
“Kamu mau pulang atau tetap di sini?” tanya Gus Hasan beranjak dari duduknya.
Ayla masih bergeming di tempatnya, tak mengindahkan penuturan Gus Hasan.
“Hey, kamu masih mau di sini?” tanya Gus Hasan tak menyerah.
“Kamu kalo mau pulang ya pulang aja,” jawab Ayla lirih tanpa menoleh. Tatapannya kosong, menatap lurus aliran air yang mengalir di bawah jembatan.
“Setidaknya tunjukkan pada orang tuamu kalo kamu ada.”
“Atau perlu ku antar?” tanyanya kembali.
Benar saja, tanpa menjawab apa yang Gus Hasan tanyakan, Ayla justru memberikan sebuah kunci mobil pada Gus Hasan.
Gus Hasan yang mengerti maksudnya, segera berjalan menuju parkiran yang tersedia di halaman Blue Mosque, dan akhirnya Ayla mengikutinya.
“Baru saja aku menemukan seseorang yang kukira peduli padaku, ternyata ia sudah menambatkan hatinya pada yang lain. Sebenarnya aku dilahirkan untuk siapa?”
Gus Hasan menyalakan alarm kunci mobil di tangannya, dan wow ia terperangah saat alarm yang menyala ternyata berasal dari Lamborghini Gallardo rancangan Italia yang terlihat sangat mencolok di parkiran. Sepertinya orang tuanya benar seorang konglomerat.
Gus Hasan segera membukakan pintu untuk Ayla yang masih bergeming, lalu ia sendiri berlari ke pintu seberang dan duduk di kursi kemudi. Menghidupkan mesin dan membelah jalanan Istanbul yang masih tetap ramai, padahal hari sudah semakin larut.
Tiba-tiba Gus Hasan menepikan mobilnya di dekat deretan pedagang yang berjajar di sepanjang jalan di seberang Bosphorus, ia sendiri turun dari mobil menghampiri salah satu pedagang yang tak terlalu ramai, meninggalkan Ayla yang masih bergeming heran di dalam mobil.
“Kok berhenti di sini sih?” tanya Ayla yang sudah duduk menghampiri Gus Hasan.
“Aku laper, kamu tadi mengganggu makan malamku,” jawabnya mengunyah makanannya dengan lahap.
“Lagian mana aku tau rumah kamu dimana, dari tadi kamu diem aja,” lanjutnya tetap focus pada makanannya.
“Ya udah cepetan abisin! Terus anterin aku pulang,” ujar Ayla mennyebikkan bibirnya.
“Tadi katanya nggak mau pulang.” Entah keberanian dari mana Gus Hasan mulai menggoda Ayla.
Seketika netra Ayla membulat dan menajam ke arah Gus Hasan, membuat Gus Hasan tersedak makanannya sendiri.
“Oh ya, pengawalmu dimana?”
Ayla hanya mengangkat bahunya tanda ia tak tahu dan tak ingin peduli.
“Kamu tuh kenapa sih? Kenapa tiba-tiba jadi pendiem kayak gini?”
__ADS_1
“Aku kira kamu pria dingin yang anti wanita, ternyata seleramu tinggi juga,” ujar Ayla tanpa menoleh.
Gus Hasan seketika menghentikan makannya, menatap lekat ke arah Ayla yang ternyata juga tengah memandangnya.
***
Pak Toni beranjak mendekati Faris yang masih bersimpuh memangku istrinya. Rahangnya mengeras, matanya sembab karena air mata yang terjatuh sejak tadi. Pakaiannya juga sudah penuh dengan darah karena lukanya sendiri dan dari luka istrinya yang terus mengalir.
Genggaman Faris mengerat, ia tampak sangat cemas pada sang istri yang tak kunjung membuka mata. Tentu saja saat ini tak ada yang lebih takut kehilangan Aisha selain dirinya.
“Mas, white evil sudah berhasil membekuk pasukan Wirawan. Apa tidak lebih baik sekarang kita bawa Nyonya ke Rumah Sakit, Mas?” ujar Pak Toni hati-hati.
Faris mendongak, benar saat ini ia harus berusaha untuk keselamatan Aisha. Ia segera mengecek kondisi nadi Aisha.
“Nggak Pak, saat ini nyawa Aisha dipertaruhkan. Kita harus buat kondisi Aisha stabil dulu, baru kita bawa ke Rumah Sakit,” jawab Faris mengusap air matanya. Ia harus kuat, karena saat ini hanya dirinyalah harapan Aisha.
