CINTA UNTUK ZAHRA

CINTA UNTUK ZAHRA
BAB 56


__ADS_3

Selesai Melaksanakan sholat magrib berjamaah di kamar, Zahra dan Aziz langsung memilih bergabung dengan keluarga ,.Aziz dan Zahra berjalan bersisian menuruni tangga menuju ruang keluarga , semua mata tertuju ke arah mereka yang baru saja turun bergabung , aziz yang memakai baju Koko dan sarung sebagai bawahannya terlihat sangat memukau dan semakin terlihat berkarisma , pria berparas tampan itu seketika menjadi pusat perhatian orang - orang yang saat ini berada di ruang keluarga tersebut, di sana tidak hanya ada nenek, cindi ,Adam, sandi dan Alif dan di bungsu Altaf saja, tapi juga ada keluarga yang lain dari pihak nenek dan kakek yang tadi tidak bisa ikut proses pemakaman dan baru bisa datang di acara tahlilan yang di adakan malam ini, tidak hanya itu, di sana.juga ada Rio, Naira dan ibunya Mirna, Naira yang belum tahu tentang pernikahan Zahra dengan aziz merasa heran dan bertanya - tanya siapa pria yang bersama Zahra tersebut, sama halnya dengan Rio, pria itu merasa heran dan bertanya - tanya dalam hati siapa kah pria yang bersama Zahra tersebut. Rio merasakan cemburu, Rio tidak rela ketika melihat Zahra berjalan bersisian dengan laki -laki lain.


Rio menatap Zahra dan aziz dengan pandangan tidak suka dan cemburu .sementara Naira sempet - sempatnya mencuri - curi pandang pada Aziz yang terlihat sangat.menawan sehingga menarik perhatiannya .


" waduh keponakan tante apa kabar nak ?" tegur seseorang yang merupakan saudara sepupu sandi dan cindi dari pihak kakek .


Zahra yang baru sampai di ruang tamu itu mendekati keluarga nya yang baru datang itu dan menyalami mereka satu-persatu yang diikuti Aziz dari bekang Zahra.


"Alhamdulillah, Zahra sehat Tan " jawab Zahra sambil tersenyum dan duduk di antara saudara - saudara yang lainnya.


Sementara itu aziz memilih ikut bergabung dengan Alif yang saat itu sedang berkumpul dengan para pria - pria yang lainnya.


karena ruangan di kosongkan dari perabotan dan di ganti dengan karpet yang di bentang seluas ruangan tersebut sehingga keluarga saat ini duduk di karpet yang sudah di bentang


Zahra ikut bergabung dengan saudara - saudara yang lain.


sementara itu dari sudut yang lain di ruangan itu terlihat Naira menatap Zahra penuh kebencian, Naira Marasa saudara - saudara sandi terlalu berlebihan memperlakukan Zahra , dan Naira makin membenci Zahra yang terlihat sangat akrab dengan saudara - saudara sandi dan yang lainnya,Naira menganggap Zahra terlalu lebay, pura - pura berduka untuk mendapatkan perhatian dan simpati orang - orang yang datang melayat saat ini.


Memang tidak dapat di pungkiri , hubungan Mirna dan anaknya memang tidak terlalu dekat dengan keluarga sandi, dan keluarga sandi pun juga tidak menyukai keberadaan Mirna di rumah itu, karena sikap dan sifat mirna yang arogan seta suka jilid membuat saudara dan keluarga tidak nyaman setiap kali berkumpul dengan Mirna, Sama hal nya dengan Naira, sikap dan tingkah laku nya tak jauh beda dengan Mirna sang ibu.


Tidak berapa lama kemudian, Beberapa tetangga yang di tugaskan RT untuk menyiapkan makanan datang menghampiri cindi menyampaikan makan malam sudah siap, dan cindi pun di minta untuk mengajak semua keluarga makan malam terlebih dahulu sebelum tamu berdatangan mengikuti acara tahlilan .


Memang sudah peraturan dan di sepakati oleh warga warga di komplek tesebut, jika ada warga yang mengalami kemalangan atau berduka maka makanan untuk keluarga tersebut akan di urus dan di siapkan oleh warga yang sudah di tunjuk untuk membantu keluarga yang sedang berduka.


cindi dan keluarga yang lain pun menyetujuinya.


Satu persatu keluarga mulai mengambil makanan yang sudah di siapkan dalam bentuk presmanan di atas meja oleh warga.


Walau pun nafsu makan mereka berkurang karena berduka, tapi mereka tetap makan walau sedikit demi menghargai usaha warga yang sudah menyiapkan itu semua untuk mereka.

__ADS_1


Aziz tidak mendapati Zahra berada di ruangan itu, Aziz mengedarkan pandangan nya mencari - cari keberadaan Zahra, Alif yang melihat Aziz mencari - cari seseorang pun bertanya pada aziz.


" Nyari siapa bro " tanya Alif pelan pada Aziz, Alif tahu dan paham siapa yang sedang di cari oleh Aziz saat ini, karena dari tadi Alif memperhatikan Aziz, walaupun ia ikut bergabung dan nimbrung bercerita dengan saudara - saudara yang lain, tapi tatapan Aziz tidak pernah lepas dari Zahra.


Aziz yang di tanya kaget dan merasa tertangkap basah sedang mencari Zahra oleh Alif.


