Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama

Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama
Tergoda


__ADS_3

“Tuan … bangun Tuan.” Roger yang pasalnya tengah berada di kamarnya seketika tergopoh membangunkan tuannya yang hingga saat ini masih terlelap.


“Tuan … ayo bangun Tuan,” ucap Roger lagi mengguncangkan tubuh Faris dengan tergesa.


“Emmm ada apa Ger?” tanya Faris masih dengan netra terpejam.


“Malam ini Tuan Faisal dan Nyonya mengadakan pertemuan dengan keluarga angkat Tuan Faisal, apa kita harus mengikuti mereka?” tutur Roger menjelaskan apa yang baru saja didengarnya dari alat penyadap yang masih menempel di telinganya.


Seketika saja Faris langsung terlonjak mendengar mendengar penjelasan Roger, “Dimana tempatnya?” tanya Faris yang langsung bangkit dari tidurnya.


“Belum tau Tuan, mereka tidak membicarakan apapun. Saya akan segera lacak kemana perginya mereka.” Roger pun segera mengoperasikan tabletnya, mencoba menelusuri kemana Faisal dan Aisha akan pergi melalui alat penyadap yang sengaja dipasangnya pada bagian belakang ponsel milik Faisal.


Sedangkan Faris segera berlari ke kamar mandi untu sekedar membersihkan tubuhnya dan bersiap dengan pengintaiannya terhadap sang istri.


“Saya dapat lokasinya, Tuan,” ujar Roger dengan sedikit berteriak karena posisi Faris yang masih di dalam walk in closetnya.


“Good job. Kita berangkat sekarang.” Seperti biasa, tuan muda itu melangkah dengan wibawanya, mencoba mencari peruntungan untuk menyelamatkan rumah tangganya.


----


Roger memarkirkan mobilnya cukup jauh dari kediaman Abbas, dimana Faisal membawa istri dan ibu mertuanya untuk menemui keluarga angkat yang selama ini membesarkannya.


Untuk beberapa saat Faris masih dengan tenangnya mendengarkan setiap pembicaraan yang terjadi di dalam rumah megah itu. Hingga tiba-tiba Faris menegakkan tubuhnya saat indra pendengarnya menangkap suara seperti sebuah tamparan di tengah perbincangan mereka, terdengar juga seorang wanita mengucap makian yang kini ia tahu jika itu ditujukan untuk istrinya, Aisha.


Faris merasa amat sakit mendengar wanita yang dicintainya disalahkan, padahal ia tahu jika istrinya tak pernah sedikitpun berbuat seperti apa yang Ayla tuduhkan. Dan yang paling membuat Faris sakit adalah ekspresi Aisha yang hanya diam saja menerima segala tuduhan Ayla.


Mendengar Ayla yang terus saja memojokkan istrinya, membuat darah Faris mendidih seketika, ia tak bisa tinggal diam mendengar istrinya diperlakukan seperti itu. baru hendak meraih gagang pintu mobil, secepat kilat Roger menahannya.


“Jangan gegabah, Tuan. Nyonya pasti bisa mengatasinya,” ucap Roger memberi saran, ia pun memahami jika saat ini Faris benar-benar kalut sehingga membuatnya tak berpikir jernih.


Faris pun mengurungkan niatnya karena sesaat kemudian ia mendengar suara Aisha yang berusaha meluruskan apa yang memang tidak wanita itu lakukan.


Hingga setelah perdebatan panjang itu Faris kembali dibuat panik karena mendengar suara ibu mertuanya juga Faisal yang tampak memanggil-manggil nama istrinya.


“Ger istri saya kenapa Ger?” tanya Faris panik saat tak lagi mendapati suara istrinya.

__ADS_1


“Saya nggak bisa diem aja,” ucapnya kemudian dan segera membuka pintu mobilnya berniat untuk menghampiri kediaman Abbas dan mengambil Aisha.


Namun lagi-lagi langkahnya harus terhenti saat air langit tiba-tiba berjatuhan, membuatnya kembali ke mobil meraih payung untuk melindungi dirinya dari guyuran hujan. Bukan karena Faris takut basah, melainkan ia menyadari jika kondisinya saat ini tengah dalam keadaan yang tidak begitu baik, ia hanya berusaha melindungi dirinya agar tak sampai tumbang karena tubuh itu ia perlukan untuk selalu melindungi sang wanita pujaan. Pikirnya, jika ia sampai sakit lantas siapa yang akan melindungi Aisha?.


Cukup jauh Faris melangkah karena memang posisi mobilnya yang sengaja ia parkirkan jauh dari kediaman Abbas, hingga kemudian telinganya sayup-sayup menangkap suara isakan yang hampir tenggelam oleh derasnya guyuran hujan.


Diikutinya arah suara isakan itu hingga langkahnya terhenti saat netranya menangkap sosok wanita yang tengah terduduk lemas di tepi jalan dengan tangis seolah mengadukan sakitnya pada hujan.


Hati Faris sakit menyadari jika ia lagi-lagi tak mampu mencegah air mata istrinya berjatuhan, “Maafin Abang Ca,” gumamnya lirih sebelum akhir melangkah menghampiri Aisha yang nampaknya tak menyadari kehadiran dirinya.


