
“Kamu sekarang masih suka ada keluhan gak Sha? Kayak pusing atau apa gitu?” tanya Faris setelah mengantar Aisha untuk check up pasca operasi.
“Gak ko Ris, aku beneran udah sehat,” jawab Aisha meyakinkan Faris.
“Habis nyebur kemaren gak pusing gitu?” tanya Faris menggoda Aisha.
“Faris ih ….” teriak Aisha seraya mencubit lengan Faris yang tengah ia pegangi.
“Allahu Akbar sakit ….” keluh Faris mengusap-usap bekas cubitannya.
“Eh itu kayak Azka deh Sha,” ujar Faris melihat Azka yang tengah ikut panik mendorong brankar.
“Mas Azka maksud kamu?”
“Iya Azka, siapa yang sakit yah?”
“Coba kita samperin yu,” ajak Aisha.
“Yakin kamu?”
“Yakinlah … sekarang aku udah kuat kok,” jawab Aisha mantap.
Faris dan Aisha mengikuti Azka yang terhenti di depan ruang UGD. Azka terlihat sangat kalut dengan memijat pelipisnya sendiri.
“Ka siapa yang sakit?” tanya Faris ketika sudah menghampiri Azka yang terduduk panik sendirian.
Azka sontak terkejut dan langsung menoleh ke arah suara, ternyata Aisha dan Faris.
Seketika hatinya menyejuk melihat wajah Aisha yang begitu tenang, jujur hati Azka kini masih terombang-ambing jika kembali melihat Aisha.
Tapi akal sehatnya segera mengingatkan bahwa kini Diana adalah tanggung jawabnya.
“Diana Ris, dia tiba-tiba gue temuin udah pingsan di kamar pas pulang dari kantor,” jawab Azka lesu.
“Apa kehamilannya Diana baik-baik aja?” tanya Aisha simpati.
“Waktu kita jenguk kamu saat itu, kita bukan hanya cek kandungan biasa, dokter memvonis kalo Diana mengidap gagal ginjal stadium lanjut Sha.”
“Innalillahi ….” Aisha terkejut dengan pernyataan Azka.
“Terus kenapa lo biarin Diana pertahanin kehamilannya? Itu bakal bahaya banget buat keselamatannya Ka.”
“Gue gak tau kalo Diana punya riwayat penyakit seserius itu Ris, karena memang gak ada gejala apapun sejak awal kehamilannya. Dan sejak dokter ngasih tau masalah penyakit itu, Diana tetep keras kepala buat mertahanin kandungannya.”
“Wajar sih kalo Diana kayak gitu, ibu mana sih yang tega ngorbanin anaknya sendiri? Pasti dia bakal ngelakuin apapun demi anaknya meski seandainya harus mengorbankan nyawanya sendiri,” jawab Aisha membenarkan.
“Oke lebih baik kita tunggu kabar dari dokter yang lagi nangani Diana. Mudah-mudahan ada jalan yang terbaik,” ujar Faris menenangkan.
Baru saja Faris selesai bicara, akhirnya dokter yang menangani Diana keluar.
“Wali pasien?” tanya dokter menghampiri ketiganya.
“Saya suaminya dokter.”
“Baik kalo gitu ikut saya.”
Azka berjalan panik mengikuti sang dokter ke ruangannya.
“Begini pak, seperti yang saya jelaskan di awal, bahwa jika kehamilan tetap dipertahankan maka aka nada perubahan-perubahan fisiologis pada ginjal itu sendiri. Dimana perubahan tersebut akan meningkatkan aliran plasma ginjal yang menyebabkan beban kerja ginjal meningkat drastis. Jadi harus segera dilakukan tindakan lebih lanjut pak.”
“Jadi apa yang harus dilakukan untuk menyelamatkan istri dan anak saya dokter?” tanya Azka panik.
__ADS_1
“Begini pak, kita bisa saja melakukan operasi caesar meskipun nantinya bayi lahir dalam keadaan prematur, tapi karena ginjal kronisnya ini juga istri bapak mengalami komplikasi hipertensi. Jadi tidak mungkin kita melakukan operasi sedangkan istri bapak seperti ini kondisinya. Jadi mau tidak mau bapak harus memilih mana dulu yang harus diprioritaskan untuk kami selamatkan.”
