CINTA UNTUK ZAHRA

CINTA UNTUK ZAHRA
BAB 141


__ADS_3

Rio menatap tak percaya dengan apa yang sudah di lihatnya dari tampilan Vidio yang sudah di kirim kan Aziz pada nya barusan. menurut Rio mustahil rasanya Naira bisa melakukan hal kejam seperti itu, sejahat - jahatnya Naira terhadap Zahra, tidak lah mungkin rasanya Naira akan berbuat jahat dan kejam seperti itu, apa lagi melihat perubahan sikap Naira yang lebih tenang dari biasanya dan tidak pernah lagi mengungkit - ungkit masa lalu nya dengan Zahra Setiap hari seperti biasa nya sehingga sering menimbulkan pertengkaran di rumah tangga mereka, tapi pada kenyataannya yang ada di Vidio itu benar lah Naira istrinya, dari mobil yang di gunakan oleh si penabrak itu sudah bisa Rio pastikan jika itu adalah mobil istrinya.


Rio memejamkan matanya, serangkaian kejadian hari ini kembali berputar di memori ruang kepalanya, Rio makin tidak mengerti dengan semua yang telah terjadi saat ini.


' Apakah Mirna mengalami perdarahan akibat dari perbuatannya yang sudah mencelakakan Zahra ?' pertanyaan itu kembali muncul di pikiran Rio, mengingat kehamilan Naira yang belum saat nya dilahirkan, tapi jika mengingat kondisi Naira tadi siang dimana Naira tiba - tiba pulang dalam keadaan kesakitan dan perdarahan, Rio pun menjadi menghubungkan - hubungkan pecahan kejadian itu, Rio memang belum sempat bertanya apa - apa tadi pada Naira, karena kondisi Naira yang tidak baik - baik saja saat itu.


Jika itu memang perbuatan Naira, sebagai suaminya Rio merasa tertampar oleh malu dan rasa bersalah, apa lagi yang di tabrak Naira adalah Zahra saudara perempuannya sendiri.


" Apa betul mobil itu milik istri anda pak Rio ?" tanya pak Widodo pada Rio


Rio tidak sanggup menatap wajah atasannya itu, ia terlanjur malu pada atasannya itu. Rio hanya bisa menganggukkan kepalanya pelan


" Iya pak, di lihat dari mobilnya memang milik istri saya, tapi saya tidak tahu siapa yang membawa mobil itu " jawab Rio


Aziz menghembuskan nafas kasar, lalu kembali mengambil ponselnya dan mengotak Atik ponselnya tanpa bicara.


Ting


lagi - lagi ponsel Rio berbunyi menandakan ada pesan masuk, Rio membuka pesan itu yang ternyata dari aziz yang kembali mengirimkan pesan bergambar padanya


Rio tidak bisa bicara apa - apa lagi, di rekaman cctv yang baru saja di kirim Aziz, sangat jelas terlihat yang membawa mobil itu Naira sendiri, dan dari vidio itu terlihat Naira sempat membuka kaca mobilnya dan melihat ke belakang untuk memastikan targetnya sudah tidak berdaya dan tidak hanya itu, seringai puas terlihat jelas terukir dari bibir Naira yang sudah tertangkap oleh kamera cctv yang ada di lokasi kecelakaan.

__ADS_1


Rio tidak tahu lagi harus bicara apa pada semua orang yang ada di ruangan itu terutama pada mertuanya apa lagi pada Aziz dan pak Widodo yang berstatus atasannya itu, Semua bukti yang di tunjukkan padanya sudah membenarkan dan menyatakan jika ini semua ulah istrinya itu.


Saat ini Rio merasa sangat malu dengan perbuatan Naira terhadap istri bos nya itu.


Kalau boleh jujur, Rio sebenarnya juga sangat marah pada Naira, itu terlihat dari tangannya yang terkepal kuat sehingga menampakkan buku - buku jarinya, tapi Rio berusaha tidak menampakkan kemarahannya itu pada orang - orang yang ada di dalam ruangan itu, Rio sudah terlanjur malu di karenakan kejahatan yang sudah Naira lakukan pada Zahra.


Ruangan di mana mereka berbicara saat ini nampak sunyi, tidak ada satu pun yang bersuara, semua larut dengan pemikiran masing - masing.


" Sekarang anda sudah melihat semua bukti - bukti itu, dan di sana sudah terlihat sangat jelas apa yang sudah di lakukan istri anda pada istri saya sehingga istri saya terluka parah dan tidak sadarkan diri hingga saat ini, dan tidak hanya nyawa istri saya yang terancam tapi juga nyawa calon bayi saya yang tidak berdosa " sahut Aziz menatap Rio tajam dengan nada yang dingin. Aziz yang sedari tadi hanya diam tanpa bicara satu katapun akhirnya angkat bicara, Aziz berusaha keras menahan amarahnya, bagai mana pun Aziz sadar yang sudah menabrak Zahra bukanlah Rio, tapi istrinya, selain itu Aziz juga berusaha menjaga perasaan mertuanya, bagai mana pun Naira adalah saudara dari istrinya dan itu berarti putri dari mertuanya juga, walau pun dari cerita yang pernah mertuanya sampaikan ke istrinya di malam sebelum acara pernikahan mereka, bahwa Naira bukan lah putri kandungnya, tapi tetap saja Aziz harus menghormati perasaan mertuanya itu.


