
Zahra sedang merapikan pakaian dan menyusunnya ke dalam koper kecilnya. Tak terasa sudah satu Minggu Zahra menghabiskan masa liburan di kampung kelahirannya. dan besok sudah saatnya bagi Zahra untuk kembali ke kota dimana ia sedang mengabdikan ilmu yang dimiliki dan untuk menyalurkan tenaganya membantu masyarakat mencapai ke kehidupan yang sehat dan sembuh dari penyakitnya.
Zahra merasa kepulangannya kali ini sangat berbeda di rasakan setalah tiga tahun ia meninggalkan kota kelahirannya dan bertekad mengadu nasib di kota lain. saat itu tujuan Zahra hanya satu, yaitu ingin membuktikan kepada keluarganya bahwa ia sanggup dan mampu hidup tanpa mereka.zahra ingin membuktikan pada ayah dan ibunya bahwa ia bukan lah seperti yang mereka ucapkan selama ini, mereka yang menganggap Zahra gadis lemah ,manja dan pembawa sial.
Tiga tahun Zahra kuatkan hati nya untuk tidak pulang ke rumah, Zahra menutup mata dan hatinya agar tidak tergoda setiap kali kakek ,nenek,Tante ,om Adam dan Alif membujuknya untuk pulang. padahal jika boleh jujur Zahra sudah sangat merindukan mereka tapi Zahra masih ingat omongan ayah, ibu dan Naira kakak yang selalu menghinanya sehingga setiap hinaan dan makian yang Zahar terima Tampa mereka sadari membekas begitu dalam di hati Zahra , entah apa bisa di sembuhkan atau tidak. hanya waktu dan Zahra yang tahu
setiap malam Zahra selalu berdoa minta pada sang pencipta untuk membuka dan melapangkan hati dan fikiran ayah,ibu dan kakak nya untuk bisa menerima Zahra, dan menyayangi zahra seperti ayah ibu nya menyayangi Naira kakaknya. Zahra juga ingin merasakan di sayang dan di peluk di kala ia sedih dan senang oleh ayah dan ibunya.
Zahra teringat pada masa lalu dimana waktu itu penerimaan lapor kenaikan kelas. Naira dan Zahra hanya beda satu tingkat, Zahra yang saat itu sudah duduk di kelas tiga dan akan naik ke kelas empat dan Naira kelas empat akan naik ke kelas 5, tapi sayang kemampuan Naira tidak lah secerdas Zahra, sehingga waktu itu Naira yang harus nya berada di kelas lima harus tetap mengulang pembelajarannya di kelas empat karena syarat Naira naik ke kelas lima tidak tercapai. Naira saat itu tidak terima satu kelas dengan Zahra, naira marah dan memaki - maki Zahra saat itu, ibu Naira yang melihat anak nya marah - marah sambil menangis pada Zahra tanpa bertanya ikutan menyalahkan Zahra dan menuduh Zahra sudah berbuat kasar pada Naira sehingga Naira menangis kiat seperti itu , Naira yang kesal pada Zahra pun melakukan aksi mogok makan dan bicara pada kedua orang tuanya. sehingga entah apa yang sudah di lakukan oleh ayah dan ibunya akhirnya Naira bisa lanjut ke kelas lima .
Tapi saat ini Zahra merasa senang dengan adanya sedikit perobahan sikap sandi pada dirinya saat ia sakit dan harus di rawat inap tiga hari yang lalu. walau sedikit canggung dan kaku , sandi sudah mulai memberikan perhatian - perhatian kecil pada zahra. Perhatian yang selama ini Zahra harapkan bisa ia dapatkan dari ayah nya
Zahra tersadar dari lamunannya ketika ia mendengar ketukan pintu kamar dari luar, Zahra dengan cepat menghapus air matanya " ya masuk nek "suhut Zahra sedikit teriak takut suaranya tidak bisa terdengar oleh sang nenek .
" Kamu jadi kembali besok nak ?" kakek dan neneknya masuk kekamar Zahra setalah dapat izin dari Zahra .kakek dan nenek menghampiri Zahra yang sedang menyusun pakaian nya di lantai dekat lemari pakaian, nenek dan kakek ikut duduk di karpet yang di duduki Zahra saat ini.
" Iya nek, karena Lusa Zahra sudah harus mulai kerja lagi " jawab Zahra masih sibuk menyusun baju - baju nya kedalam koper
__ADS_1
" Apa tidak sebaiknya tunggu satu Minggu lagi nak" nenek membelai kepala Zahra yang tertutup hijab itu." nenek dan kakek masih kangen kamu Ra, lagian satu Minggu lagi kan sudah masuk bulan ramadhan, alangkah senang nya kakek dan nenek bisa puasa pertama bersama kami di sini nak, kan sudah tiga kali ramadhan kamu tidak pernah puasa di rumah " bujuk nenek lagi pada Zahra agar mau membatalkan keberangkatannya sampai menunggu datangnya bulan Ramadhan.
