
Malam itu jalanan Istanbul cukup padat, tak berbeda jauh dengan kota-kota sibuk di Indonesia seperti kota kelahirannya salah satunya.
Setelah menerima telepon dari sang kakak, Aisha terus memalingkan wajahnya keluar jendela, memandangi pemandangan malam Istanbul yang merupakan kota kedua yang ia cinta setelah tanah kelahirannya. Kota yang sejauh ini telah menjadi saksi perjalanan hidupnya dan keluarga tercinta. Kota tempat mendiang ayahnya menghembuskan napas terakhir, kota tempat ia dan sang suami pernah bahagia, juga kota yang menjadi tempat pelariannya yang kemudian membawanya menemukan sang kakak yang tak pernah ia duga sebelumnya.
Ya, malam ini Aisha ada janji dengan sang kakak di salah satu kafe yang telah disepakati. Faisal mengatakan jika ada yang perlu ia bicarakan sepulang dari kantornya, dan Aisha pastinya paham akan kemana arah pembicaraan sang kakak nantinya.
Jujur untuk saat ini Aisha pun masih bingung dengan resolusi akan nasib keluarga kecilnya. Rumah tangganya yang tengah di ujung tanduk lagi-lagi kembali goyah dihantam badai yang seolah menyerukan pada dirinya untuk menyerah.
Jangan tanya bagaimana perasaan Aisha hingga detik ini, wanita berhijab pashmina yang tengah memandangi jalanan dari dalam taksinya itu benar-benar sangat bingung, apalagi setiap melihat usaha Faris yang entah bagaimana bisa mengetahui keberadaannya di kota ini.
Namun setiap kali melihat wajah Faris, Aisha akan selalu teringat dengan calon buah hatinya yang seharusnya saat ini masih bersemayam di rahimnya. Bukan ia menyalahkan Faris, apalagi takdir. Aisha hanya menyesali dirinya yang terlalu lemah saat itu.
Seandainya saat itu dirinya sedikit lebih kuat mempertahankan janinnya.
Seandainya saat itu ia tak kembali ke rumah ‘mereka’ dan melihat adegan yang semakin membuatnya ingin menyerah.
Seandainya, seandainya, seandainya! Itulah Aisha. Wanita yang akan lebih dulu menyalahkan dirinya sebelum orang lain atas apa yang terjadi.
Aisha memejamkan netranya, entah sudah berapa kali napasnya terdengar sangat gusar hingga membuat sang sopir taksi beberapa kali meliriknya dari kaca spion di depannya.
Bagi Aisha, melepaskan Faris adalah salah satu mimpi buruknya, tapi selama ini nyatanya Aisha terlalu pandai bersembunyi dalam kalimat ‘baik-baik saja’.
***
Hari itu, sepulang Sofia dari kediaman Abdullah, Azka kembali melangkahkan kakinya memasuki gerbang. Ternyata sejak tadi ia tak benar-benar pergi dari sana, ia sengaja menunggu hingga Sofia pergi karena ada sesuatu yang harus diurusnya.
Selesai dengan pekerjaannya, Faris kembali merebahkan diri seraya menunggu adzan magrib berkumandang. Entah kenapa akhir-akhir ini tubuhnya mudah sekali lelah, mungkin karena terlalu banyak beban pikiran yang kini tengah dipikulnya.
Baru beranjak dari sofa di apartemennya, ponsel Faris bergetar menampilkan pesan masuk dari nomor yang tak dikenalnya.
“Nomer Indonesia?” gumam Faris mengerutkan dahinya.
__ADS_1
Setelah dibuka, pesan itu ternyata menampilkan rekaman cctv di kediamannya di Surabaya. Tanggal dan waktunya adalah tepat hari ini.
Ia rasa ia meminta rekaman cctv hari dimana Sofia mendatangi rumahnya pagi itu, lantas dari siapa pesan itu?.
Tanpa menunggu lama, diputarnya tombol play video yang menampilkan aksi Sofia di rumahnya. Rahangnya semakin mengeras saat melihat Sofia yang semakin nekat dengan aksinya.
