
Zahra dan kedua keluarga besarnya sedang berkumpul di ruang tamu melepas penat usai acara akikahan akhdan, Fauzan dan Rasyid, tak ketinggalan ke tiga bayi kembar itu pun ikut berkumpul bersama yang lainya, semua orang saling berebutan ingin menggendong ketiga bayi - bayi itu, tahu diri mereka bintangnya hari ini, setelah minum susu ketiga bayi itu bukannya tidur seperti biasanya, tapi malah asik bermain dengan nenek,Oma dan tante - tantenya.
Pak Widodo dan bu Susan sangat bahagia dengan adanya ketiga bayi kembar itu, rumah yang semula terasa sepi karena kesibukkan masing - masing penghuninya, menjadi ramai semenjak adanya si kembar, apa lagi jika mereka sudah kompak dengan paduan suaranya.
" Mi bawa sini mereka, sekarang gantian giliran para kakek lagi yang gendong " pak Widodo meraih akhdan yang sedang anteng dalam gendongan Bu Susan.
" Ntar dulu Pi, mami kan baru gendong " tolak Bu Susan dan menjauhkan akhdan dari jangkauan pak Widodo.
" Mami kan sudah dari tadi main sama mereka mi, papi dan yang lain belum mi " sahut pak widodo yang tidak mau mengalah.
Akhdan menatap bingung oma dan opa nya saling berebutan dirinya, seolah mengerti keinginan opa nya, tiba - tiba akhdan menangis di dalam gendongan Bu Susan.
" Tuh kan Pi, jadi nangis kan " sahut Bu Susan kesal pada suaminya.
" Gara - gara mami tuh " jawab pak Widodo yang tidak mau di salahkan.
Bu Susan berusaha mendiamkan akhdan, tapi bayi itu tidak mau diam, malahan ketiga Fauzan dan Rasyid yang berada dalam gendongan cindi dan Mia ikut menangis.
" Tuh kan mi, gak mau diam di nya, malah yang lain pun ikut menangis, sini kasih sama papi siapa tahu bisa diam " sahut pak widodo meraih akhdan dari gendongan Bu Susan. Mau tak mau Bu Susan pun memberikan akhdan pada pak Widodo, dan ajaibnya, bayi itu langsung diam setelah berpindah tangan ke opanya.
" Akhdan mau main sama opa ya sayang " ujar pak Widodo pada akhdan, dan seolah - olah mengerti dengan apa yang di ucapkan opanya, akhdan tersenyum menatap sang opa, Wak widodo sangat gembira mendapatkan senyum manis dari cucunya itu.
Jika akhdan sudah tenang dan diam, tidka dengan Fauzan dan Rasyid, kedua bayi itu masih terus menangis, cindi dan Mia yang menggendong kedua bayi itu jadi kewalahan, Adam dan sandi melihat itu langsung berdiri untuk mengambil kedua bayi itu.
" Sini - sini sama kakek sayang, cup cup cup, cucu kakek pintar gak boleh nangis ya " ujar sandi yang mengambil Rasyid dari gendongan Mia, begitu juga dengan Adam yang mengambil Fauzan dari tangan cindi.
Dan lagi - lagi semua orang tercengang melihat kedua bayi itu langsung diam di gendong Adam dan sandi.
" Ooooo ternyata mereka mau main sama kakek dan opa nya " ujar Oma minan menatap ketiga cicitnya yang diam dan anteng dalam gendongan kakek dan opanya.
Semua orang tertawa merasa lucu dengan tingkah ketiga bayi yang belum cukup berumur satu bulan itu.
Zahra dan aziz yang tadinya merasa panik melihat ketiga anak - anak nya menangis merasa lega, ternyata bayi - bayi itu menangis karena ingin di gendong oleh opa dan kakeknya.
" Mereka pintar ya bang, belum juga sebulan sudah tahu membedakan mau main sama siapa " sahut zahra menatap ke tiga bayinya yang anteng dalam gendongan opa dan kakeknya.
