Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama

Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama
Siapa mereka


__ADS_3

Ica perempuan Bang! Ica bisa ngerasain perilaku dan tatapan Sofia ke Abang itu beda. Padahal Abang dateng sama istri sah Abang, tapi dia berani kayak gitu. Gimana kalo nggak ada Ica?” Mata Aisha mulai memanas, bahkan parit mulai terbentuk dari ujungnya.


Faris segera meraih Aisha ke dalam dekapannya, ia bisa merasakan punggung itu bergetar karena isakan. Ia terus mengusap-usap punggung istrinya untuk menyalurkan ketenangan.


Setelah merasa cukup tenang, Faris merenggangkan dekapannya, meraih kedua bahu Aisha dan mendongakan dagunya lembut.


“Ica, Sayang, nggak ada yang perlu Ica tangisi. Yang perlu Ica tau, sampai kapan pun nggak akan ada yang bisa gantiin posisi Ica dalam hati Abang, karena Ica udah berhasil memiliki separuh hidup ini. Dan Ica harus ingat bahwa nggak ada apapun yang bisa merubah perasaan Abang buat Ica,” tutur Faris mengusap lembut air mata yang masih menganak sungai di pelupuk mata Aisha.


“Dan Abang mohon, tetaplah bersama Abang. Apapun yang terjadi nanti, kita lewati semuanya sama-sama ya,” imbuh Faris kembali mengeratkan pelukannya.


“Maafin Ica ya Bang,” ucap Aisha membalas pelukan sang suami. Untung saja sejak tadi di lorong itu sepi.


“Nggak apa-apa, Abang suka. Tandanya Ica sayang sama Abang,” goda Faris mencuri kecupan pada puncak kepala istrinya.


“Sekarang kita pulang ya, udah malem,” tutur Faris merapikan jilbab Aisha.


“Loh? Terus nggak jadi ke kantor polisi?” Aisha mendongak, masih dalam dekapan Faris.


“Sayang, jam berapa ini? Abang nggak mau Ica kecapean. Besok sebelum ke Rumah Sakit, Abang ke kantor polisi dulu deh.”


“Ica ikut ya?” ucap Aisha penuh harap.


“Yakin Ica nggak mau di rumah aja?” tanya Faris cemas.


“Yakin Abang,” jawab Aisha mencubit ujung hidung suaminya yang menjulang.


“Ya udah, yuk pulang!” ujar Faris menautkan jemarinya dengan sang istri.


Sampai di luar Rumah Sakit, Faris justru menghentikan taksi yang melintas.


“Kita kan bawa motor Bang?” tanya Aisha celingukan.


“Angin malem nggak bagus buat calon mamah muda,” bisik Faris sontak membuat wajah Aisha bersemu merah.


“Em terus motornya?”


“Nanti biar orang rumah yang suruh ambil,” tutur Faris segera membukakan pintu taksi untuk wanitanya.


***


“Pulanglah, sudah larut,” ujar Gus Hasan pada Ayla yang masih termenung dalam duduknya.


“Boleh pinjam ponselmu?” tanya Ayla menengadahkan tangannya.


Gus Hasan merogoh benda pipih itu dari balik saku kemejanya lalu menyerahkannya pada Ayla. Jemari Ayla langsung menari-nari di atas papan ketikan, menulis sesuatu di sana dan seketika ponselnya sendiri berdering. Ternyata ia bertukar nomor ponsel dengan milik Gus Hasan.


“Nanti kalo jaketnya udah bersih langsung aku anterin,” ujar Ayla menyerahkan kembali ponsel Gus Hasan.


“Nggak usah, buat kamu aja.”


Ayla hanya tersenyum miring mendengarnya.


“Jangan terlalu baik sama perempuan lain, nanti kekasihmu cemburu.”


Gus Hasan sontak terkejut dengan penuturan Ayla, ia lupa jika wallpaper ponselnya masih gambar Aisha yang pernah diam-diam ia ambil ketika tengah bermain dengan Gus Fakih di pesantren dulu, ketika Aisha belum menjadi istri dari kaka sepupunya.


“Beruntung sekali wanita dengan senyum manis itu,” imbuh Ayla, ada sesak dalam setiap kalimatnya.

__ADS_1


“Boleh aku sedikit cerita? Hidupku tak sebaik yang kamu lihat, setelah itu kamu bisa menilai aku seperti apa,” tutur Gus Hasan membuat Ayla menoleh.


“Aku memang mencintainya, bahkan sampai sekarang masih mencintainya. Tapi dia bukan kekasihku, dia istri dari kaka sepupuku. Itulah alasan mengapa aku berada di sini sekarang,” tutur Gus Hasan membuat Ayla melotot ke arahnya.


