
Mobil Aziz yang di supiri oleh pak Dadang sudah sampai di rumah sakit, pak Dadang langsung memarkirkan mobilnya di depan pintu masuk UGD, nampak di sana dokter ayu dan tiga orang perawat sudah menunggu di depan pintu masuk UGD, perawat dengan cekatan segera mendorong brankar ke dekat mobil Aziz, Aziz keluar dari mobil setelah pak Dadang membuka kan pintu mobil, dan dengan perlahan - lahan Aziz membantu Zahra turun dari mobil dan naik ke atas brankar, tanpa menunggu instruksi lagi, ketiga perawat itu langsung membawa Zahra ke ruangan bersalin yang telah di siapkan khusus untuk zahra.
" Sejak kapan zahra merasakan kontraksi ziz " tanya dokter ayu pada aziz sambil berjalan mengiringi brankar zahra yang di dorong oleh perawat.
" Zahra mulai merasakan sakit semenjak pagi tadi Tan, tapi baru malam ini merasakan kontraksi yang kuat " jawab Aziz menjelaskan , dokter ayu pun menganggukkan kepalanya mengerti.
" Bang....aaaa ....sakit bang ...." Zahra menggenggam tangan Aziz kuat menahan sakit di perutnya
" Iya sayang , Abang di sini, sabar ya sayang " Aziz terus menggenggam tangan Zahra dan mengelus kepalanya dengan lembut.
Melihat istrinya kesakitan seperti ini Aziz menjadi tidak tega, jika rasa sakit itu bisa di pindahkan ke padanya, Aziz akan rela menerima sakit itu asalkan istrinya tidak menderita, tapi sayang nya rasa sakit yang di alami Zahra tidak bisa di pindahkan kepadanya, yang bisa Aziz lakukan saat ini hanyalah memberikan semangat pada Zahra.
Tidak butuh waktu yang lama, akhirnya Zahra sudah sampai di ruangan bersalin, Aziz lagi - lagi membantu Zahra untuk berpindah dari brankar ke bed khusus untuk ibu bersalin dengan hati - hati.
" Abang, jangan pergi .." melihat Aziz akan pergi, Zahra langsung meraih dan menggenggam tangan aziz dan meminta Aziz untuk tidak pergi dan tetap di sana menemaninya.
" Abang tidak akan kemana - mana sayang, Abang di sini menemani kamu, kamu sabar ya.."
" Sakit bang ..."
" Iya sayang, Abang tahu, sabar dan banyak lah berdzikir ya sayang " aziz terus memberi Zahra semangat dan mengingatkan Zahra untuk banyak berdoa dan berdzikir.
Dokter ayu datang mendekati Zahra sambil memasang sarung tangan medis nya, dokter ayu ingin memeriksa keadaan zahra terlebih dahulu.
" Sayang kita periksa dulu ya, kita lihat dulu sekarang sudah buka berapa jalan lahirnya. " Zahra hanya menganggukkan kepalanya, sebagai seorang tenaga medis, Zahra sanagt paham dengan tindakan yang akan ayu berikan padanya, untuk itulah Zahra tidak mau banyak protes dan hanya menurut saja dengan alat yang sudah di instruksi dokter ayu, selama dokter ayu memeriksa Zahra, Aziz tetap setia mendampingi Zahra di samping istrinya itu.
Tangan Zahra masih menggenggam erat tangan aziz dan sesekali meremas tangan Aziz kuat - kuat ketika rasa sakit dari kontraksi itu menyerang nya. Hanya dengan cara itu Zahra bisa mengalihkan rasa sakitnya.
Aziz pasrah dan tidak masalah ketika zahra meremas tangannya cukup kuat, sakit yang di rasakan Aziz ketika Zahra meremas tangannya tidak di pedulikan lagi oleh Aziz, apa lagi saat kuku Zahra mencengkram kulit lengannya, aziz tidak peduli. Bagi Aziz, sakit yang ia rasakan saat tangannya di remas dan di cengkram oleh Zahra belum seberapa sakitnya bila di bandingkan dengan rasa sakit yang di alami zahra saat ini.
