
Selesai mengadakan pertemuan dengan orang terpercayanya dan melepas kepergian Aldo ke negara S untuk menyelesaikan permasalahan di sana , Aziz pun tanpa menunggu dan menunda lagi langsung pulang kerumah, tubuhnya terasa sangat lelah telah beraktivitas seharian di luar rumah dan belum lagi lelah pikirannya dengan Masalah kerjaan yang tidak habis - habisnya.
Saat ini yang Aziz inginkan hanya lah cepat sampai di rumah dan bertemu dengan istrinya, seharian tanpa melihat wajah istrinya Aziz merasa sangat merindukan istrinya itu.
Setelah melalui kemacetan lebih kurang satu jam akhirnya Aziz telah sampai di depan rumahnya setelah waktu magrib usai, untuk tadi di jalan Aziz sempat mampir ke mesjid untuk sholat magrib ,jadi ia tidak harus kehilangan waktu sholat magrib nya, pak Udin yang bertugas menjaga pintu gerbang, melihat mobil Aziz datang langsung lari terburu - buru ke arah gerbang untuk membukakan pintu gerbang tersebut untuk aziz.
" Selamat sore pak Udin " sapa Aziz ramah
" Sore pak dokter " jawab pak udin membungkukkan tubuh nya memberi hormat.
pak Udin yang mengenal Aziz sebagai seorang dokter, selalu memanggil aziz dengan panggilan kak dokter, padahal Aziz sudah sering melarang pak Udin memanggilnya dokter, tapi aok Udin tetap kekeh memangil pak dokter pada Aziz, akhirnya Aziz mengalah dan membiarkan pak Udin memanggilnya pak dokter sampai sekarang.
".Aman ya pak, selama saya tinggal ?"
" Siap insyaallah aman pak dokter " jawab pak Udin Aziz pun menganggukkan kepalanya dan kemudian melakukan mobilnya masuk ke halaman rumah tersebut.
Aziz turun dari mobil, dengan tergesa - gesa karena aziz sudah tidak sabar lagi ingin bertemu dengan istrinya, Aziz masuk ke dalam rumah dan Aziz tidak lupa membaca salam sebelum masuk. tapi tidak ada seorang pun yang berniat membalas Salam nya.
Aziz yang tidak perduli langsung masuk, Aziz melihat kondisi rumahnya sangat sepi tidak ada seorang pun yang menyambut kedatangannya, biasanya ada Zahra istri cantiknya yang selalu menyambutnya pulang di depan teras rumah, tapi kali ini tidak ada, kemana istrinya itu, aziz melanjutkan langkahnya masuk kedalam rumah sambil mencari keberadaan Zahra, di meja makan Aziz melihat mbak srik sedang merapikan meja makan, dan menyusun makanan yang siap di santap di atas meja makan.
Aziz mendekati mbak srik yang sedang sibuk dengan pekerjaannya itu, mbak srik yang tidak menyadari ke datangnya aziz kaget ketika aziz menegurnya
" Mbak istri saya ke mana ya ?" tanya Aziz menanyakan keberadaan Zahra pada mbak srik. Biasanya di jam begini Zahra akan berada di ruang makan membantu mbak Sri tapi tidak terlihat oleh aziz
" Astaghfirullah bapak.!!" Mbak Sri yang kaget di tegur Aziz mengelus dadanya, aziz hanya tersenyum merasa bersalah telah mengagetkan art nya itu.
" Maaf mbak " sahut aziz nyengir.
" Zahra mana mbak,.kok dari tadi gak terlihat ya ?" tanya Aziz lagi
" Oo ibu sendang di kamar pak, dari tadi ibu mengeluh kurang enak badan katanya pak "
Aziz mengerutkan keningnya bingung, apa sakit Zahra makin parah ya, tapi ke napa Zahra tidak menghubunginya ?, dan tadi saat ia menelpon mengabari tidak bisa pulang cepat sesuai janjinya, istrinya itu tidak ada mengeluh apa - apa.
" Oya mbak, saya ke atas dulu ya mbak " sahut Aziz dan langsung berlalu ke lantai dua dimana kamarnya dan Zahra berada.
__ADS_1
Aziz naik ke lantai dua memutuskan akan menggunakan tangga, tidak menggunakan lift,.karena Aziz yang sedang mencemaskan kondisi istrinya itu berpikir akan lebih cepat menaiki tangga dari pada menggunakan lift untuk bisa cepat sampai ke lantai dua.
Begitu sampai lantai dua, aziz langsung masuk ke kamarnya dan Zahra tanpa mengetuk pintu kamar itu terlebih dahulu.
