
Happy reading ...
Jadikan al-qur'an sebagai bacaan utama:)
Jangan lupa like dan coment biar author update ya lagi gaesss:)
______________
Masih seperti hari-hari sebelumnya, kondisi Aisha bisa dikatakan masih cukup lemah karena ia berkali-kali kembali muntah ketika makanan mencoba masuk ke dalam lambungnya. Karena kelelahan, Aisha sampai tertidur dengan nyenyaknya. Akhir-akhir ini ia memang merasa jam tidurnya tidak benar karena berulang kali harus terjaga saat rasa mual menyapa.
Faris menunduk menatap wajah istrinya yang sejak tadi terlelap hingga beberapa saat mata Aisha mengerjap dan terbuka.
Melihat wajah tampan suaminya saat ia membuka mata membuat Aisha tersenyum lega karena mendapati sang suami yang masih berada di sana. Khawatir apa yang dimimpikannya baru saja benar terjadi.
“Ica mau minum?” tanya Faris mendekatkan wajahnya, jemarinya langsung membelai lembut puncak kepala Aisha.
Aishamengangguk, membuat Faris sedikit menjauh untuk mengambil segelas air yang sudah tersedia di atas nakas di samping pembaringan.
“Ica belum solat isya, Bang. Jam berapa sekarang?” tanyanya lirih sambil berusaha bangkit.
“Jam delapan, Sayang,” sahut Faris yang langsung membantu Aisha untuk bangkit. “Ica bisa ambil wudhu sendiri?” tanya Faris khawatir.
Aisha mengangguk pelan.
“Abang gendong aja ya.” Faris segera menyibak selimutnya dan bersiap untuk membopong sang istri.
“Ica bisa kok, Bang. Abang tunggu di sini aja, Ica pengen pipis juga.”
“Lah emang kenapa kalo Ica pengen pipis? Justru itu Abang takut Ica masih lemes, jadi Abang mau bantu,” selorohnya dengan wajah polos yang justru membuat Aisha gemas sendiri.
“Nggak usah, Abang. Ica bisa kok pipis sendiri. Dah,” ujarnya segera melangkah setelah lebih dulu meninggalkan kecupan di wajah sang suami yang seketika mematung di atas pembaringan.
Masih dalam lamunannya ketika tiba-tiba ponsel milik Faris berdering menyadarkannya.
“Mba Sabina?” gumamnya saat melihat nama yang tertera.
[Halo Assalamualaikum, Mbak.]
[Waalaikumsalam, Faris. Maaf yah Mbak ganggu malem-malem gini.]
[Nggak sama sekali kok, Mbak. Tumben Mbak Sabina nelpon Faris, pasti ada sesuatu nih?]
[Mbak mau nanya, kamu masih di Turki, Ris? Di Ankara atau di Istanbul? Mbak denger dari Umi katanya kamu pamit ke Ankara waktu itu.]
__ADS_1
[Iya maaf ya Mbak waktu itu Faris nggak bisa pamit langsung sama Mbak. Ini Faris lagi di Istanbul, Mbak. Kebetulan proyek di Ankara Faris minta Roger yang nanganin buat sementara.]
[Kebetulan kalo gitu. Mbak boleh minta tolong, Ris?]
[Boleh dong Mbak, mau minta tolong apa?]
[Mbak boleh minta tolong kamu jemput Mbak sama Fakih di Bandara? Tadi sudah Mbak coba hubungi adikmu tapi kayaknya dia masih ada kuliah, nggak di angkat-angkat soalnya telepon dari Mbak.]
[Wah serius Mbak ada di Istanbul juga? Kok baru ngabarin sih, Mbak? Tau gitu kan Faris siap-siap.]
[Mbak emang dadakan banget sih ini, nggak sempet ngabarin jadinya.]
[Oh, tapi maaf Faris nggak bisa jemput Mbak langsung ya. Aisha lagi kurang sehat soalnya, Faris khawatir kalo ninggalin dia sendiri. Nggak apa-apa kan kalo Mbak dijemput sama Roger?]
[Innalillahi, sakit apa Aisha? Iya Mbak nggak apa-apa kok dijemput Roger. Kamu jagain Aisha saja]
[Bukan sakit sih Mbak sebenernya. Aisha cuma lagi muntah-muntah terus, soalnya alhamdulillah lagi isi.]
[MasyaAllah… barokalloh ya, akhirnya kalian akan segera jadi orang tua] Tampak sekali dari suaranya Ning Sabina sangat berbinar di sana.
[Alhamdulillah, makasih Mbak. Kalo gitu sekarang juga Faris minta Roger buat jemput Mbak ke sana. Mbak tunggu ya.]
[Oke, makasih ya Ris. Maaf Mbak ganggu malem-malem]
Terdengar kekehan dari sebrang sebelum akhirnya sambungan telepon di putus oleh keduanya.
