
Seorang perempuan yang masih terlihat modis di usianya yang tidak muda lagi sedang duduk termenung seorang diri menunggu ke datangan seseorang di ruang tunggu sebuah tahanan khusus perempuan.
" Ibu " seorang perempuan muda yang berpenampilan biasa saja dengan baju tahanan yang melekat di tubuh nya datang menghampiri dan memeluk perempuan paruh baya itu.
" Ibu apa kabar ?" tanya Naira menatap ibunya dan mengajak ibunya duduk, ya dua perempuan yang beda usia itu adalah ibu dan anak yaitu Mirna dan Naira. Sudah hampir seminggu Mirna tidak ada membesuk Naira di penjara, karena faktor usia yang tidak muda lagi Mirna sudah sering sakit - sakitan dan hipertensinya sering kumat karena terlalu banyak berpikir dan kurang istirahat.
" ayah bilang ibu sakit dan di rawat di rumah sakit " kata Naira lagi sambil menatap wajah tua ibunya yang nampak tidak seceria dulu lagi, wajah itu terlihat begitu sandi dan terlihat tidak bersemangat lagi.
" kabar ibu baik " jawab Mirna tersenyum, " Iya kemaren ibu sempat di rawat di rumah sakit karena hipertensi ibu kumat " jawab Mirna lagi.
" Ibu Jagan banyak pikiran dan istirahat lah yang cukup, kalau gak nanti ibu sakit lagi " kata Naira menatap Mirna sedih, Naira sebenarnya tidak tega melihat ibu nya selalu sakit - sakitan dan selalu menginap di rumah sakit jika hipertensinya sudah kumat lagi.
Dari lubuk hatinya yang paling dalam Naira ingin merawat ibunya yang sudah tidak muda lagi, tapi apa daya, akibat kebodohannya ia harus mendekam di hotel prodeo ini, mau menyesal pun tiada guna, semua sudah terjadi.
Yang bisa Naira lakukan hanya lah memberi semangat dan selalu mengingatkan ibunya untuk tetap menjaga kesehatannya, walau begitu, Naira masih bersyukur, sang ayah Anton masih mau mendampingi ibunya walau pun sang ayah tahu bagai mana sikap jahat Mirna di masa lalu.
__ADS_1
" Bagai mana ibu gak banyak pikiran dan bisa tenang , sementara kamu di sini menderita " jawab Mirna kesal bercampur sedih." coba saja anak sialan itu mau menarik laporannya dan membebaskan kamu dari sini, kamu mungkin tidak akan menderita seperti ini, dan ibu pun jadi tenang " ujar Mirna lagi kesal
" Bu, sudah berapa kali Naira katakan, ini semua bukan salah Zahra, semua salah Naira, Zahra hanyalah korban di sini Bu " sahut Naira lembut, Naira meraih tangan renta ibu nya dan menggenggam tangan itu erat " Naira yang salah ibu, andai kebodohan itu tidak Naira lakukan Naira tidak akan berada disini, Naira ikhlas menjalani hukuman ini Bu, Karena ini pantas Naira dapatkan atas kesalahan besar yang sudah Naira lakukan " ujar Naira lagi lembut dan meyakinkan ibunya Jiak ia tidak apa - apa dengan semua ini.
" tapi nai...."
" Ibu, jangan pikir macam - macan lagi ya, Zahra tidak salah Bu, justru kita lah yang bersalah selama ini pada nya dan pada ayah sandi, kita kah yang jahat dan selalu menyakiti mereka bu " ujar Naira memotong ucapan Mirna yang belum selesai, karena belum Mirna bicara Naira sudah tahu apa yang akan di bicara kan oleh ibunya itu.
" Tobat lah ibu, akui semua kesalahan ibu, jumpai Naira dan ayah sandi serta keluarga yang lain, minta maaf lah sama mereka agar ibu lebih tenang, Naira gak mau ibu seperti ini terus, Naira ingin di hari tua ibu, ibu bisa menjalani hidup yang tenang tanpa ada rasa bersalah lagi " ujar Naira lagi.
