Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama

Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama
Ku ambil dia kembali


__ADS_3

Flashback on


Faris duduk di salah satu bangku di halaman sekolah Tasya, ia masih menunggu gadis itu keluar dari kelasnya sambil menyesap kopinya memandangi kendaraan yang berlalu lalang di depannya.


“Papi ….” Seorang gadis kecil memakai seragam yang sama seperti yang Tasya pakai menghampiri lelaki paruh baya yang baru saja keluar dari mobilnya, dengan hangat lelaki itu meraih gadis kecil itu ke dalam dekapannya.


“Kok Papi sendirian yang jemput Keke sih? Mami kemana Pi?” rengek gadis kecil dengan manja bergelayut dalam gendongan sang Papi.


“Mami udah nunggu di restoran, Sayang. Kita makan dulu yah sebelum pulang.” Dengan lembut lelaki itu berujar sambil mengecupi putri kecilnya dan membawanya masuk ke dalam mobil.


Sungguh pemandangan yang membuat siapapun yang melihatnya akan merasa iri, tak terkecuali Faris yang sejak tadi menyaksikan adegan manis antara ayah dan anak itu. Seketika pikirannya berkelana jauh membayangkan betapa harmonisnya keluaragnya kelak ketika sosok seorang anak hadir di antara dirinya dan sang istri, pastilah akan sangat menyenangkan memiliki keturunan yang akan menghangatkan rumahnya dengan tawa-tawa lucunya.


“Ssshh … aww.” Faris terpekik ketika kopi dalam genggamannya tiba-tiba tumpah mengguyur tangannya sendiri, seketika perasaannya menjadi gusar.


“Gue kecapean kali yah sampe nggak fokus gini,” gumamnya sambil mengibas-kibaskan tangannya yang terasa panas oleh tumpahan kopi.


“Om Faris ….” Tiba-tiba gadis kecil yang sudah sangat dikenal Faris berlari dengan gembira menghampiri dirinya.


Faris pun tersenyum melihat wajah menggemaskan itu, “Jangan lari-lari Sayang, nanti jatoh,” pesannya langsung mendekap Tasya dan menggendongnya.


Drrrt … drrtt … beberapa kali ponsel dalam saku Faris bergetar hingga membuatnya harus menurunkan Tasya lebih dulu dari gendongan.


Alis Faris bertaut begitu mengetahui siapa yang menelponnya, “Roger,” gumamnya sambil menggeser tombol hijau pada layar ponselnya.


Flashback off


***


Faris tergopoh melangkah ke arah unit gawat darurat dengan menggendong Tasya setelah diberitahu oleh resepsionis di depan. Ia langsung menurunkan Tasya begitu melihat lelaki itu yang sedang terduduk di lantai di depan pintu dengan tampilannya yang berantakan karena pakaiannya dipenuhi bercak darah. Roger dan Karina juga sudah ada di sana.

__ADS_1


“Kamu apakan istriku bre***ek!?” Faris menarik kerah kemeja Azka hingga sang empunya terpaksa berdiri dari duduknya.


“Buka matamu bodoh! Kemana kamu sebagai suaminya sampe biarin Aisha kemana-mana cuma dianter sopir!? Ngapain juga kamu bawa anak itu ke sini?” Azka segera menepis tangan Faris yang masih menarik kerah kemejanya.


Tak ingin membuat Tasya terus menyaksikan perdebatannya dengan Azka, Faris segera meminta Roger untuk mengantar Tasya pulang, hingga Dokter Fara muncul dari balik pintu menghentikan perdebatan keduanya.


“Fara … gimana keadaan istriku?”


“Kamu tenang aja Ris, Aisha baik-baik saja. Hanya saja ….” Dokter Fara menggantung kalimatnya.


“Katakan kenapa!?” Faris yang sudah sangat panik sontak saja mengguncang bahu teman kerjanya itu agar menjelaskan yang sebenarnya.


Dokter Fara menunduk, tak berani menatap sorot mata Faris yang sudah memerah.


“Maaf … aku nggak bisa nyelametin calon bayi kalian, benturan keras yang tepat mengenai bagian bawah perut istrimu membuat janin di kandungannya yang baru berusia enam minggu nggak bisa menahannya. Apalagi sejak awal kandungan istrimu memang sudah memiliki riwayat yang rentan karena stres yang selalu diderita ibunya. Bahkan baru saja tadi pagi istrimu ke sini karena mengeluh perutnya yang selalu kram, emosi tidak terjaga benar-benar memengaruhi perkembangan janin Ris.” Dokter Fara menjelaskan dengan detail mengenai riwayat kandungan Aisha.


