CINTA UNTUK ZAHRA

CINTA UNTUK ZAHRA
BAB 132


__ADS_3

Setelah menyelesaikan urusan administrasi, Rio langsung menuju kamar operasi dimana Naira akan menjalani operasi untuk proses lahiran bayi mereka .


Sampai di ruang tunggu, Rio langsung duduk di bangku tunggu yang di siapkan untuk keluarga pasien menunggu keluarganya yang sedang operasi di ruangan itu.


Rio menunggu dengan perasaan yang tidak bisa di ucapkan dengan kata - kata lagi, yang pasti saat ini ia sangat khawatir dan cemas akan kondisi anak dan istrinya, Rio mencemaskan kondisi Naira dan anaknya yang tidak baik - baik saja saat ia bawa ke rumah sakit tadi.


Rio teringat belum mengabari orang tuanya, lalu Rio mengambil ponsel dalam kantong celananya, ia mulai menghubungi keluarganya dan keluarga Naira dan mengabari Naira sedang kritis dan sedang menjalani operasi Caesar dan tidak lupa Rio minta doa dari keluarganya untuk keberhasilan operasi zahra dan keselamatan bayi mereka .


Setelah menghubungi keluarganya, Rio lalu menyimpan kembali ponselnya ke dalam kantong celana nya.


Rio menarik nafas berat dan menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi yang ia duduki .


Berbagai pertanyaan saat ini sedang berputar putar di kepala nya, Rio bertanya tanya mengapa Naira bisa kesakitan seperti itu saat tiba di rumah tadi dan lebih parahnya bagaimana bisa istrinya itu mengalami perdarahan sehingga membahayakan bayi mereka .


Padahal tadi pagi saat pamit dengannya, Naira masih dalam keadaan baik - baik saja.


Rio juga tidak tahu Naira dari mana, pagi tadi Naira minta izin hanya ingin jumpa teman - temannya saja.


Rio tidak ada merasa curiga sama sekali, Rio mengizinkan Naira pergi karena Rio berpikir mungkin Naira merasa bosan berada di rumah terus, memang semenjak kehamilannya memasuki usia delapan bulan Rio meminta Naira untuk berhenti dari pekerjaannya, karena Rio merasa kasihan melihat Naira yang masih sibuk bekerja padahal kandungannya sudah semakin besar.


Rio tidak mau jika Naira kelelahan dan akan berakibat tidak baik pada kandungannya.


Mungkin memang belum ada rasa cinta di hati Rio untuk Naira, tapi Rio tidak bisa memungkiri, ia sangat menyayangi bayinya yang masih dalam perut Naira.


Rio sudah tidak sabar ingin menunggu bayi itu lahir, tapi ia tidak menyangka bayinya akan mengalami hal seperti ini.

__ADS_1


Rio tidak henti - hentinya melafalkan doa untuk istri dan anaknya semoga kelahiran anaknya di beri kelancaran serta semoga ibu dan bayinya sehat.


walau pun Rio belum mencintai Naira, tapi semenjak acara pesta pernikahan Zahra dan Aziz, Rio melihat Zahra begitu sangat bahagia dengan pernikahannya, dan melihat Aziz begitu sangat menyayangi Zahra Rio merasa tidak akan mungkin ia kembali pada cinta pertamanya itu, Rio bertekad akan melupakan Zahra cinta pertamanya itu, dan Rio juga belajar menerima pernikahannya dengan Naira, dan belajar menerima Naira sebagai istrinya.apa lagi dengan adanya calon bayi mereka, Rio bertekad akan mempertahankan pernikahan ya demi anak nya yang sedang di kandung Naira.


Rio kembali menghembuskan nafas kasar sambil menyugar rambutnya kasar. Tanpa Rio sadari, ternyata tidak jauh dari tempatnya duduk, Aziz yang sedang menunggu operasi Zahra juga berada di sana.


Manik mata Rio tidak sengaja melihat sosok Aziz berada di sana, Rio mengernyitkan dahinya menatap Aziz, dari penampilannya Aziz terlihat begitu sangat kusut, dan gelisah.dan juga cemas, itu terlihat dari tingkah Aziz yang sesekali menatap jam ditangannya dan menatap pintu kamar operasi berkali kali.


