
" Selamat sore "
Seseorang datang mengucapkan salam, semua orang mengalihkan pandangannya kearah orang yang baru datang tersebut,
Di sana sudah ada Aziz, pak Widodo dan dua orang pria berseragam polisi menghampiri mereka.
" Sore pak " sapa sandi dan Adam serta bersalaman dengan kedua anggota polisi itu karena adam dan sandi sudah tahu apa tujuan kedua polisi itu datang dari info yang ia dapat dari Aziz.
Untuk itulah, sandi dan Adam yang tadi nya sedang makan di kantin rumah sakit, mempercepat makan mereka dan menuju ruangan ICU di mana Naira dirawat, karena kedua petugas polisi itu sedang menuju kesana.
Yah sesuai dengan hasil pembicaraan mereka tadi siang, dengan bantuan Aldo asistennya serta bukti - bukti yang sudah di bawa oleh Aldo, Aziz pun melaporkan kecelakaan tabrak lari yang sudah menimpa istrinya ke pihak berwajib.
Sesuai kesepakatan juga Aziz sudah meminta pada pihak polisi untuk memproses laporannya setelah pelaku sembuh, walau begitu pihak berwajib tetap melaksanakan pemeriksaan awal serta pihak polisi juga ingin melihat kondisi pelaku, walau pun
proses kasusnya tunggu pelaku sadar dan sembuh.
Rio yang sudah mengetahui maksud kedatangan kedua polisi itu menyambut kedatang polisi tersebut dengan baik, Rio bersalaman dan mengenalkan dirinya pada kedua polisi tersebut.
Sementara Mirna dan anton yang tidak tahu apa yang telah terjadi menatap bingung dengan kehadiran dua orang polisi tersebut.
Anton menatap dua orang pria yang datang bersama kedua polisi itu, Anton menyipitkan matanya merasa mengenal kedua pria itu.
" Pak Widodo, pak aziz " sapa Anton mendekati pak Widodo dan aziz serta mengulurkan tangan bersalaman.
Aziz dan pak Widodo yang juga mengenal Anton sebagai rekan kerja nya meyambut ukuran tangan anton dan mereka pun bersalaman .
" Apa kabar pak Widodo dan pak Aziz" sapa Anton tersenyum
" Kabar kami bisa di katakan kurang baik pak Anton, " jawab pak Widodo
Anton mengerutkan keningnya tidak mengerti, pak Widodo yang paham dengan reaksi Anton pun memberi tahu Anton jika saat ini menantunya sedang tidak baik - baik saja.
" Menantu saya, sedang dalam keadaan kritis di rumah sakit ini pak, menantu saya korban tabrak lari " sahut pak Widodo lagi.
__ADS_1
" Maaf pak saya baru tahu soal itu, saya ikut berduka pak " jawab Anton ikut prihatin dengan musibah yang menimpa keluarga pak Widodo.
" Apa pelakunya sudah di ketahui pak ??" tanya Anton
" Sudah pak, dari rekaman cctv yang kami dapatkan di lokasi kejadian " jawab Aziz.
" Syukurlah pak, kalau begitu, semoga pelaku dapat hukuman yang setimpal pak " jawab Anton, Anton masih terlihat santai karena ia belum tahu siapa pelakunya, sementara sandi yang sudah mengetahui pelakunya menyunggingkan seringainya pada Anton.
" Maaf, di antara bapak - bapak di sini siapa ya suami pelaku " salah satu polisi yang bernama Dika bertanya dan menatap satu persatu pada ke enam laki - laki yang ada di ruangan itu.
" Saya pak ,saya Rio suami dari Naira " jawab Rio mengangkat tangannya.
" Sore pak Rio, sesuai laporan yang sudah kami terima dari pihak pelapor atas nama bapak Aziz, jadi maksud kedatangan kami ke sini ingin melihat kondisi pelaku pak, dari laporan yang kami terima, katanya pelaku juga dalam keadaan kritis saat ini "
" Betul pak, istri saya saat ini dalam keadaan kritis dan belum sadarkan diri, kalau boleh saya meminta izin pak, tolong kasus ini bisa di proses setalah istri saya sembuh pak " jawab Rio, polisi itu pun hanya mengangguk - anggukkan kepalanya.
" Apa saya boleh jumpa dengan dokternya pak, saya butuh keterangan dari dokter untuk kondisi pasien "
" Baik lah pak, kalau begitu kami permisi dulu " jawab kedua polisi itu dan berlalu dari sana .
Setelah kedua polisi itu pergi, Mirna dan Anton yang belum mengetahui apa - apa itu terlihat bingung ketika kedua polisi itu dan aziz menyebut nama Naira sebagai pelaku, pelaku apa maksudnya mirna dan Anton masih tidak mengerti.
" Rio, ini apa maksudnya, kenapa polisi itu menyebut Naira pelaku, pelaku apa Rio " Tanya Mirna pada Rio, Rio menundukkan kepalanya, ia bingung bagai mana cara menjelaskan nya pada Mirna.