“Apa maksudmu? Nggak mungkin kamu nggak paham hukumnya mencintai istri orang kan? Apalagi istri saudaramu sendiri,” ujar Ayla tak kuasa menahan keterkejutannya.


Gus Hasan tersenyum mendengar penuturan Ayla, membuat Ayla merasa bersalah.


“Emm, maaf,” ucap Ayla ragu, ia takut menyinggung perasaan Gus Hasan.


“Itu membuktikan jika aku juga hanya manusia biasa, adakalanya aku belum bisa mengendalikan nafsuku sendiri.” Gus hasan menatap lurus air yang tenang di bawah sana, memejamkan matanya untuk sedikit mengurangi sesak yang tercipta.


“Aku sudah mencintainya jauh sebelum aku tahu jika dia dan kaka sepupuku saling mencintai, apalah daya, cinta datang tanpa tau tempat dan keadaan. Aku sudah berusaha melupakannya, bahkan jauh sebelum aku memutuskan untuk melarikan diri ke sini. Tapi nyatanya rasa itu semakin kuat, hingga aku hampir putus asa karenanya,” lanjut Gus Hasan berhasil membuat Ayla semakin terkejut.


“Maaf, aku nggak tau hidupmu serumit itu. Semoga Allah segera mempertemukanmu dengan


wanita yang benar-benar mencitaimu, kamu pasti bisa melupakannya,” tutur Ayla iba.


“Adakalanya menasehati orang lain itu mudah, tapi bagi yang menjalani tak akan semudah membalikan telapak tangan.”


Benar yang dikatakan Gus Hasan, mungkin tadi ia terlihat sangat bijak ketika menasehati masalah kehidupan Ayla, nyatanya hidupnya sendiri belum bisa ia kendalikan.


'Al Insaanu mahalul Khatha' wan Nisyaan' Manusia memang tempatnya salah dan lupa.


***


Setibanya di rumah, Faris segera merebahkan tubuhnya di atas kasur yang berukuran king size di kamarnya, diikuti juga oleh Aisha yang menjatuhkan diri di samping suaminya.


“Sayang,” ucap Faris membuat Aisha menoleh,


“Hmmm,” sahut Aisha memiringkan tubuhnya sehingga kini mereka benar-benar berhadapan.


“Abang ….” Aisha mendorong pelan dada Faris untuk menyudahi penyatuan bibir mereka.


“Emm, Ica mandi dulu ya Bang. Lengket semua nih rasanya, bau keringet,” tutur Aisha mencium aroma tubuhnya sendiri.


“Biarin aja sih Sayang, mau mandi atau nggak, Ica tetep menggoda buat Abang,” bisik Faris yang justru semakin gencar menyusuri setiap jengkal leher mulus Aisha dengan sapuan lembut bibirnya.


Lagi-lagi Aisha menggeliat, kedua tangannya menahan dada Faris.


“Abang, mandi dulu ya. Liat tuh baju Abang juga pada kotor abis turun ke jurang tadi,” tutur Aisha segera mendudukan dirinya di tepi ranjang. Tanpa menunggu jawaban dari suaminya, Aisha segera berlari masuk ke kamar mandi. Meninggalkan Faris dengan hasrat yang masih membara.


“Untung sayang,” gerutu Faris mendudukan dirinya, menatap pintu kamar mandi yang terasa sangat lama tak kunjung terbuka.


Dua puluh menit akhirnya pintu kamar mandi terbuka, menampilkan Aisha yang terlihat sangat mempesona dengan kimono putihnya dan rambut yang tergerai karena basah.


Faris hanya bisa menelan salivanya saat Aisha berjalan mendekat ke arahnya.


“Abang, mandi dulu gih. Udah Ica siapin air hangatnya,” tutur Aisha mendudukan dirinya di depan meja rias untuk mengeringkan rambutnya.


“Hah, I-iya Abang mandi dulu,” tutur Faris segera menghilang di balik pintu kamar mandi.


Saat selesai dengan ritual mandinya, Faris bergegas keluar. Ia menggelengkan kepala saat melihat Aisha yang ternyata sudah tertidur di tepi ranjang dan masih mengenakan kimono putihnya.


Faris menghampirinya, menangkup wajah ayu itu dengan kedua tangannya dan mengecup kening Aisha cukup lama. Membuat Aisha mengerjapkan matanya.


“Eh maaf, kebangun ya,” tutur Faris merasa bersalah karena telah mengusik tidur manis istrinya.

