
Pak Widodo masuk keruangan pribadi Aziz dan mencari tas istrinya yang tertinggal di ruangan itu, tidak butuh waktu yang lama untuk pak Widodo mencari tas istrinya itu, karena tas itu ada terletak di atas meja samping tempat tidur yang ada di kamar itu.
Pak Widodo meraih tas itu dan mencari ponselnya yang dititipkan ke Bu Susan di dalam tas tersebut, setelah menemukan ponselnya pak Widodo langsung membuka ponselnya dan memeriksa apakah ada panggilan penting untuk dirinya, ternyata dugaan pak widodo benar, sang pengacara dan orang suruhannya sudah beberapa kali menghubungi nya tapi belum sempat terjawab karena ponselnya tertinggal di dalam tas Bu Susan yang tertinggal di kamar pribadi Aziz.
Pak Widodo melakukan panggilan ulang pada orang kepercayaannya yang tadi sudah menghubunginya, " Bagai mana ?!" tanpa basa basi pak Widodo langsung bertanya pada orang tersebut
" Awasi terus, kalau perlu jangan kasih celah di untuk bebas " ujar pak widodo tegas setelah orang kepercayaannya itu melaporkan kondisi Mirna saat ini di kantor polisi.
" Lalu bagai mana dengan rencana selanjutnya bos ? " tanya pria itu lagi
" Lakukan segera, kalau perlu sampai mereka jatuh se jatuh - jatuhnya tanpa bisa bangkit lagi " jawab pak Widodo dengan nada yang sangat dingin dan menakutkan,
" Baik bos, semua perintah kami jalan kan " jawab pria tersebut ,
" Lakukan segera !! " perintah pak Widodo
" Baik bos "
Tanpa salam pak Widodo langsung menutup panggilan ponsel nya.
Lalu pak widodo Kembali mengotak atik ponselnya dan menghubungi pengacara yang telah diutus nya untuk mengurus kasus Mirna.
" Halo pak " jawab seorang pria dari seberang menjawab panggilan telpon dari pak widodo
" Bagai mana proses hukum nya ?!" tanya pak Widodo tanpa basa basi
" Sedang dalam proses pak, dan saya pastikan perempuan itu tidak akan bisa lepas begitu saja dari sana sesuai perintah bapak " jawab pria di seberang sana
" Bagus, jangan biarkan di bebas atau mendapat keringanan, kalau bisa jangan biarkan di dapat pengacara yang dapat membelanya nanti, hukum seberat - beratnya " ujar pak widodo dingin dan tegas
" Baik pak, sesuai perintah bapak " jawab pria itu , sama hal nya saat menghubungi orang kepercayaannya tadi, pak Widodo langsung mematikan sambungan telponnya.
Pak Widodo menghembuskan nafas dalam berat, senyum puas terukir di bibirnya.
" Kali ini jangan harap kamu akan bisa lepas minta, cukup aku bersabar selama ini terhadap kalian, dasar perempuan ular yang tak punya hati " gimana pak Widodo dan berlalu meninggalkan kamar pribadi aziz menuju ruangan rawat Zahra sambil membawa tas Bu Susan yang tertinggal di sana.
__ADS_1
Sampai di kamar rawatan Zahra, pak Widodo langsung memberikan tas yang di bawa nya pada Bu Susan.
Pak widodo mengelus kepala Fauzan yang berada dalam gendongan Bu Susan dengan lembut dan penuh kasih sayang, Fauzan yang tadinya histeris karena kaget melihat kejadian kecelakaan yang menimpa Zahra di depan matanya sudah mulai tenang setelah di pertemukan dengan Zahra langsung, walau pun Zahra tidak bisa merespon kehadiran Fauzan.
" Bagai mana kondisi Fauzan mi ?" tanya pak widodo pada Bu Susan
" Alhamdulillah sudah mulai tenang Pi, tidak seperti tadi lagi setalah bertemu dengan Zahra " jawab Bu Susan " Tapi sayang Pi, Fauzan ingin main sama bunda nya tapi tidak bisa, Fauzan sempat sedih karena Zahra tidur terus, namun setelah di kasih pengertian oleh Aziz akhirnya dia mau mengerti " jawab Bu Susan lagi menjelaskan
" Kasihan cucu kita mi " pak Widodo mengelus - elus kepala Fauzan merasa iba
" Iya Pi, andai musibah ini tidak terjadi Pi..."
" Sudah lah mi, gak usah di bahas lagi, yang penting sekarang kita sama - sama berdoa semoga zahra bisa melewati masa kritisnya dan cepat pulih seperti semula "
" Iya Pi, mami hanya kasihan aja melihat nasib Zahra, dan cucu - cucu kita Pi, apalagi Aziz dan Fauzan mereka kelihatan sangat sedih dan berduka apa lagi kejadian itu di depan mata mereka sendiri, mami takut kejadian ini akan menyisakan trauma untuk cucu kita Pi " keluh bu Susan khawatir
" Untuk masalah Fauzan, papi sudah konsultan ke psikiater mi, karena psikiaternya masih di luar kota dan baru kembali besok, jadi lusa kita sudah bisa membawa Fauzan untuk menemui dia mi " apa yang di khawatirkan Bu Susan juga menjadi kekhawatiran pak Widodo, tanpa meminta pendapat dari Aziz dan istrinya pak Widodo langsung mengkonsultasikan kondisi Fauzan pada salah seorang kenalannya yang berprofesi sebagai psikiater anak, pak Widodo mengambil keputusan itu karena tidak tega melihat Fauzan yang terus teriak menangis memanggil - manggil Zahra.
" Bagus lah Pi, nanti kita jumpai saja dia Pi, untuk kebaikan Fauzan " jawab Bu Susan setuju
" Aziz ngikut aja Pi, mi, selagi itu baik untuk Fauzan kedepannya " jawab aziz setuju, bagaimana pun apa yang di bilang mami dan papinya ada benarnya juga.
