
Akhir pekan yang amat menenangkan bagi Gus Hasan. Hari ini ia tidak ada jadwal kelas Tomer ataupun yang lainnya.
Musim dingin di Turki memang sudah berlangsung sejak pertengahan bulan Desember lalu, namun baru pagi ini serpihan-serpihan salju mulai berjatuhan di Istanbul tempat Gus Hasan diami. Kemarin-kemarin hanyalah hujan dengan cuaca dingin yang kering. Karena memang tidak semua daerah di Turki memiliki pengalaman musim dingin yang sama.
Ini pertama kalinya bagi Gus Hasan, karenanya ia memilih untuk kembali bergelung di bawah selimutnya setelah menunaikan solat dhuhanya karena tak tahan dengan hawa dingin yang menusuk tulangnya. Sebuah stasiun televisi memberitakan bahwa suhu pagi ini mencapai -13 derajat Celcius dibawah 0.
Drrrttt … drrrttt …. Ponsel Gus Hasan berdering di atas nakas.
“Gus itu ponsel sampeyan ada yang nelpon.” Jaya yang baru saja keluar dari kamar mandi mengguncang-guncang tubuh Gusnya, namun tetap tak ada jawaban. Akhirnya ia memutuskan untuk mengangkatnya, bukan maksudnya tak sopan terhadap Gusnya, hanya saja ia takut ada sesuatu yang penting karena sejak tadi ponsel itu tak berhenti berdering.
“Hallo, aku ke tempat kamu sekarang. Chatt alamatnya ya,” seloroh suara wanita dari seberang.
“Maaf Mba, Gus Hasannya masih tidur. Apa mau titip pesan atau bagaimana?” jawab Jaya hati-hati.
“Loh kamu siapa?”
“Saya Wijaya Mba, teman sekamarnya Gus Hasan.”
“Oh ok, kamu bisa tolong shareloc tempat kalian? Jangan lupa bangunin juga ya Hasannya.”
“Iya Mba saya nanti coba bangunkan.”
“Ok makasih, Assalamualaikum.” Klik sambungan telepon diputus, bahkan Jaya belum sempat menjawab teleponnya.
Jaya meletakkan kembali ponsel itu ke tempatnya, dahinya berkerut bertanya-tanya siapakah gerangan wanita yang baru saja menelepon Gusnya.
Sebelumnya ia belum pernah mendengar Gusnya dekat dengan seorang wanita manapun. Dilihat dari gaya bicaranya wanita itu sepertinya fasih sekali bahasa Indonesia, tapi bagaimana ia bisa kenal dengan Gusnya? Jika memang teman Gusnya dari Indonesia, kenapa memanggil nama Gus Hasan tanpa embel-embel ‘Gus’? Jika wanita tadi teman Gusnya, tidak mungkin jika ia tak tahu bahwa Gus Hasan putra seorang Kyai besar. Itulah rentetan pertanyaan yang saat ini memenuhi kepala Jaya.
***
“Bang, kayaknya infusnya mendingan dilepas deh, Ica susah gerak kalo diinfus,” ujar Aisha setelah Faris menyelesaikan solat subuhnya. Pagi ini Faris memang tak pergi ke masjid untuk berjamaah karena waktu subuh yang tak panjang sedangkan ia harus membantu keperluan istrinya juga untuk menunaikan solat.
“Ica yakin udah nggak ada keluhan?” Faris mendekati istrinya yang tengah bersandar pada headboard ranjang.
“Ica udah sembuh kok Bang, lukanya juga bentar lagi kering,” ujarnya meyakinkan sang suami.
__ADS_1
Setelah selesai membuka infus di lengan istrinya, Faris justru kembali naik ke atas ranjang, turut merebahkan dirinya di samping sang istri.
Hawa dinging yang menembus pori-porinya membuatnya semakin betah untuk berlama-lama dalam dekapan Aisha.
“Kok Abang malah balik lagi ke ranjang sih? Bukannya harus siap-siap ke Rumah Sakit?” tutur Aisha seraya memainkan rambut tebal dalam dekapannya.
Faris menggeleng manja sebelum mendongakkan wajahnya.
“Nggak ah, Abang mau nemenin istri Abang yang cantik ini jalan-jalan. Lagian jadwal operasi nggak terlalu membludag juga kok, dokter yang lain pasti bisa handle.”
Aisha hanya manggut-manggut mengiyakan, padahal dalam hatinya juga tengah bersorak kegirangan, membuatnya tanpa sadar menyunggingkan senyuman.
“Kenapa senyum-senyum?” tanya Faris mengagetkan Aisha dari lamunannya.
Netra Aisha yang membulat sempurna menambah kadar ayunya, membuat Faris tak tahan untuk tak menyentuh wajah di hadapannya itu.
“Ica tambah cantik kalo nggak pake hijab,” ujar Faris menatap lekat iris cantik itu sambil menyelipkan beberapa anak rambut yang terurai ke belakang telinga Aisha.