Aziz melihat Zahra sedang berbaring di atas tempat tidur dengan posisi miring membelakangi pintu kamar, Aziz yang tidak bisa melihat jelas wajah istrinya itu berjalan pelan mengitari tempat tidur kearah Zahra memiringkan tubuhnya sehingga Aziz dapat melihat jelas wajah istrinya itu.
Aziz mengamati wajah cantik istrinya itu, Zahra terlihat sedang tidur dengan mata yang terpejam sempurna, tarikan nafas nya terlihat teratur, wajah itu terlihat sangat lelah dan sedikit pucat, sesekali terlihat Zahra mengerutkan keningnya dan entah sadar atau tidak, sesekali tangannya mengelus perut nya yang membuncit.
Aziz mendekati istrinya itu, dengan pelan aziz duduk di tepi tempat tidur dengan pandangan mata yang tidak lepas dari wajah istrinya itu, Aziz mengelus kepala istrinya lembut dan pelan, Aziz takut pergerakannya akan menganggu tidur istrinya.
Lagi - lagi Zahra mengerutkan keningnya dan tangannya mengelus perut nya sambil berdesis menahan sakit. Aziz meraba perut Zahra pelan dan mengelusnya, lagi - lagi Aziz mengerutkan keningnya, sekali lagi Aziz mengelus perut besar Zahra ingin mematikan sesuatu.
Aziz merasakan perut Zahra tegang dan keras, lalu Aziz memperhatikan Zahra yang masih dalam keadaan mata yang terpejam itu selalu mengerutkan keningnya setiap kali perut istrinya itu mengeras dan tegang, Zahra akan meringis dan dengan spontan tangan Zahra akan mengelus perutnya itu pelan.
" Apakah Zahra sudah mulai merasakan kontraksi ?, tapi jika sudah merasakan kontraksi, mengapa Zahra masih bisa tertidur ya ? " gumam Aziz sambil memperhatikan wajah istrinya itu, Sebagai seorang dokter walaupun Masalah kandungan bukan lah bidangnya, tapi sedikit banyaknya Aziz mengetahui ciri - ciri kontraksi pada ibu - ibu hamil yang akan mau melahirkan. Dan itu sama persis seperti yang di alami oleh Zahra istrinya saat ini, tapi aziz bingung, Zahra masih bisa terlihat tenang dan bisa tidur walau pun ia sendang kontraksi.
Aziz bingung, apa kah Zahra tidak merasakan sakitnya kontraksi ya ?, pikir Aziz yang terus memperhatikan istrinya itu.
Aziz yang penasaran dan sekaligus tidak tega melihat Zahra yang tidurnya tidak nyaman, Aziz pun membangunkan zahra dan bertanya langsung tentang keadaanya saat ini
" Sayang, bangun sayang " Aziz mengelus pipi cabi Zahra pelan sambil membangunkan istrinya itu, merasa ada yang mengelus pipinya, Zahra yang sedang tidur untuk mengalihkan rasa sakitnya itu membuka matanya pelan.
Kehamilannya zahra yang tengah hamil anak kembar tiga itu kondisi perutnya tidak sama dengan ibu - ibu hamil biasanya, perut Zahra terlihat sangat besar sehingga membuat gerakan nya terbatas.
Aziz yang paham istrinya berusaha untuk bangun tapi susah, menahan tubuh istrinya agar tidak bangun dan tetap dengan posisi tidur miring seperti itu, karena aziz melihat zahra lebih nyaman dengan posisi miring nya saat ini.
" Gak usah bangun sayang, tidur aja ya "
" Abang sejak kapan pulang ?, kok Zahra gak tahu Abang pulang ?" tanya zahra bingung, Zahra yang memang sudah tertidur setelah habis magrib tadi tidak mengetahui suaminya pulang, dan tiba - tiba saja suaminya itu sudah berada di hadapannya.
" Sudah dari setengah jam yang lalu, tapi abang pulang kamu sudah tidur " jawab Aziz menjelaskan
" Maaf bang, Zahra tidak menyambut Abang pulang, habis magrib Zahra tertidur bang " jawab Zahra merasa bersalah karena tidak meyambut suaminya ketika pulang kerja tadi.
" Tidak apa - apa sayang " sahut aziz tersenyum dan mencubit pipi cabi Zahra gemas.
__ADS_1
" Abang udah makan ?"
