
Nampak dari kejauhan dua orang berbusana rapi serba hitam berjaga di depan ruang VIP yang diyakini ada Aisha di dalamnya.
“Nyonya tidak bisa diganggu, beliau sedang istirahat.” Belum sempat Azka sampai di depan pintu ruangan Aisha, kedua penjaga itu sudah lebih dulu menghadangnya.
“Saya teman dari Tuan dan Nyonya kalian,” ujar Azka.
“Tapi Tuan sedang keluar, siapapun dilarang masuk tanpa sepengetahuannya.” Penjaga itu tetap menolak Azka.
Azka yang sudah tersulut emosi karena kekhawatirannya tetap menerobos masuk, bahkan dengan terpaksa baku hantam terjadi di antara mereka.
Aisha yang baru saja hendak terlelap kembali membuka netranya terkejut saat mendengar suara keributan dari balik pintu ruangannya.
Dan beberapa saat kemudian Azka berhasil menerobos masuk, untung saja Aisha selalu mengenakan hijabnya.
“Maaf Nyonya, kami sudah melarangnya untuk masuk, tapi dia memaksa,” ujar penjaganya tertunduk takdim.
“Nggak apa-apa Pak, dia teman saya juga Bang Faris.”
Kedua penjaganya hendak berbalik keluar setelah lebih dulu mengangguk ramah pada Aisha yang tetap di atas blankarnya.
“Tunggu Pak! Kalian di sini juga, tunggu sampe Bang Faris balik.” Aisha hanya tak ingin ada kesalah pahaman nantinya, meski ia dan Azka sudah tidak ada hubungan apapun lagi.
“Sha apa yang sebenernya terjadi sama kamu?” Tampak sekali kecemasan tercetak jelas di wajahnya yang selalu tampan itu.
Tangan Azka terangkat hendak membelai kepala Aisha, namun Aisha lebih dulu memundurkan wajahnya.
"Dari mana Mas Azka tau kalo aku kena luka tembak?" Aisha cukup terkejut karena Azka mengetahuinya, padahal hari itu tak ada orang lain di sana. Suaminya juga tak mungkin memberitahukan perihal ini pada Azka.
"Aku dapet email foto kamu waktu kejadian itu, tapi aku juga nggak tau siapa pengirimnya."
"Email?" tanya Aisha memastikan.
"Sebenernya ada apa Sha? Kenapa bisa kayak gini? Pelakunya udah diserahin ke Polisi?" Azka yang benar-benar khawatir tak memperpanjang perihal siapa pengirim email itu, saat ini kepalanya hanya dipenuhi oleh kekhawatiran pada wanita yang hingga saat ini masih bertakhta di hatinya.
“Aku nggak apa-apa kok Mas, cuma kecelakaan kecil.”
“Luka tembak seserius itu kamu bilang kecil Sha? Tolong bantu aku dengan jaga dirimu baik-baik, karena aku nggak sanggup liat kamu terluka kayak gini Sha.”
Aisha hanya tersenyum simpul, jika terus seperti ini ia takut hatinya akan goyah kembali.
“Mas, aku udah punya suami. Jadi Mas nggak perlu lagi ngekhawatirin aku, karena suamiku pasti akan selalu ngejagain aku.”
“Ini yang kamu bilang ngejaga Sha? Kamu mendapat luka seserius ini kamu bilang ngejaga?” Azka benar-benar tak bisa menyembunyikan kekhawatirannya.
“Assalamualaikum ….” Faris cukup terkejut saat masuk dan melihat Azka di sana.
Belum sempat Aisha dan yang lainnya menjawab salam Faris, Azka sudah lebih dulu memberikan bogeman di wajah Faris.
“Bilang kalo lo nggak bisa jagain Aisha! Lagi-lagi dia terluka kalo sama lo!”
Faris yang memang tak ada aba-aba sontak tersungkur ke lantai, tampak sudut bibirnya mengakirkan darah segar.
“Mas Azka!” Sontak Aisha menjerit melihat suaminya tiba-tiba diserang.
__ADS_1
Kedua pengawalnya pun sontak menghalau Azka yang hendak kembali menyerang majikan mereka.
“Ikut gue!” ujar Faris mencengkeram kerah kemeja Azka dan menyeretnya keluar dari ruangan Aisha.
“Jagain istri saya,” ucap Faris saat melewati kedua penjaganya.
***
“Aku kira kamu pria dingin yang anti wanita, ternyata seleramu tinggi juga,” ujar Ayla tanpa menoleh.
Gus Hasan seketika menghentikan makannya, menatap lekat ke arah Ayla yang ternyata juga tengah memandangnya.
“Itu pertama kalinya aku merasakan jatuh cinta seperti yang orang-orang katakan, juga luka seperti yang orang-orang takutkan.” Ada sesak pada setiap kalimatnya.
“Semesta memang kadang sebecanda itu dengan hati.”
“Yuk pulang, aku ada kelas pagi besok,” ajak Gus Hasan setelah lebih dulu membayar makanannya.
“Kamu kuliah? Dimana? Istanbul University?” tanya Ayla terkejut.
