Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama

Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama
Wanita gila


__ADS_3

Udah nggak tau ini ucapan maaf yang keberapa atas keterlambatan updatenya, tapi semoga readersku bersedia memaafkan yah :) :)


Minggu-minggu ini emang author sedang disibukkan sama perkuliahan di awal semester jadi agak keteteran buat update tepat waktu :(   Big sorry from me, swear :(


Jujur udah mau unpublish karena nggak nemu-nemu juga ide ditengah ruwetnya kesibukan dunia nyata ini, tapi setelah inget bahwa ada kalian readers yg pada nungguin, jadi aku coba buat bangkit lagi deh. karena aku tau nunggu itu pasti nggak enak kan yaaa ...


So, doain semoga bab selanjutnya lancar biar bisa update tepat waktu ya readers tersayang ...


Big love buat yang masih setia nunggu update cerita ini :)


Jazakumullahu khairan katsiran ...


*********


Pagi itu, selesai dengan sarapannya Faris bergegas untuk berangkat ke Rumah Sakit setelah lebih dulu mencium punggung tangan Maya, wanita yang telah melahirkan bidadari tercintanya. Tak lupa Aisha yang mengantarnya hingga ke depan, melepas keberangkatan sang suami mengais rezeki untuk menghidupi keluarga kecilnya.


“Malem ini Abang lembur lagi ya Sayang, konsekuensi karena mau cuti panjang. Maaf ya, Ica nggak usah nungguin Abang, Ica istirahat duluan,” tutur Faris pada sang istri sebelum memasuki mobilnya.


“Iya nggak apa-apa kok, Abang jangan sampe telat makan ya.”


“Siap Sayang. Ica baik-baik ya di rumah, kalo ada apa-apa langsung hubungi Abang, ok cantik?”


Faris memeluk erat tubuh wanitanya sebelum benar-benar pergi, rasanya ia tak ingin melepas dekapan itu. Beberapa kali juga ia menghujani sang istri dengan kecupan-kecupan manis di puncak kepalanya.


“Udah gih berangkat Abang, nanti telat loh,” ujar Aisha masih dalam pelukan suaminya.


“Kalo boleh minta, rasanya Abang pengen kayak gini aja di rumah sama Ica, Abang nggak usah pergi ke Rumah Sakit deh.” Faris justru semakin mengeratkan dekapannya, seakan tak ingin terenggang walau secenti pun.


“Abang Sayang, harus semangat cari nafkah ya. Ada banyak orang yang lagi nungguin pertolongan Abang.” Aisha tak pernah sedikit pun mengeluh akan kesibukan sang suami, justru ialah yang selalu mendukung agar suaminya tak lupa dengan tanggung jawab yang diamanati padanya.


Faris melonggarkan pelukannya, menatap lekat wajah ayu sang istri di hadapannya. “Abang berangkat ya Sayang.” Satu kecupan mendarat di bibir cantik Aisha, manis sekali, hingga membuat Aisha menutup matanya seketika.


“Hati-hati ya,” jawab Aisha setelah lebih dulu mencium punggung tangan Faris, mencari ridho dan berkah suami melalui itu.


***

__ADS_1


“Maaf Mba, kami tidak bisa sembarangan memberikan informasi terkait pegawai maupun pasien di Rumah Sakit ini, ini privasi.” Seorang resepsionis tampak teguh dengan pendiriannya.


“Kalo kurang bilang,” tutur wanita cantik itu menyerahkan gepokan rupiah dalam amplop coklat, berusaha menggoyahkan keputusan sang resepsionis.


“Sekali lagi saya mohon maaf Mba, ini bukan kuasa saya. Apalagi ini mengenai dokter Faris dan istrinya, seaya tidak bisa, jika tidak ada lagi yang bisa saya bantu, silahkan Mba boleh keluar.”


Ada lengkung indah yang terukir di wajah tampan seorang pria yang berdiri tak jauh dari meja resepsionis kala menyaksikan pemandangan itu. Rupanya Rumah Sakit ini benar-benar tak main-main terhadap kecakapan para stafnya.


“Barangsiapa memberi atau menjanjikan sesuatu kepada seseorang dengan maksud untuk membujuk supaya orang itu berbuat sesuatu atau tidak berbuat sesuatu dalam tugasnya, yang berlawanan dengan kewenangan atau kewajibannya yang menyangkut kepentingan umum, dipidana karena memberi suap dengan pidana penjara selama-lamanya lima tahun dan denda sebanyak-banyaknya lima belas juta rupiah, pasal 2 undang-undang nomor 11 tahun 1980 tentang tindak pidana suap.”


Wanita yang tak lain adalah Sofia sontak menoleh saat mendengar suara bariton itu semakin mendekat ke arahnya, begitupun resepsionis yang sama terkejutnya seperti Sofia.


“Fa-Faris, ini nggak seperti yang kamu liat Ris. A-aku bisa jelasin semuanya,” ujar Sofia terbata, bertemu Faris dalam keadaan seperti itu benar-benar di luar kendalinya, ia bahkan hingga menjatuhkan gepokan dalam amplop coklat di tangannya.


Faris yang tak ingin menjadi pusat perhatian sontak membawa Sofia ke lorong Rumah Sakit yang lebih sepi.


