
Zahra dan Aziz sedang memantau ketiga anak nya dari dalam kamar mereka lewat dinding pembatas antara kamar mereka dengan kamar ke tiga putranya yang terbuat dari kaca tembus pandang, ketiga bayi itu sudah di ajar kan untuk tidur sendiri semenjak bayi, awalnya Zahra keberatan Karana merasa kasihan, tapi setelah mendapat penjelasan dari suaminya akhirnya dengan berat hati Zahra pun menyetujuinya, apa lagi alasan Aziz kalau bukan tidak ingin waktunya dan zahra berkurang dan terganggu, karena siang Zahra sibuk dengan si kembar sementara Aziz sibuk bekerja, dan malam lah waktu mereka berdua. Dasar Aziz bucin dan posesif sama anak nya aja cemburu.
" Gak nyangka ya bang, Nia dan Rico menikah juga, padahal dulunya Rico itu sering menolak Nia loh bang " Zahra menyandarkan tubuhnya di dada bidang Aziz yang sedang duduk bersandar pada headboard Temat tidur sambil mengelus pundak Zahra dan sesekali mencium puncak kepala istrinya itu.
" Itu lah nama nya jodoh sayang, menolak seperti apa pun kalau memang jodoh tidak akan kemana, dan begitu juga sebalik nya sekuat apa pun kita meraihnya, jika bukan Jodoh yang tidak akan bersama, dan ingat Allah maha membolak balik hati manusia, sekarang kita benci bisa - bisa besok kita cinta dan begitu juga sebaliknya " ujar Aziz menjelaskan " sama sepertinya dengan kita. " sahut Aziz lagi.
" Kita " beo Zahra menatap Aziz bingung.
" Iya kita, kamu mengira gak kalau Abang bakal jadi suami kamu dan bakal cinta sama Abang ? " tanya Aziz menatap Zahra balik, Zahra menggelengkan kepalanya, memang Zahra tidak menyangka ia bakal menikah dengan dokter yang pernah jadi fatner kerja nya di rumah sakit, seorang dokter yang baik dan ramah sekaligus ganteng yang banyak di puja tidak hanya dari kalangan perawat, tapi juga dokter - dokter yang masih single, mereka saling berlomba mendapatkan perhatian dokter ganteng itu yang sekarang sudah menjadi suaminya yang menurut Zahra jauh dari angan - angannya dahulu.
" Itu lah yang Abang maksudkan sayang, adek dulu begitu cuek sama Abang sementara yang lain berusaha mencari perhatian Abang, berawal dari rasa penasaran, Abang jadi menyukai adek, dan siapa sangka kesempatan itu datang di saat yang tepat, walau pun bukan di waktu yang tepat, perasaan yang awalnya hanya rasa penasaran akan diri adek siapa kira itu cinta yang Abang rasakan untuk adek, dan siapa mengira juga adek yang saat itu belum mencintai Abang menerima pernikahan kita dan sekarang adek juga cinta kan sama Abang " Aziz kembali mejelaskan maksud ucapan tadi pada Zahra sambil mengenang bagai mana mereka dahulu bekerja sama dalam merawat pasien dan berujung menjadi suami istri hingga memiliki tiga jagoan dalam waktu hampir dua tahun pernikahan mereka.
Zahra termenung, bayangan masa lalu kembali mengingatkannya bagai mana sakit nya dan kecewanya Zahra pada Rio yang lebih memilih menikah dengan Naira dari pada memperjuangkan cinta mereka, kesedihan Zahra ditinggal oleh sang kekek yang berakhir dengan pernikahan nya dengan Aziz suami yang begitu sangat di cintainya saat ini.
Siapa sangka Aziz yang Zahra kenal hanya sebatas fatner kerja telah menjadi suaminya, sementara Rio yang sudah menjalin hubungan dengan nya bertahun - tahun tidak berjodoh.
" Iya ya bang " sahut Zahra membenarkan ucapan Aziz setelah sadar dari lamunan masa lalunya yang pedih, tapi Zahra merasa ada yang aneh dengan panggilan Aziz padanya, Aziz yang biasanya memanggilnya sayang dan kamu ada terselip panggilan adek padanya, Zahra merasa hatinya berbunga - bunga ketika Aziz memanggilnya adek dan tidak kamu lagi.
" Kenapa senyum - senyum hhhmmm " aziz mencubit pipi Zahra gemas.