Di samping Aziz duduk perempuan paruh baya yang sangat di kenalnya sebagai istri dari pemilik rumah sakit itu dan juga yang baru Rio ketahui sebagai orang tua Aziz.


Rio bertanya - tanya dalam hati, siapa yang sakit, apakah pak widodo atau keluarga yang lain, Jiak keluarga yang lain ,tidak mungkin Aziz se panik itu,.Jika itu pak Widodo kenapa tidak ada pemberitahuan di group karyawan yang menginfokan bahwa pak Widodo sakit.


Aziz melihat ke sekeliling ruangan itu, di sana hanya ada Bu Susan dan Aziz, sementara keluarga yang lain tidak ada di sana,


karena penasaran, dan tidak mau berpikir sendiri, akhirnya Rio memberanikan dirinya mendekati Aziz dan Bu susan, sekalian niat untuk menyapa atasan nya itu.


" Sore Bu , dokter aziz " sapa Rio setelah tiba di dekat Aziz dan Bu susan.


Merasa ada yang menyapa mereka, Aziz dan Bu Susan pun menatap ke arah suara yang menyapa mereka itu.


" Sore juga pak..." Bu Susan menggantung ucapannya berpikir siapa nama orang yang sudah menyapa mereka, Bu Susan merasa pernah melihat wajah orang di depa nya yang telah menyala dirinya dan aziz, tapi tidak tahu siapa nama nya. sementara itu, Aziz yang sudah pernah jumpa bahkan adu mulut dengan Rio waktu itu hanya menatap sekilas tanpa ekspresi kemudian kembali mengalihkan wajahnya ke arah pintu kamar operasi.


" Saya Rio Bu, kepala bagian farmasi di rumah sakit ini " jawab Rio memperkenalkan dirinya, Rio tidak merasa tersinggung dengan sikap Bu Susan yang tidak mengenal dan hafal namanya itu. Rio maklum, rumah sakit sebesar ini di tambah karyawan yang seribu lebih, mana mungkin atasnya itu mengenal semua karyawannya .


" Oya pak Rio, sedang apa di sini pak " tanya Bu Susan mencoba untuk rumah

__ADS_1


" Saya lagi menunggu istri saya ya yang mau lahiran secara Caesar Bu, " jawab Rio sekenanya saja,


".Wah selamat ya pak, semoga ibu dan bayinya lahir dengan selamat " sahut Bu Susan mendoakan kelancaran proses kelahiran Naira dan ke baikan kesehatan Naira dan baby nya


" Amin, terimakasih doa nya Bu " jawab Rio sungkan.


" Kalau boleh tahu, ini dan dokter Aziz ada apa ya di sini, siapa yang sakit Bu ? " tanya Rio karena tidak melihat keluarga yang lain selain Bu Susan dan Aziz yang berada di sana


" Menantu saya pak, korban tabrak lari " jawab bu.susan sendu dan sedih .sementara Aziz cuek tanpa ada niat ikut nimbrung dalam percakapan Bu Susan dan Rio.


Aziz saat ini hanya fokus pada kondisi istri dan anak + anak nya saja.


" Maksud ibu Zahra ?!" tanya Rio kaget


" Kamu mengenal menantu Zahra " bukan menjawab apa yang ditanyakan Aziz, Bu Susan malah bertanya balik dan menatap Rio curiga.


" saya kenal Bu, Zahra dan istri saya kebetulan bersaudara " jawab Rio menjelaskan


" ooooo"! Bu Susan menjawab dengan hanya ber ok saja .


" Sekarang bagaimana kondisi Zahra Bu " tanya Rio yang merasa khawatir dengan kondisi Zahra.


" Zahra kritis karena perdarahan di kepalanya makin bertambah, maka dokter memutuskan untuk melakukan tindakan operasi segera." jawab Bu Susan sendu


Rio termenung mendengar penjelasan Bu Susan, ' ada apa ini, kenapa dua gadis yang saling bersaudara itu mengalami hari yang sama dan buruk di waktu yang bersamaan ???

__ADS_1


__ADS_2