
Sore ini Faris dan Aisha sudah berada di salah satu pemakaman muslim di kota Istanbul, Aisha menggandeng sang suami menuju ke pusara sang ayah.
“Assalamualaikum Ayah, maaf Aisha baru sempat ke sini lagi Yah. Maaf karena Ibu juga nggak bisa ikut. Tapi kali ini Aisha nggak sendiri kok, Aisha dateng sama suami Aisha Yah,” tutur Aisha saat tiba di depan pusara sang ayah.
“Assalamualaikum Ayah, perkenalkan aku adalah lelaki itu, Faris Zein Abdullah. Seorang lelaki yang siap meneruskan tanggung jawab membahagiakan putrimu. Ayah, aku cuma lelaki serba biasa, maka maafkanlah segala kelancanganku karena telah meminta putrimu. Meski dengan segala keterbatasan yang aku miliki, tapi aku mohon Yah percayalah pada niat suciku. Niatku untuk menjadi imam terbaik untuk putrimu dan menjadikannya seorang wanita sesungguhnya. Niatku untuk memberikan teladan yang baik bagi anak-anak yang lahir dari rahimnya, cucumu kelak Yah. Dan niatku untuk meyempurnakan agamanya, agama kita,” tutur Faris meminta izin pada ayah mertuanya.
Ada haru yang kian menyusup ke dalam dada Aisha saat mendengar setiap kalimat yang suaminya lontarkan. Ia sangat bersyukur Allah mengaruniainya seorang imam seperti Faris untuk membimbingnya.
Keduanya kembali setelah membacakan tahlil dan doa juga menaburkan bunga di atas pusara sang ayah.
“Ica masuk duluan aja, di luar panas. Abang mau angkat telepon dulu ya bentar,” ujar Faris saat telepon di sakunya terus saja berdering.
“Tumben Abang angkat telepon ngejauh?” gumam Aisha melangkahkan kakinya untuk segera masuk ke dalam mobil, cuaca panas membuatnya kurang nyaman jika berlama-lama di luar.
“Semuanya udah kamu atur kan? Saya nggak mau ada kesalahan.” Faris menutup teleponnya setelah merasa puas dengan jawaban Roger dari sebrang.
Faris segera berlari kembali ke mobil, ia mendapati sang istri yang sudah duduk manis di kursi samping kemudi.
“Makasih ya udah jaga diri,” ujar Faris membelai puncak kepala sang istri saat melihat Aisha sudah memakai sabuk pengamannya, karena awalnya ia berniat untuk memasangkannya.
Dahi Aisha mengernyit tanda tak paham dengan penuturan sang suami. Faris langsung melirik ke arah sabuk pengaman yang sudah terpasang sempurna di tubuh istrinya, membuat Aisha sontak tersenyum setelah memahaminya.
“Siapa yang nelpon Bang? Ada masalah di kantor? Apa Rumah Sakit?”
“Semuanya aman kok Sayang. Tadi cuma Roger kok.” Faris tak sepenuhnya berbohong karena memang benar yang baru saja meneleponnya adalah Roger yang melaporkan hasil kerjanya.
Aisha yang tak mau suudzon hanya mengangguk mengiyakan, ia percaya penuh pada suaminya.
“Yang kita ke mall dulu yuk sebelum pulang,” ajak Faris seraya melajukan mobilnya meninggalkan pemakaman.
“Abang mau beli apa emangnya?”
“Baju.”
“Buat?”
__ADS_1
“Buat Ica sama Abang lah,” ujar Faris tetap fokus pada jalanan.
“Baju kita kan udah banyak banget Bang, kemaren terakhir belanja aja koper kita udah penuh,” protes Aisha merasa tak perlu karena memang baju-baju yang dimilikinya sudah lebih dari cukup.
“Ini beda Yang, nanti malem Abang mau ajak Ica ke suatu tempat.”
“Kemana emang?”
“Surprise dong.”
“Dih gitu deh Abang main rahasia-rahasiaan sama istri sendiri.” Aisha sudah mengerucutkan bibirnya membuat Faris sontak ternyesum penuh kemenangan.
“Kan biar surprise, Sayang. Biar nanti Ica tuh terkejut, terus makin klepek-klepek deh sama Abang.”
“Ih emang Ica ikan yang mau digoreng klepek-klepek.”
