
" Sa..sayang ...."
Aziz menatap lurus kedepan, matanya hampir tidak bisa berkedip menatap pemandangan indah yang selama ini ia nanti dan ia rindukan di depan Sana, di atas bed dimana biasanya sang istri tercintanya terbaring lemah dan diam terlihat berbeda dari biasanya.
Mata indah dari pemilik gadis cantik yang telah sah menjadi istrinya itu tengah duduk menyandar pada bed pasien yang sudah di set setengah duduk di atas tempat tidurnya itu dan juga sedang menatap dirinya dengan pandangan penuh kerinduan.
" Zahra siuman dari beberapa jam yang lalu, saat papa dan ayah mertua mu sampai disini Zahra sudah bangun dan sedang di periksa oleh dokter dan dokter mengatakan Zahra sudah perbaikan dan tinggal pemulihan kondisi nya saja " pak Widodo memberi tahu Aziz serta mejelaskan kondisi Zahra setelah bangun dari tidur panjangnya.
Aziz hanya diam, ia tidak tahu harus mengatakan apa saat ini, yang pasti Aziz sangat bahagia melihat istrinya sudah bisa membuka mata nya saat ini.
" Temui lah istrimu nak, dia sudah mencari dan selalu menanyakan diri mu semenjak mulai bangun tadi " ujar pak widodo lagi yang memberitahu Aziz bahwa Zahra mencari dirinya semenjak ia mulai bangun tadi.
pak Widodo menepuk pundak Aziz pelan dan memberi kode pada semua yang berada di sana untuk keluar meninggalkan Aziz dan Zahra, semua orang mengerti dengan kode yang di berikan oleh pak Widodo dan menganggukkan kepalanya tanpa suara.
Aziz yang masih syok dan kaget melihat istrinya sudah bisa membuka mata merasa senang, Aziz merasa sedang bermimpi istri yang selama ini di rindukannya sudah bangun dari tidur panjangnya.
Air mata Aziz yang tadinya berlinang jatuh membasahi pipinya, Aziz lagi - lagi Aziz menangis untuk istrinya, tapi tangisan Aziz sekarang berbeda dengan tangisannya beberapa waktu lalu, ini bukan lah tangis kesedihan, tapi tangis bahagia aziz, Aziz bersyukur Tuhan telah mengabulkan doanya selama ini.
Aziz mendekati istrinya dengan pelan dan pasti, manik matanya tidak lepas dari wajah cantik Zahra, begitu pula dengan Zahra, ia terus menatap suaminya, mereka saling bertatapan, tatapan mata mereka begitu dalam, hanya mereka berdua yang tahu arti dari tatapan mata mereka masing - masing saat ini.
Dengan perlahan namun pasti, setetes demi setetes air mata jatuh di pipi tirus pemilik wajah cantik itu, bibir tipis yang selalu membuat Aziz terlena itu tersenyum tipis kearahnya seakan menyampaikan kata - kata rindunya pada sang suami yang sangat di cintainya itu.
Aziz membawa langkah kakinya pelan mendekati bed pasien tempat Zahra berbaring, mata Aziz masih tidak berkedip menatap tidak percaya, gadisnya, cinta nya, penyemangat hidupnya dan istri tercinta nya telah duduk dan membuka matanya dan sedang memandang dirinya penuh cinta dan kerinduan. seperti doa - doa nya yang tidak henti - hentinya ia panjatkan untuk kesembuhan istri tercinta nya itu.
__ADS_1
Seiring langkah Aziz yang mendekati bed Zahra, kaum wanita yang tadinya mengelilingi Zahra perlahan - lahan menepi dan bergabung dengan para pria keluar dari kamar itu.
Mereka sengaja memberi ruang untuk pasangan yang sudah lama saling merindu itu untuk meluapkan rasa rindu mereka.
Aziz membelai wajah istrinya lembut, dan mengusap air mata yang sudah membasahi pipi istrinya itu.
" Kamu sudah sadar sayang ??" tanya Aziz pelan matanya memindai wajah Zahra.
Zahra menganggukkan kepalanya tersenyum manis.
" Abang tidak sedang bermimpi kan sayang " tanya Aziz lagi untuk meyakinkan dirinya, Aziz berharap ini bukan mimpi, seandainya ini mimpi, Aziz minta jangan biar kan ia terbangun agar ia bisa bersama istrinya dan melepas rindu bersama.
Zahra yang mendengar pertanyaan aziz merasa lucu dan gemas dengan tingkah suaminya itu.
