
Acara pesta pernikahan Aziz dan Zahra masih berlangsung, semakin malam semakin banyak tamu undangan yang datang, satu - satu persatu tamu undangan sudah mulai naik ke atas pelaminan untuk mengucapkan selamat pada kedua pengantin , terutama pada pengantin pria, banyak dari kolega dan teman bisnis pak Widodo dan Aziz yang datang mengucapkan selamat atas pernikahan mereka dan atas kehamilan Zahra.
Banyak dari para relasi bisnis yang mempunyai anak gadis merasa kecewa, jika mereka tahu pak Widodo mempunyai putra dan ternyata putranya adalah orang yang sudah mereka kenal sangat lincah di dunia bisnis, mungkin mereka yang akan duluan melakukan penawaran perjodohan pada pak Widodo untuk putri - putri mereka , siapa yang tidak mau berbesan dengan pak Widodo yang terkenal memiliki bisnis di mana - mana termasuk di luar negri, semua orang pasti sangat menginginkannya , apa lagi putranya di kenal selain seorang dokter tapi juga CEO yang sangat pintar dalam dunia bisnis dan juga mempunyai perusahaan yang tidak jauh beda dari sang ayah.
Tapi mereka harus menelan kekecewaan , Karena pak Widodo mengenalkan putranya di saat sang ahli waris sudah menikah.
Zahra terlihat sangat kelelahan karena semenjak dari tadi berdiri bersalaman dan menerima ucapan selamat dari para undangan, dari tadi Zahra sering memegang betisnya yang sudah mulai terasa sakit dan pegal akibat lama berdiri.sesekali Zahra meringis menahan sakit pada kakinya yang lecet akibat sepatu yang di gunakan nya, memang Zahra tidak memakai heels yang terlalu tinggi karena Aziz yang melarangnya, tapi walau pun heels nya tidak tinggi jika berdiri terlalu lama akan terasa pegal juga.
Aziz yang melihat Zahra gelisah dan sering memegang betisnya sedari tadi, menyadari jika saat ini Zahra merasa sangat lelah. Aziz Meminta pada panitia untuk mengehentikan sebentar antrian tamu undangan yang ingin naik bersalaman dan mengucapkan selamat pada mereka berdua.
Aziz lalu mengalihkan tatapannya pada Zahra yang berada di sampingnya,
" kenapa sayang, capek ya ?" tanya Aziz khawatir, Zahra menganggukkan kepalanya, sebenarnya Zahra ingin menjawab tidak ada apa - apa karena tidak enak pada para tamu undangan yang sudah datang ,tapi Zahra sudah tidak sanggup lagi, mengingat banyaknya para undangan yang hadir saat ini.zahra mengangkat bendera putih nya menyerah.
" Mau istirahat di kamar sekarang ?" Tanya Aziz cemas, Zahra menatap ke depan, para undangan masih ada dan masih banyak, Zahra tidak enak hati meninggalkan pesta begitu saja
".Zahra boleh duduk aja gak bang, gak enak kalau ke kamar sekarang, tamu undangan nya masih rame bang " jawab Zahra yang memilih tetap berada di sana dari pada meninggalkan acara yang sedang berlangsung untuk menghormati tamu yang datang.
__ADS_1
" Yakin kamu masih sanggup sayang, kalau kamu memang capek gak apa- apa istirahat di kamar saja ya, untuk tamu undangan gak usah khawatir, biar Abang dan papi yang hadapi." aziz merasa keberatan jika Zahra masih berada di sana , aziz takut akan terjadi apa - apa pada Zahra dan kehamilannya.
" Gak apa - apa bang, biar Zahra di sini aja " jawab Zahra tetap bersikeras tidak mau meninggalkan acara.
Bu Susan menghampiri Zahra dan Aziz ketika tanpa sengaja Bu Susan melihat Zahra yang meringis sambil memegang betisnya, di sana nampak Aziz yang duduk depan Zahra sedang menatap Zahra cemas.
" Ada apa nak ?" Bu Susan langsung bertanya pada Aziz dan Zahra, mendengar suara Bu Susan Aziz memalingkan wajahnya pada Bu Susan,.Aziz merasa senang,.aziz berharap dengan adanya Bu Susan bisa membujuk Zahra untuk mau istirahat di kamar.
