
Pagi yang sangat cerah pada akhir pekan di kota Surabaya. Gorden berwarna silver yang panjang menjuntai cukup mampu menghalangi bias mentari yang hendak melongok masuk ke kamar suami istri yang masih bergelung di bawah selimutnya.
Faris mengerjapkan netranya saat merasa hawa dingin menerpa kulitnya yang tak berpakaian, ternyata selimut yang menutupi tubuhnya menurun hingga mengekspos dada bidangnya.
Jam di atas nakasnya masih menunjukkan pukul tujuh, ia memilih untuk kembali menutup matanya dengan menaikkan selimutnya lebih dulu untuk menutupi tubuhnya juga sang istri yang terlihat amat tenang dalam lelapnya. Ia berniat untuk bangun ketika waktu dhuha nanti, semoga saja kantuknya bisa dikondisikan.
“Makasih ya Sayang,” tuturnya mengecup puncak kepala Aisha lembut, senyum tak henti-hentinya tersemat di wajah tampannya.
Faris kembali menarik sang istri ke dalam dekapannya perlahan ketika Aisha menggeliat, mungkin karena merasa tidurnya terganggu.
***
“Gus, Gus ….” Jaya mencoba membangunkan Gusnya seperti pesan wanita tadi, ia bahkan sudah mengirim lokasi tempat tinggal mereka saat ini.
Gus Hasan menggeliat karena merasa tidurnya terusik.
“Hmm, kenapa Jay?” tanya Gus Hasan dengan suara seraknya khas orang bangun tidur.
“Maaf Gus, tadi ada cewe beberapa kali nelpon jadi saya coba angkat waktu Guse tidur,” ujar Jaya hati-hati.
“Siapa Jay? Umi? Apa Ningku?” tanyanya tetap dalam posisinya.
“Bukan Gus, cewe tadi cuma bilang minta saya bangunin Guse dan shareloc tempat kita.”
“Hah? Terus kamu kasih?” Gus Hasan yang terkejut segera mendudukan dirinya.
“Nggeh Gus, soalnya takut penting.”
Gus Hasan segera berlari ke kamar mandi melawan hawa dingin yang mencekam sebelum Ayla datang ke tempatnya, meninggalkan Jaya yang masih mematung dengan rentetan pertanyaan yang memenuhi kepalanya.
“Loh Gus mau kemana?”
“Nanti aku jelasin Jay,” teriak Gus Hasan sebelum menghilang di balik pintu kamar mandi.
Pasti Ayla akan menghampirinya ke asrama, hanya itu yang Gus Hasan tangkap saat ini.
***
“Selamat Pagi Nyonya besar.” Para pelayan yang sedang sibuk dengan pekerjaannya masing-masing seketika menghentikan kegiatan mereka, menyambut sang Nyonya yang tiba-tiba sudah berada di ambang pintu.
Sebenarnya Maya sangat tidak nyaman diperlakukan seperti itu, ia merasa dirinya juga tak jauh berbeda dengan para pegawai di rumah itu. Semua kemewahan ini adalah milik anak mantunya, ia merasa tidak berhak jika diperlukan bak Nyonya besar pemilik semuanya.
“Ah nggak usah seperti ini, kalian lanjutkan saja pekerjaan kalian,” tutur Maya ramah pada semua pelayan yang masih saja berjajar.
__ADS_1
“Mari Nyonya duduk dulu, biar saya buatkan minum.” Seorang wanita seumuran dengan Maya menghampirinya, menggiringnya untuk duduk di sofa yang terdapat di ruang tamu yang sangat luas. Dia adalah Bi Asih, kepala pelayan di rumah ini.
“Oh iya terima kasih, tapi nggak usah. Saya hanya ingin menjenguk anak dan mantu saya saja.”
“Baik, kalau begitu biar saya panggilkan Tuan dan Nyonya, mereka belum turun dari kamar,” ujar Bi Asih hendak berlalu.
“Nggak usah Bi, biar saya aja. Bibi bisa lanjutkan saja pekerjaan yang lain.”
“Baiklah Nyonya, kalo gitu saya permisi.” Bi Asih menunduk sebelum akhirnya berlalu.
Sebenarnya di rumah Faris yang serba mewah itu juga disediakan lift untuk masing-masing lantai, tapi Maya lebih memilih untuk menaiki tangga ketika menuju kamar anak dan mantunya itu. Anggaplah itu sebagai olahraga untuk melatih tubuhnya yang tak lagi muda.
Tok … tok … tok ….
“Sayang, Faris, Aisha, kalian belum bangun Nak?” ujar Maya ketika tak ada juga jawaban dari dalam.
Faris yang baru saja terlelap kembali seketika membulatkan netranya saat suara yang sangat dikenalnya menyapa indra pendengarnya.