Aziz menggelengkan kepalanya memberi tahu bahwa ia belum makan, Zahra memperhatikan suaminya itu, Aziz masih memakai pakaian kantor yang tadi pagi dipakainya, itu artinya suaminya itu belum mandi dan ganti baju
" Abang mau makan dulu atau mau mandi dulu ?" tanya zahra pada Aziz.
" Abang mau mandi dulu sayang, soalnya gerah dari tadi pagi sudah berkeringat " sahut Aziz
" Zahra siapkan air hangat nya dulu ya bang " ujar Zahra yang ingin bangun menyiapkan air hangat untuk Aziz mandi.
" Gak usah sayang, biar abang sendiri yang siapkan nanti ya, sekarang kamu tidur aja di sini ya sampai Abang siap mandi, lalu kita turun untuk makan, kamu pasti belum makan kan ?" sahut Aziz yang Kemabli melarang zahra untuk bangun , Zahra hanya menganggukkan kepalanya menyetujui ucapan Aziz, Zahra memilih untuk menurut omongan Aziz, karena Zahra tahu Aziz yang tidak mau di bawah.
" Oya sayang, tadi Abang lihat sewaktu kamu tidur sering meringis dan mengelus perut kamu, apa kamu sudah merasakan sakit kontraksi sayang ?" tanya Aziz pelan.
" Sepertinya masih kontraksi palsu bang, dan sakitnya masih bisa zahra tahan kok " jawab zahra membenarkan ucapan Aziz.
" sejak kapan kamu merasakan sakit seperti itu ?" tanya aziz menatap Zahra lembut
" Dari pagi tadi bunga " jawab Zahra menunduk, Zahra takut aziz marah karena tidak jujur
" Kenapa kamu gak telpon Abang sayang ?, dan waktu Abang telpon siang tadi kamu juga tidak ada ngasih tahu Abang " ujar Aziz lagi yang mulai kesal pada istrinya itu, Aziz kesal karena Zahra tidak mau mengatakan sakitnya pada dirinya, padahal aziz dari tadi sudah mencemaskan istrinya itu, Aziz tidak mau terjadi hal - hak yang tidak di inginkan pada istrinya itu, makanya aziz selalu meminta Zahra untuk selalu menghubunginya setiap kali ia tidak di rumah.
" Zahra takut mengganggu kerja Abang, lagi pula sakit nya masih bisa Zahra tahan kok bang " sahut Zahra yang berusaha membela dirinya
Aziz menarik nafas dalam dan membuangnya kasar, ia sangat marah dan kesal pada istri nya itu, tapi Aziz berusaha menahan marahnya, bagaimana pun Aziz tidak mau membuat istrinya sedih.
" Sayang dengar ya, kamu dan anak - anak kita adalah prioritas utama Abang , abang gak Masalah meninggalkan pekerjaan Abang demi kamu, Karana Abah sayang pada kamu dan anak kita, dan abang tidak mau kamu dan anak kita kenapa - Napa sayang, kamu paham itu kan sayang " sahut aziz pelan memberi pengertian pada istrinya itu. Zahra hanya menganggukkan kepalanya mengerti, bagai mana pun Zahra merasa tidak sanggup menatap wajah suaminya saat ini.
" janji ya, jangan diulangi lagi " ujar Aziz sambil mengelus kepala Zahra lembut.
" Iya Zahra janji bang, Zahra minta maaf ya bang " Zahra meraih tangan aziz dan menciumnya meminta maaf pada suaminya itu, Aziz pun memberikan kecupan lembut di kelapa Zahra dan tersenyum senang Zahra istrinya patuh dengan apa yang di ucapkannya.
". Apa tidak sebaiknya kita periksa ke dokter saja sayang "
" Gak usah dulu bang, lagian sakitnya juga masih sekali - kali kok bang dan masih bisa zahra tahan, nanti kalau sakitnya sudah makin sering dan Zahra tidak kuat lagi baru kita kerumah sakit ya bang " ujar zahra pelan takut Aziz tersinggung
__ADS_1
" Baik lah, kalau begitu, tapi janji ya kamu akan kasih tahu Abang jika sakitnya semakin kuat " ujar Aziz akhirnya, dan Zahra pun menganggukkan kepalanya sambil tersenyum , Aziz mengelus kepala Zahra lembut dan memberikan ciuman di sana cukup lama.
" Sekarang kamu tetap di sini saja ya, Abang mandi dulu, selesai Abang mandi kita makan biar kamu ada tenaga waktu lahiran anak - anak kita nanti " lagi - lagi zahra menganggukkan kepalanya, dan Aziz pun berlalu ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang sudah terasa sangat gerah dan tidak nyaman lagi.