiri, andai saja ini bukan karena pekerjaannya atau andai saja pekerjaannya bisa di wakilkan, Aziz akan pasti akan memilih tidak pergi sehingga ia tidak perlu meninggalkan Zahra sendiri.


" jangan begitu bang, kan cuma seminggu " sahut Zahra tanpa memandang Aziz, Zahra tahu Aziz dari tadi memperhatikan dirinya.


" justru itu sayang, seminggu terasa setahun bagi Abang " jawab Aziz lemas


" jangan lebay deh bang, kan masih bisa telpon dan vc bang " jawab Zahra menghibur suaminya itu.


" udah rapi, Aldo udah menunggu Abang tuh untuk berangkat." sahut Zahra lagi .


Aziz memeluk Zahra dan menarik tubuh Zahra lebih dekat lagi," kasih Kiss dulu dong sayang, biar Abang tenang perginya " ujar Aziz memelas.


Zahra tersenyum, lalu Zahra mengecup bibir aziz sekilas, ketika Zahra akan menarik kepalanya ,Aziz dengan sigap meraih tengkuk Zahra dan menahannya, Aziz memperdalam ciumannya di bibir Zahra, Aziz baru melepaskan ciumannya setelah Zahra mendorongnya pelan karena kehabisan nafas akibat perbuatan suaminya itu.


Aziz tersenyum , Aziz lalu memeluk Zahra dan mencium puncak kepala istrinya


" Abang pergi dulu ya, ingat hati - hati di rumah jangan nakal dan jaga pandangan Selma Abang pergi " ujar Aziz menatap Zahra dan membelai kepala Zahra lembut.

__ADS_1


Zahra menganggukkan kepalanya sambil tersenyum


Aziz lalu menemui Aldo di depan, setelah berpamitan dengan Zahra,.Aziz di antar Aldo ke bandara,.Aziz melarang Zahra ikut mengantarnya ke bandara, karena Aziz tahu Zahra pasti sudah sangat lelah hari ini.


__ADS_2