" Zahara mengambil tangan renta dan keriput itu dan membawa tangan itu ke bibirnya dan mengecup tangan renta itu, " maaf Zahra nek, bukan nya Zahra nggak mau puasa pertama. sama nenek dan kakek di sini, tapi Zahra punya tanggung jawab di sana dan tidak bisa Zahra abaikan nek "kata Zahra mencoba memberikan pengertian pada nenek dan kakek nya.
Jujur Zahra juga merasa sangat berat hati nya untuk meninggal kan kakek dan neneknya saat ini, tapi Zahra kembali pada kenyataan dan sadar bahwa ia masih punya tanggung jawab di rumah sakit tempat Ia bekerja.
"lagi pulang, bulan depan Zahra sudah harus memulai kuliah Zahra nek , jadi Zahra tetap akan berangkat besok , nenek izinkan Zahra kan nek" Zahra menatap neneknya memohon izin dan restu untuk bisa melanjutkan perjalanan nya besok pagi menuju kota tempat ia mencari nafkah
" Apa tidak sebaiknya kamu pindah kuliah dan kerja disini aja nak?" kami ini kakek yang berusaha membujuk Zahra. " kapan perlu kamu tidak perlu kerja nak, untuk biaya sekolah kamu kakek masih sanggup untuk membiayainya " kata kakek lagi.
Zahra tersenyum pada kakeknya dan menggenggam tangan kakek lembut " maaf kek, Zahra tahu kakek mampu membiayai sekolah Zahra, tapi Zahra di sana tidak hanya sekolah kek, Zahra juga ingin membagi ilmu Zahra untuk orang yang membutuhkan " kara Zahra lagi
Zahra berusaha sekuat tenaga untuk menahan air matanya agar tidak jatuh, lagi - lagi luka yang di torehkan oleh orang tuanya itu kembali terasa perih di hatinya.
Zahra meraih tangan kakek, neneknya dan menggenggamnya bersamaan " Zahra mohon pasa nenek dan kakek izinkan dan restui Zahra untuk tetap bekerja dan sekolah di sana ya, dan Zahra minta doa kakek dan nenek untuk Zahra bisa sukses suatu hari nanti dan bisa membuktikan pada ayah dan ibu bahwa Zahra bisa sukses tanpa mereka" kata Zahra memohon pada kedua orang yang sangat di sayangi dan sudah merawat nya dari kecil itu.
" kakek dan nenek akan selalu men doa kan mu nak, doa kami akan selalu menyertai langkah hidup mu "ujar kakek
__ADS_1
Zahra langsung meluk kedua orang terkasih nya itu haru," makasih nek, makasih kek sudah mendukung Zahra selama ini " ujar Zahra dalam pelukan nenek dan kakek nya dan menangis haru.
" Selalu lah bahagia ya nak, walau nanti kakek sudah tidak bisa mendampingi kamu lagi " ujar kakek kemudian ,
Degg...
Seketika jantung zhara berdegup keras. Zahra Merenggangkan pelukannya dan menatap kakeknya dengan pandangan tak suka " zahra nggak suka kakek bicara seperti itu " ujar Zahra sewot , entah mengapa Zahra merasa hatinya tidak tenang setelah kakeknya berkata seperti itu. apa penyebabnya Zahra tidak tahu yang pasti Zahra tidak Suka jika kakeknya berkata demikian
" Kakek kan bicara apa adanya nak, umur, rejeki jodoh dan maut itu kan rahasia illahi dan tidak ada yang tahu kapan datang dan perginya " kata kakek sambil tertawa
" tapi Zahra nggak suka kek " kata Zahra lagi merajuk
" ya udah , tapi kamu janji ya tetaplah bahagia ya nak " akhirnya kakek mengalah.
Lalu kakek mengajak nenek keluar dari kamar Zahra dan membiarkan Zahra untuk menyelesaikan beberesnya karena hari juga sudah menunjukkan malam sudah mulai larut.
" kakek dan nenek tidur dulu ,cepat lah maki selesai kan beberesnya dan kemudian tidur biar besok tidak kesiangan " ujar kakek mengelus kepala Zahra dan berlalu dari kamar Zahra dan nenek mengikutinya di belakang.
__ADS_1
Zahra menatap punggung renta itu dengan pandangan yang tidak bisa di artikan.