Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama

Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama
Mencari ketenangan


__ADS_3

Happy reading ...


Jadikan al-qur'an sebagai bacaan utama:)


______


Sebuah taksi berwarna hitam menepi tak jauh dari gedung asrama yang kini menjadi persinggahan Gus Hasan selama di kota ini. Lelaki itu melangkah menuju asramanya dengan menenteng kantong hasil belanjaannya di Istinye Park. Tak banyak yang ia beli, selain hanya untuk kebutuhan sendiri, Gus Hasan memang tak suka menghambur-hamburkan uang untuk hal yang tidak perlu. Ia hanya akan membelanjakan uangnya untuk hal-hal yang benar diperlukan.


“Hasan.”


Yang dipanggil pun mendongakkan kepalanya, mencari-cari sosok yang menyerukkan namanya. Ada sedikit keterkejutan saat Gus Hasan menyadari seseorang itu. Berarti apa yang dilihatnya di Istinye Park tadi adalah benar Aisha, istri dari kakak sepupunya yang entah ada urusan apa kini sudah berada di kota yang sama dengannya.


“Mas Faris,” ujarnya lirih dan masih bergeming di tempatnya. Lelaki yang sejak kecil sudah ia anggap sebagai kakaknya itu berdiri tepat di depan pintu masuk asramanya. Dengan setelan kemeja dan celana bahannya yang selalu rapi membuat tampilan lelaki itu selalu tampak mempesona. Ditambah jam tangan yang tampak mahal melingkari pergelangan tangan kekarnya semakin menyempurnakan kegagahannya.


“Loh Mas Faris di sini juga? Sejak kapan? Kok nggak nunggu di dalem aja Mas?” pertanyaan itu keluar begitu saja saat Gus Hasan sudah tepat berada di hadapan Faris.


“Apa kabar, San?” alih-alih menjawab pertanyaan Gus Hasan, Faris justru melontarkan pertanyaan lain kepada adik sepupunya itu.


Gus Hasan mengernyit, “Em alhamdulillah Hasan baik. Mas sendiri?”


“Mas baik. Pakde sama Bukde juga baik. Mas sempet ke Yogya sebelum berangkat ke sini.”


“Aisha?” tanya Gus Hasan spontan saat kakak sepupunya itu tak sedikitpun menyinggung tentang istrinya.


Sontak saja Faris menoleh dengan dahi yang mengernyit.


“Eh maksudnya Mbak Aisha, gimana kabarnya? Kalian kesini buat liburan atau ada kepentingan lain?” ralat Gus Hasan menyadari pertanyaannya yang justru mengundang kecanggungan di antara keduanya. Meski sebenarnya Faris sendiri sudah mengetahui apa yang sebenarnya terjadi antara istri dan adik sepupunya itu.


“Dia juga baik. Mas kesini buat urusan bisnis di Ankara.”


Gus Hasan hanya menganggukan kepalanya, ia tak ingin terkesan ikut campur dalam rumah tangga kakak sepupunya itu, apalagi sampai membuat Faris menyadari ketertarikannya kepada Aisha.


Keduanya melangkah menuju kursi yang berada di tengah-tengah taman gedung asrama, Gus Hasan yang memandunya.


“Hasan taruh ini dulu ke dalem ya Mas.” Gus Hasan kembali menenteng kantong belanjanya setelah mendapat anggukan kecil dari sang lawan bicara.


“Minum dulu, Mas.”

__ADS_1


Faris tersadar dari lamunannya saat Gus Hasan sudah kembali dan menyodorkan sekaleng minuman dingin yang sama seperti yang diteguknya.


“Gimana? Udah nemu gadis Turki belum? Pakde sama Bukde udah pengen gendong cucu tuh.” Seperti biasa Faris memang gemar sekali menjaili adik sepupu yang sudah dianggapnya seperti adik kandungnya sendiri. Faris bertanya setelah minuman dingin membasahi kerongkongannya.


"Kan udah ada Faqih, Mas."


"Faqih udah besar, Pakde udah nggak kuat gendongnya," timpal Faris diiringi gelaknya.


Gus Hasan tahu kakak sepupunya itu tengah berusaha menutupi masalah yang dipikulnya di balik candaan itu. Sebab, bukan sebulan dua bulan ia mengenal sosok lelaki disampingnya itu, mereka bahkan sempat menghabiskan hari-hari bersama, tumbuh beriringan selama beberapa tahun di pesantren milik abinya.


“Hasan lebih suka gadis lokal,” jawabnya spontan dengan membayangkan wajah wanita yang dikaguminya.


“Maksudnya sebelum jauh-jauh ke negeri orang kan lebih baik nikmati aja anugerah Tuhan di negeri sendiri. Iya kan?”