Tiba-tiba ponsel di tangannya kembali bergetar menandakan panggilan masuk dari nomor yang sama.
“Udah lo tonton rekaman dari gue?” tanya seseorang dari sebrang sana yang ternyata adalah Azka.
“Dari mana lo tau nomor gue dan ada urusan apa lo bisa di rumah gue?” Faris pun semakin dibuat bingung.
“Wooo … santai dong, lo masih aja nganggep gue sebagai saingan lo?”
“Oh lo udah nyerah? Baguslah.”
“Gue bukan nyerah, nggak akan. Gue cuma berusaha rasional aja, kalo cinta nggak harus memiliki.”
“Dia cewek nekat Ris, lo nggak bisa nyantai gitu aja ngadepin dia. Dia racun buat rumah tangga lo sama Aisha. Lo harus tegas sama Sofia, jangan sampe dia bisa menyelinap masuk ngehancurin dongeng yang udah susah payah lo dan Aisha wujudin.”
Faris terdiam merenungi setiap perkataan Azka.
“Gue ngomong kayak gini karena gue nggak mau kebahagiaan orang yang gue sayang harus hancur berantakan. Gue cuma pengen Aisha bahagia, meski bukan sama gue. Itu aja, gue harap lo nggak salah paham,” lanjut Azka yang belum ditanggapi apapun oleh Faris.
“Thanks udah peduli sama rumah tangga kita, gue paham kok maksud lo.”
“Gue titip, jangan lagi buat cewek yang gue sayang nangis, itupun kalo lo nggak mau gue kembali berjuang buat dapetin dia.”
“Lo tenang aja, gue nggak akan pernah ngasih kesempatan itu ke lo.”
Sambungan telepon keduanya terputus dengan seringai dari bibir keduanya.
__ADS_1
Seperti yang dikatakan Azka, mulai saat ini Faris akan berusaha lebih keras untuk mengembalikan kebahagiaan keluarga kecilnya.
----
Setelah menempuh perjalanan hampir setengah jam, akhirnya Aisha tiba di café yang dimaksud oleh sang kakak. Seorang pramusaji pun langsung menyambut kedatangannya dengan ramah.
Mendapati suasana café yang cukup ramai, Aisha langsung menyebutkan nama sang kakak yang pasalnya sudah mereservasi meja di sana.
Baru saja Aisha mendaratkan tubuhnya di atas kursi, ponselnya kembali bergetar menmpilkan pesan masuk dari Faisal yang mengatakan jika ia mungkin sedikit terlambat karena harus menyelesaikan beberapa hal.
Tak ingin dilanda kebosanan, Aisha segera memesan beberapa makanan pembuka untuk menemaninya seiring dengan suara penyanyi café yang mulai mengalun. Penyanyi perempuan itu membawakan lagu barat bertajuk ‘Need you now’.
Sesekali Aisha menghentikan gerakannya bahkan memejamkan netranya menikmati lagu yang terasa mengalun sangat menyayat hatinya. Entah karena pembawaan dari lagu itu yang dicover menjadi akustik sehingga semakin menambah kesan menyentuh, atau karena hati Aisha yang memang akhir-akhir ini terlalu sensitif jika mengingat kebersamaannya bersama Faris.
Seperti judul lagu itu, Aisha pun tak bisa memungkiri jika sampai saat ini ia pun selalu membutuhkan Faris berada di sisinya.
Satu lagu selesai, perlahan lampu café pun mulai dipadamkan dan berganti dengan lampu remang-remang. Tak berselang lama musik pun kembali mengalun.
Tuhan … ku lagi sendiri, memikirkan dia
Selalu tentang dirinya
Seketika saja Aisha langsung menoleh ke arah sumber suara yang terasa tak asing baginya.
“Abang ….”
----
Bersambung ...
Terima kasih untuk yang selalu setia menunggu kelanjutan dari novel amatiran ini ... Love you
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak berupa vote, like and coment buat nyemangatin author ya readers tersayang ...