
“Abang langsung minta sama ibu dong, terus langsung konfirmasi sama Pakde juga,” tutur Faris bergaya narsis.
“Terus gimana kata ibu?” tanya Aisha semakin antusias.
“Emmm...,” tutur Faris tampak berpikir menggoda Aisha.
“Abang ih curang, udah menang banyak juga,” tutur Aisha memberengutkan bibirnya.
“Awas loh kalo berani monyongin bibirnya kayak gitu depan cowo lain.”
“Kenapa?”
“Abang cium nanti,” jawab Faris memajukan wajahnya, namun segera dihentikan oleh Aisha.
“Cepetan Abang ih ....”
“Iya humairaku,” jawab Faris mencubit pipi Aisha gemas, yang sontak membuat sangat empunya semakin kesal tapi justru menambah kesan bagi Faris.
Flashback on
“Bu ….”
“Kenapa?” tanya Maya bingung dengan perubahan raut Faris.
“Ada yang ingin Faris bicarakan serius sama ibu.”
“Apa tentang Aisha?” Faris hanya mengangguk dan tersenyum.
“Faris ingin melamar Aisha bu,” tutur Faris yang sontak membuat Maya terkejut, tapi kemudian tergantikan dengan senyuman.
“Sebagai orang tua, ibu tentunya hanya ingin yang terbaik untuk Aisha. Nak Faris sendiri sudah menyaksikan sendiri bagaimana lika-liku kehidupan Aisha selama ini, dan kalian juga tentunya sudah saling mengenal satu sama lain. Apa nak Faris yakin dengan pernyataan nak Faris saat ini?”
“Faris sudah menunggu saat ini untuk waktu yang lama bu. Untuk mengatakan ini, Faris butuh banyak waktu. Mempertimbangkan segala hal yang mungkin terjadi. Bermunajat pada Tuhan untuk menentukan pilihan yang paling tepat. Berkali-kali Faris bertanya pada hati Faris sendiri. Sudah tepatkah pilihan Faris? Dan berkali-kali pula jawabannya tetap sama, yaitu Aisha.“
“Karena ini menyangkut hidup Aisha, maka semua pilihan ada di tangannya. Tapi sebagai orang tua, jika nak Faris memang benar berniat mempersunting Aisha, maka ibu terima dengan senang hati niatan nak Faris.”
Seketika wajha Faris berbinar mendengar jawaban Maya.
“Alhamdulillah ... mungkin untuk lamaran yang selanjutnya supaya resmi, keluarga Faris yang akan menyampaikannya langsung kepada Aisha bu.”
“Apa nak Faris sudah tahu dimana Aisha berada?”
Lagi-lagi Faris tersenyum mendengar pertanyaan Maya.
__ADS_1
“Kebetulan pesantren tempat Aisha mondok sekarang adalah pesantren milik Pakde dan Bukde Faris di Yogyakarta bu, Faris baru saja mengetahui bahwa Aisha di sana waktu kemaren nggak sengaja lagi silaturahmi ke pesantren.”
“Masya Allah ... jadi Kyai Safar dan Nyai Hamidah adalah Pakde dan Bukdemu nak?”
“Benar bu, mereka satu-satunya keluarga yang Faris miliki saat ini bu.”
“Mungkin ini yang namanya Qodarullah,” tutur Maya yang disetujui oleh Faris.
Flashback off
Faris bangkit dari tidurnya, menatap lekat manik mata Aisha yang sudah membulat tak percaya.
“Aku di sini bukan untuk diriku sendiri. Aku di sini karena ketakutanku pada Tuhan. Seraya menjalankan titah Tuhan, hanya berharap tergolong dalam naungan sang Baginda Rasul dengan menjalankan sunnah-Nya. Aku di sini bukanlah untuk diriku sendiri, melainkan untuk dirimu, yang sejak hari itu akan menjadi prioritas dalam hidupku setelah Tuhan dan Nabi. Aku ingin kau menjadi perhiasan terindahku, yang selalu Bersama mengarungi titian menuju surga, menggapai ridho-Nya. Izinkan aku dengan segala perasaan yang dititipkan Tuhan ini membuat pengakuan. Sudah sejak lama diri ini menyimpan rasa suka, tapi bukan aku tidak ingin memilikimu, aku hanya ingin menjagamu hingga halal bagiku menyentuhmu. Dan malam ini, aku ingin mengatakan dengan segenap kerinduanku. Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, terima kasih telah bersedia menjadi pendamping hidupku.”
