
Setelah kejadian menumpahkan kopi di depan cafe ke baju seorang gadis, hampir setengah jam Faisal baru tiba di kediaman Abbas, seorang lelaki yang kini Faisal tahu sebagai ayahnya, lelaki yang telah menampung hidupnya selamanya ini.
“Hallo my son.” (Hallo anak laki-lakiku)
Abbas yang memang sudah menunggu kehadiran putranya langsung saja menghambur ke arah Faisal ketika tahu putranya tiba.
“Baba sehat?”
“Yah seperti yang kamu lihat, kamu gimana? Semuanya lancar?” tanya Abbas merenggangkan pelukannya.
“Alhamdulillah Ba lancar. Oh ya dimana Mami?” tanya Faisal yang memang tak mendapati keberadaan Ibu angkatnya di sana.
Meskipun Abbas seorang keturunan Turki asli, tapi ia memang sudah sangat fasih menggunakan bahasa Indonesia berkat pernikahannya dengan sang istri yang asli Indonesia. Dalam adat keluarga pun mereka akan selalu berlaku adil dan saling menghormati satu sama lain, seperti panggilan anak-anak yang memanggil Abbas dengan sebutan Baba mengikuti darah Turkinya juga panggilan Mami untuk Ajeng yang mengikuti darah Indonesianya.
“Ada di kamar, sebentar lagi pasti turun. Dia sudah sangat merindukanmu.”
“Kak Isal!” teriakan seorang gadis membuat Abbas dan Faisal sontak menoleh ke sumber suara.
Seorang gadis tampak berlari tergesa-gesa menuruni satu persatu anak tangga dan langsung saja menghambur ke arah Faisal ketika ia sudah di ujung tangga.
“Ayla berapa kali Baba bilang kalian itu sudah besar, sudah nggak boleh lagi peluk-peluk kayak gitu dong,” sergah Abbas yang melihat putri kandungnya selalu saja tak tahan untuk tak bergelayut pada sang kakak.
Ayla menatap Babanya dengan tatapan tak terima tanpa berniat melepas pelukannya.
“Iya iya Baba, Ayla kan cuma mau cuddle doang. Ayla tuh kangen sama kakak,” protes Ayla sudah mengerucutkan bibirnya.
“Iya tapi kalian tuh udah sama-sama dewasa nggak boleh asal peluk-peluk kakak kamu kayak gitu. Kecuali kalo Ayla mau Baba nikahin sama Kak Isal, gimana?”
Dan benar saja cara itu ampuh membuat Ayla sontak melepaskan pelukannya.
“Ayla udah punya calon sendiri Ba,” goda Faisal yang segera dipelototi sang adik.
“Oh ya? Kok nggak dikenalin ke Baba? Apa jangan-jangan kamu masih berhubungan dengan Brandon si bule Amerika itu?” tanya Abbas dengan tatapan menyelidiknya, karena ia memang tak setuju dengan pria yang bernama Brandon yang pasalnya berasal dari Amerika.
“Ish nggak lah Ba, Ayla juga udah muak sama dia.”
“Good princess!” ucap Abbas mengusap puncak kepala putrinya. (putri yang baik)
“Sekarang level Ayla udah sama yang lebih soleh Ba, anak kyai pemilik pesantren dari Yogya,” tutur Faisal melapor.
__ADS_1
“Hah emang iya Hasan anak kyai yang punya pesantren? Kata siapa kakak?”
“Dih emang yang kakak maksud Hasan? Cie tuh kan Ba udah bucin dia.”
“Ih apaan sih Kak! Udah deh sana kakak balik lagi aja,” tutur Ayla merajuk sambil berkejaran memukuli sang kakak yang amat gemar menggodanya.
“Siapa siapa yang dari Yogya?” tanya Ajeng yang baru saja keluar dari kamarnya saat mendengar kegaduhan.
Faisal segera menghentikan langkahnya begitu melihat sosok yang dijadikan ibunya sudah berdiri di samping Babanya.
“Kamu kok nggak ngabarin kalo mau ke sini sih Sal? Mami kan bisa masakin makanan kesukaan kamu kalo tau kamu pulang,” tutur Ajeng merengkuh putranya.
“Nggak apa-apa Mi, Isal udah sarapan kok tadi di apartemen. Gimana keadaan Mami? Sehat?”
“Alhamdulillah seperti yang kamu lihat, Mami sehat kok.”
“Alhamdulillah, Baba sama Mami jangan terlalu cape ya. Jaga kesehatan selalu, kalian udah nggak sekuat waktu muda dulu,” tutur Faisa mengingatkan keduanya.
“Wah Baba ngerasa kayak udah jompo nih diingetin kayak gitu Sal,” protes Abbas mengundang tawa semua yang ada di sana.
“Kenapa kembali lagi ke rumah ini? Sudah habis bekal yang anak saya selalu berikan padamu?” suara seorang wanita sontak menghentikan tawa semuanya.
Perlahan wanita yang sudah lanjut usia itu menuruni anak tangga dengan selalu mengangkat kepalanya.
“Nenek sehat?” tanya Faisal yang tak pernah mengambil hati perkataan ibu dari ayahnya itu.
“Nggak usah panggil saya dengan sebutan nenek. Abbas hanya memberiku satu orang cucu perempuan!”
“Nenek! Berhenti untuk selalu menganggap Kak Faisal orang asing!” ujar Ayla yang tak pernah suka dengan sikap neneknya.