“Allahu ….” pikiran Azka benar-benar kalut saat ini, ia takut salah mengambil tindakan.
“Sebentar dok saya perlu berdiskusi terlebih dahulu dengan istri saya.”
“Baik pak silahkan, kami tunggu secepatnya.”
Azka berjalan gontai keluar ruangan, ia benar-benar bingung saat ini.
“Gimana keadaan istri lo kata dokter Ka?” tanya Faris yang tengah menunggu di kursi pasien.
“Dokter bilang gue harus pilih salah satu untuk diselamatkan, antara Diana atau anak gue,” jawab Azka parau.
“Allahu … lebih baik sekarang mas Azka sholat dulu, minta petunjuk sama Alloh. Lalu kemudian diskusikan hal ini dengan Diana,” ucap Aisha memberi saran.
“Makasih Sha, aku minta tolong temenin dulu Diana yah, aku mau sholat dulu biar lebih tenang.”
“Kamu gak usah khawatir, aku sama Faris bakal nemenin Diana dulu,” jawab Aisha yang diangguki oleh Azka.
Faris dan Aisha segera memasuki UGD untuk menemani Diana, dan ketika mereka masuk ternyata Diana sudah sadarkan diri.
“Aisha, Faris, kok kalian bisa ada disini?” tanya Diana lemas.
“Kita tadi abis check up dan gak sengaja ketemu Mas Azka yang lagi panik bawa kamu yang udah pingsan. Kamu kenapa selama ini gak cerita kalo kamu sama anak kamu nggak baik-baik aja Di?”
“Aku cuma ingin mempertahankan bayiku Sha,” jawab Diana parau.
“Semoga Allah mempermudah usahamu ya Di.”
“Mas Azka kemana?”
“Dia lagi sholat dulu, kamu tenang aja kita bakal jagain kamu kok.”
“Aku kan udah bilang, aku udah anggap kamu seperti saudaraku sendiri, jadi kamu gak usah sungkan kalaupun butuh bantuan aku atau Faris,” jawab Aisha yang membuat Diana semakin terharu.
“Assalamualaikum ….” ucap Azka ketika memasuki ruangan.
“Waalaikumsalam,” jawab yang ada di dalam serentak.
“Kalo gitu gue sama Aisha keluar dulu yah, barangkali lo ada yang mau didiskusikan sama Diana,” ujar Faris yang diiyakan oleh Azka.
***
“Mas aku mohon, selamatkan anak kita,” pinta Diana terisak.
“Tapi gimana dengan kamu Di? Aku gak mau kehilangan kamu lagi.”
“Mas tolong izinin aku untuk menjadi istri dan seorang ibu yang seutuhnya. Kita kan gak tahu apa yang akan terjadi nanti.”
“Aku gak bisa apa-apa kalo itu keputusan kamu Di, kita berdoa saja yang terbaik ya sayang,” jawab Azka terisak sambil tak henti-hentinya mengecupi tangan Diana dalam genggamannya.
“Makasih mas, aku minta maaf atas semua kesalahan aku, ridhoi aku selama menjadi istri kamu ya. Tolong jaga anak kita dengan baik, ajari dia ilmu agama biar kita bisa kembali berkumpul di syurga-Nya kelak,” ucap Diana semakin terisak.
“Kamu harus kuat ya sayang, kita yang akan jaga dan didik anak kita sama-sama. Aku yakin kamu pasti bisa,” jawab Azka semakin terisak mendengar penuturan istrinya.
“Laa haula wa laa quwwata illa billah,” ucap Diana lirih.
***
Atas persetujuan dari pihak Diana dan Azka, dokter mulai melakukan persiapan untuk operasi caesar.
__ADS_1
Mengingat akan kondisi Diana saat ini, sebelum melakukan operasi dokter juga melakukan tes darah terlebih dahulu pada Diana untuk mengetahui informasi mengenai golongan darah dan kadar hemoglobin dalam darah, karena ditakutkan nantinya Diana membutuhkan transfusi darah selama operasi berlangsung.
Dokter kandungan juga sudah berkonsultasi dengan dokter spesialis anestesi terkait kondisi medis Diana yang mungkin meningkatkan risiko komplikasi akibat obat anestesi.