“Cukup Sofi! Kamu nggak perlu buang-buang waktu dan tenaga kamu buat coba masuk di keluargaku. Hidupku udah sempurna dengan adanya Aisha. Kamu udah punya Wirawan yang punya segalanya,” ujar Faris membuat nyali Sofia menciut.


“Itu di luar kendaliku Faris! Sejak kuliah aku nyimpen perasaan ini sendirian, berharap suatu hari kamu bakalan nengok ke aku. Hingga akhirnya aku terpaksa harus dinikahi lelaki bengis seperti Wirawan dan menerima kenyataan kalo ternyata kamu justru udah menikah sama cewe lain. Kamu pikir menerima semua kenyataan pahit itu mudah buat aku?” Air mata kini tak terbendung lagi dari sudut netra Sofia.


“Jangan pernah mengeluhkan apalagi menyesali takdir yang memang nggak bisa kamu kendalikan Sof, Allah nggak semata-mata ngasih itu semua kalo bukan yang terbaik buat hamba-Nya. Mulai sekarang, plis jangan persulit dirimu dengan menghalalkan segala cara buat sesuatu yang emang nggak mungkin. Biarin aku hidup tenang dengan duniaku, begitupun kamu, kembalilah pada duniamu.”


“Tolong lepasin sebelum aku berlaku kasar,” ujar Faris dingin saat Sofia justru semakin mengeratkan pelukannya dari belakang.


“Nggak! Nggak akan sebelum kamu setuju buat nikahin aku!”


“Gila kamu ya Sof!”


“Iya! Aku emang udah tergila-gila sama kamu Ris.”


Faris yang memilih tak menganggapinya merogoh ponselnya dari balik saku celananya.”


“Security, tolong bantu saya. Ada wanita gila menyerang saya di lorong Rumah Sakit sebelah utara.”


Dengan satu hentakan, akhirnya Faris berhasil melepaskan lengan Sofia yang melingkari perutnya. Seerat apapun, tetap saja tenaga Sofia tak sebanding dengan dirinya.

__ADS_1


“Sofia? Faris? Kalian ada apa?”


Suara itu sontak membuat Frais dan Sofia menghentikan perdebatan mereka, apalagi ketika menyadari bahwa kini penampilan Karina berubah seratus delapan puluh derajat.


“Nggak ada apa-apa kok Rin, aku duluan.”


Faris yang menyadari bahwa suara itu ternyata adalah Karina, maka ia memilih untuk segera berlalu, tak ingin ada kesalah pahaman yang berlanjut. Apalagi ia tahu bahwa Karina juga pernah menjadi salah satu dari wanita yang mencoba mengusik rumah tangganya. Bukan maksudnya untuk berburuk sangka, ia hanya mencoba berwaspada. Meski saat ini tampaknya Karina sudah berubah, tapi yang tersembunyi dalam hati seseorang tidak ada yang tahu, melainkan Allah sang Maha pemilik hati.


***


“Hallo, Assalamualaikum.”


Bukan menjawab, Faris yang tengah duduk di kursi kebesarannya justru memejamkan netranya. Rasanya sejuk sekali mendengar suara itu menyapa indra pendengarnya.


“Bang?”


“Eh iya Waalaikumsalam Sayang,” jawabnya tersadar saat Aisha kembali memanggilnya.


“Ada apa Bang? Ada yang ketinggalan? Biar nanti Ica anterin,” tanya Aisha yang terheran mengapa suaminya tiba-tiba meneleponnya, padahal mereka baru saja berpisah ketika Faris berangkat ke Rumah Sakit. Biasanya suaminya baru akan menelepon ketika jam makan siang ataupun malam untuk mengabarkan bahwa dirinya akan lembur hingga larut.


“Ah nggak ada apa-apa kok Sayang. Abang cuma kangen aja sama Ica.”


“Ih apa sih Bang, baru aja ketemu tadi.” Terdengar gelak tawa renyah dari seberang, membuat Faris menyunggingkan senyum karena membayangkan bagaimana mempesonanya istrinya ketika tertawa lepas, pesona itulah yang mampu membuat dunia Faris seakan terhenti sejenak.


“Kok diketawain sih Yang, seriusan loh ini Ibu negara.”


Kalimat itu justru semakin memperpanjang tawa Aisha, bahkan Maya hingga menghampirinya karena khawatir sesuatu terjadi pada putrinya.


“Ica lagi ngapain di rumah?”


“Em abis bantuin Ibu beresin rumah, soalnya hari ini katanya Bi Ani nggak bisa masuk.”


“Ica jangan kemana-mana ya Sayang, kalau pun emang harus keluar, minta anterin sama Pak sopir. Jangan sendirian ya.” Entah kenapa sejak kemunculan Sofia juga tragedi penyerangan oleh Wirawan, Faris benar-benar khawatir pada istrinya. Faris tahu bagaimana Sofia, ia hanya takut jika kebaikan istrinya justru dimanfaatkan.


***

__ADS_1


Bersambung ...


Jangan lupa vote, like, and coment sebanyak-banyaknya buat nyemangatin author ya readers tersayang ...


__ADS_2