
Tanpa adanya banyak drama lagi, akhirnya Naira di bawa ke kantor polisi untuk pemeriksaan lebih lanjut, awalnya Naira membantah semua tuduhan yang di tujukan pada nya, tapi setelah polisi menunjukkan bukti - bukti yang telah di di kumpulkan, Naira akhirnya tidak bisa bicara apa - apa lagi, ia pasrah tapi hatinya tidak rela berada di hotel prodeo tesebut, Naira menangis meminta Mirna untuk dapat membantunya keluar dari penjara itu, tapi Mirna hanya bisa diam karena ia pun tidak tahu akan berbuat apa. Harapan Mirna satu - satu nya saat ini hanya Anton, Mirna berharap Anton bisa membantu Naira terbebas dari dingin nya penjara itu.
Aziz, sandi, pak Widodo dan dua pria asing lainnya yang tidak dikenal Mirna keluar dari ruang pemeriksaan karena polisi juga membutuhkan keterangan dari Aziz dan sandi, mereka melewati Mirna begitu saja , sandi menatap Mirna dingin dan tajam, begitu pula sebaliknya, minta memandang sandi dengan penuh kebencian.
" Hanya sebatas itu rasa sayang mu pada putri mu itu sandi " sahut Mirna geram.
Sandi yang sendang berjalan melewati Mirna yang sedang duduk di kursi pengunjung menghentikan langkah kakinya, ia menyapa Mirna dengan tatapan yang tidak dapat di artikan.
" Naira bukanlah putri ku mir, dan kamu sangat tahu itu " sahur sandi dingin menatap Mirna tajam.
" Seandainya Naira tidak mengganggu hidup putriku, mungkin aku masih bisa menganggapnya sebagai putri ku, tapi akibat hasutan dari kamu, Naira sudah berani menyentuh putri ku, Naira tidak hanya membuat putri ku terluka, tapi juga koma, dan kamu tahu akibat perbuatan Naira, tidak hanya Zahra yang menderita, tapi cucu - cucu ku yang belum lahir ke dunia hampir saja ikut celaka." sahut sandi lagi geram.
" Gadis pembawa sial itu memang pantas mendapatkannya " sahut Mirna di iringi dengan tatapan penuh kebencian dan senyum sinis di bibirnya.
" Berhenti mengatakan istri ku pembawa sial wanita tua !!" hardik aziz menatap Mirna tajam, tangannya Aziz yang berada di samping tubuhnya mengepal menahan marah ketika mendengar Mirna menghina istrinya .
" Hei , kamu tidak perlu marah, istrimu itu memang anak pembawa sial, Karana ingin mendapatkan seorang anak dan melahirkan nya ibunya meregang nyawa hingga meninggal" ujar Mirna yang tanpa rasa takut kembali menghina Zahra.
Aziz menatap Mirna dengan tajam, dengan tangan mengepal dan gemetar serta gigi rapat sehingga menimbulkan bunyian dari gigi gerahamnya yang saling beradu, aziz maju ke hadapan Mirna, Aziz menaikkan tangannya hendak menampar Mirna, tapi sandi dan pak Widodo dengan cepat meraih tangan Aziz dan mencoba menenangkan Aziz sehingga tangan aziz yang sudah terangkat akan menampar mirna tergantung di Awang - Awang.
" Tenang nak, kita masih berada di kantor polisi, jangan terpancing dengan ucapan nya , jika kamu tidak ingin mendapat Masalah nantinya, jadi coba lah untuk menahan emosi mu nak, perbanyaklah istighfar " ujar sandi pelan di telinga Aziz.
" Iya ziz, betul apa yang di katakan ayah mertua mu, yang penting Naira sudah mendekam di penjara, sekarang fokuslah pada kasus ini dan kesembuhan Zahra" sahut pak Widodo juga memberikan pengertian pada aziz.
__ADS_1
Aziz memejamkan matanya dan istighfar , lalu aziz menghembuskan nafasnya pelan, perlahan Aziz menurunkan tangannya dan membuka matanya menatap Mirna yang masih menatap Aziz dengan tatapan mengejek dan penuh kebencian.
" Kali ini kamu aku maaf kan ibu tua, tapi tidak untuk lain waktu " ujar Aziz dingin.
" Urusan kita di sini sudah selesai , Sebaiknya kita segera kembali ke rumah sakit ziz, kita sudah lama meninggalkan Zahra di rumah sakit bersama mami dan adik kamu " untuk mencegah terjadinya hal - hal yang tidak di inginkan pak Widodo pun mengajak Aziz untuk kembali kerumah sakit
Mendengar nama zahra di sebut oleh sang papi, aziz baru sadar, bahwa ia sudah lama meninggalkan istrinya di rumah sakit, tiba - tiba aziz merasa rindu pada istri cantiknya itu, Aziz pun menganggukkan kepalanya menyetujui ajakan papinya untuk pulang kerumah sakit. Dan segera bertemu dengan istri cantik nya itu.