Aisha mendongak merasa ada yang melindunginya dari dinginnya air hujan, untuk beberapa saat ia hanya menatap kosong pada wajah yang kini tengah membentangkan payung untuk melindungi dirinya.


“Abang … kenapa Abang di sini?”


Faris hanya tersenyum sebelum akhirnya turut berjongkok menyampirkan jaketnya pada bahu Aisha, “Karena cinta tau kemana ia harus kembali.”


Mendapati Aisha yang hanya diam tanpa penolakan membuat Faris tak bisa lagi menahan diri untuk tak meraih tubuh itu dan membawa Aisha ke dalam dekapannya. “Kita pulang ya Sayang?” Dibawanya tubuh yang sudah basah kuyup itu ke dalam mobilnya yang terparkir tak jauh dari tempat mereka kini.


Aisha yang dalam benaknya masih dipenuhi tentang sang kakak hanya bisa mengikuti kemana langkah Faris membawanya.


“Ger matiin AC nya,” ucap Faris yang segera diangguki oleh Roger.


Kini dinginnya AC sudah berganti dengan hangatnya mesin pemanas di dalam mobil suaminya itu.


Melihat sang istri yang masih setia dengan diamnya membuat Faris kembali meraih tubuh itu dan menyandarkannya perlahan di bahunya. Ingin rasa hati memberontak namun nyatanya tubuh Aisha sudah terlalu lelah untuk sekedar menolak apa yang Faris lakukan terhadapnya, netranya pun perlahan terpejam seiring dengan laju mobil yang perlahan merayap membelah derasnya hujan.


Aisha celingukan saat membuka matanya dan mendapati jika itu bukanlah lokasi tempat tinggalnya, “Bang?” Ia menoleh ke arah Faris yang entah sejak kapan sudah memandanginya, sedangkan Roger entah sudah kemana hilangnya, pria itu nampak tak lagi terlihat di balik kemudinya.


“Abang kan nggak tau Ica tinggal dimana,” ujar Faris yang sepertinya paham dengan raut protes yang tercetak jelas di wajah istrinya.


“Ica mau pulang,” ujar Aisha kemudian lantas segera meraih gagang pintu untuk keluar.


“Setidaknya ganti baju dulu biar nggak masuk angin,” tutur Faris secepat kilat menahan pergerakan Aisha.


“Haaciih … haaciih ….” Lagi-lagi Aisha kembali bersin saat baru saja hendak melayangkan protesnya, hidungnya bahkan tampak memerah dengan bibir yang mulai membiru menahan dinginnya cuaca Istanbul yang malam ini terus saja diguyur hujan.

__ADS_1


“Tuh kan … ganti baju aja abis itu Abang anter pulang ke Ibu.” Faris berujar dengan menyembunyikan seringainya.


Aisha yang memang sudah sangat kedinginan pun tak ada pilihan lain kecuali mengangguki usulan suaminya jika tak ingin mati membeku.


Faris sedikit memperlambat langkahnya saat dirasa Aisha yang tampak menjaga jarak dengan berjalan beberapa meter di belakang.


“Ayo masuk,” ajak Faris saat mereka sudah tiba di depan kamar apartemennya. Aisha pun hanya bisa pasrah mengikuti kemana langkah Faris membawanya.


Begitu sampai di dalam, Faris segera menggiring Aisha agar duduk di sofanya, sedangkan ia melangkah ke dapur untuk mengambilkan air hangat agar sedikit mengurangi rasa dinginnya.


“Minum dulu Sayang,” ucap Faris menyerahkan segelas air hangat yang membuat Aisha justru merasa canggung dengan panggilan itu.


Setelah meneguk habis air hangat itu, segera Aisha bangkit karena berniat untuk meletakkan kembali gelas itu. Namun siapa sangka jika Faris pun turut bangkit dan segera memepet Aisha ke lemari di belakangnya.


“Aa-abang mau apa?” Aisha sedikit gugup menghadapi Faris yang kini sudah menatapnya intens.


“Haaciih ….” Lagi-lagi Aisha kembali bersin bahkan saat Faris semakin memepetnya.


“Satu-satunya cara buat nyembuhin flu adalah dengan menularkan virus itu pada orang lain,” ujar Faris berbisik tepat di telinga Aisha.


Tanpa menyia-nyiakan kesempatan, Faris langsung meraih dagu Aisha lalu mengecup bibir itu dengan sangat lembut, namun sepertinya hal itu justru membuat darah Faris semakin berdesir hingga membuatnya semakin penasaran bahkan tak ingin melepaskan bibir ranum sang istri. Semakin lama bahkan kecupan itu kini sudah berubah menjadi pagutan, entah siapa yang memulainya, yang jelas kini pagutan itu semakin dalam hingga napas keduanya sama-sama memburu tak beraturan.


***


Bersambung ...


Terima kasih untuk yang selalu setia menunggu kelanjutan dari novel amatiran ini ... Love you


Jangan lupa tinggalkan jejak berupa vote, like and coment buat nyemangatin author ya readers tersayang ...


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2