“Kalo gitu Ica nggak usah pake hijab aja gimana?”
“Sayang, menutup aurat itu perintah Allah, kewajiban Ica sebagai seorang muslimah. Gimana Abang bisa bawa Ica ke surga kalo Ica sendiri yang justru mendorong Abang ke neraka dengan mengumbar aurat seperti ini?”
Aisha tersenyum dengan jawaban sang suami, ternyata ia tak salah memilih nakhoda untuk mengendarai kapalnya.
Kehidupan ini memang layaknya samudera yang luas, untuk mengarunginya kita membutuhkan nakhoda yang handal dalam mengendarai bahtera/kapal. Jika nakhoda itu tak pandai, sudah dipastikan bahtera tersebut karam dan kita tak akan menjumpai yang namanya daratan kebahagiaan.
Seorang nakhoda dituntut harus memiliki tanggung jawab terhadap keselamatan penumpangnya, karena jika sesuatu terjadi, maka yang pertama dicari adalah nakhodanya.
Dan seorang istri sebagai penumpang, hendaknya selalu taat pada komando sang nakhoda. Keduanya harus bekerja sama agar bisa berlayar dengan aman dan nyaman sampai pada daratan kebahagiaan yang didambakan.
Faris menarik pelan lengan Aisha yang tak terluka agar rebah dan tenggelam dalam dekapannya, ia kecup puncak kepala sang istri sambil merapalkan doa untuk kebaikan istrinya.
Doanya telah usai, namun bibir Faris enggan beranjak dari puncak kepala yang tak bergerak dalam pelukannya itu, ia justru memejamkan netranya, menikmati aroma lily kesukaannya yang menyeruak hingga ke indra penciumnya.
Dari posisi mereka saat ini, Aisha bisa mendengar jelas degup jantung Faris yang berpacu lebih cepat dari biasanya. Aisha paham apa penyebab jantung Faris berdetak sekencang itu. Ia sendiri hanya bisa menggigit bibir bawahnya yang ternyata membuat jakun Faris naik turun karena tak sengaja menyaksikannya.
__ADS_1
Faris menurunkan wajahnya hingga kini sejajar dengan wajah Aisha, bibirnya menyapu lembut daun telinga Aisha yang sudah memerah. Aisha hanya bisa memejamkan matanya saat wajah Faris kini justru tepat di atasnya. Detak jantung Aisha pun mengikuti kencangnya detak sang suami, kini detak jantung keduanya seirama.
Aisha refleks mengangkat tangannya membelai rahang sang suami saat dirasa sapuan lembut menyapa bibirnya.
Faris tersenyum melihat Aisha yang justru memejamkan matanya pasrah mengikuti alur permainannya. Namun sejurus kemudian akalnya tak sejalan dengan hatinya, Aisha bahkan tak menolak apa yang ia lakukan, bahkan justru membalas permainan-permainannya. Ia takut hilang kendali dan tak bisa mengontrolnya, padahal luka Aisha kini belum sepenuhnya sembuh. Ia takut melukai sang istri.
Sadar akan perilakunya, Faris langsung bangkit menegakkan tubuhnya, merebahkan kembali tubuhnya di sisi kanan Aisha dan menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya.
Aisha hanya menggigit bibir bawahnya, ia sendiri takt ahu apakah ia akan baik-baik saja. Tapi hatinya justru berkata lain.
“Maaf, Abang kelepasan,” tutur Faris dari balik selimutnya yang masih bisa didengar oleh Aisha.
Aisha tahu kini suaminya tengah berjuang menahan keinginan prianya.
Sadar tak ada pergerakan dari sang istri, Faris membuka selimutnya. Terlihat Aisha yang tengah memejamkan netranya, beberapa kali ia menghembuskan napasnya, mungkin untuk menetralkan degupnya yang juga tengah menggelora seperti dirinya.
“Sayang.” Faris menyentuh wajah itu perlahan hingga Aisha membuka matanya.
Perlahan Aisha mendekatkan wajahnya. Bismillah, ia mencoba meraih surga lebih dulu.
Faris yang terkejut dengan pergerakan istrinya sontak menjauhkan wajahnya.
“Abang takut nggak bisa nahan, Abang takut nanti malah nyakitin Ica,” ujarnya dengan suara parau.
“Nggak bahaya Bang, ini adalah kewajiban Ica, ini juga kebutuhan Ica,” jawab Aisha membelai rahang itu pelan.
“Beneran?” Faris masih tetap khawatir akan melukai Aisha.
Aisha mengangguk, “Kita bisa pelan-pelan,” tuturnya membuat Faris seketika berbinar. Kabut gairah di wajah keduanya tak bisa lagi disembunyikan.
***
Bersambung …
Jangan lupa vote, like and coment sebanyak-banyaknya buat nyemangatin author yan readers tersayang ...
__ADS_1