" kok di cabut sih sayang, kan sakit " ujar Aziz sambil mengelus tangannya yang tadi bulunya di cabut Zahra.
" Habisnya Abang gak percaya Zahra sudah siuman sih, bukannya senang dan peluk Zahra, ini malah meragukan zahra " sahut Zahra sewot dan memalingkan wajahnya ke arah lain.
" Maaf,.maaf kan Abang sayang, bukannya begitu, Abang takut ini mimpi sayang, makanya Abang ingin bertanya sekali lagi sama kamu." jawab Aziz dan mengambil tangan Zahra lalu membawa tangan itu ke arah bibirnya dan mengecupnya lembut.
Aziz lalu merengkuh tubuh Zahra dan memeluk tubuh istrinya erat menumpahkan kerinduannya, air mata kebahagiaan terus mengalir di kedua pipi nya, Aziz tidak peduli dengan omongan orang - orang jika nanti mereka mendapati dirinya tengah menangis seperti itu di pelukkan istrinya, yang Aziz tahu saat ini ia sangat bahagia, saking bahagianya, Aziz tidak bisa mengungkapkannya dengan kata - kata.
" Abang rindu kamu sayang, jangan pernah pergi tinggalkan Abang lagi, dan Jagan pernah seperti ini lagi, Abang gak tahu apa yang akan terjadi pada diri Abang jika kamu seperti ini lagi sayang, abang gak sanggup" sahut Aziz menumpahkan semua isi hatinya yang selama ini tidak bisa ia sampaikan pada istrinya itu.
__ADS_1
" Berjanjilah kamu tidak akan seperti ini lagi sayang, abang gak bisa bayangkan jika itu terjadi, berjanjilah kamu akan menjaga diri kamu baik - baik, Abang gak tega lihat kamu menderita seperti ini sayang, Abang gak sanggup tanpa kamu, berjanjilah Zahra, berjanjilah ..." ujar Aziz lagi.
Zahra menganggukkan kepalanya, " Zahra juga gak sanggup jika tidak ada Abang di samping zahra, tadi saat Zahra buka mata, Zahra sedih karena Zahra tidak bisa lihat Abang ada disini, yang ada hanya mami dan chelsea " ratap Zahra juga menyampaikan isi hatinya yang sedih karena tidak melihat aziz saat ia membuka matanya tadi.
" Iya Abang minta maaf sayang, bukannya Abang tidak mau menjaga kamu, tadi Abang lama berada di luar, makanya sebelum kesini menemani kamu Abang mandi dulu di ruang pribadi abang, agar kamu tidak terkontaminasi dengan kuman yang abang bawa dari luar sayang " ujar Aziz sambil meregangkan pelukan nya dan menangkup wajah Zahra dengan kedua tangannya, dengan pelan aziz mengecup kening Zahra lama.
Aziz meraih dagu Zahra dan mengangkatnya pelan sehingga kepala yang menunduk itu terangkat dan Aziz menatap wajah Zahra sehingga mata mereka saling bertemu ketika Zahra membuka matanya.
Melihat bibir ranum istrinya, tanpa berkata - kata lagi Aziz langsung mengecup bibir tipis dan seksi itu, awalnya hanya kecupan singkat, namun Aziz ketagihan yang akhirnya Aziz kembali mengecup bibir Zahra bukan hanya mengecup tapi juga ******* bibir itu lebih dalam meluapkan semua kerinduan nya selama ini pada istrinya itu
Zahra yang memang tengah merindukan suaminya itu membalas ciuman dan lumayan bibir Aziz di bibirnya.
Sadar istrinya masih sakit dan bahkan baru saja siuman Aziz pun melepaskan ciuman mereka dengan pelan, terlihat Zahra tidak rela ketika ciumannya berhenti, Aziz tersenyum gemas , Aziz membelai pipi Zahra lembut.
" Untuk sekarang cukup dulu sayang, Abang takut kebablasan, sementara kamu masih sakit, dan bahkan baru saja siuman, " sahut Aziz menjelaskan, Zahra pun mengangguk dan menundukkan kepalanya malu ketahuan mesum oleh suami nya.
Aziz yang gemas melihat tingkah malu - malu istrinya, meraih tubuh Zahra dan memeluk Zahra erat.
" Cepatlah sembuh istri ku, dan sehat lah selalu, Abang sayang Zahra, Abang rindu Zahra, I love you sayang " sahur aziz di telinga Zahra.
Zahra merasa terharu, senyum bahagia terukir dari bibir tipisnya, Zahra membalas pelukkan Aziz.
" Zahra juga rindu Abang, I love you too bang "
__ADS_1