Diana sendiri meminta bius regional agar ia masih tetap sadar selama operasi berlangsung, ia ingin langsung melihat buah hatinya.
Azka, Faris dan Aisha menunggu dengan cemas di luar ruang operasi, setelah sekitar 50 menit akhirnya lampu di depan ruang operasi padam.
“Saudara Azka?” panggil perawat di depan pintu ruang operasi.
“Saya Sus,” jawab Azka panik.
“Pasien meminta untuk bertemu dengan anda, mari ikut saya,” jawab perawat dengan ramah.
Dengan tergesa-gesa Azka mengikuti langkah sang perawat ke dalam ruang operasi, terlihat di sana Diana tengah menggendong bayi kecilnya lemas. Sungguh suatu kebahagiaan yang tak dapat ternilai harganya.
Azka segera menghampiri keduanya, lalu mengumandangkan adzan di telinga bayinya.
Diana yang menyaksikan hal itu sudah bercucuran airmata, ternyata perjuangannya selama ini tak sia-sia, keluarganya kini telah lengkap seutuhnya.
Tiba-tiba Diana tak sadarkan diri setelah Azka menyelesaikan adzannya, dokter segera mengambil tindakan untuk menyelamatkan Diana, sementara bayi kecilnya dibawa oleh perawat untuk di incubator karena kondisinya yang lahir prematur.
“Dokter! Pasien assistole!” teriak perawat.
Azka yang mendengar hal itu sungguh panik dan kalut, airmatapun sudah semakin menderas.
“Tolong dokter, selamatkan istri saya,” ucap Azka parau.
“Sebaiknya bapak tunggu di luar ya, kami akan melakukan yang terbaik untuk istri bapak,” jawab perawat ramah seraya menggiring Azka untuk menunggu di luar.
“Segera siapkan Defibrillator!” jawab dokter yang langsung di angguki perawat.
“200 joule”ucap dokter memberi intruksi dosis energi pada kedua paddle setelah defribillator siap gunakan, lalu dokter segera mengambil alih kedua paddle setelah perawat mengisi dosis yang direkomendasikan, lalu menyuruh semua menjauh dari brankar.
“Clear!” lalu dokter melalukan shock secepatnya.
Setelah sekian kali shock dilakukan, pandangan dokter menilai layar EKG, namun ritme yang terlihat masih tetap sama, yaitu VT/VF, nadi juga tetap tidak teraba.
“Suster catat waktu dan tanggalnya.”
“Baik dok.”
“Bagaimana keadaan istri saya dok?” tanya Azka yang langsung memburu dokter ketika ke luar dari ruangan.
“Kami sudah melakukan yang terbaik pak, tapi mohon maaf sepertinya Tuhan lebih menyayangi bu Diana. Nyawa beliau tidak dapat kami tolong lagi,” jawab dokter hati-hati.
Azka yang mendengar penuturan dokter langsung lemas terduduk di lantai, tangisnya pecah tak terbendung lagi, begitupun dengan Aisha yang sudah terisak di sisi Faris.
“Lo harus kuat Ka, inget ada anak lo yang sudah mati-matian Diana perjuangkan. Jangan sia-siakan pengorbanan istri lo,” ujar Faris menguatkan Azka.
“Mohon maaf mungkin ini bukan saat yang tepat untuk menyampaikan berita ini, tapi ini amanah pasien sebelum masuk ruang operasi tadi. Apa ada saudara yang bernama Aisha?” tanya dokter ditengah isakan mereka.
“Sa-saya Aisha dokter, ada apa yah?” tanya Aisha disela isakannya.
“Saudara Diana berpesan andaikan nyawa beliau tidak tertolong, maka beliau mendonorkan kornea matanya untuk ditransplantasi kepada saudara Aisha. Ini surat persetujuan pendonor yang sudah ditanda tangani oleh saudara Diana,” ujar dokter seraya menyerahkan surat tersebut.
“Ini juga ada pesan untuk saudara Aisha,” lanjut sang dokter memberikan surat yang sudah terbungkus rapi dengan amplop.
“Allahu akbar Diana ….”
***
__ADS_1
Jangan lupa vote, like and coment buat nyemangatin author ya readers tersayang ….