CINTA UNTUK ZAHRA

CINTA UNTUK ZAHRA
BAN 212


__ADS_3

Pagi ini cuaca begitu cerah, Aziz dan zahra sedang jalan - jalan membawa ketiga anak - anak nya ke taman kota meramaikan acara car free day hari ini, Aziz dan Zahra berjalan sambil bergandengan tangan sambil mengawasi ke tiga putranya yang berjalan di depan bersama ketiga baby sitter nya, tingkah ketiga bocah tiga tahun itu begitu lucu, tak jarang Aziz dan Zahra tertawa melihat tingkah ketiganya.


" Mereka lucu ya bang " kata Zahra sambil menatap ke tiga putranya yang lari sana kemari sambil bercanda dan tertawa gembira, sementara ketiga baby sitter mereka dengan sabar mengikuti kemana mereka berjalan sambil menjaga mereka agar tidak terjatuh dan bertabrakan dengan orang - orang yang juga sedang berlalu lalang sambil olah raga.


" Iya sayang, tuh lihat aja si Fauzan dek, dia berusaha mengejar anak cewek di depannya, dan mengajak main anak cewek itu dek " jawab Aziz yang menunjukkan Fauzan yang sedang berusaha mengajak main seorang anak cewek yang kira - kira berumur dua tahun itu, dan Jangan salah ternyata anak cewek itu begitu cantik dan imut.


" Iya ya bang " Zahra gemas melihat Fauzan yang memaksa mengajak kenalan anak cewek itu, sementara anak cewek itu selalu menghindar dan malu - malu.


" eh kok Fauzan genit gitu sih bang, ini nih ketularan genit ayah nya " ujar Zahra lagi menahan senyum menggoda aziz.


" Kok Abang sih dek " sahut aziz yang tidak terima di salahkan oleh Zahra.


" Abang lupa ya, kita nikah karena Abang yang maksa " jawab Zahra sambil berlalu.


" Abang gak maksa dek, tapi berusaha menjemput jodoh, dan tidak di sangka di waktu yang tepat pula " aziz meraih tubuh Zahra dan membawanya ke dalam pelukkan nya.


Zahra yang kaget tiba - tiba di peluk oleh aziz berusaha melepaskan diri karena Zahra sadar mereka sedang berada di tempat keramaian.


" Abang lepas, malu di lihat orang " ujar Zahra sambil melihat ke kiri dan ke kanan melihat orang - orang yang mulai memperhatikan mereka.


" Ngapain malu, Abang kan peluk istri Abang sendiri " Tolak aziz dan semakin mengeratkan pelukannya di pinggang Zahra


" Tapi kita sedang di tempat umum bang " ujar Zahra mengingatkan Aziz


" Berarti kalau di rumah bisa lebih dong " aziz menaikkan alis matanya menggoda Zahra.


Zahra yang sudah merasa malu di lihat oleh orang - orang yang lewat menundukkan kepalanya " bang, lepas, Zahra malu di lihat orang " cicit Zahra pelan.


" Tarik dulu ucapan adek yang mengatakan Abang genit " ujar aziz yang masih belum mau melepaskan tubuh Zahra yang berada di dalam pelukannya .

__ADS_1


" Iya, iya abang gak genit, tapi pemaksaan " jawab Zahra kesal karena aziz tidak kunjung melepaskan tubuh nya.


" Biar aja, kalau abang gak paksa, belum tentu adek mau jadi istri Abang " jawab aziz melepaskan pelukannya di tubuh istri Zahra, Karana sudah banyak orang - orang yang memperhatikan mereka.


Zahra lega, akhirnya Aziz melepaskan pelukannya juga, " pantas aja anaknya juga suka maksa " ujar Zahra kesal.


" Maksudnya " Aziz mengerutkan keningnya menatap Zahra tidak mengerti.


" Tuh Abang lihat aja Fauzan, maksa banget ingin ngajak kenalan anak orang, sama kayak Abang " Zahra memberi tahu Aziz dengan menunjuk Fauzan menggunakan bibirnya yang tengah memaksa mengajak kenalan anak cewek yang di ikuti ya tadi


" hahahaha " aziz tertawa ngakak melihat ke kegigihan putra kedua nya itu.


" Itu nama nya berjuang dek " kata aziz yang masih dengan tertawanya,.Zahra geleng - geleng kepala melihat tingkah suami dan anak nya itu.


Sementara itu, Tanpa Zahra dan Aziz sadari, dari tadi ada sepasang mata tengah memperhatikan ke kebahagiaan mereka, dari tatapan matanya tersirat pancaran kebencian melihat kebahagian keluarga kecil aziz dan Zahra.


" Kalian bisa tertawa bahagia di sini, tapi di sana putri ku menderita, kalian memang tidak punya perasaan, aku tidak rela melihat kalian bahagia seperti ini, aku akan balaskan penderitaan putriku pada kalian biar kalian bisa merasakan bagaimana sakit dan menderitanya putriku " gumam Mirna dari dalam mobil nya.


