CINTA UNTUK ZAHRA

CINTA UNTUK ZAHRA
BAB 201


__ADS_3

Setelah memarkirkan mobilnya, aziz turun dari mobil dan setengah berlari menuju ke arah pintu penumpang samping kemudi, aziz membukakan pintu untuk Zahra dan membantu Zahra keluar dari mobil, satu tangan meraih tangan Zahra dan satu tangan lagi menutupi kepala Zahra agar tidak terbentur dengan pintu mobil.


Zahra tersenyum senang mendapatkan perlakuan manis dari suami nya dan tidak lupa mengucapkan terima kasih pada suaminya itu


" Makasih ya abang "


" sama - sama sayang, ayo kita masuk "


Zahra dan Aziz berjalan saling bergandengan tangan masuk kedalam rumah sakit tempat Naira di rawat, banyak pasang mata yang menatap iri pada mereka, tapi banyak juga yang menatap kagum dan takjub, namun Aziz dan Zahra tetap melangkah tanpa merasa terganggu sedikit pun, pasangan aziz dan Zahra terlihat seperti pasangan yang serasi dan sempurna, yang perempuan cantik dan yang laki - laki ganteng, sungguh pasangan yang sangat sempurna.


Aziz dan Zahra mencari - cari keberadaan seseorang yang menjadi tujuan mereka datang ke sana.


" Pak aziz " dari sebelah kanan mereka terdengar seseorang memanggil nama aziz dan melambaikan tangan, Aziz dan Zahra pun menoleh kan kepalanya ke asal suara itu.


" Siang pak aziz, Bu Zahra " Anton berjalan menghampiri Aziz dan Zahra di ikuti oleh Mirna dari belakangnya, Anton dan Aziz saling berjabat tangan. berbeda dengan Zahra, Zahra hanya menyatukan ke dua tangannya di depan dada sambil tersenyum ramah menyapa pak Anton dan minta.


Mirna menatap Zahra sinis, Mirna memperhatikan Zahra dari ujung rambut sampai ujung kakinya, ternyata beberapa bulan tidak bertemu, sudah banyak terjadi perubahan pada zahra, salah satunya dari segi penampilan, Zahra yang dulu nya berpenampilan biasa - biasa saja sekarang terlihat sangat elegan dan menawan serta berkelas, belum lagi semakin kesini Zahra terlihat semakin cantik, salah satu ujung bibirnya terangkat menyunggingkan senyum mengejek.


Wajar saja jika penampilan Zahra jauh berubah dari sebelum menikah dengan Aziz, bagai mana pun saat ini Zahra harus mengimbangi penampilannya dengan penampilan suaminya yang berprofesi selain sebagai seorang dokter juga sebagai seorang CEO, Zahra tidak mau penampilannya akan membuat malu Aziz di kalangan para pengusaha lainnya.


Meskipun Mirna menatapnya sinis dan kurang suka, namun Zahra tetap mencoba untuk tidak peduli dan tetap menegur Mirna. Zahra sadar bagai mana pun, Mirna pernah menjadi ibunya, lebih tetap nya ibu tiri nya. Sebagai anak walau tidak pernah di akui oleh Mirna, bahkan lebih cendrung membenci diri nya, Zahra tetap menghormati Mirna sebagai orang yang dituakan.


" Siang Bu, sudah lama tidak bertemu, ibu apa kabar ?" tanya zahra ramah tidak lupa dengan senyum manisnya serta mengulurkan tangannya ingin bersalaman dengan Mirna.


" Baik " jawab Mirna judes, dan melengoskan kepalanya ke arah yang lain, Mirna sengaja tidak menyambut uluran tangan Zahra dan mengabaikan uluran tangan zahra yang ingin bersalaman dengan nya


" Alhamdulillah" jawab Zahra dengan sabar dan tetap dengan senyum manisnya,, sadar Mirna tidak mau membalas uluran tangganya, Zahra pun menarik kembali tangannya yang sempat tergantung beberapa saat tadi


Aziz yang melihat istrinya di abaikan merasa tidak ikhlas dan sakit hati melihat sikap Mirna yang menurut aziz sangat kurang sopan itu, walau pun Zahra jauh lebih muda dari nya, tidak seharusnya Mirna bersikap seperti itu pada istrinya, apa lagi Zahra datang ke sini untuk kepentingan putri mereka sendiri, Aziz menatap Mirna tajam dan tidak segan - segan memperlihatkan rasa tidak suka nya pada Mirna ketika istrinya di abaikan seperti itu oleh Mirna, padahal yang Aziz lihat Zahra sudah cukup baik memperlakukan Mirna sedari tadi.

__ADS_1


Anton yang melihat perubahan raut wajah Aziz merasa tidak enak hati atas sikap Mirna pada Aziz dan zahra. Anton juga merasa sangat kesal terhadap mirna karena tidak menepati janji nya sebelum berangkat tadi


" pak Aziz, atas nama istri saya, saya minta maaf pak atas sikap yang kurang mengenakkan dari istri saya terhadap istri bapak " dengan rasa bersalah, Anton pun meminta maaf pada Aziz, bagai mana pun Anton sangat membutuhkan ke hadiran Zahra untuk kesembuhan putrinya, Anton tidak mau gara - gara sikap Mirna, Aziz akan berubah pikiran dan membawa Zahra pergi dari sana.


