Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama

Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama
Aku tak sepicik itu!


__ADS_3

“Apa kamu pernah merasakan jatuh cinta Jay?” Gus Hasan bertanya dengan ragu.


Jaya hanya tersenyum sebelum menjawab pertanyaan Gusnya yang cukup membuat hatinya bergejolak.


“Saya hanya anak seorang petani di desa Gus, sudah bisa menginjakkan kaki di negeri ini pun saya sudah syukur alhamdulillah, saya tidak tahu bagaimana cinta yang seperti orang-orang agungkan, karena siang dan malam hanya saya habiskan untuk belajar agar saya bisa menggapai mimpi-mimpi saya. Karena menjadi anak lelaki pertama adalah takdir saya, maka saya adalah harapan pertama kedua orang tua saya, mereka menitipkan mimpi di bahu saya. Cinta itu memang fitrah, tapi untuk saat ini saya belum berani untuk mengenalnya Gus, saat ini saya hanya akan fokus menata masa depan dulu dengan baik agar bisa memberikan yang terbaik pula untuk pelabuhan cinta saya kelak.”


Kalimat demi kalimat yang Jaya lontarkan seperti sebuah belati yang tepat menusuk ulu hati, betapa malunya Gus Hasan yang selama ini banyak mengeluh tentang perasaannya padahal di negeri ini ia menginjakkan kaki untuk menimba ilmu.


“Hidup tidak melulu tentang cinta Gus, masih banyak hal di luar sana yang belum kita gali seberapa dalamnya. Tapi saya juga tidak bisa menyalahkan cinta, hanya saja terkadang kita perlu tenaga ekstra untuk mengendalikan agar cinta itu tak sampai menjadi ranting penghalang menuju mimpi kita yang sudah menanti.”


“Jay … apa aku salah jika mencintai kakak iparku sendiri?”


Seketika Jaya bungkam, ia masih mengumpulkan kesadaran apakah benar yang baru saja Gusnya katakan.


“Sampeyan ndak lagi becanda kan Gus?”


“Apa wajahku terlihat seperti orang yang tengah becanda Jay?”


“Tidak ….” Jaya menjawab lirih saat sorot mata Gusnya sudah menyiratkan ketegasan.


***


Drrrttt … drrrtt … Aisha menggeliatkan tubuhnya saat mendengar dering yang berasal dari ponselnya.


“Iya Bang ….” Aisha menjawab panggilan dari Faris dengan suara seraknya khas orang bangun tidur.


“Sayang, lagi dimana?” Faris bertanya karena tak mendengar suara riuh seperti suasana di sekolah, pasalnya ini adalah jam pulang Tasya dan Aisha seharusnya menjemputnya.


“Di rumah.” Aisha menjawab dengan polosnya.


“Tasya udah dijemput?”


Aisha melirik jam di dindingnya, sepertinya ia tidur terlalu lama, kram di perutnya pun sudah tak terlalu berasa.


“Udah kok sama Roger, bentar Ica cek dulu.” Aisha langsung melangkah keluar untuk mencari keberadaan Tasya dan Roger tanpa mematikan sambungan teleponnya.


“Bi, Roger udah pulang?” Aisha pun bertanya ketika mendapati Bi Asih tengah di dapur.


“Belum Nyonya.” Bi Asih menjawab apa adanya.

__ADS_1


“Sayang … ini udah lewat satu jam dari seharusnya loh, harusnya Roger udah balik lagi.” Faris yang turut mendengar jawaban dari Bi Asih seketika bertanya dengan panik.


“Iya tenang ya Bang, biar Ica coba hubungi Roger.” Ia segera menambahkan panggilannya dengan kontak Roger, namun hasilnya nihil karena ternyata ponsel Roger sedang tidak aktif.


“Kok bisa Roger nggak aktif sih? Dia pergi sama siapa?” Lagi-lagi Faris terdengar sangat panik.


“Nggak tau Bang, tadi Ica cuma pesen biar Roger bawa salah satu pelayan, takutnya Tasya takut kalo Roger cuma dateng sendirian,” tutur Aisha apa adanya.


“Ya Allah Sayang … kenapa kamu bisa ceroboh gini? Abang pulang sekarang. Assalamualaikum.” Sambungan telepon diputus bahkan ketika Aisha belum sempat menjawab salam dari Faris.


Deg, Aisha memegangi dadanya sendiri yang tiba-tiba merasa sesak. Baru kali ini suaminya berbicara seperti itu terhadapnya, namun Aisha segera menepis perasaan itu karena ia tahu saat ini suaminya tengah panik.


Sambil menunggu Faris tiba, Aisha terus saja menghubungi Roger, namun hasilnya tetap sama, hanya suara operator yang menjawabnya.


Tapi kali ini hatinya bilang jika Tasya baik-baik saja, Roger pasti akan menjaga gadis itu dengan baik.


“Bi, tadi Roger jemput Tasya bawa siapa?” Aisha bertanya ketika melihat Bi Asih belum beranjak dari tempatnya.


“Maaf Nyonya, Bibi ndak tahu, tadi Bibi masih di paviliun.” Bi Asih berujar dengan sopan lantas melanjutkan pekerjaannya.


