
Happy reading ...
Jadikan al-qur'an sebagai bacaan utama:)
______
Suasana jalanan yang ramai menjadi pemandangan utama dari balik bangunan yang didominasi oleh kaca tempat Ayla dan wanita paruh baya yang mengenalkan diri sebagai Khadija berada.
Mendengar kisah yang dialami gadis muda yang tengah bersamanya itu membuat Khadija merasa iba, sisi keibuannya tersentuh dengan sesekali mengusap lembut punggung Ayla sebagai bentuk penenangan.
“Aku tau di seusiamu memang seringkali Tuhan uji dengan persoalan cinta. Tapi percayalah … demi menyelamatkanmu, Allah mematahkan hatimu.”
Ayla mendongak, menatap wanita paruh baya yang seusia ibunya, “Bukankah Tuhan kita Maha Penyayang? Lantas kenapa Dia tega membuat hamba-Nya bersedih?”
Khadija tersenyum lembut sebelum kembali berucap. “Allah tidak ingin kamu menaruh harapan kepada manusia, karena sebaik-baik tempat menggantungkan harapan adalah Dia, Tuhan pencipta semesta alam beserta isinya, termasuk kita manusia. Allah itu pencemburu, Dia tidak ingin engkau lalai hanya karena rasa cinta kepada makhluk-Nya. Kau tau kisah Nabiyullah Yusuf dan Ibunda Zulaikha?”
Ayla menggeleng lantas menunduk, mengaku muslim tapi rasa-rasanya minim sekali pengetahuannya tentang agamanya sendiri.
Bulir bening kembali terjatuh dari sudut mata Ayla, dadanya bergemuruh mendengarkan cerita wanita di hadapannya.
“Sebuah pelajaran yang indah kita petik dari kisah cinta Zulaikha kepada Nabiyullah Yusuf. Ketika Zulaikha mengejar cinta Yusuf, Allah jauhkan Yusuf darinya. Tapi Ketika Zulaikha mengejar cintanya Allah, maka Allah datangkan Yusuf padanya.”
Ayla hanya menatap nanar wanita dihadapannya, pandangannya semakin mengabur karena dipenuhi oleh air mata yang sudah menggenang di pelupuk mata.
Khadija kembali mengusap surai panjang Ayla yang tak tertutup hijab, layaknya seorang ibu yang berusaha menenangkan putrinya. “Jangan mengejar yang menjauh, harga dirimu jauh di atas segalanya. Jangan menjatuhkan harga dirimu dengan mengatasnamakan cinta, jagalah marwah kita sebagai perempuan.”
“Tapi kenapa rasanya sakit sekali,” rintih Ayla memegangi dadanya yang semakin sesak oleh isak.
“Iya saya tahu … tapi tahanlah rasa sakit itu, tahan dulu jatuh cintamu. Allah sedang persiapkan lelaki yang jauh lebih baik dari dia. Dan kau … tetap berharga meski tidak dia pilih pada akhirnya.”
***
Rembulan sudah menampakkan dirinya saat mobil yang dikemudikan Ayla memasuki pekarangan rumah megah berlantai tiga.
Berjalan gontai menuju kamarnya, rupanya sang mami sudah menunggunya di ruang utama.
“Sayang, Mami mau bicara sebentar Nak,” ujar Ajeng yang berniat mengutarakan pesan dari suaminya terkait tuan muda pewaris tunggal Abdullah Company.
__ADS_1
“Ayla capek Mi, pengen istirahat.” Gadis itu tetap melengang pergi tanpa menoleh kepada ibunya, ia tak ingin jika Ajeng sampai menyadari sembab di wajahnya.
“Sebentar aja kok, Sayang.” Ajeng tetap tak menyerah, berusaha mengejar langkah putrinya.
Ayla pun menghentikan langkahnya tapi tanpa menoleh, “Besok aja ya Mi … Ayla beneran capek,” lirih Ayla penuh permohonan. Ajeng pun memilih untuk mengalah, ia tak ingin hubungannya dengan sang putri semakin memburuk hanya karena memaksakan kehendaknya.
Dan benar saja sebelum matahari semakin beranjak, Ajeng menyempatkan diri untuk mengantarkan sarapan ke kamar putri semata wayangnya sebelum ia menyusul sang suami yang sudah lebih dulu pergi ke kantor.
Selain sukses dalam bisnisnya, Ajeng juga berhasil menjadi istri yang setia. Kemanapun suami pergi disitulah ia berada. Namun untuk menjadi ibu yang baik tampaknya ia masih harus banyak berbenah.
Tok tok tok
…
Terdengar suara ketukan saat Ayla tengah berkutat dengan laptopnya di atas kasur. “Come in,” ujarnya mempersilahkan masuk.
Dari balik pintu yang terbuka, tampak sang ibu yang sudah rapi dengan setelan khas wanita karir berjalan mendekat ke arahnya dengan nampan berisi roti panggang dengan selai coklat lengkap susu coklat kesukaannya.