Zahra menatap Aziz yang juga sendang memandang nya, dari tatapan Aziz, Zahra tahu maksud Aziz menatapnya, Zahra juga tahu Aziz tidak terima akan sikap Mirna pada dirinya, tapi Zahra kembali teringat dengan niat mereka datang ke sini, Zahra pun menganggukkan kepalanya sambil mengelus lengan aziz lembut, Zahra berharap dengan begitu emosi suaminya bisa reda.


Merasakan elusan lembut tangan istrinya di lengannya, emosi aziz yang tadi nya sudah di ubun - ubun meluap begitu saja, sejauh ini, Zahra memang selalu bisa mengontrol emosinya, dan melihat anggukan kepala Zahra, akhirnya Aziz memilih bersabar dan membatalkan niatnya untuk membawa Zahra segera pergi dari sana.


" Dimana ruangan dokter yang sudah merawat Naira ?! " tanya Aziz menatap Anton dingin.


" Ruangan dokter nya di sebelah sana pak, mari kita ke ruangan dokter tersebut, kebetulan saya sudah membuat janji dengan beliau " kata Anton yang tidak dapat menyembunyikan perasaan senang nya karena Aziz masih mau membawa Zahra menemui Naira dan dokter yang merawat putri nya itu. Walau pun Zahra sudah mendapat perlakuan tidak mengenakkan dari istrinya.


Aziz dan Zahra pun mengikuti langkah Anton menuju ruangan konsultasi untuk menemui dokter yang merawat Naira, sementara itu Mirna mengikuti mereka dari belakang, Mirna yang masih kesal bertambah kesal ketika Anton mengabaikan dirinya begitu saja.


Tok...tok...tok...


" Siang dokter, sesuai dengan yang telah saya bicarakan dengan dokter di telpon pagi tadi, saya ke sini datang bersama orang yang di harapkan Naira untuk bisa bertemu dok " Anton menjelaskan maksud kedatangan mereka sambil memperkenalkan Aziz dan zahra.


" Perkenalkan dokter, ini pak Aziz dan istrinya Bu Zahra, dan Bu Zahra ini lah yang dari kemaren - kemaren ingin di temui oleh putri saya dokter " sahut Anton memperkenalkan Aziz dan Zahra pada dokter tersebut.


" Maaf sebelumnya, ini bukannya dokter Muhammad Gafar Al Aziz ya, dokter bedah anak terbaik di kota ini dan CEO dari perusahaan Widodo's group yang terkenal handal itu ya " tanya dokter itu pada anton yang kaget menatap Aziz.


" Iya benar saya dokter Aziz bedah anak dokter " jawab Aziz mengulur tangannya ingin bersalaman


" Tidak di sangka ya, saya bisa bertemu dokter sekaligus CEO hebat pewaris Widodo's group hari ini " Jawab dokter itu senang sambil menyambut uluran tangan aziz.


" Ah dokter terlalu berlebihan " jawab aziz merendahkan diri." Oya kenalkan ini istri saya Zahra " ujar aziz mengenakan Zahra pada dokter itu.


Zahra kembali menangkupkan kedua tangannya di depan dada memperkenalkan dirinya pada dokter tersebut.

__ADS_1


" Wah ternyata istri dokter cantik juga ya, memang pasangan yang serasi " puji dokter itu lagi pada Aziz.


" Alhamdulillah, terima kasih dokter " Zahra yang merasa mendapat pujian mengucapkan terima kasih, sementara Aziz yang mendengar dokter itu memuji istrinya sedikit kesal pada dokter tersebut.


Lagi - lagi Zahra yang menangkap perubahan suaminya meraih tangan aziz dan tanpa malu - malu bergelayut manja di lengan suaminya itu, Aziz tersenyum senang melihat Zahra bergelayut manja pada lengannya.


Setelah berkenalan dengan Aziz dan Zahra, dokter itu pun mempersilahkan mereka duduk.


" Jadi apa yang bisa saya bantu dokter " tanya dokter tersebut pada Aziz.


" Begini dokter, mungkin dokter sudah tahu alasan kami datang ke sini, jadi sebelum istri saya menemui pasien, saya ingin tahu dulu bagai mana perjalanan penyakit pasien dokter , apa dokter bisa tolong jelaskan ?" tanya Aziz sopan ingin tahu kondisi Naira saat ini.


" Baik lah pak, begini....." dokter itu pun menjelaskan tentang kondisi Naira mulai dari saat Naira masuk dan menjalani perawatan di rumah sakit itu sampai saat ini, Aziz dan Zahra mendengarkan dengan serius.


" Apakah tidak akan membahayakan istri saya jika nanti istri saya bertemu dengan pasien dokter " tanya aziz setelah dokter yang merawat naira selesai mejelaskan tentang kondisi Naira.


Dokter itu pun terdiam sesaat, bagai mana pun ia paham, saat ini Aziz pasti sangat mengkhawatirkan istrinya bila menemui pasiennya nanti.


" Apakah saya bisa mendampingi istri saya dokter" tanya Aziz lagi.


" Bisa pak, nanti saya, pak aziz dan dua orang perawat akan ikut mendampingi Bu Zahra " jawab dokter itu setuju setelah berpikir beberapa saat.


" Baik lah, apa bisa kita ke sana sekaran ?" tanya aziz lagi, karena menurut aziz, penjelasan yang di berikan dokter itu sudah cukup baginya


" Sayang, apa adek sudah siap untuk menemui Naira ?" tanya Aziz pada zahra


" Siap bang " jawab Zahra yakin


" Baik lah kalau begitu, mari kita ke sana sekarang " ujar dokter itu mengajak Aziz dan yang lainnya ke ruangan di mana niara di rawat.

__ADS_1


__ADS_2