“Begitu caramu berbicara pada yang lebih tua Ayla? Apa yang sudah Mami kamu ajarkan padamu?”
Ajeng yang sudah terbiasa dengan sikap ibu mertua yang selalu menganggap remeh dirinya memilih untuk diam tak ingin memperpanjang perdebatan.
“Stop Anne! Kita semua adalah keluarga, Ayla cucu Anne, Faisal pun cucu Anne karena dia juga putraku.” Abbas yang sudah cukup jengah dengan sikap ibunya memilih untuk beranjak pergi menyeret Faisal yang hanya mematung melihat perdebatan yang selalu tercipta karena kehadirannya.
Ajeng pun memilih untuk beranjak juga dengan diikuti oleh putrinya, menyisakkan sang nenek yang semakin murka karena merasa diabaikan.
***
__ADS_1
“Maafin nenek ya Sal, Baba yakin suatu saat nenek pasti bisa menerima kamu,” hibur Abbas setelah perdebatan mereka tadi. Kini mereka tengah di balkon ruang kerja Abbas sambil menikmati udara segar juga kopi di tangan mereka.
Faisal hanya tersenyum kecut sambil menyesap kopinya.
“It’s okay Ba, dua puluh tahun hidup di rumah ini udah cukup buat Isal paham. Lagian apa yang dibilang nenek juga nggak sepenuhnya salah kok.”
“Stop buat selalu insecure kayak gini Sal. Dengerin Baba!” Abbas memutar bahu Faisal agar menghadap ke arahnya, lalu melanjutkan kalimatnya.
“Kamu memang bukan darah daging Baba, kamu juga memang nggak lahir dari rahim Mami, tapi Baba sama Mami yang menyaksikan kamu tumbuh. Kamu harus ingat son, sampai kapan pun kamu adalah putra Baba dan Mami, nggak ada yang bisa ngerubah itu.”
Seketika rasa haru menyeruak ke dada Faisal saat mendengar penuturan ayah angkatnya, ayah yang selama ini selalu menemaninya tumbuh, ayah yang selalu membelanya ketika ada seseorang yang meragukan identitasnya, bahkan meski orang itu ibunya sekalipun.
“Isal bersyukur bisa tumbuh di tengah-tengah keluarga yang begitu menyayangi Isal. Makasih ya Baba sama Mami udah merawat Isal selama ini, maaf kalo Isal nggak bisa balas kebaikan kalian semua ya Ba.”
Abbas langsung merengkuh putranya itu, ia tahu sekuat dan setegar apa pun putranya pasti mempunyai titik lemah dimana dirinya merasa harus mengungkapkannya dengan cara menangis, tidak terkecuali dengan Faisal, putranya.
“Apa dulu waktu Baba nemuin Isal Baba nggak nemuin petunjuk apapun atau apa yang mungkin berhubungan tentang keluarga Isal Ba?” tanya Faisal merenggangkan pelukannya.
“Kenapa kamu tiba-tiba bertanya tentang ini? Apa akhir-akhir ini kamu sering teringat pada mereka?”
“Entahlah Ba, akhir-akhir ini Isal ngerasa penasaran sama siapa diri Isal sebenernya. Apa bener keluarga kandung Isal emang udah nggak ada?”
“Maafin Baba ya, tapi Baba bener-bener nggak tahu apapun Nak. Baba hanya menemukan kamu yang sudah tak sadarkan diri di tepi jembatan waktu itu. Ketika Baba telusuri ternyata kamu korban kecelakaan sebuah keluarga dari Indonesia, katanya tidak ada yang selamat dalam kecelakaan itu. Mungkin mereka nggak tahu kalo ternyata kamu selamat dan terpental cukup jauh dari lokasi kejadian,” tutur Abbas mencoba mengingat kejadian puluhan tahun silam.
“Apa mungkin nggak ada harapan buat Isal tahu siapa keluarga kandung Isal Ba? Jika memang benar mereka sudah tiada, setidaknya Isal pengen tahu dimana kuburnya,” ujar Faisal nanar, sepertinya harapannya untuk mengetahui siapa dirinya sebenarnya memang harus ia kubur dalam-dalam.
“Apa kamu ingin mencoba mencari tahu ke Indonesia? Biar orang-orang Baba nanti yang urus,”
hibur Abbas ketika melihat sorot kesedihan kembali terpancar dari wajah tampan putranya.
“Nggak perlu Ba, Isal takut hasilnya nggak sesuai dengan harapan, Isal takut bakal lebih sakit dan malah nggak bisa nerima takdir yang udah Allah gariskan,” tolak Faisal membayangkan segala kemungkinan yang mungkin akan lebih menyakitkan jika semuanya justru terkuak.
“Ya sudah jika itu keputusanmu, Baba akan selalu mendukung apapun itu. Kamu jangan pernah merasa sendiri ya karena kita di sini adalah keluargamu.”
“Oh ya katanya Baba ada butuh bantuan Isal tentang perusahaan, apa ada masalah Ba?” tanya Faisal mencoba mengalihkan pembicaraan agar tak terus menerus teringat pada latar belakang dirinya.
***
Babang Isal yang sabar yaa, we love you 🥰
__ADS_1
Bersambung ...
Jangan lupa tinggalkan jejak berupa vote, like and coment sebanyak-banyaknya buat nyemangatin author ya readers tersayang ...