" Siapa bilang Naira menderita di sini Bu, justru di sini Naira merasa tenang bi, Naira bisa menyadari kesalahan Naira, dan atas bantuan Bu Aisyah Naira bisa bertaubat dan belajar sholat " jawab Naira jujur apa adanya.
Ya semenjak masuk penjara Naira jadi lebih banyak berpikir akan kesalahan - kesalahan nya, dan atas bimbingan Aisah kepala penjara itu, Naira mulai menyadari kesalahan nya dan bertaubat, pelan - pelan Naira mulai belajar mengaji dan sholat, dan sekarang tiga tahun mendekam di sini Naira sudah mulai menerima nasib nya, apa lagi semenjak terakhir ia bertemu dengan Zahra di rumah sakit waktu itu, dan meminta maaf langsung pada Zahra, Naira mulai merasa lebih tenang. Naira menjalani hidupnya di penjara dengan ikhlas , dan berharap setelah keluar dari sini nantinya ia bisa menjadi orang yang lebih baik lagi.
Naira juga sering dan rutin mengikuti pengajian - pengajian agama yang di adakan oleh pihak penjara untuk para tahan, dan setiap setelah mengikuti pengajian itu Naira selalu merasa menyesal dan bertekad ingin menjadi pribadi yang lebih baik lagi.
__ADS_1
Mirna menatap Naira dan memperhatikan Naira lebih dalam dan seksama lagi, apa yang dikatakan Naira benar, Naira telihat lebih tenang dan lebih dewasa jika dibandingkan dengan Naira tiga tahun yang lalu, wajah nya begitu bersih, dan tubuhnya sudah mulai berisi tidka seperti pertama kali ia masuk ke sini.
" Bu, mari kita bersihkan hati kita Bu, kita tidak tahu berapa lama lagi kita akan berada di dunia ini, jadi di usia ibu yang sudah tidak muda ini lagi, bertobat lah Bu, jangan mengusik mereka lagi, Zahra sudah tenang hidup bersama suami dan keluarga nya, Jagan ganggu dan sakiti dia lagi Bu, justru yang bersalah di sini adalah kita, kita yang sudah membuat hidup Zahra menderita, kita yang sering menggoreskan luka di hatinya, kita juga yang sudah menyakitinya Bu, dan selama ini Zahra tidak pernah membalas perbuatan jahat kita, Zahra selalu diam dan mengalah " Naira kembali mencoba membuka pintu hati Mirna, Naira berharap Mirna akan sadar akan semua kesalahan - kesalahannya dan tidak mengusik hidup Zahra lagi.
" Sudah lah, percuma ibu datang ke sini, jika kamu selalu seperti ini, pokok nya ibu tidak rela kamu berada di sini, ibu akan membuat perhitungan dengan anak pembawa sial itu " kata Mirna kesal menatap Naira dan berdiri hendak pergi meninggal kan Naira.
" Bu..." Naira meraih tangan Mirna mencoba untuk menahan langkah Mirna meninggalkan nya, karena Naira tidak mau ibunya pergi meninggalkannya dalam keadaan kesal dan marah.
" Sudah lah nai, ibu tidak peduli dengan apa yang kamu ucapkan, ibu tetap akan membuat perhitungan dengan anak sialan itu " sahut Mirna lagi sambil menghentakkan tangannya dari genggaman Naira.
Naira kembali mencoba meraih tangan ibunya yang terlepas karena dihempaskan oleh ibunya itu
" Bu, berpikir lah jika berbuat sesuatu, Naira tidak ingin ibu menyesal nanti nya " sahut Naira lembut
" Ibu tidak perduli, yang penting anak sialan itu harus membayar semua yang sudah di lakukan nya pada mu sekarang" ujar Mirna menatap Naira kesal, dan kembali menghempaskan tangan Naira sehingga terlepas, dan berlalu meninggalkan Naira tanpa pamit dan Menato Naira lagi.
__ADS_1
Naira menghela nafas berat mantap kepergian ibunya, dalam hati Naira berdoa semoga Allah membuka jalan dan pintu hati ibunya untuk bertaubat dan hidup lebih baik tanpa ada kebencian lagi di dalam hatinya.