Aisha yang mendengar penuturan Faris sudah lebih dulu menitikan bulir beningnya, entah keberanian dari mana, tiba-tiba Aisha menghambur memeluk Faris. Pelukan yang terasa berbeda dari sebelumnya.
“Terima kasih sudah mencintaiku setulus itu,” tutur Aisha di sela isakannya dalam pelukan Faris.
“Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, aku Aisha Ameera Al-Insani, seumur hidupku hanya akan mencintai suamiku, Faris Zein Abdullah.”
Faris yang mendengar pengakuan Aisha tersenyum haru lalu kembali menenggelamkan Aisha ke dalam pelukannya.
***
Merasa malu akan sikapnya tadi, Karina tak langsung duduk bergabung dengan Azka. ia masih mematung memandangi punggung Azka yang tengah menyantap makanannya.
“Makan!” tutur Azka mengetahui bahwa sedang ada yang menatapnya diam-diam.
Karina yang merasa ketahuan sedang memandangi Azka sontak membiasakan sikapnya.
“Aku ke sini buat ngurusin keperluan Rafa, bukan buat nemenin kamu makan.”
“Saya nggak minta kamu buat nemenin saya makan, saya cuma mencoba menjadi atasan yang baik. Terserah kalo kamu mau bawa makanannya ke kamar Rafa juga,” jawab Azka kembali menyantap makanannya.
Karina hanya berdecak sebal menanggapi penuturan Azka, lalu ikut bergabung di meja makan menyantap makanannya.
Hening, tak ada percakapan selama makan malam mereka, hanya bunyi sendok berdentingan dengan piring yang seakan mewakili perasaan mereka masing-masing.
Karina lebih dulu menghabiskan makanannya, selain karena memang porsinya yang jauh lebih
sedikit dari Azka, juga karena dirinya masih merasa sebal dengan sikap Azka yang terkadang selalu labil. Kadang ramah, kadang perhatian, tapi lebih banyak mode dingin dan cueknya.
Sedangkan Azka memilih kembali berkutat dengan laptop di ruang kerjanya setelah menghabiskan makanannya.
__ADS_1
***
“Aisha adalah kenangan yang mungkin akan selalu tinggal dalam hatiku. Bahkan jauh sebelum Mas Faris memilikinya, rasa ini sudah hadir dengan sendirinya. Aku sudah mencoba melupakannya berkali-kali, aku sendiri tak mengerti pada hati. Mungkin dengan cara ini, dengan aku pergi lebih jauh darinya maka setidaknya hatiku akan baik-baik saja karena tak melihat dia bersamanya.”
Hasan menyeka ujung matanya, mengambil ponsel yang beberapa hari ini tergeletak di atas nakas, membuka ikon galeri lalu menekan tanda ‘hapus' pada gambar yang menampilkan wajah Aisha dengan senyum manisnya.
Ya Hasan memang diam-diam pernah mengambil gambar Aisha, ketika Aisha tengah bermain dengan Gus Fakih dengan riangnya.
Cinta tidak bisa memilih
Ketika kita suka dengan orang, apakah kita berdosa?
Tidak!
Karena rasa itu ada tumbuh di dalam hati
Cinta kepada anak gadis orang belum menikah, kita bisa nikahi dia
Yang jadi masalah kalau cinta sama istri orang
Oleh sebab itu rasa itu mesti dibuang
Karena dia adalah bagian dari ujian
Ujian jangan dipeturutkan
Tekanlah dia!
Jangan dipeturutkan, itulah nilai jihad
Bukan jihad berdarah-darah melawan penjajah
Tapi jihad melawan hawa nafsu yang justru jauh lebih besar
Sebuah tausiah dari salah satu Kyai di pondoknya yang selalu diingat Gus Hasan, ketika ada seorang santri yang menyeletuk menanyakan sesuatu yang konyol menurut Gus Hasan waktu itu, nyatanya kini malah ia yang mengalaminya.
“Mungkin inilah jihadku, mencoba untuk melupakan kamu.”
***
Bersambung ...
Jangan lupa vote, like, and coment buat nyemangatin author ya readers tersayang ...
__ADS_1