Sebelum Aziz, pak Widodo, sandi dan dua pengacara mereka berlalu meninggalkan Mirna, Anton dan Rio, Sandi melangkahkan kakinya mendekati Mirna yang masih diam berdiri di tempatnya.
" Mirna mulai saat ini aku tidak akan pernah lagi peduli dengan kamu dan putri mu itu, jadi aku peringati, sebaiknya kamu pergi lah menjauh dari hidup ku dan putri ku, cukup sudah kamu menyakiti hatinya selama ini, jika suatu saat kamu ketahuan mengusik kehidupan putri ku lagi, maka aku lah orang pertama yang akan membuat perhitungan dengan mu,.dan jika saat itu terjadi aku ingatkan kamu, aku tidak akan melepaskan mu saat itu juga, walau kamu lari ke ujung dunia sekali pun " sahut anton pelan tapi mampu membuat orang - orang merinding mendengarnya.
Sandi menatap pengacara nya dan menganggukkan kepalanya pelan, sang pengacara yang sudah tahu kata isyarat dari sandi pun membuka tas kerjanya dan mengambil sebuah amplop berwarna coklat dari dalam sana dan menyerahkan amplop tersebut pada sandi.
" Ini untuk mu " sahut sandi sambil memberikan amplop berwarna coklat itu kepada Mirna.
Tanpa suara, Mirna mengambil amplop warna coklat itu dan meneliti amplop tesebut sejenak sebelum membukanya, amplop yang berlogo kan lambang nama pengadilan agama tesebut dengan pelan di buka Mirna, dan Mirna pun mengambil kertas putih yang ada di dalam amplop itu dan membacanya pelan.
" Surat cerai ?!" tanya Mirna mengerutkan keningnya menatap sandi minta jawaban
" Bukan kah itu yang kamu inginkan dari dulu ?" tanya sandi dingin.
" Tapi bang..."
__ADS_1
" Mirna binti sujadi ,aku talak engkau dengan talak tiga, dan mulai detik ini kamu buka istrimu lagi " dengan lantang di hadapan semua orang yang berada di ruangan itu, sandi menalak Mirna dengan talak tiga, dan mulai detik itu, sandi dan Mirna resmi bukan lah suami istri lagi.
Semua orang yang berada di ruangan itu khususnya Aziz, Rio dan pak Widodo serta Anton, kaget ketika sandi dengan suara lantang dan tanpa ragu - ragu menjatuhkan talak pada Mirna.
Semua orang hanya diam menyaksikan semua itu, tidak ada yang berani ikut campur dengan urusan Mirna dan sandi.
Sementara itu Mirna yang sudah di jatuhkan talak oleh sandi, merasakan perih di hatinya ketika sandi dengan tanpa ragu menalak dirinya di hadapan semua orang, walau pun beberapa waktu belakangan ini Mirna selalu meminta sandi untuk menceraikan nya karena ia sudah tidak tahan dengan siksaan yang telah di lakukan sandi padanya semenjak ia ketahuan selingkuh bersama Anton oleh sandi waktu itu, tapi Mirna tidak menyangka sandi akan menceraikannya dengan cara seperti ini.
Dalam hatinya, mirna tidak terima sandi menceraikannya dengan cara seperti ini, Mirna menatap sandi dengan penuh kemarahan dan kebencian, Mirna merasa sandi sudah mencoreng wajah nya.
" Kamu akan menyesal telah menceraikan aku sandi !!" sahut Mirna dengan suara gemetar.dan air mata yang jatuh membasahi pipinya.
" Bukan kah kamu yang menginginkannya, agar kamu bisa selalu bersama kekasih mu itu" sahut sandi menunjuk Anton
" aku hanya mengabulkan keinginan kamu itu mir, sekarang kita bukan suami istri lagi, jadi kamu bebas hidup bersama kekasih kamu " sahut sandi lagi.
Tanpa berkata - kata lagi, sandi melangkahkan kakinya meninggalkan tempat itu di ikuti oleh yang lainnya.
Dan sekarang tinggallah Anton, Rio dan Mirna di sana dengan air mata yang jatuh membasahi pipinya, tidak ada penyesalan di mata Mirna, yang ada kebencian dan dendam untuk sandi yang telah menalak nya. Mirna tidak terima sandi menalaknya di saat masalah putri nya belum selesai.
" Kamu akan menyesal sandi, kamu akan menyesal telah menalak aku dalam keadaan aku seperti ini " gumam Mirna sambil meremas Surat keputusan cerai dari pengadilan yang ada di tangannya.
Anton mendekati Mirna dan memeluk Mirna memberi kekuatan, lalu Anton dan Rio mengajak Mirna pergi dari kantor polisi itu dan pulang menuju kediaman Rio,.mereka berencana akan membahas masalah Naira di sana nantinya.
__ADS_1