
Zahra baru saja sampai di kos nya setelah pulang dari jaga malam, rasaelah dan kantuk menyerang nya saat ini, Zahra ingin cepat - cepat masuk ke kamarnya membersihkan badan lanjut tidur.
tapi belum sempat Zahra masuk ke kamarnya Arumi tiba - tiba datang menghampiri Zahra dan menarik Zahra masuk ke kamarnya,
" apa sih rum, main tarik - tarik aja " ujar Zahra kesal karena di tarik paksa oleh Arumi
" Aku ingin bicara sama kamu Ra" jawab Arumi dan mengajak Zahra duduk di karpet .
" bicara apa sih rum , aku ngantuk nih, bicaranya nanti aja ya " tolak Zahra, karena Zahra memang sangat capek dan sangat mengantuk saat ini.
" aku butuh penjelasan kamu sekarang juga Ra " desak arumi.
" penjelasan apa sih rum "? tanya Zahra enggan menanggapi Arumi
" tolong kamu jelaskan tentang ini ke aku sekarang Ra " Arumi menyodorkan sebuah kertas kepada Zahra, Zahra menatap benda yang di sodorkan arumi kepadanya bingung
Zahra menatap bingung Arumi dan benda yang di sodorkan oleh Arumi tersebut.
Zahra mengambil benda itu yang ternyata sebuah undangan,
" ini undangan siapa rum" tanya Zahra bingung
" itu yang aku mau tanya ke kamu Ra, apa maksud dengan undangan itu" tanya Arumi lagi
Zahra membuka undangan itu, seketika Zahra terdiam setelah membaca nama yang tertera di undangan itu. Saat ini entah apa yang ada pikiran Sarah, yang pasti rasa sakit itu kembali di rasakannya .
" Ra...." lamunan Zahra buyar ketika tangan Arumi menyentuh bahunya dan memanggil namanya.
"bisa kamu jelaskan ini ke aku sekarang Ra"? tanya Arumi pelan.zahra menatap Arumi sejenak, Zahra menarik nafas dalam dan berusaha setenang mungkin di hadapan Arumi saat ini.zahra meyakinkan Arumi bahwa saat ini ia tidak apa - apa,
" Ra..."
" ini undangan Rio dan kak Naira ya rum" ujar Zahra memotong ucapan Arumi yang belum selesai.
" kamu sudah tahu mengenai undangan ini Ra?"
tanya Arumi bingung,Zahra mengangguk kan kepalanya pelan snil tersenyum.
__ADS_1
" kok kamu tidak cerita ke aku Ra, kenapa mereka bisa menikah, apa maksud Rio dan Naira nyakiti hati kamu seperti ini Ra" tanya Arumi bertubi - tubi.
" Rio dan kak Naira di jodohkan rum" jawab Zahra tenang," baguslah kan akhirnya Rio bisa menikah dengan perempuan pilihan orang tuanya ,dan itu bukan aku rum " ujar Zahra lagi sambil tersenyum.
" jadi kamu pulang kampung besok untuk menghadiri acara pernikahan mereka Ra"? tanya Arumi tidak percaya yang di jawab anggukkan kepala oleh Zahra
" bagai mana pun kak Zahra adalah kakak aku rum " jawab Zahra sambil tersenyum
" kamu yakin Ra" tanya Arumi lagi khawatir
lagi - lagi Zahra hanya menganggukkan kepalanya .
" Ra sumpah aku nggak percaya ini Ra" ujar Arumi heran menatap Zahra
" kamu jelas - jelas sudah di sakiti oleh mereka Ra, dan sekarang kamu datang menghadiri pesta mereka , terbuat dari apa sih hati kami Ra" tanya Arumi lagi menatap Zahra tidak percaya
" justru aku sangat ingin menghadirinya rum ,aku ingin melihatkan ke mereka bahwa aku tanpa Meraka akan baik - baik saja dan ketika aku melihat mereka menjalani ijab kabul aku berharap dapat meyakinkan aku untuk menerima kenyataan bahwa antara aku dan Rio tidak ada hubungan apa - apa lagi kecuali hubungan antara adik ipar dan kakak ipar saja " jawab Zahra yakin
Arumi terdiam menatap Zahra, begitu banyak pertanyaan yang belum terjawab muncul dalam kepala Arumi, tapi melihat ketenangan Zahra, pertanyaaan itu menguap entah kemana.
Arumi merenungi ucapan Zahra barusan. dalam hatinya ada benarnya juga apa yang di katakan Zahra tadi.
" menagislah Ra, tapi aku minta kamu tidak boleh lama menagisnya, karena mereka tidak pantas untuk menerima air mata mu ini Ra, berjanjilah ini tangisan kamu yang terakhir, setelah ini jangan ada air mata lagi buat mereka ." ujar Arumi menghibur Zahra sambil mengelus punggung Zahra lembut.
hal seperti ini yang membuat Zahra nyaman berteman dengan Arumi, Arumi selalu dapat menenangkannya di saat hatinya sedang gundah dan sedih seperti ini, bagi Zahra Arumi lebih dari hanya sekedar sahabat bahkan saudara sekali pun.setiap kali Zahra terluka akibat ibunya atau kakaknya Naira ,Arumi selalu datang menghiburnya dan menguatkan nya lagi, sama seperti halnya saat ini, di saat Zahra terluka karena pernikahan Rio dan kakaknya Arumi datang menghiburnya.
