
" Bagai mana keadaan kakek saya dok " Alif bertanya pada dokter yang merawat kakeknya .
saat kakeknya di jumpai drop di rumah, Alif dengan cepat membawa sang kakek ke rumah sakit.
Sesampainya di UGD Alif dan keluarga sudah di tunggu oleh petugas IGD beserta dokter yang biasa menangani kakeknya karena sebelum kerumah sakit Alif sudah terlebih dahulu meng hubungi pihak rumah sakit dan dokter yang biasa menangani penyakit kakek nya.
Kakek langsung di bawa ke ruangan tindakan , Alif mengikuti keruangan tindakan tempat kakeknya akan di tangani sementara keluaran yang lain menunggu di kuar.
Dokter memeriksa kakek dengan sangat teliti, dokter tersebut terlihat diam sesaat dan menarik nafas dalam berat.
" kondisi pasien sangat mengkhawatirkan dokter Alif " kata dokter tersebut sambil menatap Alif, nampak rasa kekhawatiran di dalam wajahnya.
" kondisi ginjalnya sudah semakin parah, jalan satu - satunya kita bisa lakukan adalah cangkok ginjal, tapi mengingat usia beliau yang sudah menua, tingkat keberhasilannya bisa dikatakan 50% dokter Alif." kata dokter tersebut menjelaskan kondisi kakek saat ini.
" Kenapa ini bisa terjadi dokter ,padahal kakek rutin menjalani cuci darah, lalu kenapa kakek saya belum sadarkan diri juga dok " tanya Alif bingung dan panik.
" Bisa saja dokter , apalagi usia beliau yang sudah tua, itu bisa saja terjadi, dan jika kita lakukan cangkok ginjal pun, tidak lah semudah itu , apa lagi mencari pendonor ginjal itu cukup sulit dokter Alif." kata dokter itu menjelaskan lagi " pasien belum sadar selain karena penyakitnya juga di tambah tekanan darahnya yang rendah sehingga beliau masih belum sadar " lanjut dokter itu lagi.
Alif terdiam setelah mendengar penjelasan dokter .Alif juga bingung tindakan apa yang harus ia ambil untuk kesembuhan kakeknya.
" Karena kondisi pasien yang masih memerlukan perhatian khusus saya sarankan pasien untuk segera kita observasi di ruangan ICU dokter Alif. " kata dokter yang sudah merapat kakek itu lagi, dan ucapannya dokter tersebut menyadarkan Alif dari lamunannya.
" Baik dokter, lakukan yang terbaik dokter " ujar Alif pada dokter itu
" pasti dokter Alif, kitab akan memalukan yang terbaik untuk pasien." ujar dokter itu lagi sambil meraih pindah Alif dan memeluknya pelan.
Dokter yang sudah merawat kakek dan seumuran dengan Alif itu pun berlalu dan minta perawat untuk memindahkan kakek ke ruangan ICU.
__ADS_1
Tak lama kemudian kakek yang masih belum siuman tersebut di dorong ke ruangan ICU untuk penanganan lebih lanjut.
Alif menatap keluarganya yang terlihat begitu cemas menunggu kakek di luar ruangan ICU .
Setalah mendapatkan penjelasan dari dokter, mereka bingung tindakan apa yang harus mereka lakukan saat ini.
" Jadi apa yang akan kita lakukan setalah ini pa,ma ?" tanya Alif pada keluarganya.
nenek hanya duduk terdiam di temani Arumi di bangku tunggu depan ruangan ICU .
mendengar kondisi suaminya yang drop dan makin berat nenek hanya bisa diam. Nenek ingin suaminya cepat sembuh, tapi mengingat usia kakek yang tidak muda lagi tingkat keberhasilan tindakan yang dijelaskan dokter tadi sangatlah kecil, nenek tidak melihat kakek menderita lagi.
" Kita akan lakukan tindakan yang di saran dokter tadi lif," jawab cindi kurang yakin
" Apa mama Yakin , lagi pula resiko tindakannya sangat besar mama dan tingkat keberhasilannya pun sangat kecil " jawab Alif meyakinkan ucapan cindi lagi.
" Kita pikirkan tindakan selanjutnya dengan tenang agar kita tidak salah mengambil keputusan sambil menunggu papa sadar ya " ujar Adam lagi agar mereka bisa mengambil keputusan yang benar untuk kakek, sehingga mereka tidak akan menyesal nanti nya jika salah Langkah.
