CINTA UNTUK ZAHRA

CINTA UNTUK ZAHRA
BAB 58


__ADS_3

Acara tahlilan sudah selesai dilaksanakan ,seluruh keluarga merasa bersyukur acara berjalan dengan lancar dan hikmat, Zahra tidak menyangka dan bersyukur ternyata begitu banyak orang yang ingin mendoakan kakek.


Pak Widodo dan bu Susan orang tua aziz pamit untuk balik ke hotel, karena besok pagi sekali sudah harus berada di bandara dan ke kota asalnya.


Sebenarnya mereka sudah harus kembali hari ini, tapi berhubung adanya kejadian di luar dugaan terjadi hari ini dan itu berhubungan dengan putra pertamanya sehingga mereka harus menunda pekerjaan mereka sampai esok pagi .


" papi dan mami izin kembali ke hotel dulu ya Ra, besok pagi papi dan mami sudah harus kembali ,karena pekerjaan papi sudah menunggu di sana " Bu Susan menatap menantu dadakannya dengan lembut sambil mengelus kepala Zahra lembut.


Jiwa keibuan yang di miliki Bu susan membuat Zahra tersentuh seketika, Zahra sangat merindukan belaian kasih sayang seorang ibu ,entah mengapa berhadapan dengan Bu Susan seperti saat ini membangkitkan kembali rasa rindu Zahra pada belaian seorang ibu yang belum pernah ia dapat kan semenjak bayi itu, kecuali dari cindi dan neneknya .


Air mata Zahra berlinang, tiba - tiba tanpa dapat ia tahan air mata itu jatuh membasahi pipinya ,bu Susan kaget melihat menantu dadakannya itu menangis ,entah kenapa baru pertamakali berjumpa dengan Zahra bu susan sudah merasa jatuh hati pada Zahra .


Bu Susan menatap Zahra bingung, "kamu mengapa menangis nak ?" tanya Bu Susan lembut sambil mengusap air mata di pipi menantunya itu, Zahra hanya diam, Zahra juga tidak tahu mengapa ia menangis, mungkin karena masih bersedih baru kehilangan sang kakek sehingga ia menjadi melow begini, sehingga dengan sentuhan kelembutan dari Bu Susan membuat ia jadi mellow.


" Zahra boleh peluk ibu " Zahra menatap penuh harap pada Bu Susan, awal nya bu Susan merasa kaget mendengar permintaan Zahra ,tapi beberapa detik kemudian bu susan pun tersenyum dan merentangkan tangannya, Zahra yang awalnya merasa takut permintaannya di tolak tersenyum senang dalam tangisnya ,Zahra langsung berhamburan kedalam pelukkan bu Susan.


Semua orang yang ikut menyaksikannya menjadi ikut terharu.


Sementara sandi yang melihat putrinya begitu sangat merindukan kasih sayang seorang ibu merasa sangat bersalah di dalam hati. ' maafkan papa Zahra , Jika papa tidak mengikuti Ego papa saat itu, mungkin kamu tidak akan kehilangan mama kamu nak dan kita sudah bahagia hidup bersama mama kamu saat ini ' bisik sandi dari dalam hati, sandi menundukkan kepalanya sambil menghapus air matanya yang tiba - tiba ikut keluar karena terharu ,sandi tidak mau ada yang melihatnya menangis saat ini, namun sandi salah, ternyata sikapnya itu dapat terlihat jelas oleh Mirna saat ini.


Aziz dan pak Widodo tersenyum senang melihat Zahra dan bu susan saling berpelukkan , akhirnya sikap Zahra sedikit mencair dari awal mereka bertemu tadi, itu tak lain usaha dari Bu Susan yang terus mendekati Zahra dengan penuh kasih sayang seribu ,sehingga sedikit - demi sedikit Zahra sudah mulai membuka diri dengan kedua mertuanya terutama ibu mertuanya. tadi Zahra masih membatasi untuk berinteraksi dengan kedua mertua dadakannya karena masih merasa sungkan ,Zahra masih menganggap pak widodo dan Bu Susan adalah pimpinan nya di rumah sakit.

__ADS_1


Melihat Zahra sendiri yang meminta di peluk oleh Bu Susan, Aziz berharap langkah nya untuk membuat Zahra jatuh cinta pada nya tidak akan sulit. Aziz tersenyum senang akan hal itu.