__ADS_1


Tanpa Faris duga, Aisha justru mengalungkan kedua tangannya pada leher Faris dan memberikan ciuman pada bibirnya, semakin lama ciuman itu berubah menjadi pagutan.


Faris tentu tak mau menyia-nyiakan kesempatan itu, ia menahan tengkuk Aisha untuk memperdalam ciumannya dan menikmati setiap sesapan lembut dari bibir yang selalu menjadi candunya.


Aisha melepaskan pagutannya, memberikan kesempatan pada suaminya untuk lebih menjelajah setiap inci dari tubuhnya.


Sesapan demi sesapan Faris berikan hingga menciptakan bercak merah memenuhi bagian tubuh atas Aisha, membuat desahan dan getaran dari sang empunya yang membuat gejolak dalam tubuh Faris kian membara.


“Sayang,” desah Aisha mencengkeram erat pundak Faris saat merasakan geli pada sekujur tubuhnya.


Faris sontak semakin membara mendengarnya, tangannya kini mulai bergerilya melepaskan semua tabir yang menutupi setiap keindahan dari tubuh istrinya, mencecap setiap lekuk indah yang tercipta di sana dan penyatuan itu akhirnya terjadi, hingga lenguhan panjang menandakan berakhirnya ibadah panas mereka malam ini.


“Abang sayang banget sama Ica,” ucap Faris dengan suara seraknya seraya menyeka keringat yang bercucuran pada dahi mulus di bawahnya.


“Jangan pernah tinggalin Ica ya Bang,” ujar Aisha memeluk erat tubuh suaminya dan melesakan kepalanya pada dada bidang yang selama ini menjadi pelindungnya.


“Abang janji Sayang,” jawab Faris berakhir dengan kecupan lembut pada puncak kepala Aisha.


Aisha hanya tersenyum dan mengedipkan matanya, ia terlihat masih mengatur napasnya. Faris menarik selimut hingga menutupi keduanya, dan melingkarkan lengan kekarnya pada perut sang istri untuk segera menuju ke alam mimpi bersama-sama.


***


Pagi-pagi sekali bahkan untuk sebagian orang mungkin masih terlelap di bawah selimutnya, sang surya juga terlihat baru beranjak dari peraduannya,  tapi Faris dan Aisha justru sudah bergegas menuju ke kantor polisi. Selain untuk menghindari kemacetan jalanan Surabaya, menurut keduanya memang lebih cepat akan lebih baik.


Faris melajukan mobilnya dengan tenang membelah jalanan yang masih cukup lengang, menikmati sejuknya udara pagi yang belum dipadati oleh asap-asap kendaraan.


“Bang, kayaknya mobil di belakang dari tadi ngikutin kita terus deh,” tutur Aisha menengok.


“Masa sih Sayang? Sejak kapan?” sahut Faris melirik sekilas ke arah spion.


“Sejak kita masuk jalan raya,” ucap Aisha terlihat panik.


Faris terkejut, apa benar mobil di belakangnya mengikuti mereka? Tapi untuk apa? Ia merasa tak pernah memiliki musuh atau pun mengusik kehidupan orang lain.


Tapi Faris berusaha untuk tetap tenang, ia tak mau Aisha panik.


Tiba-tiba ketika mobil Faris mulai menyeberangi jembatan, sebuah Alphard hitam menghadang jalan mereka, membuat Faris seketika harus menginjak rem kuat-kuat.


“Aduh,” rintih Aisha memegangi kepalanya yang terbentur dashboard mobil karena Faris yang berhenti tiba-tiba.


“Maaf Sayang, mana yang sakit?” ujar Faris segera melepas sabuk pengaman dan memastikan keadaan Aisha.


Aisha tak menjawab, ia terlihat sangat shock. Faris segera meraih istrinya ke dalam pelukannya.


“Maaf ya Sayang,” tutur Faris berulang-ulang mengecup kening yang terlihat memar itu.


Tiba-tiba Aisha membulatkan netranya, tubuhnya menegang dalam pelukan suaminya, membuat Faris perlahan melepaskan pelukannya.


“Abang!” panggil Aisha saat melihat mobil mereka telah dikepung.


Faris terlihat menghela napas panjang, mencoba untuk tetap tenang agar Aisha juga tak ikut panik. Otaknya berpikir keras, terlihat dari jarinya yang mengetuk-ngetuk stir mobil.


Baginya tidak masalah jika memang ia harus terluka, asalkan Aisha baik-baik saja.


***


Bersambung ...

__ADS_1


Jangan lupa vote, like, and coment buat nyemangatin author ya readers tersayang ….


__ADS_2