" kamu lihat Zahra nggak bro " bukannya menjawab pertanyaan Alif , Aziz Mekah bertanya balik


" ngapain lu mencari Zahra bro, baru juga beberapa menit nggak lihat udah panik gitu " bukannya menjawab Alif malah tertarik untuk menggoda aziz.


" Bukannya begitu bro , Zahra dari tadi siang belum makan apa pun, ia kebanyakkan menangis karena terlalu berduka, gue takut nanti sakit mag nya malah kambuh bro karena telat makan." jawab Aziz cemas


Alif mengeratkan keningnya heran, dari mana Aziz tahu kalau Zahra mengusap penyakit lambung tersebut


" Dari mana Lo tahu Zahra memiliki penyakit lambung itu ?" tanya Alif curiga pada aziz .


" Ya tahu lah, Zahra kan perawat di rumah sakit bokap gue " jawab Aziz asal , padahal nggak ada hubungannya juga kan???


" Udah deh aku tanya Tante cindi aja deh, mungkin Tante cindi tahu di mana Zahra " ujar Aziz kemudian menghindari pertanyaan Alif .


Namun sebelum aziz berlalu ,Alif sudah bersuara lagi memberi tahu Zahra di mana.


" Coba Lo lihat di taman belakang deh bro, Zahra kalau sedih suka berada di sana " ujar Alif memberitahukan di mana kemungkinan Zahra berasa pada Aziz .


" makasih bro " Aziz menepuk bahu Alif setelah Alif memberi tahu Diman Zahra berada dan aziz pun langsung menuju taman belakang yang di bilang Aziz.


Langkah Aziz terhenti di pintu menuju ke taman belakang, di sebuah ayunan dekat kolam ikan Aziz melihat Zahra duduk seorang diri sambil menatap ikan - ikan yang berenang di dalam kolam tersebut. Sangat terlihat kesedihan mendalam di raut wajah cantik itu, Aziz ingin mendekat dan mengajak Zahra untuk makan, tapi ia mengurungkan niatnya untuk mendekati Zahra, setelah berpikir sejenak, Aziz kembali masuk ke dalam dan mengambil makanan serta minum lalu membawa makanan dan minuman tersebut ke tempat Zahra berada.


" walau pun sedih, jangan pernah lupa untuk makan jika kamu tidak mau jatuh sakit nantinya " ujar Aziz lembut dari belakang Zahra.

__ADS_1


Zahra kaget mendengar suara seseorang di belakangnya, Zahra menghapus air matanya dan menengok kebelakang siapa yang sudah menegurnya .


" Dokter...." ujar zahra kaget melihat Aziz sudah berdiri di belakangnya sambil membawa sepiring makanan dan air minum di tangannya.


Aziz mendekat dan meletakkan makan dan minuman tersebut di atas meja kecil yang ada di samping ayunan tersebut . Lalu tanpa minta izin dari Zahra Aziz langsung mendudukkan tubuhnya di samping ayunan yang kosong di samping Zahra.


Zahra tidak menolak ketika aziz duduk di sampingnya di atas ayunan tunggal itu, memang ayunan nya besar dan muat untuk berdua.


" kamu mengapa di sini sendirian ?" tanya Aziz lembut menatap Zahra.


" nggak ada dok, saya cuma lagi ingin sendirian saja " jawab Zahra pelan.


Aziz menarik nafas dalam berat ," Ra , aku tahu saat ini hati kamu sedang tidak baik - baik saja , tapi terlalu larut dalam kesedihan itu juga tidak baik dan sangat tidak disukai oleh tuhan " Aziz menjeda ucapannya dan menatap Zahra yang menundukkan kepalanya , tetesan air mata mengalir dari mata cantik istrinya itu.


" kamu boleh sedih dan menangis tapi jangan berlebihan karena hal ini akan memberatkan kakek, tapi perbanyakan berdoa dan baca alfatihah itu lah yang saat ini paling di butuhkan kakek dari kita " Aziz memberanikan diri meraih dagu Zahra dan mengangkat dagu itu sehingga wajah Zahra terangkat menatap ke arahnya, Aziz menatap wajah yang basah dengan air mata dan mata yang masih terpejam itu dengan tatapan yang tak bisa di lukisan .


Aziz mengusap air mata itu lembut dengan jari - jari tangannya " tatap lah aku Ra " perintah Aziz lembut.


perlahan Zahra membuka matanya dan menatap mata aziz yang berada sangat dekat dengan wajahnya saat ini, mata mereka saling bertatapan


" Aku suami kamu Ra, bukan kah kamu sudah mau menerima aku dan pernikahan kita ?" tanya Aziz pelan sambil mengusap air mata Zahra yang masih terus mengalir , Zahra menganggukkan kepalanya


" kalau begitu, jangan pernah menganggap kamu sendiri saat ini Ra, ada aku suami kamu , bagi lah kesedihan dan luka kamu dengan aku Ra, kita sekarang bukan lagi di orang asing lagi, tapi kita adalah dua dalam satu Ra " ujar aziz panjang lebar. Zahra masih diam menatap Aziz.


" jadikan aku tempat sandaran kamu Ra, tempat kamu berkeluh kesah dan menumpahkan segala senang dan duka mu,


kamu paham kan maksud aku Ra ?" tanya Aziz lagi lembut pada Zahra.


Zahra menatap dalam mata Aziz , Zahra merasakan ke kedamaian dalam tatapan tersebut ,lalu Zahra menganggukkan kepalanya , aziz pun tersenyum senang.

__ADS_1


__ADS_2