Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama

Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama
Apapun akan aku lakukan


__ADS_3

Menara Bandara Internasional Ankara Esenboga biro kontrol lalu lintas udara, seluruh penghuni Bandara baru bisa bernapas dengan lega saat 3U7655 berhasil kembali terdeteksi oleh radar dengan posisi pesawat sedang memutar turun.


Angkatan udara, tanggap medis, pemadam kebakaran dan pengamanan Bandara sudah bersiaga untuk intruksi lebih lanjut di titik kumpul sekitar landasan, hingga beberapa saat kemudian Menara biro kontrol melaporkan jika 3U7655 telah mendarat dengan selamat. Semua kru landasan dan tanggap medis juga sudah bersiap untuk penurunan penumpang.


“Bagaimana kondisi di dalam? Apa ada yang terluka?” tanya salah satu kru landasan yang bertugas memimpin penuranan penumpang.


“Semua terkendali. Namun satu orang penumpang kelas bisnis dan satu pramugara kami terluka,” ujar sang manajer awak kabin yang sudah bersiaga membukakan pintu pesawat.


Dua orang yang dinyatakan terluka itu segera dievakuasi oleh tim medis, sedang kru yang lainnya segera mengondisikan penurunan penumpang.


Dua orang pria yang terluka akibat turbulensi dahsyat selama penerbangan itu kini tengah terbaring di atas blankar, namun keduanya masih tetap sadar meski begitu lemas. Ya, dua pria itu tak lain adalah sang pramugara Reynald Steve juga seorang dokter Faris Zein Abdullah yang menjadi penumpang kelas bisnis pada penerbangan Surabaya-Ankara beberapa menit lalu.


“Masih ingin aku yang menyampaikan permintaan maafmu pada Aisha?” tanya Rey menoleh ke blankar di sisi kirinya.


“Itu berlaku jika aku tidak selamat,” ujar Faris menghela napasnya.


Tiba-tiba Rey mengulurkan tangannya ke arah Faris, untuk beberapa saat Faris hanya terdiam sebelum akhirnya ia pun menyambut uluran tangan tangan itu.


“Reynald, panggil aja Rey,” tukas Rey lebih dulu memperkenalkan diri.


“Faris.”


“Jaga istrimu dengan baik, selama ini dia kesulitan tanpa kamu.” Rey berujar seakan dia begitu memahami kesulitan yang tengah Aisha rasakan.


“Thanks udah jagain istriku selama aku nggak ada,” jawab Faris dengan nada yang kini lebih bersahabat. Rey hanya menepuk lengan Faris tanda mereka berdamai.


Sebagai


seorang dokter, Faris tentunya paham betul akan kondisi tubuhnya, setelah ia merasa lebih baik segera dilepasnya jarum infus yang menancap di punggung tangannya.


“Perlu aku kasih tau alamat apartemen istrimu?” goda Rey saat melihat Faris yang sepertinya akan segera berlalu dari sana.

__ADS_1


“No, saya udah tau,” tukas Faris segera meraih kopernya.


“Sekali lagi thanks ya, saya duluan.” Faris berjalan ke sisi blankar Rey dan menjabat tangan pramugara itu sebagai tanda perpisahan.


“It’s okay, asal kamu janji jaga Aisha dengan baik.”


Faris hanya tersenyum kecut mendengar penuturan Rey, “Saya suaminya, tanpa diminta siapapun sudah pasti akan saya jamin kebahagiaan rumah tangga saya,” ujarnya lantas benar-benar berlalu dengan langkahnya yang tertatih meninggalkan Rey yang masih tergeletak di atas blankarnya.


Sedangkan di apartemennya, wanita yang baru saja menjadi topik pembicaraan Faris dan Rey kini justru tengah menikmati kebersamaan barunya dengan sang kakak yang baru saja diketahuinya, wanita itu tengah dengan telaten tengah membalut luka sang kakak setelah membersihkannya.


“Oh ya Ai, suamimu belum nyusul? Apa dia masih sibuk?” tanya Faisal yang baru menyadari jika sosok adik iparnya tak ada di antara mereka.


Seketika baik Maya maupun Aisha hanya bungkam, bahkan Aisha seketika menghentikan kegiatannya saat mendengar pertanyaan sang kakak.


“Udah selesai Kak, Ais simpen ini dulu ke kamar,” alibi Aisha yang segera meraih kotak medis di sampingnya lantas benar bangkit menuju ke kamarnya.


Seketika itu pula Faisal dibuat bingung dengan reaksi sang adik, adakah yang salah dengan pertanyaannya?, begitu pikirnya.