Ia kalang kabut sendiri, tak mungkin ia membiarkan ibu mertuanya masuk dengan keadaan dirinya dan Aisha masih seperti itu, lagi pula ini sudah cukup siang jika mertuanya sampai tahu mereka masih bergumul dibawah selimut.
“Sayang, bangun Yang.” Faris menggoyang-goyangkan tubuh sang istri yang masih terlelap.
Aisha hanya menggeliatkan tubuhnya manja.
Faris semakin bingung harus bagaimana saat ini.
“Sayang, Ica bangun. Ada ibu di luar.” Kalimat itu berhasil membuka mata Aisha, bahkan ia langsung mendudukkan dirinya. Aisha sadar akan penampilannya saat melihat Faris yang belum juga mengenakan atasannya.
“Ibu? Dimana Bang?” tanyanya yang juga ikut panik.
“Itu di luar Sayang, di depan kamar kita.”
“Terus gimana dong? Bakalan mikir apa ibu kalo tau kita masih kayak gini padahal udah siang.” Mereka benar-benar kebingungan saat ini.
Faris meraih pakaian Aisha dan juga dirinya, setelah membantu Aisha berpakaian ia juga mengenakan miliknya.
“Sayang, Ica di sini biarin ibu masuk yah. Abang mau keluar dari jendela, biar seolah-olah Ica aja yang baru bangun. Ica kan ada alesan buat bangun siang,” tutur Faris merapikan rambut sang istri yang sedikit berantakan karena tidurnya.
Aisha mengangguk setuju dan mempersiapkan diri menyambut sang ibu.
“Sayang, kalian udah bangun? Ibu boleh masuk?”
“Huft …,” Aisha menghembuskan napasnya panjang sebelum beranjak membukakan pintu untuk ibunya.
__ADS_1
Sedangkan Faris langsung berlari ke luar jendela dan melompati balkon pemisah menuju ruangan sebelahnya.
“Maaf ya Bu lama, Aisha abis dari kamar mandi tadi, jadi nggak denger deh,” ujarnya menggaruk pelipisnya yang tak gatal.
“Ya Allah maafin Ica harus bohong kayak gini sama Ibu.”
“Ibu kira belum pada bangun. Faris udah berangkat ke Rumah Sakit?” tanyanya yang tak melihat anak mantunya di sana.
“Ah Bang Faris ….” Aisha menggantung kalimatnya, ia bingung harus menjawab apa.
“Eh ada Ibu, kok nggak bilang-bilang mau dateng sih Bu? Kan biar Faris jemput.” Tiba-tiba Faris muncul di ambang pintu, menghampiri sang ibu dan mencium punggung tangannya.
“Nggak usah lah, kan ada Pak Maman juga yang nganterin. Loh kamu abis dari mana Sayang? Kok nggak ke Rumah Sakit?” tanya Maya yang melihat Faris hanya mengenakan kaos polos juga boxer sebatas lutut.
“Ah tadi Faris abis jogging Bu sambil nungguin Aisha bangun,” jawabnya canggung karena harus berbohong.
Maya hanya manggut-manggut mengiyakan.
“Aisha gimana sekarang? Udah mendingan belum?”
“Aisha udah sembuh kok Bu, ya kan Bang?” jawabnya meminta dukungan sang suami.
“Ah iya udah sembuh kok Bu, tinggal ngeringin lukanya aja.”
“Sembuh banget malahan, nyampe udah minta main tadi pagi,” imbuhnya lirih hampir tak terdengar, tapi Aisha yang menyadarinya sontak membulatkan netranya ke arah sang suami.
“Gimana Sayang?” tanya Maya yang mendengar sayup-sayup gumaman Faris.
“Ah apa Bu? Bukan apa-apa kok,” jawabnya panik menggaruk pelipisnya yang tak gatal.
“Oh …. Ah iya, Ibu bawa makanan kesukaan kalian loh. Kita makan yuk, pasti kalian belum sarapan juga.”
“Asyik …, Ica udah kangen banget sama masakan Ibu,” ujarnya bergelayut manja pada sang Ibu dengan langsung menggiring ibu dan suaminya untuk segera turun ke ruang makan.
“Ssshh, aww …,” rintih Faris mengelus-elus pinggangnya yang sempat dicubit Aisha ketika melewati dirinya.
Aisha hanya tersenyum dengan seringainya, senyuman yang penuh kemenangan. Namun sejurus kemudian Faris segera menyusul langkah sang istri dan ibunya ke ruang makan.
***
Bersambung ...
Jangan lupa vote, like anda coment sebanyak-banyaknya buat nyemangatin author ya readers tersayang ...
__ADS_1