" Zahra kelelahan mi, Aziz sudah tawari untuk istirahat di kamar tapi Zahra menolak mi. " ujar Aziz meminta bantuan Bu Susan untuk membujuk Zahra agar mau menuruti perintahnya untuk istirahat di kamar saja,.biasa nya jika Zahra tidak menurut pada perintahnya, maka Zahra akan patuh pada mertuanya.
" Benar yang di bilang suami mu nak, sebaiknya kamu istirahat di kamar aja ya, kasihan bayi kalian, jika ibunya kecapean " Bu Susan membenarkan ucapan Aziz, namun Zahra tetap menolak dan menggelengkan kepalanya.
Bu Susan menari nafas berat, setelah menjadi menantunya beberapa bulan, Bu Susan sudah bisa memahami sifat Zahra , kalau sudah punya kemauan,.Zahra akan berusaha keras untuk mencapai kemauannya itu.
" Baik lah, tapi kamu sambut tamunya tidak usah berdiri ya, cukup duduk saja ,ok " akhirnya Bu Susan memilih mengalah pada menantu kesayangannya itu. selain tidak ingin terjadi drama antara Aziz dan Zahra di sana ,.Bu Susan juga melihat antrian tamu untuk naik mengucapkan selamat pada kedua pengantin semakin banyak dan panjang.
Dan itu akan menghambat lancarnya acara jika drama Aziz dan Zahra tidak di hentikan.
__ADS_1
" Sayang ..." Aziz yang masih merasa keberatan dengan keputusan Bu Susan tidak jadi meneruskan ucapannya, karena Bu Susan sudah memotong ucapannya terlebih dahulu.
" Sudah lah ziz, biar aja Zahra tetap di sini, tapi sesuai janjinya pada mami, Zahra tidak boleh kecapean dan berdiri terlalu lama, Jiak merasa capek Zahra harus menerima tamu dengan duduk saja " Bu Susan menatap Zahra agar patuh pada perintahnya, Zahra menganggukkan kepala senang tersenyum pada Bu Susan.
Setelah bicara seperti itu, Bu Susan lalu berlalu dari pelaminan menemui para tamu undangan yang lainnya.
" Kenapa tetap bersikeras di sini, sementara kondisi kamu sekarang tidak memungkinkan untuk kamu bertahan sayang, jangan sampai karena keras kepala mu ini akan berakibat buruk pada calon bayi kita " Aziz menatap Zahra sedikit kesal karena Zahra tidak mau mendengar kata - kata nya.
" Maaf, Zahra gak mau kalau Abang nanti di ganggu dan di lirik oleh mereka , lihat lah mereka begitu mendambakan suamiku yang ganteng ini, Zahra gak suka " Sahut Zahra menunjuk pada sekumpulan gadis - gadis yang saat ini sedang ikut di antrian para tamu yang ingin menyalami dan mengucapakan selamat pada mereka berdua, dan menurut analisa dan pandangan Zahra mereka yang sedang memandang suaminya dengan tatapan menggoda dan mendamba.
Aziz menggigit bibir bawahnya menahan senyum. Aziz merasa gemas dengan istri cantiknya itu, Aziz heran di saat - saat seperti ini sempat - sempat nya Zahra merasa cemburu dirinya.
Aziz senang, setelah sekian bulan bersama akhirnya Zahra menunjukkan sifat posesif.dan cemburunya juga.
" Apa kamu cemburu sayang " sahut Aziz menggoda Zahra.dan mendapatkan tatapan tajam dari Zahra. Aziz yang gemas melihat istrinya yang marah ketika ia goda tersenyum, dengan gemas aziz mencubit pipi Zahra lembut.
" Yah sudah, kamu boleh tetap di sini menyambut para tamu itu, tapi sesuai yang di katakan mami, hanya boleh duduk saja ya sayang , kamu gak boleh capek, " sama seperti Bu Susan, Aziz memilih mengalah karena Aziz tidak mau Zahra merajuk jika ia tetap memaksa Zahra untuk istirahat di kamar .
__ADS_1
Zahra menganggukkan kepalanya, tapi wajahnya masih tetap cemberut menatap gadis - gadis yang sedang memandang ke arah aziz sambil menunggu giliran bersalaman dengan mereka.
" Jangan cemberut gitu dong sayang, nanti cantiknya ilang, yakin lah Abang tidak akan memandang mereka , karena di samping Abang sudah ada bidadari cantik yang sudah halal untuk Abang pandang, dan selalu Abang cintai ".Zahra tersenyum mendengar gombalan Aziz, wajah yang tadi cemberut berubah cerah kembali.