Sekitar tiga puluh menit, Aisha mendengar deru mobil Faris yang mulai memasuki pekarangan Rumah. Faris pun tergopoh segera berlari ke dalam rumah.


Aisha hanya menggeleng lemah merasa sangat bersalah karena tidak ia langsung yang menjemput Tasya.


“Abang ke sekolah Tasya sekarang.” Faris berujar sambil berbalik bersiap untuk kembali melajukan mobilnya.


“Ica ikut Bang,” ujar Aisha yang hanya mendapati anggukan dari suaminya.


Sepanjang perjalanan, tak ada satu pun dari mereka yang bersuara, keduanya sama-sama tenggelam dalam pikiran masing-masing.


Sampai di sekolah, Faris dan Aisha baru bisa bernapas lega karena mendapati Tasya yang ternyata tengah bermain ayunan dengan Roger dan salah satu pelayannya di tamansekolah.


“Om Faris ….” Tasya langsung berlari dan memeluk Faris saat melihat Faris dan Aisha turun dari mobilnya. Faris pun kembali memeluk gadis mungil itu dan langsung menggendongnya.


“Kenapa kalian nggak langsung bawa Tasya pulang? Liat ini sudah jam berapa!” Faris berujar pada kedua pegawainya yang hanya menunduk.


“Maaf Tuan, tapi Non Tasya bilang belum mau pulang jika tidak bersama Nyonya atau pun Tuan. Ponsel saya juga mati jadi tidak bisa menghubungi Tuan atau pun Nyonya. Indri juga tidak membawa ponselnya, jadi kami memilih untuk menunggu Non Tasya bermain sambil membujuknya, Tuan.” Roger menjelaskan sedetail-detailnya yang terjadi.


“Ya sudah kalian boleh pulang.”

__ADS_1


Roger dan Indri pun segera melangkah ke mobilnya setelah berpamitan pada Faris.


Kini hanya tinggal Faris, Aisha dan Tasya di taman itu, tatapan Faris langsung tertuju kepada istrinya ketika Tasya meminta izin untuk kembali bermain.


“Abang kan udah bilang titip Tasya, tolong antar dan jemput dia sekolah. Ica kan tau kalo Tasya lumayan susah kalo sama orang asing, kenapa Ica malah suruh orang lain buat jemput Tasya? Harusnya Ica bilang dari awal kalo emang nggak mau jagain Tasya, bukan malah seenaknya nyerahin tanggung jawab ke orang lain.”


Aisha tersentak dengan penuturan Faris yang terkesan seperti menuduhnya.


“Astaghfirullah … Ica nggak ada pikiran sepicik itu Bang! Segitu berartinya sekarang Tasya buat Abang?” Mata Aisha sudah memanas mendengar setiap kalimat yang terlontar dari mulut suaminya.


“Ini bukan masalah berarti atau nggak berarti! Tapi ini soal amanah karena Abang ketitipan Tasya, Ca.”


“Maaf … Ica nggak tau kalo Tasya sepenting itu buat Abang.”


Aisha langsung berlari ke pinggir jalan dan menghentikan taksi yang melintas, dadanya kini benar-benar sesak , air mata pun sudah tak bisa lagi dibendungnya untuk berjatuhan.


“Ica!” Faris berteriak memanggli istrinya, namun sayang, taksi yang dihentikan Aisha terlanjur melaju dengan kencang.


“Arghh!” Faris mengacak rambutnya sendiri merutuki kebodohannya, tubuhnya yang memang lelah karena akhir-akhir ini jadwalnya begitu padat membuatnya tak bisa mengontrol emosinya sendiri.


Setelah menstabilkan keadaannya, Faris segera mendekati Tasya dan mengajaknya pulang.


“Tasya … kita pulang sekarang yuk.” Faris berjongkok di hadapan Tasya yang masih asyik bermain ayunan.


“Loh Tante cantiknya mana Om?” Tasya menoleh ke kanan dan kiri ketika tak mendapati sosok


Aisha yang semula bersama Faris.


“Em Tante cantik tiba-tiba ada urusan, jadi dia udah pulang duluan,” jawab Faris yang segera diangguki oleh Tasya.


Setiba di rumah, Aisha langsung berlari ke kamarnya, ia mengurung dirinya di kamar mandi. Diguyurnya tubuh itu dengan shower yang sengaja Aisha kencangkan, di sana, di bawah guyuran air, Aisha menangis sejadi-jadinya, meluapkan segala yang terasa menghantam ulu hatinya. Kini bukan hanya anaknya yang mungkin akan berkecil hati dengan perilaku ayahnya, tapi dirinya pun turut kecewa sekaligus terluka sebagai seorang istri yang tengah mengandung darah dagingnya.


***


Ayoo siapa yg mau bareng-bareng nyulik Tasya? 🤣


Bersambung ...


Terima kasih untuk yang selalu setia menunggu kelanjutan dari novel amatiran ini ... Love you.

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak berupa vote, like and coment buat nyemangatin author ya readers tersayang ...


__ADS_2