Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama

Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama
Salah sangka


__ADS_3

“Ini kok nggak ada pengunjung lain sih Ka?” Karina bertanya sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling, ia benar tak mendapati siapapun di sana, hanya lampion-lampion cantik yang bersinar di kegelapan membuat suasana sepi itu menjadi cukup hangat.


“Ya mana ada yang mau nyewa di tempat sepi gini,” tukas Azka kembali menyuapkan makanan itu ke mulut Karina.


“Terus kenapa kamu mau?”


“Kalo di dalem rame, ntar kamu grogi kalo banyak orang.”


“Sshh aww ….” Tiba-tiba Azka merintih karena Karina yang justru menggigit jarinya bukan makanan yang disodorkannya.


“Mampus!” kesal Karina melihat Azka mengusapi jarinya.


“Tuh kan kalo di dalem banyak orang, ntar kamu nggak bisa gigit-gigit aku kayak gini.”


Sontak Karina semakin mengerucutkan bibirnya, “Lama-lama tuh bibir yang aku gigit yah kalo masih ngeselin terus.”


Azka sontak terbahak dengan jawaban Karina, “Oh dengan senang hati, nih ….” Azka malah semakin memajukan wajahnya dan mengetuk-ngetuk bibirnya sambil menatap Karina.


“Azka ih! Serius ….” Karina benar-benar kesal karena sejak tadi Azka selalu menjahilinya.


“Eh liat deh tuh.” Tiba-tiba Azka berujar mengalihkan perhatian Karina


Sontak Karina menoleh ke arah kolam yang ditunjuk Azka. Netranya mendapati sekawanan angsa yang tengah berenang beriringan ke arahnya dengan induknya yang memimpin.


“Arghh … Ka plis kamu kebangetan sumpah jailnya,” pekik Karina dengan sudah menaikan kakinya pada kursi yang tengah didudukinya, sehingga kini posisinya berjongkok di atas kursi.


Azka sontak kebingungan melihat aksi Karina yang benar-benar di luar dugaannya.


“Ka plis jauhin tuh angsa-angsanya, sumpah pantesan dari tadi perasaan aku nggak enak.” Karina masih saja merengek di posisinya.


“Kamu takut sama angsa?”


Sontak Karina mengangguk, “Mereka kan suka nyosor tiba-tiba.”


Azka sontak terkekeh mendengar jawaban gadis di depannya itu, posisinya yang berjongkok di atas kursi padahal penampilannya sudah sangat menawan dengan dress cantik pemberiannya sontak membuat Azka semakin gemas dengan Karina.


Azka bangkit dari duduknya dan menghampiri Karina.


“Nggak usah takut, kan ada aku.” Azka berucap dengan sangat lembut, membuat Karina perlahan menurunkan kakinya dan duduk seperti semula.


Tiba-tiba Azka meraih tangan Karina dan mengajaknya untuk bangkit lantas berjalan mendekati kawanan angsa yang semakin mendekat, “Liat deh ibu angsanya bawa apa.”


Sontak pandangan Karina tertuju pada sebuah kotak beludru yang sudah bertengger di atas keranjang yang sengaja di pasangkan di punggung sang ibu angsa.

__ADS_1


Karina terdiam melihat kotak itu, tiba-tiba pikirannya mengarah pada pembicaraan Sofia tempo hari yang menyindirnya apakah pria di hadapannya ini sudah melamarnya atau memang sekedar membutuhkannya sebagai pengasuh untuk anaknya.


Karina sontak tersenyum menebak semua itu, akhirnya Azka melamarnya juga dan ia bisa buktikan pada Sofia jika Azka bukan laki-laki seperti yang dituduhkan Sofia.


‘Ternyata Azka sosweet banget sih … mana unik lagi pake acara sekawanan angsa yang bawain cincinnya’


Ibu angsa tiba-tiba menyosor-nyosorkan paruhnya ke air seperti meminta Karina untuk mengambil sesuatu yang dibawa di punggungnya.


“Buat siapa?” tanya Karina pura-pura polos.


“Coba tanya ibu angsanya,” seloroh Azka membuat Karina yang semula tersenyum menjadi menyebikkan bibirnya.


Karina berjongkok di tepi kolam untuk mengambil kotak beludru di punggung ibu angsa dengan dipegangi oleh Azka agar tak terpeleset.


Karina menatap ke arah ketika kotak itu sudah berpindah ke tangannya.


Azka sontak tersenyum, manis sekali di mata Karina, “Bilang makasih dong.”


“Makasih ya ibu angsa sama anak-anaknya.”


“Ke aku nggak?”


“Kan yang ngasihnya juga ibu angsa.” Karina menjawab dengan polos.


Sontak sudut bibir Karina semakin tertarik, “Makasih,” ucapnya sangat lembut.