“Sayang,sarapan dulu yuk.” Ajeng berjalan ke arah nakas dan meletakkan nampan yang dibawanya di sana.
“Iya Mi nanti Ayla makan. Padahal Ayla bisa turun sendiri ke meja makan kok, Mami nggak perlu repot-repot bawain makanan ke sini. Mami pasti sibuk.” Gadis itu tampak masih sedikit ketus menghadapi ibunya.
“Maaf.”
Ayla semakin mengernyitkan dahinya.
“Maaf Mami jarang ada waktu kamu. Mami belum bisa jadi ibu yang baik buat kamu. Semua ini Mami lakuin demi kamu, Sayang. Mami harap kamu menyadarinya suatu saat nanti.”
Ajeng kembali bangkit setelah mengecup puncak kepala putri tercintanya. Sedangkan Ayla masih bergeming, tak tahu harus menjawab apa.
“Oh ya, nanti sore luangin waktu kamu ya Sayang. Baba minta kita buat ikut makan malem sama rekan bisnisnya.” Ajeng menghentikan langkahnya sebelum benar-benar mencapai pintu dan menoleh.
“Apa harus? Biasanya kalian pergi tanpa ngajak Ayla.” Gadis itu sedikit curiga dengan permintaan sang ayah yang tak biasa.
“Rekannya datang dari Indonesia, Baba banyak berhutang budi dengan keluarganya. Mami harap kamu nggak mengecewakan harapan Baba. Just dinner, no more.”
“Kita liat nanti,” ujar Ayla kembali menatap layar laptopnya.
__ADS_1
***
Dengan terburu-buru Aisha masuk ke dalam kamar mandi, membersihkan diri dan berwudhu untuk melaksanakan solat ashar yang hampir habis masanya.
Dan benar saja tak butuh waktu lama Aisha sudah kembali dari kamar mandi, berjalan ke arah lemari di sudut ruangan dan memilih pakaian yang dikiranya cocok untuk hari ini.
Selesai berpakaian, Aisha segera meraih mukena dan sajadahnya yang selalu tersimpan rapi di tempatnya. Dihadapkannya sajadah dalam genggamannya ke arah kiblat, membawa kedua kakinya berdiri di atas sajadah itu dan mengangkat tangan mengucapkan takbir.
“Allohu akbar ….”
Lirih terdengar wanita itu memulai solatnya, dengan mata yang kembali memanas hingga membentuk bulir-bulir bening di pelupuk matanya, untuk kesekian kalinya Aisha kembali menangis dalam solatnya.
Diakhiri dengan kedua salam, tak lupa Aisha mengangkat kedua tangannya, kembali mengadukan nasibnya kepada sang Maha pemilik kehidupan, meminta ketetapan hati agar kali ini keputusannya tidaklah salah.
Sebelum bersiap meninggalkan apartemennya, wanita itu menyempatkan untuk memandang foto hitam putih yang menggambarkan calon putranya yang masih begitu kecil di sana. Ia terduduk di atas kasur, memandang foto hasil USG di tangannya dengan tatapan sendu, “Mami kangen sama kamu Nak.”
Sekuat tenaga Aisha berusaha untuk tidak menangis lagi kala menatap foto itu, namun genangan air yang tadinya hanya menggenang di pelupuk mata tampaknya mulai mengalir dari kedua sisi netranya.
“Meski Mami belum bisa lupain sakitnya waktu kehilangan kamu … tapi Mami akan coba untuk memulai semuanya kembali sama Papi ya Nak, semoga kali ini keputusan Mami untuk kembali nggak salah.”
Tanpa bisa dicegah lagi, air mata Aisha sudah mengalir begitu saja, membasahi kedua pipinya juga selembar foto yang berada di genggamannya.
Teringat dengan tujuannya, Aisha melihat arloji yang melingkari pergelangan tangannya, dengan langkah tergesa ia raih ponsel juga sling bagnya.
“Aisha pamit ya Bu, do’akan yang terbaik buat Aisha sama Abang.” Aisha berujar pada ibunya yang ternyata sejak tadi sudah berdiri di ambang pintu kamarnya.
“Pasti Sayang, Ibu pasti do’akan yang terbaik buat kalian. Hati-hati di jalan ya, Sayang.”
Cukup lama Maya mengecup puncak kepala putrinya, hingga ia melepas kepergian Aisha dengan seulas senyum yang menyertai setiap langkah putri cantiknya. Meskipun ia belum bisa menjadi Ibu yang baik bagi kedua putra putrinya, setidaknya peluk hangatnya selalu terbuka lebar untuk menenangkan mereka.
Maya pun menutup pintu dengan penuh harap semoga anak dan menantunya mendapatkan jalan keluar untuk meraih kembali kebahagiaan.
***
Bersambung ...
Terima kasih untuk yang selalu setia menunggu kelanjutan dari novel amatiran ini ... Love you
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak berupa vote, like and coment buat nyemangatin author ya readers tersayang ...