" Sebagai suaminya apa yang anda lakukan ?? " tanya Aziz lagi


Rio hanya bisa diam, tidak ada satu kata pun yang bisa ia ucapkan, karena saat ini ia juga bingung, orang yang sedang mereka bicara kan pun saat ini kondisi nya juga tidak baik - baik saja dan masih kritis di ruangan ICU.


Kalau boleh jujur, sebenarnya Aziz juga tidak tega melihat kondisi Naira yang masih kritis di ICU saat ini, sebagai seorang laki - laki Aziz sangat paham dengan kesusahan yang Rio alami, menerima kabar yang tidak mengenakkan bukan lah hal yang mudah untuk menerimanya apa lagi dalam waktu yang bersamaan, tapi jika teringat lagi bagai mana kondisi istri dan calon anak -anak nya saat ini, rasa kasihan dan tidak tega itu lenyap seketika.


Aziz tidak peduli jika ia di anggap egois, bagi Aziz jika berhubungan dengan keluarganya apa lagi menyangkut istri dan anak - anak nya sebagai suami Aziz harus egois.


" Lakukanlah jika menurut bapak itu benar dan jika memang harus di laporkan, saya sebagai suami dari Naira akan bertanggung jawab dan membantu sebisa saya " Setelah sekian lama diam, Rio akhirnya mengatakan apa keputusannya, dan keputusannya membuat semua orang tercengang sehingga mengalihkan tatapannya menatap ke arah Rio serentak, mereka sama - sama tidak percaya Rio bisa mengambil keputusan itu hanya dalam waktu yang singkat.


Dalam hatinya, sandi sangat mengagumi sikap Rio yang menurutnya sangat gentle untuk seorang laki - laki.

__ADS_1


Sadar semua orang sedang menatap ke arah nya, Rio yang tadinya menunduk, mengangkat kepalanya menatap balik pada semua orang yang ada di ruangan itu bergantian.


Rio terlihat sangat tenang, tidak ada nampak kegelisahan pada sikapnya.


" Saya tahu perbuatan istri saya salah dan tidak lah layak untuk saya perjuangkan dan saya bela, jika ayah sebagai orang tua tidak mempermasalahkan bapak untuk melaporkan kasus ini ke pihak berwajib, maka saya sebagai suami juga tidak akan melarang hal tersebut untuk dilakukan " Jawab Rio yakin menatap Aziz dan sandi bergantian. Rio akui perbuatan Naira kali ini sangat lah salah besar dan tidak bisa di maaf kan dan Rio berfikir Naira harus bisa mempertanggung jawabkan perbuatannya itu.


" Saya sadar, sebagai suami saya belum bisa mendidik istri saya dengan baik, tapi saya mohon, mengingat kondisi istri saya yang masih kritis dan tidak baik - baik saja saat ini, saya harap bapak bersedia memproses kasus ini setelah kondisi istri saya mengalami perbaikan atau menunggu kondisi istri saat sembuh nanti " pinta Rio memohon pada Aziz dan pak Widodo .


Aziz menatap pak Widodo, sandi dan Adam bergantian meminta pendapat, paham dengan arti tatapan Aziz pada mereka, pak Widodo, sandi dan Adam pun menganggukkan kepalanya setuju.


" Baik lah, saya akan meminta polisi untuk memproses perkara ini setelah Naira sembuh, tapi maaf pelaporan kasus ini tetap saya lakukan saat ini juga " jawab Aziz


" Terima kasih pak sudah menerima permintaan saat untuk memproses kasus ini Sampai istri saya sembuh, jika bapak ingin melaporkan kasus ini sekarang juga tidak Masalah pak , karena itu memang seharusnya bapak lakukan " sahut Rio berterima kasih pada Aziz karena telah menerima pernyataannya.


" Jika saya berada di pihak bapak, saya juga akan melakukan hal yang sama pak " ujar Rio lagi.


" Baiklah semua sudah jelas, karena sudah menemui kata sepakat, jadi saya rasa kita bisa akhiri pertemuan kita ini, dan sesuai kesepakatan proses hukum tetap berlanjut " pak Widodo mengakhiri pertemuan karena sudah menemui kata sepakat dari kedua belah pihak.


Semua orang yang berada di ruangan itu berdiri dan siap - siap untuk pergi, Rio menyalami satu persatu orang yang ada di ruangan itu.


" Saat tahu ini tidak mudah bagi anda, saya hanya berpesan tetaplah kuat dan bersabar , semoga istri dan anak anda di berikan kesembuhan " pak Widodo menepuk pelan pundak Rio memberi dukungan ketika Rio menyalami nya

__ADS_1


" Terima kasih pak, atas doa nya " jawab Rio tersenyum


__ADS_2