Dengan jantung yang semakin berdebar Karina buka perlahan kotak beludru merah di tangannya, namun untuk beberapa saat Karina terdiam karena kotak beludru itu cukup besar ukurannya jika untuk sebuah cincin, tapi ia segera menepis pikiran itu. Karina sudah bersiap untuk pura-pura terkejut dan terharu jika Azka melamarnya malam ini.


Namun seketika Karina kembali terdiam saat melihat isi dari kotak itu.


“Selamat ulang tahun Bu dokter … calon tulang rusukku.” Azka berujar sambil berlutut dan menyerahkan buket bunga yang Karina tak tahu ia dapatkan dari mana.


Karina tersenyum kikuk sambil meraih buket bunga yang Azka berikan karena ternyata dugaannya salah, ternyata bukan cincin dan acara lamaran yang seperti yang dalam benaknya, gelang rose gold di tangannya kini ternyata hanya kado ulang tahun untuknya. Tapi sebisa mungkin Karina tersenyum manis meski jauh di lubuk hatinya ia kecewa karena Azka tak berniat untuk melamarnya.


“Makasih ya Ka, gelangnya bagus banget.”


“Kamu suka?”


Karina sontak mengangguk dengan semangat membuat senyum di wajah Azka semakin melebar.


Grep, tiba-tiba Karina menubruk tubuh Azka dan merengkuhnya erat membuat Azka sontak kebingungan harus bagaiamana, haruskah ia juga membalas pelukan itu atau justru bagaimana, karena jika mengingat hubungan mereka saat ini, tentu saja hal itu tidak dibenarkan.


Karina sontak melepas pelukannyaa saat menyadari Azka yang hanya mematung dengan tubuh yang menegang.

__ADS_1


“Maaf … aku kelewat seneng,” ujar Karina dengan canggung. Sedangkan Azka hanya tersenyum kikuk, “Nggak apa-apa,” ujarnya lembut.


Setidaknya meski Azka tak melamarnya, tapi ia berinisisatif memberikan kejutan di hari ulang tahunnya, bahkan Karina sendiri sama sekali tak menduganya.


“Kok ibu angsanya belum pergi juga.” Azka mengalihkan perhatian dari kecanggungan itu sambil berjongkok mendekati kawanan angsa yang masih setia di tempatnya menyaksikan senyum riang kedua insan itu.


“Belum dapet bayaran kali, makanya nggak mau pergi,” ledek Karina ikut berjongkok pula.


Tiba-tiba seorang lelaki paruh baya tergopoh berjalan ke arah Azka dan Karina.


“Maaf Pak,angsa memang lumayan susah di atur.” Bapak itu berujar dengan sopan sambil menggiring kawanan angsanya.


Sedangkan Karina sudah terbahak-bahak mendengar hal itu.


“Lanjutin lagi yuk makannya.” Azka kembali meraih tangan Karina untuk kembali ke kursi mereka dan melanjutkan acara makan malam romantis itu.


“Kamu kok nggak makan juga sih?” karina bertanya karena sejak tadi Azka hanya menyuapkan makanan untuk dirinya.


Karina sontak tersenyum melihat reaksi Azka yang justru menjadi canggung.


“Sini deh gantian aku yang suapin kamu.” Ia langsung mengambil garpu di tangan Azka dan menusukannya pada steak yang sudah terpotong. Sontak saja Azka tersenyum bangga dengan perlakuan manis itu.


“Maaf Mba alat makannya ….” Seorang pramusaji berlari tergopoh ke arahnya, namun ia tak melanjutkan kalimatnya saat melihat tamunya ternyata malah menikmati alat makan yang tak sengaja tertinggal.


Karina dan Azka sontak menoleh ke arah pramusaji dengan garpu yang masih menempel di mulut Azka karena ia baru saja melahap potongan steak yang Karina suapkan.


“Permisi Mas, Mba.” Pelayan itu langsung kembali setelah meletakkan set alat makan yang ternyata terlupa dengan pura-pura tak melihat adegan mendebarkan di depannya.


Karina sontak memalingkan wajahnya ke arah lain sepeninggal pramusaji yang sudah merusak suasana romantis mereka.


Karina memejamkan matanya dengan menggigit bibirnya karena menahan malu.


“Ternyata ketinggalan, kirain sengaja emang gini konsep couple set.”


Azka yang mendengar gumaman Karina tentu saja tersenyum melihat gadis di depannya ini sudah merona karena perbuatannya.


***


Bersambung ...


Terima kasih untuk yang selalu setia menunggu kelanjutan dari novel amatiran ini ... Love you.


Jangan lupa tinggalkan jejak berupa vote, like and coment buat nyemangatin author ya readers tersayang ...

__ADS_1


__ADS_2