Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama

Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama
Jangan cengeng


__ADS_3

Aisha baru saja menyelesaikan sholat malamnya ketika sayup-sayup mendengar nada dering panggilan dari ponselnya. Ia coba mencari-cari ponsel itu, sejak kedatangannya sore tadi dengan sang suami di rumah ibunya, ia belum sempat memainkan atau sekedar mengecek ponselnya.


Belum sempat ia menemukan ponsel itu, dering panggilan lebih dulu terhenti. Namun tak menunggu lama ponselnya kembali berdering, ia dapatkan ponsel itu ternyata masih dalam sling bag-nya.


Aisha segera meraih ponselnya, barangkali suaminya hendak memberi kabar, pikirnya.


Namun seketika keningnya berkerut saat melihat layar ponselnya, pasalnya yang tertera dalam layar itu adalah nomor tak dikenal tanpa nama. Perlahan Aisha mulai menggeser tombol hijau dan menempelkannya ke telinga.


“Assalamualaikum.” Suara seseorang dari seberang membuat Aisha terdiam beberapa detik mengamati sang pemilik suara.


“Waalaikumsalam, mohon maaf dengan siapa ya?” tanya Aisha to the point.


“Aku Sofia, Sha.”


Deg, detak jantung Aisha seakan terhenti mendengar jawaban dari seberang, ia tahu akan kemana arah pembicaraan wanita itu.


Aisha mencoba menetralkan dirinya setenang mungkin, ia adalah istri sah Faris, jadi tak ada yang perlu ditakutkan.


“Sha?” seruan dari seberang membuyarkan konsentrasi Aisha.


“Ah iya Mba, ada apa yah tumben malem-malem nelpon aku?” tanya Aisha basa-basi.


“Kamu pasti tau apa tujuanku kan Sha? Kamu nggak mungkin lupa sama janji kamu di Rumah Sakit waktu itu.”


“Aku nggak lupa Mba, dan aku juga udah nemuin jawabannya.”


“Terus gimana? Kamu setuju kan? Aku tau kamu wanita yang baik Sha.” Nada bicara Sofia penuh harap, pasti di seberang sana matanya tengah berbinar.


“Mohon maaf Mba, bukan maksud saya menyakiti atau pun menyinggung perasaan Mba Sofi, tapi saya memutuskan untuk mempertahankan rumah tangga saya dengan Bang Faris.” Ada rasa lega saat akhirnya dirinya bisa mengatakan hal itu.


“Tunggu Sha! Aku nggak minta kamu buat ngakhirin rumah tangga kalian kok, aku cuma ingin meminta kemurahan hati kamu buat berbagi suami sama aku Sha. Kamu akan tetap jadi istri Faris, aku rela jadi madumu.”


Aisha berjalan ke arah balkon, mencoba mencari ketenangan dari bisikan angin malam.


“Mba, pernikahan itu ibadah, bukan ajang untuk memuaskan syahwat maupun adu gengsi. Cinta saja tidak cukup untuk mempertahankan sebuah hubungan dengan seseorang yang memang tak mau diperjuangkan. Aku paham apa yang Mba Sofi inginkan, tapi aku juga tidak bisa berbuat banyak ketika Bang Faris sendiri tidak berkenan,” ujar Aisha tetap tenang penuh kelembutan.


“Sha aku tau Faris sangat mencintai kamu, karena itu cobalah bujuk Faris buat jadiin aku madu kamu, Faris pasti bakal ngikutin jika itu kemauan kamu.” Sofia tetap tidak menyerah, bahkan ia tak segan-segan untuk menunjukkan keinginannya terang-terangan.


“Kami memang saling mencintai, tapi bukan berarti cinta membuat kami untuk saling membodohi. Aku nggak mau munafik dengan bilang kalo aku baik-baik aja Mba, jujur aku sendiri nggak ikhlas jika ada orang lain turut hadir dalam rumah tangga kami.” Melihat keberanian Sofia, Aisha pun memilih lebih tegas dengan keputusannya.

__ADS_1


“Kamu nggak kasihan sama aku Sha? Aku benar-benar mencintai Faris, aku mohon berbagilah denganku. Kamu kan sudah sering merasakan kebahagiaan bersama Faris, apa itu belum cukup? Kamu jangan egois Sha!” terdengar nada suara Sofia meninggi.


Hati Aisha remuk mendengar itu, tangannya mengepal menahan amarah, bahkan netranya mulai memanas. Tapi Aisha tidak ingin terlihat cengeng, apalagi menunjukkan kesedihannya di hadapan wanita yang jelas-jelas tengah mengiba meminta suaminya.


Aisha mencoba tetap tenang, bahkan suaranya masih selembut kapas, berusaha untuk tidak mengeluarkan nada tinggi , khawatir jika ibunya mendengar percakapan mereka.


“Mba bilang egois? Aku ini istri sahnya Bang Faris Mba, aku berhak berjuang untuk mempertahankan keutuhan rumah tanggaku. Maaf Mba, apa yang menjadi milikku aku nggak ingin berbagi apalagi terbagi. Jadi tolong menyerahlah, kami sudah cukup bahagia dengan keluarga kecil kami. Assalamualaikum.”


“Sha! Tunggu! Denger….”


Klik! Aisha segera menutup teleponnya tanpa ingin mendengar apapun lagi dari Sofia.


Aisha memejamkan netranya cukup lama, menikmati sapuan angin malam yang menerpa wajahnya, membawa percikan-percikan bara yang tengah menguasai hatinya. Kenapa rasanya sesakit ini ketika ada wanita lain yang terang-terangan meminta suaminya, ia tak tahu apa jadinya jika hal itu benar-benar terjadi dalam rumah tangganya. Ia paham bahwa dirinya hanya wanita biasa, ia belum bisa semulia Sayyidah Aisyah.