“Duh makin cantik aja humairaku kalo ngambek,” ujar Faris menjawil hidung bangir Aisha yang kembang kempis karena tengah merajuk.
“Abang liat ke depan! Ica belum belum mau mati muda yah.”
“Astaghfirullah Abang juga nggak mau jadi duda, Yang.”
Setelah mandi Aisha segera merias diri, karena melihat dress yang tadi siang Faris pilihkan sepertinya menuntutnya untuk berdandan sedikit lebih glow up. Alhasil Aisha menghabiskan waktu lebih lama di depan cermin rias.
Faris yang memang sudah selesai bersiap memilih untuk menunggu Aisha di luar kamar agar sang istri lebih leluasa dengan acara bersoleknya.
“Done,” ujar Aisha meraih sling bagnya lantas menyusul sang suami yang sudah menunggunya.
Faris yang tengah memainkan ponselnya sontak mengangkat wajahnya saat bunyi heels yang beraduan dengan lantai menyapa indra pendengarnya. Senyumnya semakin melebar seiring melangkahnya sang istri ke arahnya.
“Kita nggak jadi pergi deh,” ujar Faris bangkit dari duduknya.
“Nggak lucu ya Bang.” Aisha seketika mematung sambil mengerucutkan bibirnya sebal.
“Ica terlalu cantik sih, Abang nggak rela nanti Ica jadi sorotan cowok-cowok di luar sana,” ujar Faris merajuk sambil melipat tangannya di depan dada.
__ADS_1
“Ya udah nggak usah kemana-mana, kita di sini aja.” Aisha sudah berbalik dan bersiap melepas heels-nya.
“Jangan ngambek dong Sayang.” Faris segera meraih tubuh Aisha, memeluknya dari belakang. Seketika aroma lily langsung menyeruak ke indra penciumnya.
“Lagian Abang sih. Emang salah Ica kalo cowok-cowok di luaran sana pada liatin Ica? Kita kan nggak bisa nutup mata mereka satu-satu atau ngelarang buat jangan liat-liat, itu hak mereka. Nggak apa-apa kalo sekedar mengagumi Bang, asal jangan ada niat buat memiliki. Abang yang banyak fansnya juga Ica selow-selow aja. Yang penting inget selalu jaga hati,” tutur Aisha setelah berbalik, lalu membelai pipi sang suami dan mendaratkan kecupannya di sana.
“Pinter banget ngerayunya.” Wajah Faris yang semula tertekuk seketika berbinar dengan perlakuan Aisha.
Memang benar tak apa jika sekedar mengagumi asal jangan ada niatan untuk memiliki, bukan berarti tak cinta atau pun tak peduli, lagi pula cemburu pun tak akan ada gunanya. Yang terpenting saling percaya dan selalu jaga hati, jangan sampai dikuasai emosi hanya karena sesuatu yang sejatinya memang tak bisa kita kendalikan.
“Ini jadi nggak perginya?”
“Apa sih yang nggak buat kesayanganku,” ucap Faris mencondongkan badannya hendak membalas kecupan sang istri.
Tok, tok …
Tiba-tiba pintu diketuk dan menampakkan Roger yang sudah berdiri di ambang pintu, membuat Faris sontak mengurungkan niatnya.
“Kita berangkat sekarang Tuan? Semuanya sudah siap.”
“Roger,” panggil Faris lantas berbalik menatap ganas ke arah Roger yang tetap datar seperti tanpa dosa.
“Iya Tuan?”
“Bulan ini gaji kamu saya potong!” ujar Faris sambil melangkah dan menggandeng tangan Aisha.
Roger hanya melongo tanpa bersuara, otaknya masih mencerna dimana letak kesalahannya. Bukankah seharusnya ia mendapatkan bonus karena sudah bertambah tugas menjadi pengawal pribadi sang Tuan?
“Nggak apa-apa Roger, nanti saya yang ganti,” bisik Aisha saat melewati Roger yang masih di ambang pintu.
“Huh, terima kasih Nyonya.” Akhirnya Roger bisa bernapas lega setelah mendengar jaminan dari sang Nyonya.
***
Pokoknya semuanya salah Roger, titik! :D :D Sabar ya Babang Roger :D
__ADS_1
Bersambung ...
Jangan lupa tinggalkan jejak berupa vote, like, and coment sebanyak-banyaknya buat nyemngatin author ya readers tersayang ...