Gus Hasan hanya mengangguk sambil membukakan pintu mobil utu Ayla.
“Pertanyaanku banyak, kamu ngangguk buat yang mana?”
“Buat semuanya.” Gus Hasan lantas berlari ke pintu seberang dan duduk di balik kemudi.
“Aku di Fakultas Administrasi Bisnis, kamu?”
“Kamu di sana juga?” Gus Hasan tak kalah terkejutnya.
“Gampang kok, setahun ini pasti kamu bisa selesai.”
“Itu kamu yang punya keturunan sini,” elak Gus Hasan tak percaya pada dirinya sendiri.
“Beneran, aku bisa bantu kamu.”
“Nggak ah pasti ada maunya kalo udah kayak gitu.”
Keduanya tergelak seraya menikmati jalanan Istanbul yang masih saja ramai, sejenak baik Gus Hasan atau pun Ayla lupa pada kepahitan hidup masing-masing.
Hari ini cuaca Istanbul cukup cerah, dengan tergesa Gus Hasan menuruni anak tangga setelah menyelesaikan kelas Tomernya. Hari ini ia ada janji untuk menemani Jaya.
Namun tiba-tiba ia harus menghentikan langkahnya ketika salah satu tutor kelas Tomernya berjalan melewatinya. Di Turki adab terhadap seorang guru memang patut diacungi jempol.
“Sorry Sir, you dropped your pen,” ujar Gus Hasan menghentikan langkah tutor muda itu.
“Terima kasih,” ucapnya ramah seraya menerima bolpoinya dari Gus Hasan.
“Sorry?” Gus Hasan takut ia salah dengar.
“Kamu dari Indonesia kan?”
“Ah iya Sir.”
__ADS_1
“Sepertinya kita perlu berbincang lebih jauh, tapi next time. I have to go, Assalamualaikum,” ujarnya meninggalkan Gus Hasan yang masih terpaku di tempatnya.
***
Faris membawa Azka ke pekarangan di belakang Rumah Sakit, ia tak mau ada seseorang yang menyadari keributan mereka.
Keduanya yang sama-sama tersulut emosi langsung menyerang satu sama lain, bahkan lebam-lebam sudah nampak di kedua wajah mereka.
“Gue tau lo masih suka sama Aisha, tapi lo juga harus inget kalo kalian udah selesai!” pekik Faris menindih tubuh Azka untuk mengunci pergerakannya.
“Gue yang pertama ketemu dia! Gue yang lebih dulu miliki dia!” ujar Azka tak kalah sarkasnya.
“Buka mata lo! Aisha sekarang udah jadi istri gue! Menyerahlah!”
Azka yang murka semakin membabi buta, ia membalik posisinya, ditindihnya Faris dengan cengkeraman kuatnya.
“Kenapa harus gue yang nyerah?”
Bugh, satu bogeman di wajah Azka membuat Faris terbebas dari kungkungan itu.
“Karena sekarang gue suaminya!” Faris benar-benar sudah murka dengan kelakuan Azka.
Sebuah tendangan secara bersamaan membuat keduanya terpental, terlihat mereka sedang saling mengatur napasnya yang memburu.
“Gue bilang menyerahlah!” teriak Faris tetap pada posisinya.
“Itu di luar kendali gue!” Azka kembali bangkit dan menyerang Faris yang masih terbaring.
Pergulatan kembali terjadi hingga kedua pengawal Faris datang untuk menghalau keduanya.
“Berhenti Tuan, Nyonya bilang kalian harus berhenti!” teriak pengawalnya seraya menahan keduanya yang masih sama-sama tersulut emosi.
Faris segera kembali ke ruangan Aisha dengan napas yang masih memburu dan luka yang semakin bertambah sejak penyerangan Wirawan hari itu.
Ia melangkah tergesa memasuki ruangan istrinya. Tanpa kata ia segera membopong dan mendudukan Aisha di kursi roda yang sudah pengawalnya siapkan.
“Bang? Mau kemana? Ada apa?” tanya Aisha yang bingung melihat suaminya dengan luka-luka yang semakin jelas di wajahnya.
Tapi Faris tak mengindahkan pertanyaan sang istri, gejolak amarah di kepalanya masih bertakhta.
Setelah selesai membereskan barang-barang Aisha, Faris segera mendorong kursi roda yang diduduki istrinya menyusuri koridor Rumah Sakit ke arah basement dengan kedua pengawalnya yang selalu siaga membantunya.
“Kalian bereskan semuanya,” ujar Faris setelah membopong Aisha masuk ke dalam mobil.
“Baik Tuan.”
Faris memasangkan seatbelt untuk Aisha juga dirinya, masih dengan diamnya.
“Bang sebenernya kita mau kemana?”
“Kita pulang, Ica dirawat di rumah aja. Di sini terlalu bahaya buat Ica,” jawabnya segera melajukan mobilnya. Faris hanya takut Sofia ataupun Azka akan kembali dan mengganggu Aisha.
***
__ADS_1
Bersambung ...
Jangan lupa vote, like, and coment sebanyak-banyaknya buat nyemangatin author ya readers tersayang ...