
Jangan lupa bagikan novel ini di beranda fb, ig, twitter atau pun whatsapp kalian biar viral ya gaesss, hihihi ...
***
“Biar saya saja Roger, kamu boleh kembali.” Aisha berujar setelah Roger dan dirinya merebahkan Faris di atas pembaringan.
“Baik, kalo gitu saya permisi Nyonya.” Roger menunduk santun lalu segera berbalik setelah mendapat anggukan dari Nyonya mudanya.
“Roger, sebenarnya apa yang terjadi sama Abang?” Pertanyaan Aisha sontak menghentikan langkah Roger yang hampir menggapai pintu.
Roger berbalik dan tersenyum halus.
“Ada baiknya Nyonya dengarkan langsung penjelasan dari Tuan jika beliau sudah sadar,” jawab Roger mengerti kekhawatiran Nyonya mudanya itu.
Aisha hanya mengangguk menyetujui saran Roger.
Dengan telaten Aisha mengganti pakaian suaminya yang benar-benar meninggalkan bau alkohol yang menyengat, ditariknya selimut di sana untuk menutupi tubuh itu.
“Huek ….” Aisha segera berlari ke kamar mandi sambil menahan mulutnya dengan tangan, aroma alkohol yang tersisa benar-benar membuat perutnya seperti diaduk-aduk.
“Huek … huek.” Entah sudah berapa kali Aisha berjongkok mengeluarkan seluruh isi perutnya, menyisakan hanya cairan kuning yang terasa amat pahit ketika melewati mulutnya.
Aisha kini sudah terduduk lemas di atas closet dengan menyandarkan tubuhnya di sana, air mata sudah lolos begitu saja dari kedua ujung netranya, ia tersedu-sedu menahan sakit yang bukan hanya berasal dari perutnya, melainkan juga dari hatinya yang terasa seperti dicabik-cabik saat melihat suaminya pulang dalam keadaan kacau.
Dihidupkannya air shower untuk mengelabui suara isaknya, di sana ia menangis sejadi-jadinya, meremas dadanya yang terasa amat sesak, meluapkan segala rasa sakitnya bersama air mata yang turut menderas.
Faris yang memang setengah sadar bukan tak mendengar sayup-sayup orang menangis dari dalam kamar mandi, tapi badannya terlalu lemah untuk sekedar menghampiri istrinya yang pastinya benar-benar kecewa dengan perbuatannya. Tubuhnya yang masih dibawah pengaruh alkohol membuat kesadarannya perlahan menghilang membawanya kembali ke alam mimpi dalam lelapnya.
Aisha keluar setelah merasa dirinya lebih tenang, ia bahkan sudah berganti dengan piyama tidur bersiap untuk membaringkan diri menemani suaminya.
Tiba-tiba saja perutnya kembali terasa mual saat sisa aroma alkohol menyapa indra penciumnya ketika ia hendak merebahkan diri di samping suaminya yang terlelap.
Alhasil Aisha memilih untuk memejamkan netranya di sofa yang terdapat di depan televisi kamar mereka, dari pada ia harus tidur di ranjang yang sama bersama Faris yang hanya membuat mualnya kembali meradang karena mencium sisa aroma minuman keras yang masih melekat, di sana ia merasa mualnya berangsur menghilang hingga ia bisa mengistirahatkan tubuhnya dengan tenang.
Flashback On
Hari sudah beranjak malam ketika acaranya dengan para kolega dari Ankara usai. Di café yang sengaja sudah di sewa itu pelayan semakin ramai berlalu lalang menghidangkan para tamu VIP mereka.
__ADS_1
Faris mulai gusar ketika minuman keras dengan berbagai macam sudah berjajar di atas meja, tidak mungkin ia turut menyesap minuman haram itu apalagi jika harus pulang dalam keadaan mabuk.
Alhasil Faris meminta salah satu pelayan untuk membawakannya soft drink agar ia tak perlu menyentuh minuman keras dihadapannya.
“Come on Mr. Faris, anggap ini salam penghormatan untuk proyek besar kita nanti.” Salah satu dari koleganya terus saja mendesak Faris sambil menyodorkan segelas minuman keras tanda untuk bersulang. Dan benar saja, melihat pada penghormatan, Faris menjadi sulit untuk menolak.
Ting … gelas-gelas saling beradu tanda mereka bersulang.
Faris yang hampir tidak pernah menyentuh minuman seperti itu merasakan desiran aneh pada tubuhnya, ia seakan melayang dengan hanya beberapa tegukan.
Bayangan-banyangan ketika adik sepupunya mengutarakan cintanya pada sang istri kembali berputar-putar di kepalanya, ditambah direct message dari Azka sang mantan semakin membuat darah Faris mendidih.
“Tuan, hentikan!” Roger yang selalu siaga langsung mengambil gelas yang entah ke berapa sudah Faris tenggak.
Faris tak menghiraukan ucapan ajudannya, tangannya mengepal menandakan amarahnya sudah di ubun-ubun. Karena gelas miliknya Roger ambil, maka ia kini justru beralih pada botol yang masih penuh dan langsung menenggak minuman itu dari tempatnya.