__ADS_1
Aziz terus memberi support dan semangat untuk Zahra, dan aziz tidak pernah henti - hentinya meminta zahra berdoa dan berdzikir untuk mengalihkan rasa sakitnya, dan tidak jarang Aziz ikut berdzikir bersama Zahra.
Dalam hati, Aziz tidak henti - hentinya memajukan doa untuk keselamatan istri dan calon anak - anak nya, Aziz juga berdoa semoga zahra bisa lancar menjalani proses lahirannya.
" Bukannya baru jalan enam, kita masih harus menunggu beberapa jam lagi. " ujar dokter ayu menjelaskan, Aziz yang sudah tidak tega melihat Zahra kesakitan menatap dan mengelus lembut puncak kepala istrinya itu,
" Sayang Abang tidak tega melihat kamu kesakitan seperti ini, kita Caesar aja ya ? " Aziz yang tidak tega melihat Zahra kesakitan mengusulkan dan membujuk Zahra untuk lahiran secara Caesar saja, namun Zahra menjawabnya dengan gelengan kepalanya berkali - kali.
Memang sewaktu kontrol terakhirnya dengan dokter ayu, zahra sudah pernah di sarankan untuk lahiran secara Caesar , bukannya berarti zahra tidak bisa lahiran secara normal, tapi waktu itu dokter ayu menyarankan Caesar mengingat Zahra yang hamil kembar tiga, jadi untuk menghindari resiko makanya dokter ayu menawarkan untuk Caesar.
Namun zahra menolaknya, dengan alasan ia ingin merasakan bagai mana proses sesungguhnya menjadi seorang ibu, mulai merasakan sakitnya melahirkan sampai merawat serta membesarkan anak - anak nya, Aziz yang waktu itu setuju dengan saran dokter ayu memilih untuk mengalah, demi keinginan zahra yang kuat untuk melahirkan secara normal. Aziz berjanji akan terus mendampingi Zahra selama proses lahiran itu selesai. Dan akan selalu mensuport setiap keputusan Zahra, tapi dengan syarat jika tidak memungkinkan untuk zahra lahiran secara normal, zahra harus terima lahiran dengan jalan Caesar tanpa ada bantahan.
Zahra setuju, tapi setelah ia mencoba semua proses lahiran normal dulu baru jika ia tidak sanggup, barulah di lakukan tindakan Caesar.
Namun hari ini di pertengahan perjuangan Zahra, pertahanan Aziz runtuh,.Aziz benar - benar tidak tega melihat Zahra menderita menanggung rasa sakit kontraksi menuju pembukaan lengkap pada jalan lahir nya, aziz kembali membujuk Zahra untuk mau melahirkan secara Caesar, Zahra yang merasa masih kuat dan masih mampu untuk berjuang menggelengkan kepala nya tetap menolak Caesar.
" Zahra masih kuat Abang, Zahra gak mau Caesar, izinkan Zahra menjalani proses ini dulu bang, jika Zahra memang sudah tidak kuat lagi nantinya, Abang boleh mengambil keputusan untuk Caesar, Zahra tidak akan menolaknya. " rengek Zahra dia antara rasa sakit yang di alaminya.
" Biar lah ziz, biarkan Zahra dengan pilihannya, Tante yakin Zahra kuat dan mampu " melihat perdebatan yang terjadi di antara kedua keponakannya itu, akhirnya dokter ayu mencoba untuk menengahi, bukannya ayu tega melihat Zahra kesakitan, namun dokter ayu hanya ingin menstabilkan emosi Zahra agar tidak menganggu proses persalinannya.
Lagi - lagi Aziz Kembali memilih untuk mengalah dengan istrinya itu, Aziz tidak bisa berbuat apa - apa lagi selain terus mensuport dan menyemangati Zahra, apa lagi tantenya sudah bicara untuk memberi Zahra kesempatan merasakan lahiran normal, saat ini hanya lah doa yang selalu tidak pernah henti - henti nya Aziz panjatkan untuk istrinya itu.
Dalam rasa sakitnya, Zahra tiba - tiba teringat akan ibu yang telah melahirkannya, Zahra berpikir, apakah seperti ini yang telah di rasakan oleh ibunya dahulu ketika akan melahirkan diri nya, sehingga harus merelakan nyawanya sendiri demi melahirkan dirinya, Zahra tiba - tiba merindukan intan, ibu yang telah melahirkannya yang belum pernah ia lihat seperti apa rupanya.
