
"Seorang suami yang memuliakan istrinya maka akan mendapatkan tempat terindah di sisi Allah SWT."
Setelah menyelesaikan dinner romantis mereka, Aisha dan Faris duduk di sofa yang ada di balkon kapal sambil menikmati indahnya Jembatan Suramadu dan Monumen Jalesveva Jayamahe dengan lampu-lampu yang dinyalakan memberikan kontras dengan kegelapan lautan yang menjadi latarnya.
“Ini semua Abang yang siapin?” tanya Aisha menatap kagum pada keindahan yang tersaji.
“Iya dong, Ica suka?”
“Suka banget.”
“Ya dibantuin juga sih sama pegawai-pegawai di sini, hehe.”
“Terus kenapa kok kapalnya sepi banget sih Bang? Waktu ke sini Ica jadi berasa kayak masuk rumah hantu tau, horor banget.”
“Karena kapal pesiar ini udah Abang sewa khusus buat kejutan Ica.”
Aisha sudah membulatkan netranya sambil kedua tangannya menutup mulut tak percaya.
“Masya Allah Abang, pasti mahal ya? Kenapa aneh-aneh banget sih? Kan sayang uangnya Bang.”
“Membahagiakan istri juga kan termasuk ibadah, yang penting kita jangan sampai lupa sama hak-hak orang lain yang ada dalam harta kita juga. Bagi Abang uang nggak masalah, karena uang bisa dicari. Tapi kebahagiaan itu harus diciptain, tapi ya meski pake uang juga sih hehe.”
“Jadi Abang udah nggak marah lagi sama Ica?”
“Ica tau nggak makna mahar yang Abang kasih waktu pernikahan kita?”
Kepala Aisha yang semula ia sandarkan pada dada bidang suaminya terangkat, menggeleng lemah menjawab pertanyaan Faris.
“25 juta rupiah dan 10 dinar. 25 adalah usia Ica menjadi istri Abang, sepuluh itu menggambarkan tanggal pernikahan kita yang bertepatan dengan 10 Rabiul awal penanggalan hijriah. Tanggal itu merupakan tanggal pernikahan Nabi Muhamad SAW, jadi Abang berharap semoga kita selalu berkiblat kepada ajaran Rasul dalam membina rumah tangga,” jelas Faris membuat Aisha semakin terkagum-kagum.
“Terus Dinar itu maksudnya apa?”
“Dinar adalah mata uang yang tetap kokoh meski telah menghadapi inflasi selama ribuan tahun, semoga mahligai rumah tangga yang kita bangun juga akan tetap kokoh walau diterpa badai maupun gelombang sekeras apapun sebagaimana Dinar. Saat bahagia akan terus bersama dan saat badai menerpa kita akan lebih mengeratkan pegangan tangan menghadapinya bersama.”
“Aamiin.” Aisha mengaminkan bersamaan dengan bulir bening kebahagiaan yang berhasil lolos dari ujung netranya.
Setelahnya ia kembali menyandarkan kepalanya pada dada bidang suaminya, kini menjadi sandaran favoritnya.
“Makasih ya Ica udah bersedia nemenin Abang menghabiskan sisa hidup Abang, semoga setelah ini kita nggak berdua lagi.”
“Abang! maksudnya?” Aisha sontak mengangkat wajahnya mendengar penuturan Faris.
“Ada kehadiran Faris junior di tengah-tengah kita, hehe.”
Aisha langsung menenggelamkan wajahnya yang sudah meram padam karena tersipu malu ke dada bidang suaminya.
***
Dengan langkah cepat meski sambil mendorong stroller Rafa, Karina mengahampiri Azka dan langsung menepis tangan wanita itu dengan kasar hingga terjatuh.
“Astaghfirulalh, aw ....” ringis wanita itu sambil memegangi perutnya.
__ADS_1
“Karin!” Suara Azka naik satu oktaf.
Deg, seperti ada sesuatu yang tiba-tiba menghantam dada Karina. Semarah itukah Azka? Sampai dia tega membentak Karina di hadapan banyak orang.
“A-aku, aku cuma ... aku nggak suka dia deket-deket sama kamu.” Jawaban itu lolos begitu saja dari mulut Karina.
“Astaghfirullah! Salsa ....”
Seorang pria berlari dan membantu membangunkan si wanita.
“Kamu kenapa sampai jatuh?” tanya si pria cemas lalu merengkuhnya untuk bangun.
Setelah menatap Karina dengan tajam, kini Azka beralih pada wanita tadi.
Azka yang merasa tak enak pada wanita itu tak begitu memahami alasan Karina. Padahal baru saja Karina mengungkapkan isi hatinya
“Kamu tidak apa-apa?” tanya Azka cemas.
“Iya sayang, kamu nggak apa-apa? Gimana sama kandungan kamu? Ada yang sakit?” Imbuh pria itu mengelus perut wanita yang tak lain adalah istrinya.
Karina yang sejak tadi menunduk sontak mengangkat wajahnya saat mendengar penuturan pria itu. Wanita ini sedang hamil? Pertanyaan itu langsung muncul di kepalanya.
“Aku nggak apa-apa Mas, tadi cuma keseleo sedikit,” alibi wanita yang tengah hamil muda itu tersenyum lembut pada suaminya.