" Naira Putri anda sudah melakukan tindakan kriminal dengan menabrak lari istri saya " jawab aziz menatap dingin dan tidak suka pada Mirna.
Mirna balas menatap aziz dan menggeleng - gelengkan kepalanya tidak percaya dengan tuduhan yang sudah Aziz beritakan pada putrinya itu.
" Dan akibat ulah putri anda, istri saya belum sadarkan diri sampai saat ini, dan tidak hanya istri saat, anak anda juga sudah membahayakan nyawa anak - anak saya yang belum lahir " ujar Aziz lagi
" Tidak, ini tidak benarkan kan Rio " Mirna yang tidak terima anak nya di tuduh pelaku tabrak lari pun bertanya pada Rio menantunya itu.
" Jawab ibu Rio, itu tidak benar kan.!!? " tanya Mirna lagi dengan suara yang lebih tinggi
__ADS_1
" Semua itu benar Bu, awalnya aku juga gak percaya Naira bisa melakukan itu semua, tapi dari rekaman cctv yang ada di lokasi kecelakaan , sudah membuktikan dan menyatakan Mirna pelakunya " jawab Rio menatap ibu mertuanya itu.
" Apa saya boleh lihat rekaman nya ?" Anton mendekati Rio dan meminta rekaman cctv yang dari tadi di sebut - sebut oleh Aziz dan Rio.
Sebagai seorang ayah, Anton juga tidak mau percaya begitu saja atas tuduhan yang di berikan pada putrinya , ia harus melihat buktinya dulu.
Rio mengambil ponsel yang ada di kantongnya, dan mencari pesan yang dikirimkan aziz tadi serta membuka pesan Vidio yang dikirim kan aziz tadi, lalu Rio menyerahkan ponselnya itu pada Anton tanpa bicara satu kata pun.
Anton menerima ponsel yang di berikan Rio dan menatap rekaman cctv itu dengan serius, ia tidak mau melewatkan sedikit pun rekanan itu.
Anton mengusap wajahnya kasar setelah melihat semua rekaman itu, saat ini ia begitu bingung mau bicara apa lagi, Anton sangat tidak percaya putrinya sanggup melakukan semua itu, apa lagi dalam ke adaan hamil besar.
Sementara itu Mirna menutup mulutnya syok melihat rekaman cctv itu, Miran terduduk tidak berdaya di bangku yang ada ruang tunggu ruangan ICU itu, Mirna hanya bisa menangis menyesali perbuatan putrinya
Mirna tidak menyangka Naira betul - bentul melampiaskan dendam nya pada Naira dengan cara menghabisi nyawa perempuan itu.
" Mengapa Naira melakukan semua itu " Anton mengapa Rio dan Mirna bergantian meminta jawaban
" Saya juga tidak tahu pak" jawab Rio
" Mir, apa kamu tahu alasan Mirna melakukan ini semua " Anton mengarahkan tatapannya pada Mirna, Anton yakin Mirna pasti tahu sesuatu, tapi gelengan kepala Mirna membuat Anton kesal.
Anton tahu, Mirna menyembunyikan sesuatu pada nya, Anton akan membiarkan Mirna tenaga dahulu, baru nanti ia akan menanyakannya lagi, lagi pula Anton sadar, disana masih ada sandi, bisa jadi Mirna diam karena tidak ingin sandi tahu dan ikan menghakiminya.
Melihat kepanikan di wajah dan sikap Anton, Aziz merasa ada yang aneh dengan pria itu, apa itu? tapi Aziz tidak ingin mengetahuinya saat ini, yang ia pikirkan saat ini hanyalah kondisi istrinya yang masih belum bangun - bangun juga .
Aziz menatap pak Widodo dan menganggukkan kepalanya mengajak pergi dari sana, pak widodo yang paham maksud Aziz juga menganggukkan kepalanya.
" Urusan kami sudah selesai, kami pamit dulu " ujar Aziz dan mengajak pak Widodo berlalu dari sana.
" Aku yakin, kamu pasti tahu alasan Naira mencelakakan Zahra mir, walau kamu diam, aku akan mencari tahu itu semua, jika ketahuan kamu terlibat di dalamnya , ingat kah, aku akan menghukum kamu lebih kejam lagi Mirna." ujar sandi dingin pada Mirna, lalu tanpa pamit, sandi dan Adam pun berlalu meninggalkan Mirna, Rio dan Anton.
Anton saat ini terlihat sangat panik, ia tidak menyangka orang yang di celakaan putrinya adalah istri dari orang yang sangat disegani di dunia bisnis, dan lebih parahnya lagi Aziz dan pak Widodo adalah rekan bisnisnya, Anton takut, perbuatan Naira akan berimbas pada kerjasama mereka nantinya, dan jika itu terjadi ,maka Anton harus siap - siap kehilangan perusahaannya.
__ADS_1