“Ah iya bener, gadis Indo juga nggak kalah manis dari gadis Eropa kok.” Faris pun akhirnya menyetujui pendapat Gus Hasan, meski sebenarnya hatinya sedikit tercubit karena membayangkan jika gadis yang ada dalam pikiran adik sepupunya itu tak lain adalah istrinya sendiri.


“Kalo gitu belajar yang bener biar cepet pulang dan nyari gadis Indo,” sambung Faris menutupi kegelisahannya.


“Hasan belum kepikiran soal itu, Mas. Masih banyak yang harus Hasan benahi sebelum menanggung hidup anak orang.”


“Mas cuma pengen tau kabar kamu, dan alhamdulillah kamu baik-baik aja,” ujarnya sebelum memasuki mobilnya.


“Mas,” panggil Gus Hasan setelah Faris duduk di belakang kemudinya. Faris pun sedikit menundukan kepalanya karena posisi Gus Hasan yang berdiri di luar mobilnya.


“Ya?”


“Mas masih lama di sini?”


“Em belum tau, kenapa? Mau titip sesuatu buat orang rumah?”


Gus Hasan nampak berpikir, “Em nggak apa-apa. Gampang nanti Hasan hubungi Mas kalo mau nitip sesuatu.”


“Oh oke. Mas pulang ya. Kalo ada waktu main ke apartemen,” tukas Faris sebelum akhirnya menginjak pedal gas dan kembali membelah jalanan.


Sore itu sebelum bersiap memenuhi undangan Tuan Abbas, Faris memang sengaja menyempatkan diri untuk mengunjungi adik sepupunya. Tidak mungkin sudah sejauh ini dan Faris tidak mengunjungi Gus Hasan padahal ia sudah di kota yang sama. Bagaimanapun Gus Hasan sudah Faris anggap seperti adiknya sendiri, meski ia juga tahu jika adiknya itu diam-diam menyimpan rasa untuk istrinya.


***

__ADS_1


Roger menuruni mobilnya dengan langkah gontai. Kali ini usahanya untuk membuat hubungan majikannya membaik rupanya gagal, bahkan mungkin apa yang telah dilakukannya justru semakin memperkeruh keadaan, Nyonya mudanya pasti sudah salah paham. Sungguh tak ada sedikitpun niat buruk seperti itu.


“Ya Allah, Tuan Faris dan Nyonya Aisha adalah orang yang baik. Aku memohon kepada-Mu mudahkanlah jalan mereka untuk kembali bersatu, karena Engkaulah yang Maha Berkehendak.”


Pria berjas hitam itu tampak menengadahkan kepalanya, matanya terpejam dengan punggung yang ia sandarkan ke badan mobil di atas lantai   apartemen.


“Roger!” Napas Aisha tersengal, ia menghentikan langkahnya yang sedikit berlari saat melihat Roger baru saja menuruni mobilnya.


Sedangkan yang dipanggil berbinar bukan main, Roger pun segera berlari ke arah Aisha yang masih membungkuk menetralkan napasnya.


“Nyonya tolong dengarkan penjelasan saya.”


Aisha justru segera mengangkat tangannya, mencegah Roger untuk kembali melanjutkan kalimatnya, “Nggak ada waktu,” ujarnya mencoba kembali berdiri tegak.


“Abang udah berangkat?” tanyanya cepat.


“Ah sepertinya belum, Nyonya. Mobilnya masih ada,” jawab Roger setelah mengedarkan pandangannya dan mendapati mobil milik Tuannya masih terparkir apik di tempatnya.


Tanpa menunggu lagi, Aisha segera berlari ke arah lift. Menekan beberapa tombol dengan tergesa, tentu saja tak luput dari Roger yang segera mengikutinya.


Begitu sampai tepat di depan pintu, tampaknya Aisha sedikit ragu untuk menekan bel di depan ruangan itu. “Kamu tau sandinya, Ger?” tanyanya kepada pria yang sudah berdiri di sampingnya.


“Ah iya, Nyonya.”


Dengan cekatan jemari panjang itu segera menekan kombinasi angka hingga terdengar bunyi ‘bip’ yang menandakan pintu terbuka.


Masih dengan kebingungannya Roger tetap mengikuti kemana arah Nyonya mudanya, dari mulai menyisir seisi ruangan hingga sayup-sayup mereka mendengar rintihan seseorang dari balik pintu kamar yang sedikit terbuka. Dapat ditebak tentulah tuannya pemilik suara itu.


Belum sempat Aisha meraih gagang pintu, kegiatannya terhenti saat mendengar rintih pilu sang pemilik kamar. Aisha pun hanya bisa mematung, nyatanya hatinya pun masih begitu berharap keduanya bisa kembali bersama layaknya sebuah keluarga.


____


Bersambung ...


Terima kasih untuk yang selalu setia menunggu kelanjutan dari novel amatiran ini ... Love you


Jangan lupa tinggalkan jejak berupa vote, like and coment buat nyemangatin author ya readers tersayang ...

__ADS_1


__ADS_2