Setelah beberapa menit saling berpelukkan , Zahra merenggangkan pelukannya pada Bu Susan, " makasih Bu, masih sudah mau memeluk zahra " ujar Zahra sungkan.


" Jangan bilang terima kasih nak, mulai sekarang papi dan mami adalah orang tua mu juga, kamu adalah putri kami sekarang, jika Aziz bandel dan jahat ke kamu kamu jangan sungkan untuk melaporkannya kepada kami ya " jawab Bu Susan sambil mengerlingkan matanya pada aziz.


" Dan mulai sekarang kamu jangan panggil ibu dan bapak lagi, karena kami bukan atasan kamu, kamu harus panggil kami mami dan papi ya karena kamu adalah putri kami " perintah Bu Susan pada Zahra, Zahra menatap aziz yang berada di sampingnya minta persetujuan.Aziz mengerti dengan arti pandangan Zahra padanya Aziz tersenyum pada Zahra sambil menganggukkan kepalanya.


" baik Bu eh mi ,Pi jawab Zahra salah tingkah .


Pak Widodo dan bu Susan tersenyum mendengar Zahra memanggilnya mami dan papi .


" mulai sekarang kamu harus membiasakan diri manggil kamu mami dan papi ya sayang " ujar Bu Susan senang .dan di jawab anggukkan kepala oleh Zahra.


" Papi dan mami tidak usah khawatir Aziz pasti akan menjaga istri Aziz dengan segenap jiwa " jawab Aziz sambil menatap Zahra yang tertunduk malu mendengar obrolan Aziz dan mertuanya .


Setelah pamit dengan semua keluarga pak Widodo dan bu Susan berjalan menuju parkiran mobil di antar oleh Aziz ,Zahra hanya menunggu di teras rumah sedangkan keluarga yang lain sudah masuk kedalam terlebih dahulu


" Ziz ,kamu temani Zahra dulu di sini, jangan paksa Zahra untuk kembali cepat - cepat ,karena papi lihat Zahra masih Sangat berduka di tinggal kakeknya, untuk urusan pekerjaan kamu dan pasien kamu biar papa yang urus." perintah pak Widodo pada Aziz sebelum masuk mobil dan Aziz menjawab dengan anggukkan kepalanya paham.


" baik Pi " jawab Aziz singkat.

__ADS_1


Lalu mobil yang di tumpangi pak Widodo dan bu Susan pun berlalu meninggalkan rumah Zahra.,


Aziz Melihat Zahra yang masih menunggu nya di teras langsung menghampiri Zahra,


" yuk masuk sudah malam, tidak baik lama - lama di luar, udaranya dingin " ujar Aziz mengajak Zahra masuk.


Zahra pun menganggukkan kepalanya dan mengikuti langkah Aziz untuk masuk kedalam rumah.


Sesampainya di dalam Zahra yang berniat ingin melihat neneknya ke kamar sang nenek jadi urung karena Naira sudah menghadang jalannya terlebih dahulu ,


" ternyata kamu munafik juga ya Ra, di saat berduka seperti ini, masih sempat - sempatnya berdua - duaan pacaran " ujar Naira tanpa Zahra mengerti maksud ucapan Naira yang tiba - tiba aneh menurut Zahra


" maksud nya apa kak " tanya Zahra bingung.


* alah jangan sok lugu gitu deh Ra, tampang aja sok alim ,ternyata melakukan kamu sama bejat nya dengan orang yang tidak bermoral, baru aja kakek meninggal, semua orang berduka, eh kamu malah asik berdua - dua an" Zahra makin bingung mendengar ocehan Naira tidak berkelas, karena malas ribut, Zahra pun memilih mengabaikan Naira yang masih mengoceh tidak jelas, Naira merasa di abaikan oleh Zahra langsung menarik tangan Zahra sehingga Zahra hampir saja terjatuh akibat tarikan Naira yang tiba - tiba dan kuat tersebut.


hup


Zahra yang hampir jatuh memejamkan matanya karena merasa akan terhempas akibat tarikan Naira pada lengannya


tapi....

__ADS_1


Zahra tidak merasakan sakit apapun pada tubuhnya, Zahra merasa berada di tempat yang hangat dan empuk.


Zahra membuka matanya ,Zahra kaget ternyata ia tidak jadi mencium lantai ,yang ada saat ini ia berada dalam pelukkan dada seseorang yang entah kapan berada di sana.


__ADS_2