“Adikmu berencana pisah sama Faris, pengacara kita bahkan udah urus gugatannya,” tutur sang ibu dengan wajah sendunya, ibu mana yang tega melihat kehancuran rumah tangga putrinya sendiri.


“Innalillahi … tapi kenapa Bu?” Faisal benar-benar terkejut mendengar kabar itu, pasalnya sang adik begitu pandai menutupi masalahnya, bahkan ketika orang tuanya sempat bertanya kal di Rumah Sakit pun Aisha beralasan seolah semuanya baik-baik saja.


“Aisha baru aja kehilangan calon bayinya Kak, entah siapa yang salah di sini, yang jelas kesalahpahaman selalu aja hadir di rumah tangga adikmu. Mungkin sekarang Aisha merasa benar-benar lelah sampe dia ngambil keputusan ini.”


“Apa Faris menerima gugatan yang Ais ajukan Bu?”


Maya sontak saja menggeleng, “Aisha ke sini tanpa sepengetahuan Faris, pengurusan gugatan pun Aisha kuasakan sama pengacara kita. Ibu khawatir kalo Aisha di sini sendirian, makanya Ibu nyusul ke sini.”


“Ya Allah … pasti ini berat banget buat Ais. Isal kira rumah tangga mereka baik-baik aja, Ais pinter banget nutupin semuanya Bu.”


“Kakak coba dekati Aisha ya, kasih dia pengertian. Ibu takut kalo dia sampe trauma sama laki-laki, karena ini bukan pertama kalinya Aisha terluka Kak,” pinta Maya agar putranya bisa sedikit mengurangi rasa sedih yang kini putrinya alami.

__ADS_1


“Isal coba samperin Ais dulu ya Bu.” Faisal segera bangkit menuju kamar adiknya setelah sedikit mendengar kisahnya dari sang ibu.


Faisal mencoba melangkah perlahan, melongok dari balik pintu kamar yang tak tertutup sepenuhnya. Tampak di sana adiknya tengah duduk di samping ranjang dengan posisinya memunggunginya, memang tak terdengar isak dari sana, hanya saja Faisal paham dari punggung adiknya yang sedikit bergetar.


Tok … tok …, “Ais … Kakak boleh masuk?” tanya Faisal karena khawatir Aisha masih belum terbiasa dengan kehadirannya.


“Ma-masuk aja Kak,” ujar Aisha segera menghapus sisa air mata di wajahnya.


“Maaf ya Kakak nggak ada maksud buat ngingetin kamu tentang Faris.” Pria itu segera meraih wajah adiknya, turut menghapus air yang tampak masih tersisa di sana.


“Pasti ini berat banget buat kamu Ai … sebagai anak tertua pengganti Ayah, Kakak pastinya pengen adik kesayangan Kakak ini selalu bahagia. Sekarang, Faisal Kakakmu Ais, bukan orang lain. Tumpahkanlah semuanya sama Kakak, jangan kamu simpan sendirian ….”


Seketika Aisha langsung menubruk tubuh kekar yang kini turut duduk di sampingnya, isaknya kini benar-benar tumpah dalam dekapan sang kakak yang selama ini ia butuhkan.


“Ais masih sayang sama Abang, Kak. Tapi Ais juga nggak tau harus gimana, semuanya udah terlalu rumit buat dipertahankan Kak … Ais terlalu lemah buat jadi pendamping Abang ….”


Hati Faisal teriris mendengar semua keluha kesah adiknya, diusapnya puncak kepala yang kini berada dalam dekapannya, tak bisa ia bayangkan bagaimana sulitnya hidup Aisha dan ibunya selama ini tanpa seorang pemimpin keluarga. Tanpa sadar air matanya pun turut menitik merasakan sesak yang kini tengah adiknya rasakan.


“Kakak janji Ais … apapun akan Kakak lakukan demi kebahagiaan kamu Dek. Sabar ya cantik … semuanya pasti akan segera baik-baik aja. Kakak pasti usahakan semua itu buat kamu.”


Air mata Faisal kini turut menderas seiring dengan getaran tubuh Aisha yang terisak dalam dekapannya yang juga semakin mengerat, namun sekuat tenaga Faisal hapus semuanya agar adiknya itu tak lagi ragu untuk bersandar di bahunya.


***


Bersambung ...


Terima kasih untuk yang selalu setia menunggu kelanjutan dari novel amatiran ini ... Love you


Jangan lupa tinggalkan jejak berupa vote, like and coment buat nyemangatin author ya readers tersayang ...


 

__ADS_1


__ADS_2