Air mata nya luruh jatuh membasahi kedua pipi nya, Zahra merasa sangat berdosa pada ibunya, mengingat ia yang belum pernah ziarah ke makam ibunya setelah ia tahu bahwa ibu yang melahirkannya telah meninggal dunia saat melahirkannya.
Aziz yang melihat Zahra meneteskan air mata menangis pun semakin menjadi khawatir dan cemas.
" Sayang, ada apa sayang..." Aziz terus bertanya pada zahra, kedua tangannya terus menghapus air mata yang keluar dari sepasang mata cantik istrinya itu.
__ADS_1
" Sayang bilang sama Abang, apa yang sakit sayang, kenapa kamu menangis seperti ini " tanya Aziz yang panik karena Zahra tidak kunjung menjawab pertanyaannya.
" Ibu, Zahra kangen ibu bang ..."sahut zahra dalam tangisannya.
Aziz yang mendengar ucapan Zahra ikut merasakan kesedihan istrinya itu, Aziz mengerti dengan apa yang di rasakan Zahra saat ini, dengan rasa sakit yang di alaminya, pasti Zahra teringat dengan perjuangan ibunya saat melahirkan dirinya dahulu
Aziz meraih tubuh Zahra dan membawanya kedalam dekapannya, bukannya diam, Zahra semakin kencang tangisnya, sehingga dokter ayu, pak Widodo dan bu Susan yang baru saja sampai di rumah sakit berjalan mendekat ke pasangan calon ayah dan ibu muda itu.
" Zahra kenapa ziz ?" tanya Bu Susan khawatir melihat menantu kesayangannya menangis.
" Tidak ada apa - apa ni, Zahra hanya merindukan ibu intan saja kok "
Bu Susan ikut merasakan kesedihan menantunya itu, ia mendekati Zahra dan mengelus punggung Zahra lembut.
" Sabar ya sayang, mami yakin ibu Zahra pasti sedang berbahagia sekarang di sana , jadi Zahra jangan sedih lagi ya, kasihan anak - anak Jiak ibu nya sedih, nanti mereka ikut sedih " hibur Bu Susan , sedang kan yang lain hanya diam menyaksikan Zahra yang sedang menangis tersedu - sedu di dalam pelukkan aziz.
" Nanti kalau kamu sudah sembuh dan kuat, kamu bisa minta suami kamu untuk pulang ke rumah kamu dan mengunjungi makam ibu kamu ya " ujar Bu Susan lagi sambil memandang Aziz dan mengedipkan mata nya.
" Iya sayang, Abang janji nanti setelah kamu dan anak - anak kita kuat dan bisa berjalan jauh kita bersama - sama akan mengunjungi makam ibu intan iya " sahut aziz menimpali ucapan Bu Susan.
" Sekarang kita fokus dulu untuk kelahiran anak - anak kita ya sayang " ujar Aziz lagi menghibur zahra dan meminta Zahra untuk fokus dengan proses lahiran nya.
Mendengar ucapan suaminya, Zahra mulai kembali tenang dan tidak menangis lagi. Zahra yakin Aziz pasti akan menepati janjinya untuk mengantarkan dirinya berkunjung kemakan ibu yang telah melahirkan dirinya
Tiba - tiba Zahra Kemabli merasakan sakit yang cukup kuat di perutnya, dokter ayu. Dengan sigap kembali melakukan pemeriksaan pada zahra.
" Alhamdulillah , pembukaan nya sudah lengkap, sekarang kita lanjut dengan proses lahiran ya. ." ujar dokter ayu yang langsung meminta perawat untuk mempersiapkan proses lahiran Zahra.
Pak Widodo dan bu Susan mendengar Zahra sudah buka lengkap dan akan melanjutkan proses lahiran mundur dengan teratur ketika tidak penutup bed Zahra di turun
__ADS_1
Kedua pasangan calon nenek dan kakek itu khawatir dan cemas menunggu kelahiran cucu - cucu mereka, di ruang tamu ruangan itu,mereka tidak henti - hentinya melafazkan doa memohon keselamatan dan dan ke mudahan proses lahiran menantunya.