" Siapa dulu dong ayah nya " jawab Aziz narsis.
" Issst gak nyambung kali bang " sahut Zahra cemberut, Aziz tertawa senang telah berhasil menggoda Zahra.
" Maaf nyonya, di luar ada tamu nyari non Zahra " salah satu art Bu Susan menghampiri mereka memberitahukan ada tamu yang mencari Zahra,.semua yang berada di ruangan itu memandang ke arah Zahra.
__ADS_1
" Siapa bi ? " tanya Zahra bingung
" Bibi gak tahu non, katanya teman non Zahra " jawab art tersebut.
" Laki - laki apa perempuan Bu ?" kali ini Aziz yang bertanya, dan dari nada aziz bertanya siapa pun sudah tahu ada nada curiga di dalamnya. Aziz kembali dalam mode posesif nya.
Zahra menatap Aziz yang berada di sampingnya dengan tatapan bingung, rasanya Zahra tidak ada janji dengan seseorang.
" Laki - laki dan perempuan den " jawab art itu lagi
" Ayo kita lihat, Abang temani " Aziz meraih tangan Zahra untuk berdiri menemui tamu yang datang dan sudah menunggu di ruang tamu tersebut.
Di ruang tamu dua orang tamu yang tadi katanya mencari Zahra sendang duduk sambil menunggu kedatangan si tuan rumah.
" Nia,.Rico, kalian apa kabar, di kirain siapa tadi yang datang , gak tahu nya kalian " sapa Zahra girang menyambut dua sahabat nya itu. Zahra menjabat tangan rico dan memeluk Nia serta cipika cipiki.
" Hai Ra, maaf kami datang nya telat, tadi ada keperluan yang tidak bisa di tunda " sahut Nia merasa tidak enak hati karena datang ke acara akikahan anak sahabatnya setelah acara selesai.
" Gak apa kok, yang penting kalian datang, aku udah senang " jawab Zahra
Nia dan Riko sadar Zahra menemui mereka tidak sendiri, melainkan bersama suaminya, Nia dan Rico pun menyala aziz dengan ramah.
Tahu yang datang ternyata teman kuliah istri nya, Aziz yang sudah mengenal siapa Nia dan Rico merasa lega.
" kabar baik, gak apa - apa , seperti yang di sampaikan istri saya, santai saja " jawab Aziz ramah tapi tetap berwibawa.
" Oya mana keponakan aku Ra ?, aku penasaran ingin lihat mereka " ujar Nia yang tidak sabar ingin melihat si kembar.
" Mereka ada di dalam lagi bermain sama kakek - kakeknya " jawab Zahra
" Bentar ya aku ambil mereka dulu " Zahra menatap aziz minta izin untuk mengambil si kembar, Aziz pun menganggukkan kepalanya pelan.
Zahra berdiri dan berlalu ke ruang keluarga untuk mengambil anak - anak nya dan membawanya keluar untuk menjumpai Nia dan Rico.
" Pelan - pelan sayang " seru Aziz ketka melihat Zahra yang jalan terburu - buru, Zahra hanya tersenyum manis pada Aziz ketika Aziz meminta nya untuk jalan pelan - pelan.
" ayo di minum dan di makan kue nya " Aziz mempersilahkan nia dan Rico meminum dan memakan makanan yang sudah di hidangkan art di atas meja sambil menunggu Zahra kembali membawa ketiga jagoannya.
" Ya pak, terima kasih" jawab Nia dan Rico kikuk, bagaimana pun Nia dan Rico merasa segan dengan Aziz walau pun merasa sudah mengenal Aziz sebelumnya, Aziz yang tenang dan lebih banyak diam serta berwibawa membuat suasana sedikit kaku tapa adanya Zahra di sana.
Tidak menunggu lama, Zahra pun datang sambil mendorong stroller bayi khusus untuk kembar tiga Dimana akhdan, Fauzan dan Rasyid berada di dalamnya.