“Wooo … santai saja Tuan Faris, kami tak akan mengambil minumanmu.” Salah satu dari koleganya berujar saat melihat Faris tak terkendalikan.
“Tuan! Ingat Nyonya di rumah.” Roger kembali berbisik dan segera merampas paksa botol itu dari genggaman Tuannya.
Seketika wajah cantik istrinya berkelebat di kepalanya, ia memercing merasakan kepalanya berdenyut hebat.
Setelah memuntahkan isi perutnya, Faris menatap nanar ke arah kaca di depannya, Ia berpegangan pada sisi wastafel untuk menyangga tubuhnya yang terlalu lemah.
Flashback off
***
Aisha menggeliat ketika sayup-sayup suara adzan menggema di keheningan, punggungnya terasa sedikit nyeri karena posisi tidurnya yang kurang nyaman.
Dilihatnya suaminya yang masih terlelap sendiri di atas pembaringan, ia memilih untuk membersihkan diri terlebih dahulu lantas kemudian membangunkan suaminya.
“Bang … udah subuh, bangun dulu.” Aisha mencoba mengguncang-guncangkan tubuh Faris.
Faris menggeliat memegangi kepalanya yang terasa berdenyut karena sisa alkohol semalam.
“Abang bersihin badan dulu, ilangin bau alkoholnya Bang.” Aisha berujar sambil menyiapkan peralatan solat mereka tanpa menatap Faris.
__ADS_1
Faris yang masih setengah sadar hanya mengangguk lantas bangkit menuju kamar mandi.
“Ica tunggu buat berjamaah Bang,” ujar Aisha menghentikan langkah Faris.
Faris menoleh mendapati istrinya yang tengah mengenakan mukenanya, kenapa rasanya sakit sekali harus melihat raut kecewa itu di wajah istri cantiknya.
Hingga suara iqomah dari masjid berkumandang Faris baru keluar dari kamar mandi, Aisha sudah duduk menunduk di atas sajadahnya dengan satu sajadah lagi sudah terhampar di hadapannya.
Mereka melaksanakan solat subuh berjamaah dengan khusyuk seperti biasanya. Hingga acara solat selesai mereka tetap seperti rutinitas biasa mereka, Aisha mengecup punggung tangan suaminya dan Faris mengecup kening istrinya, hanya saja semua itu terasa sedikit menyesakkan karena mereka melakukannya tanpa saling berucap atau pun sekedar bersitatap.
“Maafin Abang, Ca.” Faris membuka percakapan.
Aisha yang tengah merapikan kembali mukenanya hanya menoleh.
“Kasih Ica penjelasan yang masuk akal atas perbuatan Abang semalem.”
“Maaf, Abang bener-bener hilang kendali semalem. Pikiran Abang kacau, Abang khilaf Ca.” Faris berujar dengan nada sesalnya.
“Tapi minuman bukan jawaban buat Abang lampiasin semuanya. Ica istri Abang, Abang boleh kapan pun berbagi semuanya sama Ica. Hati Ica sakit Bang liat Abang sekacau tadi malem, Ica ngerasa nggak ada gunanya sebagai istri.” Aisha berujar dengan nada parau matian-matian menahan sesaknya.
Hati Faris benar-benar sakit mendengar jawaban itu dari istrinya, ia segera bangkit dan merengkuh tubuh Aisha dengan erat.
“Nggak Sayang, nggak gitu. Semuanya nggak kayak yang Ica pikirin. Abang bener-bener minta maaf Sayang, Abang janji nggak akan ulangi lagi.” Faris berkata dengan suara yang tercekat sambil mengeratkan pelukannya.
Tapi rasa kecewa tak semudah itu sirna dari hati Aisha, ia bahkan tak membalas pelukan suaminya, ia hanya mematung merasakan tubuh suaminya yang bergetar dalam pelukannya.
“Minta maaflah sama Allah karena Abang udah berani menyentuh minuman haram itu.” Aisha melepaskan pelukan suaminya lalu memilih melangkah keluar dari kamar mereka.
“Abang tau Ica kecewa.”
“Inilah suamimu yang juga manusia biasa Ca, adakalanya Abang bisa khilaf kayak manusia yang lain ketika hati dan pikiran Abang benar-benar kacau.” Faris melanjutkan kalimatnya ketika dilihat Aisha menghentikan langkahnya. Namun sejurus kemudian istrinya itu kembali melanjutkan langkahnya tanpa menoleh kembali.
“Arghh ….” Faris terpekik dengan tangannya yang mengepal meninju udara. Ia ambruk bersandar di tepi ranjang menyesali perbuatannya.
***
Bersambung ...
__ADS_1
Terima kasih untuk yang selalu menantikan kelanjutan novel ini 🥰
Jangan lupa tinggalkan jejak berupa vote, like and coment sebanyak-banyaknya buat nyemangatin author ya readers tersayang ...