" sudah sekarang kamu istirahat , nggak usah kamu pikirkan tentang mereka ,iklaskan mereka Ra, dengan mengikhlaskan dan belajarlah untuk move on dari mereka .memang tidak mudah tapi aku yakin kamu pasti bisa Ra " ujar Arumi lagi
Zahra merenggangkan pelukannya " makasih ya rum" ujar Zahra di antar tangisnya.
Arumi menghapus air mata Zahra sambil tersenyum, " nggak usah bilang makasih, itulah gunanya sahabat Ra" jawab Arumi sambil tersenyum
" aku balik dulu ya,kamu istirahat gih, nanti kamu masuk shift malam lagi kan ?" tanya Arumi ,dan di jawab anggukan kepala lagi oleh Zahra.
Arumi berdiri dan keluar dari kamar Zahra kembali ke kamarnya,
Zahra menatap kepergian Arumi nanar, ada rasa lega yang di rasakan Zahra setalah berbicara banyak dengan Arumi tadi. Zahra kemudian merebahkan badannya di atas kasurnya, entah karena lelah atau apa Zahra langsung tertidur, niat nya tadi ingin mandi dulu baru tidur hanya tinggal rencana.
__ADS_1
sementara itu setalah sampai di kamarnya Arumi menghubungi Rio dan mengajaknya bertemu di taman dekat komplek kos Arumi dan Zahra.
tak lama setelah menghubungi Rio Arumi langsung bersiap - siap untuk menemui Rio di taman ,Arumi ingin meminta penjelasan pada rio tentang apa yang sudah terjadi.
sesampainya di taman, Arumi mencari sosok Rio yang katanya sudah sampai di taman.arumi melihat Rio sedang duduk di bangku taman sambil memainkan ponselnya.
" khhmm " Arumi mendehem memberitahu Rio bakwa dirinya sudah sampai di sana , Rio mengangkat kepalanya ,menatap ke suara tersebut, Rio melihat Arumi berdiri di hadapannya dengan tatapan yang tidak dapat di artikan oleh Rio, yang pasti melihat Arumi seperti itu nyali Rio sedikit mnciut.
" eh rum udah Sampai ya" sapa Rio sambil tersenyum dan segera memasukkan ponselnya ke dalam kantong celananya
" duduk rum " rio menawar Arumi duduk di bangku yang kosong di sampingnya, Arumi duduk di tempat yang di tunjukkan Rio tanpa ada suara sama sekali.sikapnya masih dingin kepada Rio
" katanya kamu mau ada yang di bicarakan Sam aku , mau bicara apa rum?" tanya rio menatap Arumi.
" kamu bisa jelaskan tentang ini kak" tanpa basa basi Arumi langsung menyodorkan sebuah undangan kepada Rio.
Rio tetap undangan yang ada di tangan Arumi tersebut , sepintas Rio melihat undangan itu Rio sudah tahu kalau itu undangan pernikahannya dengan Naira.
Rio menarik nafas dalam " soal itu......"
" aku pingin kamu jujur kak" ujar Arumi memotong ucapan Rio ," jangan ada yang kamu sembunyikan kak, aku nggak telat sahabat aku kamu sakiti seperti ini kak" kata Arumi lagi
Rio menundukkan kepalanya, ada kesedihan yang Arumi tangkap dari wajah pria itu,
" aku tidak mencintai Naira rum, gadis yang aku cintai itu hanya Zahra dari dulu sampai sekarang, kamu tahu sendiri kan Giman susahnya aku mendapat cinta rum" Rio menghentikan ucapannya dan menatap Arumi sendu.
Arumi terdiam, betul, Arumi sangat tahu betul bagai mana perjuangan Rio mendapat cinta Arumi saat itu, Arumi yang susah di dekati dan Rio yang harus bersaing dengan cowok - cowok lain yang juga menyukai zahra. Mengingat semua itu,Arumi serasa tidak percaya hubungan mereka kandas dengan cara yang menyakitkan seperti ini sekarang.
" aku juga terluka rum, aku nggak juga nggak bisa melepaskan Zahra,karena sampai detik ini aku masih sangat mencintainya, yang aku inginkan menjadi istri ku bulan Naira tapi Zahra rum" ujar Rio lagi. setetes air mata jatuh dari pelupuk mata pria itu.
Arumi menatap Rio mencari kejujuran di sana, tapi yang Arumi dapat melihat ada luka di mata itu,
" aku terpaksa menerima perjodohan itu rum, bukannya tidak pernah aku tolak, sudah pernah aku tolak yang akhirnya ayah ku masuk rumah sakit karena penyakit jantungnya kumat" Rio menjeda cerita nya sejenak
" aku sudah berjuang, bagai mana caranya supaya orang tua ku bisa menerima Zahra jadi istriku, tapi usaha ku sia - sia rum, orang tua ku tetap menolak Zahra jadi menantunya, apa alasannya aku tidak pernah tahu rum karena setiap kali aku tanya mereka tidak pernah memberitahukan nya ke aku Rin"
Rio kembali terdiam. kali ini cukup lama Arumi dan Rio terdiam sibuk dengan pikirannya masing - masing
__ADS_1
" lupakan Zahra kak, mulailah kamu fokus dengan pernikahan mu dan keluarga mu nanti" akhirnya hanya itu yang bisa terucap dari mulut Arumi.
kemudian Arumi berdiri dan berlalu dari sana meninggalkan Rio sendiri.