__ADS_1
" Halo om dan Tante, kami datang " seru Zahra ceria menirukan suara anak kecil.
" Halo sayang Tante, uuuuhhh ganteng - gantengnya " Nia menatap takjub ketiga bayi kembar Zahra dan aziz, ketiga putra Zahra dan Aziz itu terkuat begitu ganteng dan imut, satu menggemaskan.
Zahra menoel pipi ketiga bayi itu gemas " hello sayang, kenalkan Tante teman nya ibu kamu dan om ini nama nya om Rico juga teman ibu kamu, jadi anak yang baik dan Sholeh ya sayang " Nia memperkenalkan dirinya dan Rico pada ketiga bayi kembar itu dan tak lupa Nia juga mendoakan keselamatan untuk ketiga bayi itu yang di amin kan oleh Zahra dan Aziz.
Entah mengerti atau tidak dengan apa yang di ucapkan oleh Nia, ketiga bayi itu menampilkan senyum manisnya untuk Nia sebagai salam perkenalan. Nia yang melihat ketiga bayi itu tersenyum padanya menjadi gemas.
" Iiiiihhh kalian kok lucu banget sih." sahut Nia pada ketiga bayi itu.
" Ra boleh aku bawa pulang gak " tanya Nia menyapa Zahra memelas .
" Enak aja, bikin dong " ujar Zahra bercanda.
" Bikin, memang gampang bikin yang kayak gini " jawab Nia kesel
" Nah tu tahu " jawab Zahra ketawa. Nia menatap Zahra kesal
" Tenang yang, nanti kita bikin kayak ini juga ya " sela Rico membelai kepala Nia lembut.
" Tuh Rico udah ngasih kode tuh " goda Zahra pada Nia. Nia semakin menatap Zahra kesal karena di goda oleh Zahra terus , sedang kan Zahra tertawa senang melihat nia yang kesal padanya.
Aziz geleng - geleng kepala melihat ke usilan istrinya menggoda sahabatnya itu, " udah sayang, Nia Jagan di goda terus " sahut Aziz meminta Zahra berhenti menggoda Nia sahabatnya itu.
" Iya Abang maaf " jawab Zahra menatap Aziz nyengir, lalu menatap Nia yang sedang menjulurkan lidahnya pada Zahra mengejek, Nia merasa senang sudah di bela oleh Aziz, Zahra balas menjulurkan lidahnya lagi pada Nia. Aziz dan Rico geleng - geleng kepala melihat tingkah dua sekawan itu.
" Oya Ra, ini ada sedikit buah tangan buat si kembar " Nia menyerahkan bungkusan kado yang tadi di bawanya pada Zahra.
" Gak usah repot - repot gini lah Nia " sahut Zahra segan sambil menerima kado pemberian Nia untuk si kembar.
" Gak repot kok Ra " jawab Nia " dan ini untuk kamu dan kak aziz, Jagan lupa datang ya " ujar Nia lagi sambil menyerahkan sebuah amplop seperti sebuah undangan pada Zahra.
Zahra menerima undangan yang di berikan Nia pada nya dengan tatapan heran dan penuh tanda tanya pada Nia.
" Undangan " gumam Zahra pelan, dan di jawab anggukkan kepala oleh Nia.
" kalian mau nikah " tanya Zahra tidak percaya, lagi - lagi Nia menganggukkan kepalanya malu - malu pada Zahra.
" Aduuuh selamat ya Nia, akhirnya kalian menikah juga " seru Zahra senang sambil memeluk sahabatnya itu.
" Makasih ya Ra, ingat jangan sampai tidak datang ya, kalau kamu gak datang aku ngambek loh " ujar Nia memeluk Zahra balik.
__ADS_1
" Insyaallah ya Nia, kamu kan tahu sendiri, aku baru aja siap lahiran, nanti aku izin suami ku dulu ya " jawab Zahra yang tidak bisa menjanjikan bisa datang pada Nia.
" Iya deh yang sudah jadi ibu " jawab Nia mengerti.