__ADS_1
cup
Bukannya menjawab pertanyaan Aziz, Zahra malah mengecup bibir aziz singkat, Aziz tercengang mendapatkan ciuman mendadak dari istrinya, ini hal yang langka bagi Aziz , jarang - jarang istrinya itu memberikan ciuman duluan pada nya kecuali jika di minta.
" Sayang , adek jangan menggoda Abang ya " Ujar Aziz menyipitkan matanya menatap sang istri.
" Udah ah bang, Zahra mau tidur, besok Zahra mau menghabiskan waktu Zahra bersama nenek sebelum nenek dan yang lainnya pulang " Zahra merebahkan tubuhnya dan menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. Aziz yang tidak terima di tinggal tidur oleh istrinya langsung menarik selimut yang membungkus tubuh Zahra.
" Adek harus tanggung jawab dulu sayang " ujar Aziz yang memaksa Zahra bangun.
" Tanggung jawab apa Abang, Zahra gak ngapain Abang kok "
" gak ngapain apa, yang tadi itu apa sayang "
Aziz pun akhirnya mengalah dan memilih ikutan tidur sambil memeluk tubuh Zahra dari belakang.
" Gak baik kok tidur membelakangi suami " seru Aziz pelan di telinga Zahra. Dengan pelan Zahra pun memutar tubuhnya menghadap Aziz. Aziz tersenyum senang melihat Zahra menuruti ucapannya.
cup , Aziz pun memberikan kecupan lembut di bibir istrinya itu.
__ADS_1
" Selamat malam sayang, tidur lah dengan nyenyak, si kembar biar Abang yang urus, mimpi yang indah sayang, I love You "
" Love you too Abah " Jawab Zahra sambil menaruh kepalanya di dada bidang Aziz dan masuk lebih dalam ke dalam pelukkan Aziz dan balas memeluk. berada dalam pelukkan suaminya adalah tempat ternyaman bagi zahra.
Tidak butuh waktu yang lama dengkuran halus terdengar dari bibir tipis zahra menandakan Zahra sudah tertidur lelap, Aziz menyunggingkan senyum bahagia setelah mengetahui Zahra sudah tertidur dalam pelukannya seperti malam - malam biasanya,
" Teruslah seperti ini sayang, bahagia lah, dan terus lah tersenyum, buang semua luka yang ada, tatap lah masa depan dengan bahagia." Aziz kembali mengecup puncak kepala Zahra.
Sebelum memejamkan matanya, Aziz kembali memantau ketiga anak - anaknya, dari layar monitor, ketiga bayi - bayi itu tertidur dengan lelap, lalu Aziz menatap Zahra dan membenarkan selimut yang menutupi tubuh Zahra, setelah yakin Zahra nyaman dan tubuhnya tertutup selimut, Aziz pun mulai ikut memejamkan matanya menyusul istri dan anak - anak nya yang sudah tidur terlebih dahulu.
Sementara itu di tempat yang lain di sebuah apartemen mewah, seorang pria sendang duduk di kursi kerjanya dengan posisi membelakangi meja kerja dan menghadap kaca besar ruangan itu yang langsung menghadap ke arah luar apartemen, tatapan pria itu jauh ke luar sana, raut wajah nya menunjukkan kekhawatiran dari permasalahan pelik yang ia hadapi saat ini.
Pria itu sendang khawatir memikirkan ke adaan putrinya yang sudah beberapa bulan ini berada di rehab tidak menunjukkan kemajuan yang pesat, artinya hanya jalan di tempat. harapan nya satu - satunya saat ini hanya lah Zahra, saran dokter tadi siang kembali terngiang di telinga nya.
" Kami juga bingung pak, pasien sepertinya tidak ada ke keinginan untuk sembuh, saran saya sebaiknya bapak ketemukan pasien dengan orang yang di maksud nya, harapan kita, dengan cara ini dapat memberi kesembuhan untuk pasiennya "
Anton mengurut kepalanya yang terasa pusing. Yah pria itu adalah anton, semenjak pulang dari membesuk Naira tadi, Anton selalu kepikiran dengan putri nya itu.
Ini sudah hampir satu bulan semenjak terakhir kali Anton menemui sandi , Aziz dan pak Widodo, mereka mengatakan akan mengabari nya , sampai saat ini satu pun di antara mereka belum ada menghubungi nya.
__ADS_1
" Apa aku harus menemui mereka Kemabli ya " gumam Anton sambil mengetuk - mengetuk kursi kerjanya dengan jari telunjuknya.
setelah berpikir sejenak, Anton pun memutuskan akan menemui Aziz besok langsung di kantornya di saat makan siang.