
“ … apa yang melewatkanku tidak akan pernah menjadi takdirku, dan apa yang ditakdirkan untukku tidak akan pernah melewatkanku.”
~Sayyidina Umar bin Khattab~
Acara lamaran di ndalem Kyai Safar dan saat Faris menjemput Aisha boyong dari pesantren adalah kali terakhir mereka bertatap muka menjelang hari pernikahan.
Karena selain Faris yang teramat padat jadwalnya, juga karena tradisi adat yang mengharuskan Aisha di pingit menjelang hari pernikahan, alasan tradisi pingit ini guna untuk memupuk rindu di antara kedua calon mempelai, agar saat pernikahan nanti keduanya akan semakin bahagia karena lama tak berjumpa.
Mereka memang menggunakan tradisi adat Jawa, karena baik Aisha maupun Faris, keduanya sama-sama keturunan Jawa dan pihak keluarga pun bersetuju untuk menyelenggarakan acara pernikahan dengan menggunakan tradisi adat Jawa sebagai salah satu bentuk melestarikan warisan budaya.
Bang Faris masih hutang penjelasan loh sama Aisha!
Baru kali ini Aisha mendapat keberanian untuk bertanya kepada Faris. Karena memang setelah acara lamaran, hubungan Aisha dan Faris menjadi sedikit canggung, tidak sehangat dulu ketika mereka hanya sebatas sahabat.
Di seberang sana, ada lengkung tercipta dari sudut bibir Faris melihat isi pesan dari calon kekasih halalnya yang terlihat menggunakan gaya bicara yang berbeda dari sebelumnya, bukan lagi memakai ‘aku’, ‘kamu’.
Tring .... (pesan masuk)
Cie … manggilnya udah pake Abang aja, udah gak sabar yah? :D
Kata ibu, harus dibiasain bersikap sopan sama calon imam, mulai dari gaya bicara misalnya. Biar nanti nggak canggung.
Sudah lima menit terlihat tanda ceklis biru dua, tapi tak kunjung ada balasan.
Bang Farisss!
Terlihat tanda ceklis biru dua lagi. Aisha mematut layar ponselnya, berharap ada kata ‘mengetik’ dari yang ditunggunya, tapi nihil. Tiba-tiba handphone-nya berdering, tanda panggilan masuk, tertera dari ‘calon imam’.
“Hah nelpon?” Aisha kalang kabut
sendiri.
Bukankah dulu mereka sering menghabiskan waktu via telepon hanya sekedar untuk saling berbagi cerita, tapi sekarang situasinya berbeda, Aisha benar-benar merasa canggung.
“Hallo, Assalamualaikum,” ucap Faris dari seberang, tapi tak kunjung ada jawaban dari Aisha.
“Hallo?” ucap Faris lagi karena tak kunjung ada suara dari seberang.
“Ica sayang ….”
“Hah!” sontak panggilan Faris membuat Aisha menutup mulutnya sendiri, malu, canggung, itulah yang Aisha rasakan kini.
“Baru dipanggil gitu udah kaget, katanya harus dibiasain,” ucap Faris menggoda Aisha.
__ADS_1
“Ih! Ya kan nggak gitu juga tau Bang.”
“Terus maunya dipanggil apa dong? Honey? Baby?”
“Ih … Bang Faris!” teriak Aisha, sungguh dia benar-benar malu mendengar sebutan yang Faris ucapkan.
“Apa Ica sayang?” lagi-lagi Faris menggodanya, terbayang di benak Faris wajah Aisha yang tengah memberengut kesal tapi justru menambah kesan gemas bagi Faris.
“Tuh kan malah mengalihkan pembicaraan ih, pertanyaan Aisha belum dijawab.”
“Iya iya nanti Abang jelasin.”
“Kok nanti sih? Sekarang kenapa?”
“Ica mau kupingnya panas gara-gara denger Abang cerita panjang lebar di telepon?”
“Gak apa-apa deh, Aisha udah terlanjur penasaran nih,” jawab Aisha menyetujui.
“Tapi Abang gak mau,” jawab Faris membuat Aisha semakin pnsaran.
“Ih kenapa?”
“Karena Abang sayang sama Ica.”
Terdengar suara kekehan Faris dari seberang.
“Abang janji setelah halal pasti Abang ceritain semuanya, sekarang Ica harus tidur. Kan besok acara siraman.”
“Janji?”
“Iya sayang. Sekarang tidur yah, Abang juga masih ada jadwal operasi.”
“Ya udah, Ica tidur duluan. Abang jangan lupa istirahat juga yah.” Aisha merasa malu sendiri ketika mengucapkan hal tersebut.