Dendam yang selama ini tersimpan di hati nya, kembali muncul dan ingin cepat terbalaskan. Mirna menyunggingkan senyum menyeringai dari bibirnya, Mirna tidak menyangka penantiannya tiga tahun ini berbuah hasil hari ini.


Dari balik kaca mobil nya, Mirna terus memantau keluarga kecil zahra dan aziz, mirna sedang menunggu waktu yang tepat untuk melaksanakan rencana jahat nya yang tertunda selama ini tiba - tiba muncul kembali di pikirannya.


" Fauzan, Jagan lari - lari, nanti jatuh " teriak Zahra pada Fauzan putra keduanya yang terlihat begitu sangat senang bisa bermain di luar dan melihat keramaian di taman kota pagi ini, tidak hanya Fauzan, akhdan dan rasyid juga sangat bahagia, karena jarang - jarang mereka bisa main ketaman kota apa lagi weekend begini karena ke sibukkan Aziz ayah mereka akhir - akhir ini.


" Biar saja sayang, kan masih bisa kita pantau dari sini dan suster juga ada bersamaan mereka, lagian jarang - jarang kan mereka bisa menikmati weekend seperti ini di sini bersama kita " kata Aziz yang tatapannya tidak lepas dari ke tiga putranya itu.


" Tapi nanti kalau mereka jatuh dan terluka gimana bang " sahut Zahra yang tidak tega membayangkan anak nya jatuh dan terluka.


" Mereka laki - laki, luka sedikit tidak masalah sayang, itu nanti yang membuat mereka kuat dan tahan banting " Aziz menatap Zahra tersenyum

__ADS_1


" iisst Abang ni, kan kasihan bang " jawab Zahra tidak terima.


Aziz hanya tersenyum dan mengelus kepala Zahra lembut.


Mirna terus memperhatikan kebersamaan keluarga kecil itu, sambil mencari celah untuk bisa melaksanakan niatnya.


Tanpa ada yang menduga sama sekali, Fauzan yang dari tadi lebih aktif pada akhdan dan rasyid tiba - tiba berlari ke arah bola yang melintas di depannya, entah bola milik siapa, tidka ada yang tahu, melihat itu Mirna langsung tersenyum senang, tanpa berpikir dua kali Mirna langsung menancap gas mobilnya kearah Fauzan berada, semua begitu cepat dan tidak terduga.


Zahra yang menyadari ada mobil yang melaju sangat kencang ke arah Fauzan spontan berteriak dan berlari menghampiri Fauzan dan...


Bruk.


Benturan yang cukup sangat kuat terdengar,.semua orang yang berada di taman itu berteriak histeris..aziz yang belum menyadari apa yang terjadi menatap kaget ke arah bunyi benturan itu, Aziz merasa jedavu, seolah - olah hal itu pernah di lihatnya.


" Pak bantu ibuk pak " baby sitter akhdan menghampiri aziz dan menggoyang - goyang tangan aziz menyadarkan Aziz dari ke terpakuan nya.


Aziz kaget dan sadar, dengan cepat aziz langsung berlari menuju ke tempat keramaian itu, karena kejadian yang tidak di duga - duga itu orang banyak datang dan ingin membantu, tidak hanya itu, orang - orang juga berusaha menangkap pelaku tabrakan itu.


" Zahra ..!!!" Aziz memeluk tubuh zahra yang bersimbah darah Aziz yang panik berusaha memanggil - manggil nama Zahra dan membangunkan istrinya itu


" Pak sebaiknya korban cepat di bawa ke rumah sakit sebelum terlambat pak " seseorang menyarankan Aziz untuk segera membawa Zahra kerumah sakit.


" Pakai mobil saya pak, kebetulan parkiran nya tidak jauh dari sini, kalau menunggu ambulan kelamaan pak " usul orang itu lagi, aziz menganggukkan kepalanya, dan langsung menggendong tubuh zahra yang lemah dan membawanya ke mobil yang di bilang orang tadi.


" Sus, hubungi mami dan pak Dadang kalian pulang lah bersama pak Dadang, dan kamu ikut saya ke rumah sakit bawa Fauzan ya sus " perintah aziz pada ketiga baby sitter itu


" baik pak " jawab baby sitter itu mengerti


Sesuai perintah aziz. Baby sitter yang merawat Fauzan mengikuti Aziz masuk kedalam mobil yang mengantar Zahra kerumah sakit, sedangkan yang dua lagi menghubungi pak Dadang dan Bu Susan sesuai perintah aziz.

__ADS_1


Dalam mobil yang membawa Zahra, Fauzan terus menangis kencang dan tidak mau di diam kan, tubuh Fauzan gemetar dalam pangkuan baby sitter nya. sementara aziz terus memanggil - manggil Zahra berharap Zahra bangun dan sadar.


__ADS_2