“Segera ambil kotak medis di mobil saya,” tutur Faris sambil membentangkan Aisha dengan berbantalkan jaketnya.
Tak butuh waktu lama, para pengawal dengan sigap mengambilkan apa yang majikannya butuhkan.
“Blokir jalan dan awasi dari semua sisi,” titah Faris mulai fokus pada peralatan medis di tangannya.
“Mas! Mas yakin mau melakukan pembedahan di sini?” sergah Pak Toni yang melihat Faris sudah bersiap dengan pisaunya.
Faris mulai membersihkan luka Aisha dan membasuhnya dengan antibiotik, lalu mengambil pisau kecil dan menyiramnya juga dengan alkohol.
“Jenis apa pistol yang digunakan Wirawan?” tanya Faris tetap fokus.
“Dari bentuknya sepertinya itu Revolver kaliber 32 dengan kecepatan peluru 215 meter/detik, Tuan.” Salah satu pengawal yang sempat menjaga Aisha berasumsi.
“Shit! Tangkap Wirawan sampai dapat!” seru Faris dengan rahang yang semakin mengeras.
“Tahan ya Sayang,” gumam Faris saat mulai membelah luka Aisha untuk mengambil pelurunya.
Pak Toni dan para pengawal lain yang turut menyaksikan Faris membedah luka Aisha ditempat sudah bergidik dengan sesekali menyipitkan matanya ngeri.
Tring … tring … tring ….
Peluru itu menggelinding ke aspal saat Faris berhasil mengeluarkannya dari lengan Aisha.
“Simpan itu untuk bukti,” tutur Faris sambil membersihkan kembali luka Aisha.
__ADS_1
“Perban,” pintanya saat telah selesai membersihkan lukanya, karena ia tak mungkin langsung menjahit luka Aisha. Ia membutuhkan pemeriksaan X-ray lebih dulu agar ia bisa melakukan rekontruksi pada kerusakan jaringan yang terjadi.
Pengawal di sampingnya mulai mencari-cari, tapi ternyata tak ada perban di sana.
“Kita kehabisan Tuan,” tutur pengawal itu hati-hati.
“Allohu ….” Faris terduduk lemah mendengarnya, ia harus segera membalut luka itu karena darah masih terus mengalir.
“Lepaskan dasi kalian!” ujar Faris sesaat kemudian.
Dan benar saja, dengan saling menatap keheranan, semua pengawal yang ada disitu melepaskan dasi mereka dan memberikannya pada sang majikan.
Faris menggunakan semua dasi itu untuk membalut luka Aisha yang masih menganga, setidaknya itu bisa memperlambat kucuran darah yang mengalir.
Tanpa menunggu lama Faris segera membopong Aisha ke dalam mobil untuk segera ke Rumah Sakit.
“Ahhh,” rintih Aisha perlahan membuka matanya saat mobil sudah melaju menuju ke Rumah Sakit.
Berulang kali ucapan syukur terlontar dari bibir Faris melihat Aisha di pangkuannya membuka mata.
“Sayang, bertahan ya. Sebentar lagi kita sampe di Rumah Sakit.”
Dengan gemetar tangan Aisha yang berlumur darah terangkat, berusaha membelai wajah suaminya yang terus saja menitikkan air mata.
“A-Abang, Ica baik-baik aja,” tutur Aisha terbata, namun tetap menampilkan senyumnya.
Sejurus kemudian Aisha merogoh saku kemejanya, menyerahkan benda hitam kecil pada sang suami.
“Cepet serahin ini ke polisi Bang,” ucapnya menyerahkan sebuah sd card pada Faris.
“Ica bertahan ya Sayang, Abang tau Ica kuat. Ica wanita yang hebat,” tutur Faris berulang kali mengecupi wajah istrinya. Aisha hanya tersenyum, namun tiba-tiba kembali menutup matanya.
Sontak Faris benar-benar panik melihatnya, darah dari lengan Aisha masih saja mengalir.
“Roger, cepatlah! Aisha semakin kehilangan banyak darah!” seru Faris pada pengawal yang mengemudikan mobilnya.
“Hasbunallah wa ni’mal wakil, ni’mal maula wa ni’man nashir.” Bibir Faris tak henti-hentinya merapal kalimat itu, menggantungkan harap hanya kepada Allah, semoga terus melindungi istrinya.
***
Bersambung ...
__ADS_1
Jangan lupa vote, like and coment buat nyemangatin author ya readers tersayang ...
Maaf ya readers tersayang kalo part kali ini pendek, author nya lagi sangat riweuh sama kehidupan nyata :(