“Istriku hamil? Ada anakku di perutnya?” Faris bertanya dengan lemah karena sejak tadi tubuhnya seakan melemas setelah mendengar penuturan Dokter Fara.


Brugh … Azka yang sejak tadi berusaha menahan emosinya sudah tak bisa lagi untuk tidak menyerang Faris, bahkan kini keduanya sudah sama-sama tersungkur ke lantai.


“Suami macam apa lo sampe istri sendiri hamil nggak tau? Lo biarin Aisha susah payah dengan kehamilannya sedangkan lo sendiri sebagai suaminya malah sibuk ngurusin anak orang yang jelas-jelas lo tau kalo ibunya selalu berusaha menyakiti Aisha … dimana naluri lo sebagai suami, Faris!!!”


Faris membalas bogeman Azka tak kalah keras hingga ia bisa membalik posisinya menjadi di atas Azka.


“Gue tau lo masih nyimpen rasa buat Aisha, tapi lo nggak usah ikut campur masalah rumah tangga gue, bang**t! Nggak usah sok suci lo! Lo lupa apa yang pernah lo perbuat sama Aisha?”


Plak … plak … Azka benar-benar kalap mendengar penuturan Faris yang terus saja mengingatkannya pada dosanya di masa lalu.


“Gue emang baji**an … tapi gue selalu berusaha buat ikhlas saat Aisha ternyata lebih milih lo\, gue hormati pilihan dia! Tapi gue nggak bisa terima karena lo yang udah Aisha pilih malah lagi-lagi nyakitin dia! Gue bilang jaga dia … jaga dia! Bilang kalo lo nggak sanggup! Biar gue yang akan ambil dia dari lo! Baji**an kayak lo … lebih nggak pantes dapetin Aisha!”

__ADS_1


“Baji**an nggak usah teriak baji**an!!!” tukas Faris kembali membalas pukulan Azka.


Pertarungan sengit pun tak bisa dihindari, Karina dan Dokter Fara yang bahkan sejak tadi berusaha memisahkan mereka malah justru tersungkur karena tenaganya tak sebanding dengan dua lelaki yang sama-sama tengah tersulut emosi seperti orang kesetanan.


Sesaat kemudian dua orang petugas keamanan yang sengaja Dokter Fara panggil berlari tergopoh lantas berusaha memisahkan keduanya.


“Kebodohan kalian malah bikin Aisha tambah stres!” cecar Dokter Fara menatap keduanya dengan tajam.


“Dokter … pasien sudah sadar.” Seorang perawat keluar dan berbisik pada Dokter Fara karena melihat keributan di depan ruangan.


“Aisha udah sadar, sekarang dia pasti down banget setelah tau calon anaknya udah nggak ada, dia butuh penyemangat, terutama kamu sebagai ayah dari bayinya Ris,” tutur Dokter Fara menepuk pelan bahu Faris sebelum berlalu.


Sedangkan Karina tengah mencoba menenangkan Azka dengan mengusapi darah yang mengalir dari sudut bibirnya.


“Aisha pasti baik-baik aja, ada suaminya. Kita obatin dulu luka kamu.” Karina berujar dengan lembut sambil menggiring Azka menuju ruangannya.


Faris terdiam begitu masuk ke dalam ruangan Aisha, dilihatnya istrinya itu yang hanya diam berbaring di atas ranjang tidak bergerak sama sekali, tatapannya yang kosong hanya menatap lurus melihat langit-langit kamar, Aisha bahkan tak menoleh sedikit pun dengan kehadiran Faris, hanya bulir bening yang tampak semakin menderas dari kedua ujung netranya.


Faris langsung duduk di samping ranjang, diraihnya tangan Aisha yang masih tak bersuara, dikecupinya tangan itu dengan lembut.


“Maafin Abang Ca … maaf … Abang yang bodoh,” ujar Faris dengan parau sambil menahan tangisnya.


Aisha masih saja terdiam, pandangannya bahkan sedikitpun tak teralihkan.


“Maaf karena kita bahkan harus kehilangan calon buah hati kita sebelum dia sempat lahir ke dunia. Ca … katakan sesuatu, Abang mohon … jangan cuma diem kayak gini Sayang, bicaralah … jangan buat Abang makin takut Ca.” Faris masih terus saja memohon karena tak mendapati reaksi apapun dari istrinya, memar yang ia dapat dari pukulan Azka bahkan sama sekali tak dihiraukannya.


***


Bersambung ...

__ADS_1


Ayo yang belum vote segera vote dulu biar author makin semangat ngetiknya yaa ... sekarang vote gratis kok nggak perlu pake poin lagi ... yang masih pake poin ayo di update dulu aplikasinya hehe ...


Love you readersku semua ...


__ADS_2