***


“Let’s go! Kita mulai dari Bosphorus,” seru Ayla menyerahkan kemudi pada Gus Hasan.


“Kita naik Feri ok?” tanya Ayla di tengah perjalanan mereka.


“Ok, karena sekarang kamu tour guide aku,” jawab Gus Hasan tetap fokus pada jalanan yang cukup licin oleh salju yang bertebaran.


Mereka sepakat untuk menyusuri Bosphorus menggunakan kapal Feri, menikmatinya dari atas perairan biru. Gus Hasan memilih tur pendek yang hanya sekitar dua jam karena ia harus melaksanakan solat jum’at. Mengikuti tur pendek seharga 10 lira, mereka akan berlayar dari Eminonu hingga jembatan di Rumeli Hisari lalu kembali lagi.


Perlahan hiruk pikuk kota Istanbul segera sirna ketika Feri mulai meninggalkan pelabuhan. Sebagai gantinya, burung camar menjerit-jerit menemani perjalanan mereka.


Baik Gus Hasan maupun Ayla, keduanya tetap memilih untuk menikmati Bosphorus dari atas dek meskipun hawa dingin menyelusup pori-pori. Mereka hanya saling mengeratkan mantel masing-masing menikmati angin laut yang berembus kencang dan aroma salju yang menyeruak ke penciuman tanpa berniat untuk masuk ke dek bawah yang tertutup.


Hingga seperempat perjalanan keduanya masih betah dengan diamnya, menikmati ubur-ubur yang berenang dalam gerombolan ataupun sesekali lumba-lumba menari ke permukaan.


Dari tempatnya berdiri, keduanya bisa melihat perbukitan Istanbul yang berubah menjadi pemukiman bagi 15 juta penduduk. Minaret masjid juga menjulang di sana sini.


“Kamu kan lebih dulu di Istanbul, coba ceritakan tentang Bosphorus.” Suara bariton itu membuat Ayla menoleh.


Ayla tersenyum kecil menatap Gus Hasan yang berseru padanya tanpa menoleh. Dilihat dari samping, lekuk wajah Gus Hasan benar-benar terlukis sempurna pada wajah dingin itu.


“Kota ini kuat karena Bosphorus, saat Istanbul mengalami kemiskinan, kekalahan, dan kemunduran, Bosphorus tetap hidup dalam kebahagiaan.” Gus Hasan menoleh, cukup penasaran dengan kelajutan kalimat Ayla.


“Orang Turki menyebut Bosphorus dengan Bogaz, yang berarti nadi kehidupan kota. Ia berada di antara dua lautan, yaitu Laut Tengah dan Laut Hitam. Setiap hari jutaan orang menyeberanginya. Bosphorus tak hanya dikenal dengan kecantikannya, namun juga sebagai lokasi strategis untuk membangun istana, benteng, dan rumah musim panas.”

__ADS_1


“Kayaknya kamu bener-bener udah paham tentang Istanbul yah?” kali ini Gus Hasan bertanya dengan menatap ke arah Ayla.


“Lumayan, dulu kakakku sering bawa aku menyusuri Istanbul sambil bercerita tentang kota cantik ini,” jawabnya mencoba mengingat kenangan-kenangannya bersama sang kakak.


“Itu kamu punya kakak, seharusnya kamu nggak merasa sendiri saat orang tua kamu sibuk dengan pekerjaannya.”


“Itu dulu, waktu kita masih tinggal bareng. Sekarang kakakku memilih hidup mandiri di apartementnya, itu membuatnya cukup sibuk untuk menemaniku ataupun sekedar bertemu.”


Gus Hasan hanya manggut-manggut mendengarkan, bukan sifatnya untuk ikut campur terlalu dalam ke kehidupan orang lain.


***


“Maaf Mba, sampe kapan pun aku nggak akan pernah ngerubah keputusan aku,” seloroh Aisha menempelkan ponsel di telinganya.


“Sayang?”


Aisha membulatkan netranya saat mendengar jawaban dari seberang dan melihat siapa yang ternyata memanggilnya. Ia kira Sofia kembali menerornya dengan panggilan-panggilan yang membuatnya risih.


“Sayang? Kenapa?” tanya Faris cemas saat mendengar penuturan istrinya.


“Ah em nggak apa-apa kok Bang,” jawabnya tergugup.


“Ica, Sayang, bilang sama Abang. Ada apa?”


“Em tadi Mba Sofi beberapa kali nelponin Ica Bang, tapi nggak apa-apa kok, Ica bisa ngatasinnya.”


“Sofi? Kok bisa tau kontak Ica? Tunggu! Abang pulang sekarang.” Terdengar nada panik dari seberang, Faris paham betul seperti apa usaha seorang Sofia untuk mendapatkan keinginannya.


“Nggak usah Abang, Ica baik-baik aja kok. Abang selesain dulu disitu, baru pulang.”


“Nggak bisa Sayang, Abang harus pulang sekarang. Udah selesai juga kok, sisanya bisa perawat yang handel. Abang pulang sekarang yah, Assalamualaikum.”


“Ya udah terserah Abang, hati-hati ya. Waalaikumsalam,” jawabnya menutup sambungan telepon.


Ada lengkung indah yang terukir dari sudut bibir Aisha saat ternyata suaminya begitu mencemaskannya, padahal ia sendiri merasa baik-baik saja.


***


Bersambung ...

__ADS_1


Jangan lupa vote, like, and coment sebanyak-banyaknya buat nyemangatin author ya readers tersayang ...


__ADS_2