" Benar apa , apa yang di bilang papa Alif setuju ,sambil kakek siuman dan bisa melewati masa kritisnya kita pikirkan lagi langkah apa yang akan kita ambil kedepannya agar kita tidak salah langkah " jawab Alif membenarkan usulan papa nya. Dengan berat hati akhirnya cindi mengikuti saran dari suami dan anaknya .
" Alif akan kabari Zahra ma, tadi Alif sudah coba hubungi Zahra tapi nomornya nggak aktif " Alif mengambil ponsel untuk menghubungi Zahra dan ingin mengabari kondisi kakek yang drop sehingga di rawat di ICU., tapi ponsel Zahra tetap belum bisa di hubungi.
Alif mulai mencemaskan Zahra , tidak biasanya Zahra seperti itu,
Alif mencoba lagi tapi tetap sama.
" sebaiknya Zahra tidak usah di kasih tahu dulu tentang kondisi kakek lif " ujar nenek tiba - tiba.Semua orang menatap nenek bingung , terutama Alif.
__ADS_1
" kenapa nek " tanya Alif pada nenek nya
" kakek tidak mau Zahra cemas, kamu tahu sendiri kan gimana dekat dan manjanya Zahra sama kakek , karena itu lah kakek tidak pernah dan melarang kita untuk memberi tahu Zahra tentang penyakitnya. Karena kakek tidak mau Zahra cemas dan bersedih."
" Tapi nek, ini kondisi nya lain. kakek lagi kritis dan Zahra harus tahu itu " kata Alif tetap kekeh ingin memberitahu Zahra.
" Tidak lif, sebelum kakek di bawa ke rumah sakit dan tidak sadarkan diri, kakek sudah berpesan untuk jangan beritahu Zahra dulu ." ujar nenek lagi.
Semua yang ada di ruangan itu terdiam , Alif kembali memasukkan ponselnya ke dalam kantong celananya.
" baik lah nek " jawab Alif akhirnya.
Sementara itu di kota lain , Sudah beberapa hari ini Zahra merasakan tidak nyaman dengan hatinya, ada rasa cemas , was - was , dan entah rasa paa lagi.
Zahra bingung dengan rasa cemas yang sudah iya alami beberapa hari ini, Zahra sudah menghubungi keluarganya beberapa hari lalu menanyakan kabar keluarganya tapi keluarga nya mengatakan baik - baik saja.
Perasaan Zahra makin tidak tenang setelah Zahra menemukan lima kali panggilan tak terjawab dari kakaknya Alif, saat itu Zahra sedang menjalani perkuliahan yang sangat padat dan melelahkan dirinya dan di lanjutkan dengan kerjaan nya yang sangat sibuk dan menguras tenaga sehingga Zahra melupakan tentang ponselnya yang di silent kannya.
Zahra baru ingat akan ponselnya keesokkan paginya ke Tika ia akan berangkat kerja dan ponsel tersebut dalam ke adaan mati karena habis saya.
karena buru - buru mau berangkat kerja akibat kesiangan Zahra meninggalkan ponselnya di rumah dalam keadaan sedang di isi daya. karena Zahra berpikir ia juga bakal tidak akan sempat melihat ponselnya nanti mengingat ia yang bakal sibuk dengan pekerjaan nya. Memang sudah beberapa hari ini juga zahra sedang banyak pasien dan rata - rata kondisi pasien yang masuk ke ruangannya dalam keadaan kritis semua, maklum nama nya juga ruangan icu.
siang ini zahra sedang merapikan pekerjaannya, seperti biasa sebelum pertukaran shift zahra selalu men cek ulang pekerjaannya agar tidak ada yang tertinggal saat overan nanti.
" Ra ponsel kamu mana ?" tiba - tiba Mia datang menghampiri Zahra dan menanyakan keberadaan ponselnya.
" ponsel aku tinggal di rumah kak, tadi pagi habis daya ,tapi karena buru - buru zahra tinggal aja,lagian juga nggak akan sempat buka ponsel kak karena beberapa hari ini sibuk banget." jawab Zahra sambil tetap sibuk membereskan pekerjaannya
__ADS_1
" pantesan dari kemarin kakak hubungi nggak bisa - bisa " ujar Zahra mengomel dan di jawab Zahra hanya dengan senyuman .