Seketika Karina jadi dirundung penyesalan yang mendalam, harusnya dia tidak langsung bertindak ceroboh seperti tadi. Lagian apa urusannya dengan dirinya jika Azka dekat dengan siapapun? Tidak mungkin ini adalah rasa cemburu! Mereka tidak punya hubungan apapun kecuali sebatas dokter dan pasiennya.
“Maaf, tadi aku yang mendorong istri kamu,” ucap Karina penuh sesal.
“Ada masalah apa kamu sampai berani dorong istri saya?”
“Mas, Salsa nggak apa-apa kok.” Wanita bernama Salsa itu menahan lengan suaminya agar tidak emosi.
“Tapi sayang, dia kan ud-.”
“Mas,” ucap wanita itu lembut menghentikan kalimat suaminya.
“Mas lupa dulu Salsa kayak apa kalo ada perempuan lain yang deketin Mas?” Senyumnya yang lembut kini tertuju pada Karina.
“Maaf,” tutur Karina lagi.
“Ya udah kita periksa lagi ya? Mas khawatir anak kita kenapa-kenapa,” ajak pria itu dengan lembut mengelus perut istrinya yang masih rata.
“Nggak perlu Mas, anak kita sehat kok. Dia kuat kayak papanya.”
Karina merasa sangat malu sekaligus iri dengan hubungan mereka yang penuh cinta. Dia selalu berharap Allah SWT menjadikannya perempuan seberuntung wanita dihadapannya ini. Memiliki suami yang teramat mencintainya.
“Mas, sekali lagi terima kasih ya sudah menemukan dompet saya,” tutur wanita itu pada Azka.
“Sama-sama, maaf atas kesalah pahaman ini,” jawab Azka merasa tak enak.
“Tidak apa-apa, cemburu itu tandanya cinta. Wanita memang paling bisa menyimpan perasaan, tapi paling tidak bisa menyembunyikan cemburunya.”
“Tapi kita bukan ....” Protes Karina terpotong karena pasangan suami istri itu yang segera berpamitan.
__ADS_1
***
Meski kemarin-kemarin momen sebagai sepasang suami istri antara Faris dan Aisha tidak berjalan semestinya, sejak kejadian semalam justru kini hari-hari keduanya selalu dipenuhi senyuman.
Bahkan kini Aisha merasa menjadi seorang istri yang sangat bahagia di dunia, memiliki suami yang tak hanya tampan rupawan parasnya, tapi juga hati dan iman yang tertancap di dalamnya. Aisha sangat bersyukur dengan kehidupannya saat ini, ternyata rencana Sang Maha Pencipta memang selalu lebih indah.
Sambil menunggu Faris menyelesaikan ritual mandinya, Aisha bergegas turun ke bawah untuk menyiapkan sarapan.
“Selamat pagi Bi Asih,” sapa Aisha riang.
“Pagi Nyonya, eh tumben pagi sekali Nyonya? Duh maaf sarapannya belum siap,” tutur Bi Asih terkejut melihat majikannya sudah turun dari kamarnya.
“Sekarang Bibi duduk manis aja, biar Aisha menjadi seorang istri sesungguhnya,” jawab Aisha riang sambil menggiring Bi Asih untuk duduk di kursi yang terdapat di depan meja makan.
“Eh mana boleh begitu Nyonya, sini biar Bibi aja, ini kan tugas Bibi.” Bi Asih menolak halus perlakuan Aisha.
“Ya udah kalo Bibi nggak mau Aisha suruh diem Bibi kerjain yang lainnya aja deh ya, biar urusan dapur Aisha yang ambil alih.”
“Kan yang lain sudah ada bagiannya masing-masing Nyonya.” Bi Asih kebingungan sendiri.
“Terserah Bi Asih pokonya ya, mulai sekarang ini adalah tugas Aisha. Bi Asih mau kan Aisha melayani suami Aisha dengan baik? Jadi biarin Aisha ngerjain semuanya sendiri ya Bi?” rajuk Aisha membuat Bi Asih tak bias menolak keinginan majikannya.
Setelahnya Aisha langsung berkutat dalam kegiatan memasak di
dapur sebelum Faris turun untuk sarapan.
“Masak apa sayang?” tanya Faris yang tiba-tiba memeluk Aisha
dari belakang.
“Eh Abang udah turun, bentar ya ini nasi gorengnya hampir selesai kok.”
Faris hanya mengangguk sambil menyandarkan kepalanya di bahu istrinya.
“Abang mau makan nggak?”
“Ya mau lah sayang, makanya ini ditungguin,” jawab Faris tetap dalam posisinya.
“Ya udah makanya ini lepasin dulu, gimana Ica mau lanjutin masak coba?” tutur Aisha mengangkat lengan Faris yang masih melingkar di perutnya.
“Abang kangen sama Ica,” bisik Faris tepat di telinga Aisha dengan posisi yang masih sama.
“Ish apaan sih, tiap hari ketemu juga.” Rona di pipi Aisha mulai terlihat kala mendengar bisikan suaminya yang membuatnya tersipu.
“Sekarang Abang duduk dulu biar Ica nyelesain ini.” Aisha segera menggiring Faris untuk menunggu di kursi agar ia bisa melanjutkan kegiatan memasaknya.
Faris hanya tersenyum dengan jahilnya lalu mencium sekilas pipi Aisha kala melihat istrinya yang mulai kesal dengan godaannya.
***
Bersambung …
Jangan lupa vote, like and coment buat nyemangatin author ya readers tersayang …
__ADS_1