Selesai dengan teleponnya bersama Ning Sabina, Faris kembali menekan nomor di kontak ponselnya, nomor milik Roger tentunya untuk memintanya menjemput saudara sepersusuannya yang sudah menunggu di Ataturk International Airport.
“Siapa Bang malem-malem minta jemput di Bandara?” tanya Aisha yang baru keluar dari kamar mandi, ia sempat mendengar ujung pembicaraan suaminya di telepon baru saja.
“Mbak Sabina, Sayang. Tadi ngabarin kalo dia sama Fakih baru sampe di Isanbul. Ngehubungin Hasan katanya nggak ada jawaban, mungkin masih ada kelas.”
“Loh kok nggak ngabarin sebelumnya, Bang? Tau Ning Sabina mau ke sini kan kita bisa siap-siap,” ujarnya seraya meraih mukena yang sudah Faris siapkan lengkap dengan sajadahnya. Sambil menerima teleponnya, Faris memang menyempatkan menyiapkan alat solat untuk istrinya.
“Abang juga bilang gitu tadi. Tapi katanya Mbak Sabina juga dadakan, makanya nggak sempet ngabarin dulu.”
Aisha hanya manggut-manggut lalu bersiap di atas sajadahnya.
“Bang,” panggil Aisha menoleh sebelum memulai takbiratul ihramnya.
“Kenapa, Sayang?” tanya Faris yang justru khawatir istrinya kembali mual.
“Makasih ya,” ucap Aisha lembut.
__ADS_1
Sontak Faris mengernyitkan dahinya mendengar itu, “Untuk?” tanyanya.
“Udah nyiapin alat solat buat Ica,” ujarnya lagi, kali ini disertai senyuman yang semakin membuat Faris terpesona.
Sontak Faris pun mengurai senyumnya, “Kirain kenapa, Sayang.”
Aisha hanya tersenyum sebelum akhirnya benar-benar memulai solatnya.
Itulah salah satu sisi yang membuat Faris selalu jatuh cinta berkali-kali dengan istrinya. Untuk hal sekecil apapun Aisha selalu mengucapkan terima kasih, bahkan untuk sesuatu yang mungkin orang lain anggap sepele.
Selesai dengan solat, dzikir juga lengkap dengan doanya, Aisha menghampiri suaminya yang masih setia menunggu di atas pembaringan dengan sebuah buku dalam genggamannya.
“Baca apa, Bang?” tanya Aisha seraya merebahkan diri di dada Faris, masih dalam balutan mukenanya.
“Bukan apa-apa, cuma pengetahuan seputar ibu hamil,” sahutnya langsung menyambut kedatangan sang istri.
Jemari kekar Faris sontak melingkar di pinggang istrinya seraya mengelus perutnya yang masih rata. Entah sudah berapa kali pula Faris mendaratkan ciumannya di atas ubun-ubun sang istri. Tidak ada siapapun yang bisa melukiskan bahagianya saat itu.
“Sejak kapan Abang punya buku kayak gini?” tanya Aisha mendongak setelah ikut membaca beberapa kalimat pada halaman yang terbuka.
“Abang pesen online tadi pagi,” sahut Faris menyudahi kegiatannya.
“Kok udahan bacanya?” tanya Aisha saat Faris justru meletakkan buku itu di atas nakas.
“Ada istri cantik gini di depan Abang masa dianggurin.”
Wajah Aisha memerah, ia segera menutupi wajahnya dengan satu tangan yang langsung ditarik oleh Faris dan menyimpannya dalam genggaman.
“Masih pinter ngegombal ya ternyata ….” Aisha memberi cubitan kecil di lengan Faris yang masih melingkar di perutnya.
“Allohu! Sakit loh, Sayang.” Faris mengaduh sambil mengusap-ngusap lengannya.
“Cubitan bumil ternyata jauh lebih mantap ya dibanding pas masih gadis,” goda Faris mengingat betapa seringnya dulu Aisha melayangkan cubitannya saat mereka masih hanya sebatas teman.
Hal itu membuat Faris mengulas senyumnya karena masih tidak menyangka jika gadis yang dulu diam-diam dikaguminya dan bahkan sudah memiliki tunangan ternyata dengan izin Allah sekarang menjadi pelengkap hidupnya. Bahkan bukti cinta mereka kini sudah bersemayam di rahim wanita yang kini dalam dekapannya.
Fabiayyi aalaa-i robbikumaa tukazzibaan (Maka nikmat Tuhanmu yang mana lagi yang kamu dustakan?)
Rasanya kalimat itulah yang paling tepat menggambarkan rasa syukur Faris yang bisa memiliki Aisha seperti saat ini.
________
Bersambung ...
__ADS_1