“Siap bidadariku! Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam,” jawab Aisha, kemudian panggilan terputus.
Di bibir keduanya sama-sama tercipta lengkung indah setelah mengakhiri panggilan.
***
Kabar tentang pernikahan Faris dan Aisha pun tak pelak berhembus di seantero Rumah Sakit, termasuk Karina.
__ADS_1
Tak jarang teriakan dari para staf perempuan saat mengetahui kabar tersebut, tak jarang pula yang mengatakan jika Faris itu PHP.
Ternyata selama ini mereka telah keliru dengan sikap baik, kata manis, dan semua perlakuan Faris. Faris yang memang seorang lelaki dengan kepribadian yang baik tak pernah sadar jika perlakuannya selama ini telah menimbulkan banyak kesalah pahaman.
Sudah menjadi hukum alam, lelaki memakai logika, sedangkan perempuan memakai perasaan.
Ada yang sepenuh hati mendukung, ada pula yang iri dengki merasa tertandingi, seperti dokter cantik yang tengah mengepalkan jemarinya kuat-kuat di pojok ruangan tanpa ada yang menyadari.
***
Di kediaman Aisha sudah disulap ala keraton pernikahan adat Jawa, pemasangan dekorasi dan hiasan dari janur atau daun kelapa muda pun sudah dipajang sebagai hiasan pintu masuk yang menandakan bahwa di kediamannya akan mengadakan acara hajatan mantu atau pernikahan.
Hari ini di kediaman masing-masing mempelai tengah mengadakan acara pengajian dan siraman, yang berarti dalam prosesi pernikahan adat Jawa, besok adalah hari dilangsungkannya acara inti yakni akad dan resepsi.
Acara pengajian tentunya bertujuan untuk memohon doa restu kepada Allah SWT agar semua rangkaian acara pernikahan dapat berlangsung dengan lancar. Setelah acara pengajian, serangkaian upacara adat siraman dimulai.
Sebelumnya sudah ada dua perwakilan dari kediaman Aisha yang dikirimkan ke kediaman Faris, yaitu untuk mengirimkan air siraman dari kediaman Aisha yang sudah dicampur dari tujuh mata air yang berbeda, termasuk air zam-zam dan beraneka macam bunga yang disebut Air Perwito Adi. Perwakilan dari kediaman Aisha juga bertujuan untuk menjadi saksi telah dilaksanakannya upacara siraman di kediaman Faris.
“Selamat ya Mas, Hasan turut senang,” ucap lelaki berbaju batik yang menambah kesan ketampanannya.
“Memang ya San, apa yang ditakdirkan milik kita nggak akan mungkin melewatkan kita,” jawab Faris pada adik sepupunya yang tanpa ia sadari tengah susah payah menahan sesak yang melanda.
“Jadi wanita yang selama ini Mas ceritakan adalah Aisha?”
Faris menjawabnya dengan anggukan.
“Mas cepetan siap-siap, sudah ditunggu di luar,” ucap Gus Hasan mengakhiri percakapan mereka.
Ada nyeri tersendiri yang dirasakan oleh Faris ketika upacara siraman, karena memang semua yang ikut andil dalam prosesi tersebut adalah keluarga besar.
Sedangkan Faris, kedua orang tuanya sudah tiada, inilah yang membuat Faris semakin pilu ketika harus melakukan sungkeman kepada Pakde dan Bukdenya yang tak lain adalah Kyai Safar dan Nyai Hamidah, dimana seharusnya hal itu ia lakukan pada ayah juga bundanya.
“Kamu yang kuat yo le, jangan lupa doakan juga ayah dan bundamu,” bisik Nyai Hamidah ketika Faris tengah bersimpuh sungkem di hadapannya.
Air mata juga telah membanjiri wajah Nyai Hamidah, betapa ia ingat betul ketika kakaknya menjadi korban kecelakaan dan meninggalkan Faris sebatangkara. Karenanya, Nyai Hamidah dan Kyai Safar lah yang menggantikan posisi orang tua Faris sepeninggalnya.
Faris yang mendengar bisikan dan isakan Bukdenya semakin erat mencium punggung tangan keduanya, berusaha menahan sesak yang tak kunjung mereda.
Sama halnya dengan Aisha yang juga tengah berusaha menahan sesak ketika sang pamanlah yang justru menggendongnya setelah upacara siraman, yang seharusnya hal itu dilakukan oleh ayahnya.
Bersambung ….
Jangan lupa vote, like and coment buat nyemangatin author ya readers tersayang ….
__ADS_1