Tanpa mereka sadari, Fauzan yang dari tadi berada di pangkuan Bu Susan sudah tertidur nyenyak efek dari elusan lembut di kepalanya oleh pak Widodo.
" Eh dia sudah tidur Pi " sahut Bu Susan pelan takut Fauzan terganggu tidurnya akibat suara nya.
" Sepertinya dia kecapean mi " sahut pak Widodo
Aziz menatap putranya yang sudah tertidur dalam pangkuan Bu Susan, Aziz merasa iba dan tidak tega melihat putranya itu, wajah Fauzan terlihat sangat kelelahan.
" Mi, Pi, ini sudah sore, sebaiknya papi dan mami bawa Fauzan pulang dulu ke rumah istirahat, kasihan Fauzan seperti nya sudah sangat lelah seharian berada di sini" karena kasihan melihat putranya, dan berhubung hari sudah sore, aziz pun meminta papi dan maminya untuk membawa Fauzan pulang, aziz merasa kasihan sama anak laki - lakinya itu yang terlihat sudah mulai lelah, lagian lama - lama berada di rumah sakit juga tidak baik untuk Fauzan.
" Kamu bagai mana ziz ?" tanya Bu Susan pada Aziz,.walau pun Bu Susan tahu apa yang akan di katakan oleh putranya itu, tapi Bu Susan tetap bertanya karena merasa kasihan melihat aziz yang juga terlihat lelah seharian mengurus Zahra di rumah sakit
" Aziz tetap di sini mi, Aziz akan menemani Zahra di sini, Aziz tidak mau terjadi apa - apa pada Zahra, apa lagi Zahra masih belum melewati masa kritisnya mi " jawab Aziz mengalihkan tatapannya pada Zahra.
__ADS_1
" Tapi kamu tetap butuh istirahat ziz, Jagan sampai kamu ikutan sakit juga " ujar Bu Zahra khawatir.
" Mami gak usah khawatir, Aziz bisa istirahat di sini kok mi "
" Baik lah kalau begitu, mami dan papi pulang dulu "
" Oya mi, nanti tolong mampir ke rumah ya, jemput akhdan dan rasyid mi, mami bawa aja mereka kerumah mami dulu,.maaf ya mi, Aziz titip mereka bertiga dulu " pinta Aziz pada Bu Susan dan pak Widodo, Aziz berpikir tidak mungkin meninggalkan ketiga putranya pada baby sitter saja di rumah tanpa pengawasan, untuk itu lah aziz meminta Bu Susan membawa mereka bertiga kerumah mami dan papinya tentu saja bersama ke tiga babysister nya.
" Tentu saja, sebenarnya mami tadi juga ingin mengatakan hal itu pada mu ziz, tapi udah duluan kamu sampaikan." jawab Bu Susan yang awalnya juga ingin mengatakan hal yang sama dengan aziz, tapi sudah terlebih dahulu di sampaikan oleh Aziz
" Maaf ya mi, sudah merepotkan mami dan papi "
" Mereka cucu - cucu kami, tidak.ada yang merasa di repotkan ziz, kamu tenang aja ya, serahkan mereka pada mami dan papi, kamu fokus saja pada kesembuhan Zahra." kata pak Widodo agar Aziz berhenti mengucapkan terima kasih dan merasa bersalah menitipkan ke tiga anak nya pada pak Widodo dan bu Susan.
" Iya Pi, Aziz tenang sekarang, mereka bertiga sudah ada yang menjaganya." jawab Aziz yang merasa sedikit lega karena ketiga putranya sudah ada yang mengawasi, karena Aziz berpikir ia bakal lama menitipkan ketiga putranya pada mami dan papinya, karena aziz tidak tahu sampai kapan Zahra akan berada di rumah sakit. Yang aziz tahu, selagi Zahra di rumah sakit Aziz pasti akan jarang pulang dan akan fokus merawat Zahra.
" Mmmm Pi, maaf sekali lagi aziz mau minta tolong dan merepotkan papi." ujar aziz yang merasa tidak enak pada sang papi
" soal apa ziz,.katakan lah, insyaallah papi akan nanti sebisa papi " jawab pak widodo menunggu ucapan Aziz selanjutnya.
" Aziz mau minta tolong papi, selama Zahra di rawat , Aziz minta tolong papi untuk gantikan Aziz di perusahaan Pi, nanti Aziz tetap bantu - bantu papi kok, Aziz hanya ingin fokus pada Zahra dulu Pi " ujar Aziz yang meminta tolong pada pak widodo untuk menggantikan.dirinya selama Zahra di rawat, karena Aziz ingin fokus pada kesembuhan Zahra.
" Baik lah " jawab pak Widodo setuju
" Makasih ya Pi "
" Iya sama - sama " jawab pak widodo
" Ayo mi, sudah sore, sebaiknya kita pulang, tapi sebelumnya kita jemput akhdan dan rasyid dulu di rumah aziz mi " ujar pak Widodo mengajak Bu Susan pulang
" Iya Pi, mami .panggilan baby sitter Fauzan dulu " jawab Bu Susan sambil berdiri untuk membangun baby sitter Fauzan
" Sini, Fauzan biar sama papi saja mi " Pak widodo meraih Fauzan yang berada dalam gendongan istrinya itu, karena pak widodo melihat bu susan sedikit kesulitan saat mau berdiri dengan Fauzan yang berada dalam pelukkan nya.
Setelah Fauzan berada dalam dekapan pak Widodo, bu Susan lalu berdiri dan berlalu memanggil baby sitter Fauzan dan mengajak baby sister itu untuk pulang.
__ADS_1